Dewasa Sebelum Waktunya

Dewasa Sebelum Waktunya
Yang anget anget


__ADS_3

"Jagoan udah bobo ya mi.?" tanya Dion yang kini tengah berdiri diambang pintu kamar,yang diperuntukkan untuk jagoannya."He eh..!" jawab Sekar singkat.Dion menghampiri Sekar yang tangah melipat baju baju jagoannya.Didekapnya tubuh vitaminnya itu dari belakang.


"Mami kenapa.? berubah sama papi.Apa mami udah enggak sayang lagi sama papi.?" mata Dion kembali melelehkan cairan bening.Diciumi pundak sang vitamin dengan sayangnya.Dion merasa semenjak kejadian dimana dirinya dengan Melly,sang vitamin berubah.Tak lagi terbuka seperti dulu,lebih banyak diam,diajak bercanda pun hanya dibalas senyuman.


"Udah jangan nangis,enggak usah mikir macem macem.


Mami tidur duluan ya udah ngantuk.!" kata Sekar seraya melepaskan diri dari dekapan Dion.


Dion yang sudah tidak tahan dengan aksi Sekar,langsung menarik tangan Sekar,dipeluknya tubuh istrinya dengan erat.Tangisnya semakin menjadi jadi.


"Kalau mami emang udah enggak sayang lagi sama papi enggak apa apa.Tapi papi mohon jangan kaya gini sama papi.Semua yang terjadi diluar kemampuan papi,bukan keinginan papi.Maaf kalo papi udah bikin mami kecewa dan sakit.Tapi demi TUHAN.! apa yang papi ceritakan itulah yang terjadi.Mami juga lihat sendiri tangan kaki papi waktu itu gimana.? Hasil visum,cek darah juga mami udah lihat.Mungkin tubuh aku emang udah ternoda mi,tapi enggak untuk hati aku." Dicium kembali puncak kepala sang vitamin. "Ya udah mami tidur sana.! biar papi yang jagain jagoan".


Suasana bengkel hari ini sedikit bebeda.Pak Salim dan teman teman Dion nampak terlihat canggung pada Dion.Dion yang dalam mood berantakan,tidak terlalu mau ambil pusing.


Dion segera membereskan motor Rizki.Semua diganti baru,Dion meminta pada pak Salim biaya motor rizki dipotong dari gajinya.

__ADS_1


"Permisi bang...!" sapa Rizki


"Eh Riz..!! udah pulang sekolah..?"


"Udah bang.!"


"Sini lihat motormu.!" ajak Dion .Rizki menatap takjub pada motornya,benar benar disulap seperti baru. "Abang ini beneran motor Rizki.?" tanyanya tak percaya.


"Ya benerlah.! emang motor siapa lagi.?" ucap Dion.


Dipeluknya sosok tampan itu,air mata Rizki tak terbendung. "Abang makasih ya bang,makasih..!" ucap Rizki dalam tangisnya.


"Udah jangan nangis.! itu rejeki kamu,yang TUHAN titipkan pada abang."


Obrolan Dion dan Rizki terus berlanjut,Rizki yang juga suka otomotif,mulai besok akan menjadi murid Dion dibengkel.Pak Salim selaku pemilik bengkel juga mengijinkan.Rizki sangat bahagia karena mulai besok dirinya bisa belajar mesin selain disekolah.

__ADS_1


Hari hari berlalu dengan cepatnya,empat bulan sudah usia jagoan.bocah mungil itu kini tampak semakin tampan dan lucu.Hubungan Dion dan Sekar juga masih tetap tak berubah,Sekar masih saja tertutup,dingin pada Dion.Hanya jagoan lucunya yang kini menjadi pengobat Dion Dikala lelah.


"Papi kok belom tidur.? udah jam sebelas malem.Stop nonton TVnya,besokkan kerja.?"


"Besok kan libur.? lagian aku belum ngantuk." jawab Dion dengan mata yang tetap mengarah kelayar televisi.


Sekar sakit bila Dion mengucapkan kata aku,bukan papi seperti dulu.Sekar sadar jika dirinya selama ini terlalu egois.Semua bukan kesalahan suaminya.Tapi seperti ada dinding yang begitu tinggi menghalangi Sekar untuk dekat seperti dulu lagi dengan Dion.


"Mau minuman hangat.?" tawar Sekar


"Enggak mi,makasih..! nanti aku bikin sendiri."


Malam ini semua harus berakhir,semua harus selesai.Malam ini dinding yang membentengi dirinya dan sang suami harus segera diroboh.Sekar akan melupakan semua dan mengikhlaskan apa yang terjadi.Toh semua bukan kesalahan suaminya.


"Apa mau yang anget anget.?"

__ADS_1


__ADS_2