
Aksel yang tengah sibuk dengan pekerjaannya kembali harus terusik dengan kehadiran putrinya.
"Huaaaaaa Mommy Ayah, bang Nanda jahat." Teriak Sevi dengan sesegukan. Ia menghampiri Aksel sambil membawa Rumah rumahan berbienya yang telah rusak.
" Kenapa kamu menangis sayang." Tanya Aksel, ia meletakkan tabletnya di atas nakas kemudian menghampiri Sevi, membawa gadis kecil itu kedalam Gendongannya. " Jangan nangis donk nanti kalah cantik Lo sama mommy." Bujuknya.
" Bang Nanda, Ayah."
" Kenapa sama Nanda?"
" Nanda lusat lumah Dede, bang Nanda jahat." Rengeknya.
" Mana sini ayah lihat." Aksel duduk di sisi tempat tidur, Sevi duduk di pangkuannya. Tangan Aksel meraih mainan putrinya itu.
" Udah lusat tan, ndaa bisa di susun agi. huuaaa Abang Nanda jahat sama Dede."
" Udah dong jangan nangis! Nanti ayah beli yang baru ya."
" Ndaa, ni hadiah dali Abbah Dede, huuaaa Mommy." Sevi turun dari pangkuan Aksel. " Punya Dede" Ucapannya Sambil menarik rumah rumahannya dari tangan Aksel.
" Mau kemana Nak." Tanya Aksel tetapi tidak di hiraukan Sevi.
" Mommy." Teriak Sevi, kaki kecilnya terus melangkah keluar kamar kedua orang tuanya.
" Mommy." Teriak Sevi lagi. gadis kecil itu terus mengelilingi rumah besar itu mencari keberadaan mommynya. Sedangkan Aksel mengikuti langkah putrinya dari belakang.
" Sayang, kamu kenapa Nak." Tanya Devi yang baru saja keluar dari kamar mertuanya.
" Mo m, A aba ng Nan da jah at." Aduhnya dengan Ucapan yang terputus putus karena sedikit lama menangis.
Devi mengusap pipi Sevi Setelah itu merapihkan rambut anaknya. " Lusat ndaa bisa di pasang Agi." Ucapnya sambil menyodorkan mainan pemberian kakeknya itu.
" Nggak papa sayang! Nanti beli lagi ya." Bujuk Devi.
" Ndaa mau, ini di beli sama Abbah Dede mom." rajuknya.
" Nanti minta beli lagi sama Abbah, tapi Dede Nggak boleh marah sama Abang ya." Devi membujuk putrinya itu.
" Ndaa bisa mom, Abang jahat! Abang ndaa minta maaf pun sama Dede."
__ADS_1
" Kalau Abang minta maaf! Sevi maafin Abang Nanda ya."
" Ndaa, punya Dede dah lusat."
Devi menarik Nafas panjang, kalau putrinya itu sudah merajuk! sedikit susah untuk di bujuk.
Aksel Menghampiri Sevi dan Devi. bersama Nanda, putra dan Daffa. ia mengajak mereka duduk di ruang keluarga, begitu juga dengan Devi dan Sevi.
" Bang Jelaskan sama Ayah! kenapa sampai Abang rusakin main dedenya." Tanya Aksel begitu Tegas.
" Dia dulu yah yang mulai yah. Lego aku di berantakin semua."
" Iya om, mobil mobilan Daffa juga di buang."
" Sevi." Panggil Devi.
" Dedetan cuma mau minjam punya Abang tapi ndaa di Tasih! Abang pelit mom." Ucap Sevi sambil memajukan bibir bagian bawahnya.
" Kalau nggak di kasih! bukan berarti harus diberantakin sayang. Terus kenapa mobil Daffa di buang." Tanya Devi.
" Dafa ambil boneta Dede buat mobilnya."
" Dede minta maaf Daffa dan Abang."
" Huaaaaaa ndaa mau! lumah Dede lusat."
" Abang aja yang minta maaf mom." Ucap Nanda ia menghampiri Sevi. " Ade jangan nangis, Ade boleh main Lego Abang! maaf ya." Ucap Nanda.
Sevi hanya diam, " Kenapa nggak mau maafin Abang?" Tanya Devi.
" lumah Dede lusat mom."
" Nanti ayah ganti yah." Bujuk Aksel.
" Ndaa, ini Hadiah dali Abbah." Ucapnya begitu menuntut.
" Nggak usah maafin Abang! Biar mommy minta Abbah beli Abang Nanda Lego yang banyak, Beli rubik juga buat kak Putra, Sevi Nggak usah."
Mereka memang Kembar tetapi tidak identik, Nanda begitu suka menyusun lego sedangkan Putra menyukai Rubik walaupun sama sama menyusun tetapi bagi Nanda rubik lebih susah dan membosankan sedangkan Lego bisa disusun menjadi apa yang dia inginkan. begitu juga dengan Devi ia tetap tumbuh layaknya anak perempuan pada umumnya, yang menyukai boneka dan pernak pernik anak perempuan lainnya.
__ADS_1
" Mommy jahat! mommy ndaa sayang lagi sama Dede."
" Kalau mau di sayang jangan keras kepala."
" Dev, jangan kerasin dia! salah Nanda juga kenapa sampai harus rusakin mainan adiknya." Seru Aksel.
" Maaf ayah Nanda Nggak sengaja."
" Tetap aja Nanda yang salah."
" Udah jangan main salah salahan! Sevi minta maaf sama Abang." Ucap Devi tak ingin di bantah.
" Mom_"
" Minta maaf." Tegas Devi.
" Maaf Abang."
" Sevi." Panggil Devi.
" Abang Dede minta maaf ya." Sevi dan Nanda saling berjabat tangan begitu juga dengan Daffa, sedangkan putra duduk Manis di samping kedua orang tuanya. " Tapi lumah Dede." Sevi Masih teringat sama rumah rumahannya.
" Nanti mommy minta Abbah beli lagi."
" Telima Tasih mom."
" Sama sama! Ya udah semua balik kamar! Daffa juga." Pintah Devi.
Mereka berempat pun kembali ke kamar masing masing.
.
.
.
.
🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍
__ADS_1