Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
KSH 8


__ADS_3

Satu hari tanpa Devi, sungguh sangat berat bagi Rayhan dan juga anak anaknya, Sekali pun di rumah itu banyak pelayannya, tetapi Kedua Anak itu sudah terbiasa dengan Devi yang melakukan semuanya untuk mereka, mulai dari membangunkan mereka, membantu mandi dan berpakaian sampai menyiapkan sarapan untuk mereka.


Hal itu walaupun kecil tetapi begitu berarti untuk kedua anak itu. dari hal sederhana inilah tercipta perasaan cinta dan Rindu yang sangat besar untuk Devi. Terkadang kita menganggap perlakuan kecil seperti itu tidak berarti tanpa kita sadari itu semua sangat berarti untuk mereka yang menerimanya.


Pagi itu Rayhan bangun lebih awal, Iya ingin melakukan hal yang sama Dengan Devi lakukan, mulai dari yang berlari di halaman rumah, Sampai menyiapkan sarapan juga mengantar mereka kesekolah.


" Dad kenapa ponselnya mom belum bisa di hubungi juga." Tanya Randy, mereka kini tengah berada di dalam mobil Ray.


" Iya Dad, Esty udah kangen sama mommy dan Dede Sevi." Resty turut menyampaikan keluhannya.


" Sabar ya mungkin mommy lagi sibuk, nanti pulang sekolah kita coba hubungi mommy lagi ya." Ucap Rayhan.


" Iya Dad." Jawab Keduanya kompak.


Mobil Rayhan terus melaju dengan perlahan, sampai di sekolahnya Randy dan Resty. Setelah mengantar kedua Anaknya Rayhan langsung menuju kantor.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Devi mulai membuka kedua matanya, setelah beberapa jam iya tertidur, Saat melihat ke samping Devi tidak menemukan Sevi, Iya langsung panik dan berlari keluar kamar untuk mencari keberadaan Sevi.


" Sevi, Sevi" Panggil Devi. Ntah karena lupa atau terlalu banyak tidur, sehingga saat bangun Devi tidak menyadari kalau itu bukanlah rumah Rayhan.


" Sevi kamu dimana." Ucap Devi dengan mata yang sudah di penuhi cairan bening itu.


Devi terus mencari di setiap sudut rumah Erik, karena panik Devi tidak melihat Erik di depannya dan " Bruuukk." Devi terjatuh dengan bokong yang mendarah lebih dulu di lantai.


" Aduuhh." Rintih Devi sambil mengusap bokongnya.


Erik yang melihat hal itu bukannya kasihan, dia justru mengatai Devi " Dasar wanita berotak separuh! punya mata itu di pake jangan di buat pajangan." Begitulah ucapan Erik dengan gaya kemayu lebaynya.


" Erik kenapa kamu ada di sini." Tanya Devi membuat Erik memutar kedua bola matanya, iya malas dengan ketelmian Devi.


" Ya iyalah gue disini, lagian inikan rumah gue peak." Jawab Erik sekena nya.


" Ya ampun aku lupa." Devi langsung menepuk jidatnya.


" Rik, Sevi mana." Tanya Devi lagi.

__ADS_1


" Kalau nggak ada ya, paling ke cafe bersama mbak Nadia."


" O." Devi membulatkan bibirnya, iya berdiri dan langsung masuk kedalam kamar, tetapi sebelum menutup pintu kamar Devi kembali berkata kepada Erik.


" Buruan siap siap, Antari gue ke cafe, jangan pake kaos ketat, awas aja kalau Lu berani Pake." Ancam Devi. langsung menutup pintu kamarnya.


" Sebenarnya dia itu siapa sih, kenapa suka banget ngatur hidup Gue, rumah, rumah gue, baju juga baju gue, badan pun masih punya gue! Pusing deh, pacar bukan, istri bukan, adik juga bukan tapi kenapa suka banget berkuasa atas diri ini." Keluh Erik.


Walaupun mengelu Erik tetap mengikuti perintah Devi. Kini keduanya tengah berada di dalam mobil menuju cafe.


Dilain tempat, Akhila baru saja bangun dari tidurnya, iya turun dari ranjang, menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah itu iya berpakaian, selesai itu, Kila turun bergabung bersama anggota keluarga yang berada di ruang tamu.


" Kenapa perempuan ini masih disini Ma." Tanya Akhila saat melihat Heni yang sedang menyuapi anak perempuannya.


" Biar kan dia disini dulu, nanti tiba saatnya dia pasti akan mama usir ko." Ucap mama Aisya tanpa memikirkan perasaan Heni.


" Kila nggak mau tahu mah, mama udah janji sama Kila, saat Kila pulang nanti dia udah nggak ada disini lagi." Akhila memang tidak pernah suka dengan Heni, dia selalu memandang jijik kepada Heni.


" Kila kamu jangan seperti ini, biar bagaimanapun kamu itu perempuan, kamu harus punya rasa empati terhadap dia, apa kamu tegah membiarkan Dia pergi Dengan keadaan Anaknya yang seperti ini." Bentak Gilang.


" Kila nggak peduli, kalau Abang peduli sama dia, tampung aja buat cadangan Abang lagi percuma juga punya Istri tapi nggak punya Keturunan, Mending Abang sama sih pelakor ini." Kata kata Kila sungguh sangat mengiris hati Heni maupun Nana.


" Kenapa nggak suka? lagian Ucapan kila benar koh." Entah dapat keberanian darimana, Kila begitu berani menentang Ucapan Gilang, berbeda dengan Akhila yang dulu.


" Kila.." Teriak Gilang, bukannya takut Kila Mela berlalu meninggalkan mereka begitu saja.


" Dasar nggak punya malu." Umpat Kila saat iya kembali ke kamarnya. Kila membaringkan tubuhnya di atas ranjang, bosan itu yang dia rasakan saat ini.


" Ceklek." Suara pintu terbuka.


Si Kembar masuk kedalam kamar Kila " Aunty." Panggil kedua Anak laki laki itu.


" Hai sayang sayangnya Aunty, sini Aunty kangen." Ucap Kila merentangkan tangannya kepada Sih Kembar dan mereka pun berpelukan.


" Kalian sudah makan belum?" Tanya Kila sembil merenggangkan pelukannya.


" Udah tadi sama Mama Eni." Jawab keduanya.

__ADS_1


" Siapa."


" Mama Eni." Ulang Nanda.


" Dengar ya Nanda! Mama kalian itu cuma satu. Cuma mom Devi." Ucap Kila mengingat Sevi memanggil Devi dengan sebutan mom.


" Tapi kenapa mama nggak pernah datang Aunty?" Tanya Putra.


" Kalau kalian mau berjanji sama Aunty, nanti Aunty telpon mom kalian gimana?" Bukannya menjawab pertanyaan putra, Kila justru mengajukan syarat kepada kedua ponakannya itu.


" Kita bisa ngomong dan Lihat Mom?" Tanya Putra " Tapi kata mama Eni, mama kita nggak akan pernah balik lagi jadi mama Eni yang ganti." Sambung Nanda membuat Kila Terdiam di satu sisi dia begitu marah kepada Heni tapi di sisi lain dia harus terima kenyataan kalau Devi sudah tidak ada.


" Maaf ka Dira, terpaksa aku harus memanfaatkan ka Dira, semoga ini tidak akan menggangu rumah tangga kakak nanti." Gumam Kila dalam hatinya.


" Kalau kalian mau berjanji kepada Aunty, Aunty Akan Telpon mama kalian sekarang." Ucap Kila, Kedua anak itu pun mengangguk dengan riangnya.


" Mulai sekarang panggil Jangan panggil dia mama Eni tapi bibi. Janji?" Kila menyodorkan jari kelingking.


" Janji." Keduanya langsung berebut jarinya Kila.


" Satu lagi jangan kasih tahu siapa pun kalau kalian ngomong sama mama kalian , Oke." Kedua anak itu kembali mengangguk.


Kila langsung melepaskan tautan jari kelingking mereka, Iya mengambil ponselnya dan menghubungi Melalui panggil video.


Sudut bibir keduanya terangkat ketika melihat foto Devi.


" Assalamualaikum." Ucap Devi membuat Putra dan Nanda langsung menangis saat melihat wajah Devi di layar ponsel Akhila.


" Mama Mama." Teriak keduanya, membuat Kila langsung mematikan sambungan telepon video mereka tanpa menjawab salam Devi. dia tidak ingin membuat yang lainnya curiga.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍


__ADS_2