Dewasa Sebelum Waktunya

Dewasa Sebelum Waktunya
Merelakan


__ADS_3

Kebahagian terpancar dari wajah kedua orang tua Dion dan Sekar.Mareka akan segera memiliki cucu.walau terselip kekawatiran,dikarenakan usia Dian dan Sekar yang masih sangat muda.Tapi paling tidak keadaan mereka saat ini baik baik saja.


"Mommy mau bikin akun sosmed juga Dad,mau follow itu akun kakak sama mantu mommy."


"Sama jeng saya juga mau bikin,mau saya follow itu akun putra putri kita."


"Iya ayo jeng kita bikin.!" sambar Dahlia,seraya menarik tangan Imel,untuk pindah dari duduknya dan membuat akun sosial media.


Johan,Dimitri dan ketiga pasangan remaja yang melihat itu,hanya bisa menggeleng gelengkan kepala.


"Petaka baru ini mah judulnya.!" kata Johan


"Alamat tidur ngelonin ponsel ini..! kata Dimitri


"SABAR PAH,DAD..!" seru kompak ketiga pasangan



 



__ADS_1


Empat bulan sudah Dion mejalani harinya dengan duduk dikursi roda dan tongkat.Walau sudah lebih baik,namun belum bisa berjalan tanpa alat bantuan.Pen yang terdapat pada kakinya juga belum bisa dilepas.Usia kandungan Sekar kini memasuki lima bulan.Perut yang nampak mulai membuncit itu,nampak lucu dan seksi.


"Papi..! aku jual cincin kawin kita ini boleh.?" tanya Sekar


"Uang kita habis ya sayang.?"


"Masih papi kalo buat kebutuhan rumah,cuma lusa waktunya papi terapi.Mami juga udah waktunya kontrol kandungan.Uang dari cucian masih lima hari lagi mami terimanya.Kalo uang pesenan pesenan kue kan,udah dipke buat tiap hari." jelas Sekar


"Motor aja mami yang dijual,jangan cincin kita ini.!"


"Kok motor.? nanti kalo papi udah sembuh,terus mau cari kerja gimana..?"


"Nantikan bisa naek angkot.Kalo cincin ini kan sebagai tanda ikatan kita mami,kalo bisa jangan pernah dijual."


"Mahalan juga cincin kita ini,dari motor itu..!"


"Masa sih pi..?"


"Iya.! ini cincin kalo dijual bisa dapet motor kaya gitu lima."


"Serius pih.? mahal banget dong ini cincin."


"Mami emang enggak pernah beli perhiasan.? enggak pernah beli berlian.?

__ADS_1


"Enggak pernah.!" jawab Sekar sembari menggeleng gelengkan kepalanya.


"Pantesan.! kalo mommy gimana.?"


"Mommy itu enggak suka pi,beli beli perhiasaan apa berlian gitu.Mommy orangnya sederhana,walau mantan pramugari juga.Cuma punya dua set perhiasan mommy,itu juga dipake kalo cuma nemenin Daddy ngehadirin acara bisnisnya aja."


"Pantes mami juga sederhana ya.? enggak neko neko.Minta tolong bawa ponsel papi sini."


"Mau buat apa.?"


"Hubungi Antok,mau minta tolong bantu tawar tawarin itu motor.!" Segera dihubunginya Antok,agar mau membantu menawarkan motor hitam kesayangan itu.Walau berat,tapi demi dirinya cepat berjalan kembali dan demi kesehatan jagoannya.Mau tidak mau,motor harus direlakan.


"Kaki papi masih sakit banget enggak.?"


"Enggak.! kenapa.?"


"Mami pengen pi,bolehkan..? posisi papi gini aja,mami yang kerja.Jadi kaki papi enggak gerak gerak."


Dion yang mendengar ucapan Sekar,bibirnya langsung melengkung keatas.Terbesit rasa bersalah pada istrinya.Hampir lima bulan dirinya tak bisa memberikan nafkah batin yang biasanya setiap hari diberikannya dulu.


"Iya boleh.! Sini bantu papi lepas celana papi..!"


Sekar membantu suaminya menanggalkan satu persatu kain yang menempel dibadannya.Begitu juga dengan yang dia kenakan.Dengan posisi Dion yang badannya bersandar pada kepala ranjang dan Sekar duduk diatasnya.Mereka melewati malam panas yang sudah hampir lima bulan tak mereka rasakan

__ADS_1


__ADS_2