
Pada awalnya Devi memang tidak mengingat mereka, kalau ingatan tentang mereka muncul itu hanya bentuk kepingan puzzle, tetapi semua jelas teringat di kepalanya, ketika Devi melihat Aksel di bandara waktu itu.
Jantungnya berdetak tidak menentu saat iya berjalan keluar dari garbarata menuju ruang tunggu, di ikuti kepingan puzzle yang mulai menari nari di kepalanya, perasaan tidak nyaman kini mulai menyelimutinya, tetapi sebisa mungkin Devi menepis semua itu, sampai pandangannya menangkap sosok yang membuat kepingan itu menjadi sebuah cerita yang berhubungan dengan Sevi dan Kedua Anak yang dia tidak tahu seperti apa wujud mereka.
" Aku tidak pernah berharap takdir berpihak kepadaku, tetapi kehidupanku tanpamu jauh lebih indah dari pada berada di sisimu, Mungkin lebih aku tidak tahu kamu selamanya." Ucap Devi dalam hatinya sambil menarik tangan Erik untuk segera menjauh dari situ, Agar Aksel tidak melihat dia. Kalau pun suatu hari dia berhadapan dengan Aksel dia yakin hari dimana dia dan Aksel bertemu, tuhan sudah menyiapkan hatinya sehingga dia tidak terluka dan sanggup menganggap Aksel tak pernah ada dalam hidupnya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Erik, Sevi dan Nadia masuk kedalam rumah setelah selesai bersantai dan berenang. " Udah kaya nyonya ya!" Ucap Erik saat melihat Devi yang tengah bersantai di ruangan keluarga sambil menonton TV.
Devi tidak menanggapi celetuk nya Erik, membuat Erik semakin kesal kepadanya. " Kalau nggak mau ke cafe setidaknya beres beres ke, nyuci, nyapu, masak gitu." Ucap Erik.
" Emangnya gue babu lu." Jawab Devi sambil melempar bantal kearah Erik.
Nadia yang melihat ulah kedua sahabatnya itu, hanya bisa menepuk jidatnya, dia tidak ingin terlibat dengan dua manusia yang tidak terlalu bahagia masa kecilnya itu. Nadia memilih kembali kemar untuk bersiap siap pergi ke cafe.
" Dasar wanita berotak separuh." Ucap Erik, iya kembali melempar bantal itu kepada Devi.
" Biarin setidaknya aku masih lurus, emang kamu belut, mau di pegang kaya gimana juga tetap aja belok belok nggak bisa berdiri lurus." Devi tidak mau kalah begitu saja jika urusan berdebat dengan Erik.
" So tahu kamu! emangnya kamu lihat." Protes Erik yang tidak terima dengan Ucapan Devi.
" Nggak perlu di lihat langsung, dari luar juga udah kelihatan ko." Devi terus mengejek Erik.
" Ra lama lama gue buntingin juga Lu, biar lu sadar gue nih bukan belut."
" Yakin bang? Adek mau dong di buntingin." Tantangan Devi, Ibu beranak tiga itu selalu memiliki stok kata kata dalam menjatuhkan Erik.
" Huuuufff, Dasar J*blay, kelamaan sendiri sampai teman sendiri pun di embat." umpat Erik. membuat Devi tertawa terbahak bahak.
__ADS_1
" Lay lay panggil aku sih j*blay, Abang jarang pulang, Abang Erik yang belai." Devi kembali mengejek Erik dengan lagu dangdut yang pernah hits pada jamannya itu. Devi berdiri sambil berjoget joget di hadapan Erik setelah itu di berlalu meninggalkan Erik yang menatapnya dengan tatapan membunuh, " Wuuuee." Ejek Devi lagi ketika dia sudah berada di depan pintu kamarnya.
" Saaaaraap." Teriak Erik, membuat Devi langsung masuk ke dalam kamarnya, masih dalam keadaan tertawa.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Tepat Jam 11 Nadia, Erik dan Sevi tiba di cafe, sedangkan Devi tetap kekeh dengan pendiriannya dia tidak ingin ke cafe jika harus bertemu dengan Aksel lagi.
Cafe itu terlihat begitu ramai sama seperti biasanya, apalagi mendekati jam makan siang seperti sekarang ini, Erik dan Nadia suka kualahan. Tetapi Nadia tidak ingin memaksakan Devi.
Saat Akan melangkah menuju ruangannya, Nadia, Sevi dan Erik di samperin wanita paruh baya yang terlihat masih begitu cantik, mungkin kalau orang Jeli, mereka bisa tahu itu Sevi dalam persi tuanya.
" Maaf nak apa kamu yang punya cafe ini?" Tanya Wanita itu sekedar basa basi.
" Oh bukan! ini pun teman saya, saya di sini hanya bantu mengelola saja." Jelas Nadia kepada wanita paruh bayah itu.
" Oh begitu." Ucap Wanita itu sambil mengangguk angguk, " Apa boleh bertanya tanya tentang cafe ini." Sambung wanita itu lagi.
" Sebelum perkenalkan saya Aisya, Kamu boleh panggil saya Mama Aisya." Ucapnya ketika dia dengan Nadia sudah duduk, Mama Aisya mengulurkan tangannya kepada Nadia.
" Oh iya! Saya Nadia Bu." Ucap Nadia sedikit gugup sambil membalas uluran tangan wanita itu.
Setelah Acara perkenalkan itu usai, mama Aisya mulai menanyakan tentang cafe, mulai dari menu, interior, pelanggan sampai dengan omsetnya.
Nadia pun dengan senang hati menjawab, setiap pertanyaan Mama Aisya. tanpa rasa ragu dan curiga sedikitpun kepada wanita yang ada di hadapannya itu.
" Sungguh cafe yang sangat bagus." Ucap mama Aisya, " Andai saja yang punya cafe ini masih lajang sudah Tante jodohkan dengan anak Tante." gurau mama Aisya, di iringi dengan tawa kecilnya.
" Aku juga tidak tahu status teman aku itu apa, mau bilang istri orang Tetapi suaminya tidak pernah terlihat batang hidungnya, mau bilang Janda juga takut salah." Curhat Nadia yang tidak sadar jika wanita ini hanya ingin mencari tahu siapa itu temannya apa dia benar menantunya atau hanya orang lain yang memiliki wajah yang mirip dengan menantunya itu.
__ADS_1
" Jadi yang punya cafe ini perempuan." Ucap mama Aisya, pura pura terkejut, " Tante pikir yang punya cafe ini laki laki, Sayang sekali Anak tente yang laki laki udah nikah semua." Lanjutnya Dengan raut yang di buat buat seolah dia menyakan pemilik cafe itu adalah seorang perempuan.
" Iya Tante teman aku perempuan."
" Siapa nama teman kamu itu." Tanya mama Aisya mulai padat inti, tujuannya datang ke cafe itu.
" Namanya DEVINA ALDIRA, kami biasa memanggilnya Dira." Ucap Nadia membuat mama Aisya hampir saja terjatuh, Setelah sekian lama dia bisa mendengar nama menantunya. Tapi untuk saat ini belum terlalu cukup untuk membuktikan Kalau teman dari wanita yang ada di hadapannya itu adalah menantunya.
" Namanya bagus sekali, lain waktu Tante ingin bertemu dengan teman kamu itu, boleh nggak." Tanya mama Aisya.
" Boleh Ko Tante, dia pasti dengan senang hati mau bertemu Tante." Ucap Nadia membuat mama Aisya tersenyum.
" Sudah berapa lama kalian berteman." Tanya mama Aisya lagi.
" Aku dan Dira sudah 3 tahun lebih berteman, walaupun belum cukup lama aku sudah menganggap dira itu adik aku sendiri, Aku begitu kagum dengan dia, semangat hidupnya begitu tinggi, Bertarung melawan tumor untuk hidup demi putrinya, yang terlahir prematur." Ucap Nadia sambil menitihkan Air matanya.
" Sungguh wanita yang sangat hebat, Tante jadi penasaran seperti apa wajah nya." ucap mama Aisya membuat Nadia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menunjukkan foto Devi kepada mama Aisya.
.
.
.
.
Bersambung.
🍀Oke fix aku kasih 2 Bab nih, bolehlah berbagi sedikit denganku 🙏🙏🙏
__ADS_1
🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍