Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Pencuri Perhatian


__ADS_3

🌟 VOTE, LOVE, RATE, DAN LIKE 🌟


Bogor, Indonesia.


15 November.


Tania ingat benar setiap Raffa selalu mengingatkan dia perihal kebaikan. Tentang bagaimana caranya bertahan hidup, tentang bagaimana caranya bersikap demi menjaga nama baik ayahnya. Seakan, kalimat Raffa terus berdengung di telinganya.


Seketika lengan kekar pria pribumi itu langsung meraih dan menenggelamkan Tania ke dada bidangnya.


"Terimakasih Kak Raffa," suara serak terdengar begitu berat akhirnya keluar dari bibir mungil Tania.


"Anggap saja aku kakak kamu, dan aku akan selalu menjagamu. Tania ... kamu sudah menerima undangan makan malam Edo, entah kenapa rasanya aku tidak tenang," tukas Raffa, keduanya duduk berdampingan di teras rumah.


"Terimakasih Kak, aku mungkin memang belum mengenal Edo lama. Akan tetapi, sejauh ini ia pria yang baik. Kenapa Kak Raffa selalu membandingkan dengan Milan?" tanya Tania penasaran.


Raffa seketika terbelalak, gelagapan. Ia tidak menyangka Tania akan mempertanyakan ucapannya. Tidak ingin dipersalahkan karena Raffa mengetahui semua tentang keluarga Mahardika, ia segera berimprovisasi.


"Hmmmm ... karena nama akhir keduanya sama, aku pikir mereka memiliki hubungan kekerabatan, tetapi jika bukan ya syukur dong." Raffa mengusap keringat yang tiba-tiba mengalir deras di keningnya.


Tania mengerutkan keningnya, ia menepuk pundak Raffa lalu menelengkan kepalanya tepat di depan Raffa.


"Ada apa Kak? Jangan ragu, katakan saja. Atau jika ada yang perlu kau cemaskan, paling tidak katakan sekarang untuk pencegahan. Apa yang Kak Raffa ketahui?"


Raffa bangun dari tempat duduknya, ia berdiri membelakangi Tania, "Aku tidak ingin kamu celaka, dan aku akan menyesali untuk kedua kalinya."


"Jangan membuatku bingung Kak, kedua kalinya? Apa ini artinya kata-kata 'kedua kalinya', Kak Raffa ingin menjelaskan bahwa papaku bukan terkena serangan jantung, melainkan dibunuh?"


Tania mengitari Raffa dan berdiri berhadapan dengan Raffa, sementara kedua tangannya mengundangkan tubuh Raffa. Raffa memalingkan wajahnya berusaha menghindari tatapan mata Tania yang saat itu menatap tajam.


"Aku sedang mencari tahu, Tania. Itu sebabnya, aku meminta kamu berhati-hati. Bagaimana? Kamu tidak keberatan jika aku yang mengantar? Aku akan langsung pulang." Raffa menekan kedua bahu Tania saat berbicara, tatapan mata tajam yang mengisyaratkan keseriusan.

__ADS_1


"Ya, aku akan bersiap," desis Tania. Kemudian ia setengah berlari memasuki rumah dan bergegas menapaki anak tangga menuju kamarnya.


Tania berendam sejenak di bathtub untuk menenangkan pikiran. Namun, suara Raffa kembali berdengung di telinganya berulang kali.


" Hmmm ... karena nama akhir keduanya sama." Suara Raffa terus saja terdengar berulang kali di telinga Tania. Membuat gadis muda itu berteriak histeris.


"Aaaargh ...!" Jemarinya mengarahkan shower tepat ke arahnya. Ia menangis dalam guyuran air, luka itu kembali teringat dibenaknya.


Dua puluh menit berlalu, Tania keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju walk in closet miliknya. Ia mencari-cari baju pesta yang pas untuknya. Pilihannya jatuh pada gaun berwarna merah maroon selutut, dengan tali tebal menggantung di leher yang memamerkan keindahan punggungnya.


Tania bahkan sengaja menata rambutnya dengan aksesoris kristal dan diletakkan diantara rambutnya yang digulung ke bagian atas. Semua sengaja ia lakukan untuk menarik perhatian keluarga Edo nantinya.


Tania bahkan mahir merias diri dengan waktu yang begitu singkat, dengan polesan makeup tipis ia memadu padankan dengan lipstik berwarna ungu dengan sentuhan merah plum membuat Tania begitu menawan.


Ia bahkan mencari sepatu runcing dan clutch bag yang bewarna senada dengan gaunnya. Dengan tangan bergetar, ia membuka kotak perhiasan peninggalan sang mama lalu ia kenakan satu set perhiasan berlian dengan kilau yang menggoda.


Tania masih berdiri mematut dirinya di depan pantulan cahaya cermin. Disentuhnya pipi mulus dengan rona blush-on yang natural melengkapi kecantikannya.


Tania segera meraih clutch bag miliknya. Dengan langkah perlahan ia berjalan mantap menuruni anak tangga. Suara dentuman langkahnya terdengar nyaring ditelinga Raffa, membuat pria berwajah lokal, berkulit sawo matang itu segera menoleh ke arah sumber suara.


Bibir Raffa seketika melengkung indah, ia bertepuk tangan dengan tatapan ekspresi wajah takjub menatap Tania.


"Wow ... kamu beda banget Tania, cantik sekali. Aku rasa ide bagus jika Edo menyatakan cintanya, kamu terima saja. Aku rasa dia tidak sedingin Milan 'kan? Mudah sekali membuatnya masuk ke dalam perangkap," jelas Raffa.


Tania menghentikan langkahnya, ia tersenyum. Miris. Lalu ia mengangguk pelan, dengan sorot mata berkaca-kaca. Seharusnya ini tidak perlu ia lakukan jika saja ia tetap tinggal di rumah peninggalan keluarga. Tania bertekad menyelidiki semua karena dirasa ada kejanggalan.


Raffa segera membukakan pintu mobil untuk Tania, gadis itu terlihat duduk anggun dan tenang. Benar-benar perubahan yang luar biasa, ia sangat elegan namun menguasai beladiri yang tidak banyak orang ketahui.


Sesekali Raffa menoleh. Ia terlihat gugup melihat Tania, yang jemari lentiknya bermain-main di atas layar benda berbentuk persegi.


"Sedang hubungi siapa?" tanya Raffa berusaha memecahkan keheningan.

__ADS_1


"Aku sedang menanyakan alamat Edo Mahardika," ucap Tania, bohong.


Sebenarnya ia sedang berselancar mencari-cari akun media sosial milik Milan Mahardika. Satu persatu foto Milan ia buka, bibirnya tersenyum samar tanpa ia sadari. Entah sejak kapan Tania selalu ingin mencari tahu apapun yang berhubungan dengan Milan.


"Tidak perlu, aku sudah tahu alamat keluarga edit Mahardika. Kabarkan saja jika ia tidak perlu menjemput, karena aku sendiri yang antar." Raffa menangkap sesuatu yang tak biasa di wajah Tania.


Tania terkejut, matanya membulat bibirnya terbuka lebar.


"A-apa? Jadi sebenarnya Kak Raffa tahu banyak hal, akan tetapi sengaja menyembunyikan semua dari aku?" tanya Tania dengan suara terbata, karena terkejut.


Raffa menghela napas panjang, yang dirasakan mulai berat dan sesak memasuki rongga dadanya.


"Waktu kamu siap-siap aku cari tahu lewat internet," jawab Raffa.


Tak lama kemudian mobil mewah yang dikendarai oleh Raffa memasuki kawasan perumahan elit, tepatnya disebut mansion.


Tania tidak canggung sedikit pun, ia menguasai diri agar tetap tenang dan tidak menampakkan kegugupannya.


Raffa menundukkan kepalanya, dan menutup jendela kaca mobil.


"Tania, maaf aku tidak bantu buka pintu. Kamu keluar sendiri ya, jika butuh dijemput, lekas kasih kabar," ujar Raffa, dengan suara lirih.


"Ya, Kak. Tenanglah, aku akan berhati-hati. Tidak perlu cemas," jawab Tania sambil tersenyum lalu keluar melangkah dari mobil.


Tania mengedarkan pandangannya, sekelompok pria berjas hitam dengan perawakan kekar lengkap dengan kacamata hitam sedang berjaga-jaga. Seketika tubuhnya gemetar. Sementara itu, Raffa melajukan mobilnya meninggalkan mansion.


Bersambung ...


🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya, biasanya sebelum menulis saya suka baca komentar-komentar lucu dari kalian. Semoga banyak inspirasi. Salam hangat Lintang untuk kalian.


Salam cintaku.

__ADS_1


Lintang (Lia Taufik).


__ADS_2