Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
Bonus. Sevi dan .....


__ADS_3

Setelah dari cafe, Aksel dan Devi langsung menemui klaen di Restoran yang sama dimana Devi pertama kali berjumpa dengan kakak beradik yang kini telah menjadi keluarganya.


Sedangkan Sevi, Nanda dan putra. Devi titip kan kepada Akhila dan Erik, begitu selesai menyuapi mereka.


Usai membahas kerjasama dengan dengan Klaen Tersebut, Aksel dan Devi langsung pamit tanpa mencicipi hidangan yang telah disajikan Pelayan, Setelah Aksel menolak dengan halus.


" Aku nggak enak sama mereka Aks." Ucap Devi, Keduanya Kini tengah dalam perjalanan menuju perusahaan. " Mana pesanan mereka banyak lagi, Ee cuma air putih yang kita minum."


" Sayang dalam berbisnis Nggak boleh pake hati tetapi pake otak! Perusahaan dia belum bisa bangkrut hanya karena membayar makanan yang tadi di pesan lagian kitakan Nggak minta." Aksel mengusap kepala Devi. " Ini bukan pertama kalinya Sikap aku kaya gitu ke klaen." sambungnya.


" Tapi Aku Nggak enak."


" Udah jangan di pikirkan lagi, mending kamu tidur, Aku nggak mau kamu sakit karena ke capean." Aksel menepikan mobilnya, ia menurunkan sedikit tempat duduk Devi. Agar istrinya itu nyaman.


" Aks."


" Yank tidur." Devi menurut saja.


Setelah kedua mata istrinya terpejam, Aksel melepaskan jas yang ia pakai untuk menutupi paha Devi, mengecup punggung tangan, Kening dan bibirnya. Setelah itu Aksel kembali melanjutkan perjalanan menuju perusahaan.


Begitu sampai di perusahaan Aksel langsung memarkirkan mobilnya di parkiran khusus Petinggi perusahaan.


Melihat Devi yang masih tertidur pulas, Aksel langsung menggendongnya.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Mata Devi terbuka kala cahaya senja perlahan lahan memudar! " Kebiasaan." Monolognya.


Devi menuju kamar mandi membasuh wajahnya Setelah itu keluar dari ruangan pribadi suaminya itu.


" Kamu sudah bangun." Tanya Aksel. Tatapannya tetep fokus pada laptop.


" hmmm! Kamu kenapa nggak bangunin Aku?" Devi bersungut. ia duduk di sofa sambil menatap lurus kepada Aksel.


" Aku nggak mau kamu Cape apalagi sampai sakit."


" Tapi kalau semua kamu yang kerjakan sendiri, nanti Mala kamu yang sakit Aks."


" Aku tidak mengapa, selama kamu dan anak anak kita bahagia dan baik baik saja, itu sudah lebih dari cukup."


" Tapi Aks." Aksel menutup laptopnya, ia berjalan menghampiri Devi yang tengah duduk di sofa. Aksel berbaring di sofa dengan paha Devi sebagai bantalnya.


" Sayang kamu tahu, Uang bisa Aku cari kalau nggak ada, emas atau Aset aset aku pun sama kalau Hilang aku bisa cari dan dapat lebih dari itu, tetapi Kalian berempat aku mau cari dimana, kalau pun di kasih itu tidak akan sama! kalian terlalu berharga buat aku jika kamu dan anak anak sayang sama aku tetap sehat agar aku tidak sakit." Ucap Aksel begitu tulus, ia menenggelamkan wajahnya pada perut Devi, membiarkan Jari jemari istrinya bermain di selah selah rambutnya.


" Aks, Maaf." Ucap Devi begitu Ambigu.


" Untuk."


" Maaf karena pernah menolak cinta kamu dan terima kasih karena kamu tidak pernah berhenti memperjuangkan aku! andai kamu menyerah aku tidak tahu seperti apa hidup aku yang sekarang."


" Jangan pernah ucapkan maaf atau pun berterima kasih sayang! Aku ikhlas memperjuangkan kamu." Devi bisa merasakan kecupan Aksel di perutnya.


Tok... tok...tok.


Ketuk pintu dari luar membuat Devi menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. " Hampir 7 , siapa yang masih lembur." Pikirnya.


" Masuk." Pintah Devi.

__ADS_1


" Ceklek."


Yanti masuk kedalam ruangan Aksel dengan membawa Undangan yang begitu mewah. " Kenapa belum pulang yan?" Tanya Devi. sedangkan Aksel tidak menghiraukan kehadiran Sekertarisnya itu.


" Ma ma af Mbak." Ucap Yanti Sedikit getaran, ia takut Aksel atau Devi Akan marah kepadanya.


" Ada apa katakan Saja."


" Maaf ini ada undangan dari Tuan Aldrich."


" Undangan! Untuk hari apa."


" Maaf Mbak, undangannya untuk malam ini, Acaranya mulai Jam Sembilang. sekali maafkan keteledoran saya. saya lupa memberi tahu Mbak." Yanti langsung berjongkok tanpa diminta.


" Bangun! Kamu boleh pulang."


" Maaf ya mbak."


" Iya, pulang lah." Yanti langsung keluar dari ruangan itu.


" Aks, bagaimana."


" Kita hadir."


" Tapi waktu kita tinggal dua jam! kita juga belum siap siap."


" Ya sudah kita pulang sekarang! biar nggak telat."


" Yank, kalau kita nggak hadir gimana?" Tanya Devi.


" Nggak bisa sayang! Pak Aldrich itu klaen penting kita kerjasama kita dengan perusahaan pak Aldrich itu sudah lama! jadi mau dan tidak mau kita harus hadir."


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Jam Setengah Sembilan Devi dan Aksel sudah siap dengan gaun berwarna biru Dongker yang menyelimuti tubuh Devi dengan leher berbentuk Sabrina, Sedangkan Tuksedo untuk Aksel dengan warna senada dengan Devi.


Mobil Aksel terparkir di halaman rumah Erik menunggu Kila yang tengah membantu Sevi bersiap siap. Aksel dan Devi sepakat untuk mengajak Sevi, sebab Nanda dan Putra sudah sering di ajak kepesta seperti ini oleh mama Aisya dan papa Bastian.


Mobil Aksel kembali melanju menujuk salah satu hotel tempat di mana pesta itu di gelar. Empat puluh menit mobil Aksel Sampai di hotel yang sama dengan alamat yang tertera pada undangan.


Ketiganya melangkah masuk kedalam ballroom hotel mewah itu, Aksel dan Devi langsung menemui Aldrich Anggara dan Meisya Violla. " Happy Anniversary." Ucap Aksel menjabat tangan Aldrich di ikuti Devi dan Sevi.


" Siapa ini cantik sekali." Tanya Aldrich Sambil mengusap rambut Sevi.


" Namanya AKSEVINA. dia putriku." Jawab Aksel begitu bangga memperkenalkan Sevi.


" Cantik sama seperti mamanya." Pujinya.


" Terima kasih." Ucay Devi sedikit membungkuk.


" Telima Tasih, Oma juga cantik." Sahut Sevi membuat orang Dewasa yang mengelilinginya tertawa.


" Kamu manis banget, kalau sudah besar jadi cucu menantu ku ya! Nanti Oma jodohkan sama dia." Tunjuk Meisya pada cucu lelakinya. " Namanya Faiz! Kamu mau?"


Entah mengerti atau tidak Sevi mengangguk kepalanya, membuat tawa orang dewasa itu semakin menjadi.


" Astaga lucu sekali." Ucap Meisya. Mereka pun lanjutkan obrolan mereka meninggalkan Sevi yang celingukan kesana kemari. Mata Sevi menangkap Eskrim yang tersusun di meja prasmanan berdampingan dengan minuman.

__ADS_1


Sevi berlari ke meja dimana Eskrim berada, ia meminta salah satu tamu undangan untuk mengambil Eskrim coklat kesukaannya. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan Sevi duduk di lantai tak jauh dari tempat Eskrim itu.


Wajahnya mulai belepotan karena eskrim yang ia makan. " Hai." Ucap seorang pemuda yang menghampiri Sevi. Sevi menatap pemuda itu sekilas. " Nama kamu siapa." ia ikut duduk di lantai tempat dihadapan Sevi.


" SEVI." Jawab Sevi Sambil menyuapi Eskrim ke mulutnya.


" Nama Kakak ARSEN." Ucap pemuda yang bernama Arsen itu tanpa di tanya! tangannya membersihkan pipi Sevi dengan tissue basah yang ia bawah. " Umur kamu berapa." Tanya Arsen lagi.


" Empat." Jawab Sevi, ia tetap fokus dengan Eskrim yang ada di tangannya.


" Suka sama Eskrim." Sevi mengangguk. " Kakak boleh cium." Entah setan apa yang merasuki pemuda itu, tidak ada hujan tidak ada badai tiba tiba ia ingin mencium gadis kecil yang belum mengerti apa apa itu, ia tidak peduli setia mata para tamu undangan yang menatapnya penuh tanya! terserah mereka mau menganggap ia pedofil atau apapun itu, yang jelas ia begitu tertarik dengan gadis kecil ini.


" Ndaa, tata mommy yang boleh cium Dede cuma Olang olang yang sayang sama Dede." Ucap Sevi walaupun ada kata yang tidak jelas tetapi Arsen mengerti Ucapan gadis kecil.


" Kakak juga sayang sama kamu! berarti Kakak boleh cium kamu." Modus dan sialnya sih polos Sevi kembali mengangguk kepalanya, tentu saja Arsen tidak menyia yiakan kesempatan, ia langsung mengecup bibir Sevi.


" Ciuman pertama yang manis." Ucap Arsen. ia melepas gelang emas putih, sisik naga yang ia pakai, Arsen memasanga gelang itu pada pergelangan tangan Sevi dengan cara melingkarkannya.


Setelah itu ia mencium Kembali bibir Sevi. " kamu milikku." Ucap Arsen dalam hatinya.


" Sen." Panggil seorang pemuda bertepatan dengan Sevi melihat keberadaan Devi, Arsen menoleh kepada pemuda yang memanggilnya tanpa ia sadari Gadis kecil yang ia klaim sebagai miliknya telah berdiri dari duduknya kembali ke sisi sang mommy.


" Kamu lagi ngapain duduk disini." Tanya Pemuda itu kepada Arsen.


" Kepo." Ucap Arsen.


" Terserah, jadi ke Club Nggak, teman teman udah nungguin tuh." Ucap pemuda itu, Rencananya malam ini Arsen akan merayakan hari perpisahannya dengan teman temannya, karena besok ia akan berangkat ke Aussie untuk melanjutkan kuliah dan menetap disana.


" Bentar yud." Arsen berbalik, sayangnya Sevi sudah tidak ada. " Dia kemana." Tanya Arsen.


" Siapa sen."


" Anak kecil yang sama aku."


" Dari tadi aku nggak liat anak kecil."


" Ahhhhh, gara gara kamu."


" Ko aku! emangnya anak kecil itu siapa? Faiz?"


" Bukan dia cewek."


" Setahu aku kamu nggak punya keponakan cewek."


" Terserah." Arsen langsung meninggalkan pemuda itu yang menatap penuh tanya kepadanya.


Disisi lain Devi dan Aksel langsung pamit pulang Begitu menemukan Sevi.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


ini udah lebih dari seribu lima ratus kata! kalau sampai ada yang komen sedikit lagi, sini Vivia sentil ginjalnya.


🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍


__ADS_2