
Setelah Acara maaf maafan antara dia dengan Nana. Ia mengecek Ketiga Anaknya di kamar mereka. Karena mulai hari ini Sevi dan kedua kakaknya akan tidur terpisah dengan Devi dan Aksel.
Setelah itu Devi segera kembali kekamarnya! Iya melihat Aksel sedang merebahkan tubuhnya di ranjang sambil bersandar pada kepala ranjang, Jari jari tangannya mengotak atik layar tablet yang ia pegang.
" Apa yang sedang kamu lakukan Aks." Tanya Devi, ia melangkah naik ke atas ranjang tepat di samping Aksel.
" Mencari sesuap nasi agar tidak di katai pengganguran oleh istri sendiri." Jawab Aksel sekenanya.
" Bukankah itu kenyataannya." Kekeh Devi. " Kamu memutuskan untuk pensiun dini dan keluar dari perusahaan papa, Setiap saat selalu berada di sisiku, mau itu pagi, siang sampai malam! apa itu bukan pengganguran namanya." Aksel terkekeh mendengar ucapan Istrinya.
" Kata katamu sungguh menyakitkan, Padahal aku melakukan semua ini untukmu."
" Sayangnya aku tidak memintanya! kalau aku tahu dari awal kamu sudah jadi pengganguran aku tidak akan kembali. Semoga kamu tidak menipu untuk memberi makan aku dan ketiga anakku."
" Apa tampan aku seperti penipu? kamu harus ingat sekali pun suamimu ini pengangguran! tetap saja aku pengangguran bergaji."
" Cih Sombong sekali."
" Bukan sombong sayang,tapi itu kenyataannya dan kamu harus menerima kenyataan itu." Ucap Aksel mengecup pipi Devi.
" Terserah, kamu sajalah! Anak sultan mah bebas ya kan?"
" Itu kamu tahu! sekarang gini aja, Dari pada kamu menuduh suamimu ini, Lebih baik kamu melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk kita berdua." Aksel menyerahkan Kunci dan map ketangan Devi.
" Apa ini Aks! Jangan bilang, Kamu ingin memberikan aku saham lagi." Ucap Devi, entah, Semenjak Kembali menjadi istri Aksel Devi sangat Realistis bukan matre ya. Hidup tuh butuh duit.
Aksel memutar kedua bola matanya, Istrinya yang sekarang semakin menyukai sesuatu yang menghasilkan uang Aksel pun memaklumi hal itu.
" Auuuhhh." Devi meringis saat Aksel menyentil Dahinya.
" Buka dan lihat dulu isi map nya! Jangan berpikir tentang duit duit dan duit saja."
__ADS_1
" Wajar donk Aks, dijaman sekarang ini segala sesuatu di beli pake duit. Emang jaman batu sistem barter." Tangan Devi membuka map yang di berikan Aksel. " Sertifikat rumah."
" Ya! bujuk mertua kamu yang licik itu, agar kita segera pindah dari sini. kalau tidak_"
" Kalau tidak apa?" Tanya Devi saat melihat senyum devil di wajah suaminya
" Kalau tidak bisa ya, Tiga kali sehari dan kamu yang memimpin permainannya."
" Tidak ada bantahan istriku, karena itu hukuman yang kamu jalani sebab telah gagal membujuk mertuamu itu."
" Bodoh amat! bujuk aja sendiri." Ucap Devi beranjak dari tempat tidur.
" Mau kemana?" Tanya Aksel begitu tangan Devi meraih ganggang pintu.
" Kekamar Mama lah." Devi tetap melakukan apa yang perintahkan Aksel padanya.
" Gitu donk! Istri yang penurut."
" Bukan istri penurut sayang! aku hanya takut sama hukumannya." Aksel menautkan kedua alisnya, sedang Devi masih berdiri ditempatnya sambil menatap Aksel.
" Hmmm dasar suami otak selanggkangan. Segala sesuatu Nggak jauh jauh dari itu." Keluh
Ia meninggalkan Aksel dengan terus mendumel. " Enak dengkul mu, Itu mah nyeri nyeri sedap." Sedangkan Aksel kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena di ganggu Istrinya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Dila Duduk bersama Erik di taman kota tempat yang mereka janjian melalui pesan singkat di ponsel mereka.
" Kakak marah sama Kila." Tanya Kila membuyarkan keheningan di antara keduanya.
" Aku tidak marah! hanya saja aku sedang binggung."
__ADS_1
" Maaf ya! semua karena Kila coba wa_."
" Tidak apa apa Kila! kamu jangan menyalakan diri kamu sendiri, aku sudah putuskan akan menikahimu." Kila terkejut mendengar ucapan Erik.
Beberapa hari tidak bertemu dan Erik juga tidak menjawab panggilannya atau membalas pesan yang dikirimkan ia dan kakak iparnya, kini Erik datang dengan keputusan yang diluar dugaan mereka.
" Tetapi aku ingin jujur satu hal dengan kamu." Ucap Erik Membuat Kila menetralisir keterkejutannya.
" Apa." Tanyanya.
" Setelah menikah aku mungkin tidak akan bisa menafkahimu_"
" Tidak apa apa Kak, Kila bisa berkerja di cafe ka Devi untuk memenuhi kebutuhan hidup Kila nanti." Potong Kila.
" Maaf Kila, bukan itu maksud aku! justru aku akan memenuhi kebutuhanmu secara lahir kalau bisa aku akan melebihkannya tetapi untuk Nafkah Batin Maaf Kila."
Kila langsung melongo mendengar ucapan Erik, tetapi dia menghargai kejujuran Erik, Kila senang Erik mau terbuka dengan masalahnya, mungkin bagi orang lain mereka akan diam karena malu dengan apa yang terjadi pada diri mereka.
Kila Kembali Tersenyum menutupi perasaannya yang di buat terkejut berulang kali. Ia duduk berjongkok di hadapan Erik menggenggam kedua tangannya. " Kila tidak masalah dengan kekurangan kakak, Kila akan membantu kalau kakak mau! tapi Kila tidak akan memaksa! cukup sayangi dan jaga Kila, kalau suatu saat kakak memintanya Kila akan dengan senang hati memberikannya kepada Ka Erik." Ucap Kila begitu tulus. Erik menatap lekat kedua mata Kila mencari kebohongan disana, Tetapi sayang yang erik dapat hanya pacaran ketulusan dari kedua manik indah itu.
" Kamu tidak jijik kepadaku?" Kila Tersenyum Sambil menggeleng kepalanya.
" Tidak! karena yang salah tuh jalan kakak, bukan diri kakak. segala sesuatu pasti ada alasannya! Kila benar kan." Tanya Kila, dengan sedikit ragu ragu Erik mengangguk. " Sudah hampir magrib sebaiknya kita pulang nanti Kila akan ngomong sama papa dan mama." Keduanya beranjak dari tempat duduk mereka.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
🍀 Tinggalkan jejak ya kalau suka 👍