
" Sssttthhh, jangan ngomong gitu lagi ya! Aku juga nggak tahu yang jelas kata mama, ada dan Nggak adanya kamu tidak ada yang bisa menggantikan posisi menantu pertama di rumah ini. Segala sesuatu tentang kamu di rumah ini tidak pernah di usik mau itu pakaian, foto sampai tempat duduk kamu di meja makan pun tidak ada yang duduki."
" Segitunya." Devi mengambil salah satu lingerie untuk iya pakai. Walaupun sudah tiga tahun pakaian pakaian itu tidak di gunakan tetapi masih pas di tubuh Devi. Sama seperti Devi Aks pun Menganti pakaiannya, iya mengunakan celana Boxer dan kaos polos berwarna silver.
" Iya, kamu itu bukan hanya berharga di hati Aku aja, tetapi di hati mama juga, hanya saja cara mama menunjukkan kasih sayangnya ke kamu beda itu beda dari yang lain, Mama bisa aja nunjukin rasa sayangnya secara terang terangan, tetapi mama Takut yang lainnya iri terus kamu yang tersakiti, walaupun pada kenyataannya kamu masih saja tersakiti."
" Aku nggak papa ko Aks." Ucap Devi ia kembali berbaring di samping kedua putranya, di ikuti Aksel.
Aksel membawa Devi kedalam pelukan hangatnya. " Iya aku tahu Istriku adalah wanita hebat, Maaf ya udah nyakitin kamu! Jangan sakiti lagi ya." Devi mendongak keatas menatap wajah Aksel. Jari jari Aksel bermain pada rambut Devi, menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya itu.
" Iya bawel, kenapa sih takut banget kalau aku sakit?" Devi menutup mata Aksel dengan telapak tangannya.
" Jika kamu sakit dan kenapa napa! Aku takut kali ini bukan hanya mama saja yang Anfal aku juga." Ucapnya meraih tangan Devi yang menutupi kedua matanya, Aksel mengecup telapak tangan Devi
" Apaan sih Aks! lebay deh, emang kamu punya penyakit jantung." Devi memukul lengan Aksel, Untuk menetralisir kegugupannya karena terus di tatap oleh Aksel.
" Nggak sih, jantung aku selalu sehat saat bersama kamu, tapi kalau kamu pergi, jantung aku juga berhenti berkerja loh." Masih dengan posisi yang sama.
" Aks udah donk, jangan liatin aku kaya gitu! gimana aku mau tidur."
" Tidur aja, Aku masih kangen kamu." Devi mengeratkan pelukannya pada Aksel.
" Aku juga kangen sama kamu." Mendengar ungkapan perasaan istrinya membuat hati Aksel bahagia! wanita Egoisnya kini mau membalas ungkapan perasaannya, walaupun baru perasaan rindunya. Aksel mengusap punggung Devi memberikan rasa nyaman, perlahan Devi pun tertidur.
" Terima kasih sayang! sudah mau kembali menghiasi hari hariku." Aksel mengecup kepala Devi sebelum tidur menyusul Istrinya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Pagi harinya Devi bangun seperti biasanya, ia melakukan segala ritualnya di pagi hari begitu juga dengan Aksel, bedanya selesai sholat Aksel kembali tidur sedangkan Devi memilih turun kebawah membantu Bibi menyiapkan sarapan.
__ADS_1
" Anak siapa yang nangis itu." Tanya Devi begitu mendengar tangisan anak kecil.
" Oh itu anaknya sih Heni Bu." Jawab salah satu pelayan yang sedang membutuh Devi.
" Panggil Devi aja Bi! kan bukan Devi yang gaji kalian tapi mama, terus umur aku juga lebih mudah dari bibi kan."
" Tapi nanti Nyonya marah."
" Udah tenang aja nanti aku yang ngomong sama mama." Devi menyiapkan Nasi goreng, Bubur ayam dan Sandwich untuk sarapan pagi itu. " Bi itu namanya kemana ko Anaknya belum diam juga! Kasian." Devi yang tengah fokus menyiapkan sarapan, Kembali harus terusik karena tangisan anak itu.
" Udah biasa anaknya nangis gitu! dulu waktu non Kila belum pulang! dia sering nangis soalnya mamanya lebih dulu Den Nanda dan Putra." Ucap salah satu pelayan yang bernama Ina.
" Terus kenapa anaknya masih nangis juga, bukannya Nanda dan Putra sudah di urus sama Kila."
" Nggak tahu, coba mbak Devi lihat aja kekamarnya! Ina Nggak mau di bilang fitnah."
Devi menghentikan kegiatannya. Ia melepas celemek yang dia pakai Sebelum pergi ke kamar Heni, Bersyukur kamar wanita itu tidak trerkunci sehingga Devi dengan mudah masuk kedalam kamar itu.
" Hai sayang, Kepana nangis! Takut sendiri ya, humm ungg." Mendengar suara Devi anak itu langsung berhenti menangis ia melihat Devi, Dengan mata yang berbinar Devi membalas tatapannya dengan penuh kasih sayang.
" Jangan sentuh anakku." Ucap Heni saat Devi akan mengendong putrinya.
" Maaf, tapi dia menangis! Aku nggak tega mendengarnya, makanya Aku ingin membantu menenangkan dia." Jelas Devi.
" Tidak perlu repot repot, karena dia sudah biasa seperti itu." sahut Heni membuat Devi bengong sekaligus jengkel. Mana Ada seorang ibu yang membiarkan anaknya menangis seperti itu, mau seperti apapun fisiknya dia tetap seorang anak yang butuh kasih sayang, jangan sampai keistimewaannya membuat ia di abaikan.
" Apa kamu bilang sudah biasa?" Tanya Devi
" Iya! Jadi aku harap kamu jangan so peduli dengan anak aku! Kamu nggak tahu gimana rasanya mempunyai anak seperti dia! Lebih baik kamu keluar urus anak dan suami kamu."
__ADS_1
" Anak aku mungkin tidak seistimewa anak kamu! Tetapi Aku juga seorang ibu, aku tahu bagaimana menunjukkan kasih sayang yang tulus kepada Anak anak, telepas dari dia anakku atau tidak! Tugas seorang ibu untuk memberikan cinta, kehangatan serta rasa aman untuk semua anak, termasuk anak kamu." Ucap Devi langsung bergegas keluar dari kamar itu, Sebelum dia kehilangan kendali dan menghancurkan wanita yang telah mengadaikan urat malunya ini.
Sampai di pintu, Devi menghentikan langkahnya ia berbalik menatap Heni. " Setiap wanita terlahir sebagai seorang putri dari ibu mereka, tetapi tidak semua putri mendapatkan kepercayaan untuk menjadi seorang ibu, Istimewa dan tidaknya dia, dia tetap anak kamu."
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Devi Kembali ke dapur membantu, menatah sarapan di meja makan. " Bi panggil yang lain untuk sarapan ya." Ucap Devi begitu selesai menyiapkan sarapan.
Setelah itu Devi pergi ke kamarnya untuk membangunkan Aksel dan kedua Anaknya. Setelah selesai sholat Ayah dan anak anaknya itu Kembali tidur, Devi pun tidak melarang mereka, di karena hari ini weekend.
" Nanda dan Putra bangun dulu nak! kita sarapan sama sama." Mengangkat kepala Nanda menghujaninya dengan ciuman di kedua pipi dan kening Anaknya itu.
" Mom, Aku masih ngantuk." Ucap Nanda.
" Selesai sarapan Nanda boleh tidur lagi, Sekarang cuci muka dulu ya." Nanda mengangguk. Cara yang sama Devi lakukan kepada Putra.
" Sayang ko aku nggak di banguni kaya gitu." Tanya Aksel.
" Aks, jangan kaya anak kecil deh! Aku nggak bangunin kamu tuh! karena aku tahu kamu sudah bangun." Devi menghampiri Aksel, ia mengecup pipi dan Kening Aksel. " Ayo kita sarapan."
" Bonus dulu." Aksel menarik tubuh Devi hingga terjatuh di atasnya, Tangan kanan Aksel menahan tengkuk Devi " cium selama pagi." Ucapnya Sebelum menempel bibirnya dengan bibir Devi.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍