
🌟 LIKE, FAVORIT, RATE 🌟
~ Hay semua ... jangan lupa tinggalkan jejak komentar setelah membaca, sebagai apresiasi terhadap penulis ya.
~ Happy Reading ~
Kehadiran Tania menyimpan kehangatan, yang kini membuat dua pria berebut untuk tinggal. Tidak terkecuali dengan Milan. Memang dia pria yang angkuh, bahkan sedikit pun tidak mau mengakui perasaannya.
Sementara Edo, lebih terbiasa dengan langkah keseharian yang sebelumnya pernah mereka lalui bersama. Langkah yang pelan namun terarah, pada perbincangan hangat yang sering kali berulang namun tetap menyenangkan dan menghangatkan.
Kehadiran Tania dalam hidup Edo seakan menawarkan hal baru dalam dunia pria malang yang pernah dibuat patah hati hingga remuk redam oleh perlakuan Milan sebelumnya.
Tania seolah menjelma menjadi seorang peri cinta yang selalu dirindukan. Ia selalu menggenggam erat di sela-sela jemari yang memberikan kehangatan dan mengisi kekosongan di dalamnya.
Milan masih terlihat kesal dengan kedatangan Edo yang tiba-tiba saja menerobos masuk ke rumah Tania, dan mengganggu rencana Milan yang sedang ingin membuat kesal dan efek jera pada gadisnya.
"Kenapa masih berdiri di sini? Pergi! Dan jangan pernah temui Tania lagi, aku akan mempercepat proses pernikahan kami," tukas Milan, mendengus kesal.
Bagi Tania didekati pria baik dan juga tampan seperti Edo adalah hal yang amat mendebarkan. Ia berbanding terbalik dengan kepribadian Milan. Membuat Tania lebih nyaman berlama-lama dengan Edo, meski pria itu tak setampan Milan.
"Jangan khawatir, aku hanya ingin minta waktu sebentar dengan Tania. Lima menit, tidak lama," balas Edo, sembari menarik Tania menapaki anak tangga sambil menggenggam tangan gadis itu.
Netra Milan menyoroti tangan adiknya yang tidak tahu malu menggandeng calon istrinya sesuka hati. Geram tentu saja, kakinya terhentak ketika menyusul menapaki anak tangga.
"Ngomong di sini saja. Dia anak perempuan, tidak ada keluarga pula. Tidak baik kamu ngajak ngobrol di tempat sepi," sergah Milan.
Kali ini ia tidak hanya melirik Tania. Ia bahkan tidak ragu berjalan mendekat lalu memandang lekat bola mata Tania yang terlihat begitu teduh dan menenangkan.
Mata Milan memang tajam memikat, bukannya menatap lawan bicaranya tetapi ia justru memilih menatap Tania, agar gadis itu tidak sedikitpun menatap Edo. Milan tidak akan membiarkan Tania mengalihkan pandangan sedikit pun. Membuat Tania gemetaran, ia serba canggung dibuatnya. Seolah sorot mata yang tajam menikam itu berhasil menghentikan detak jantungnya.
__ADS_1
"Baiklah, mungkin kamu juga harus dengar! Aku mau pergi ke luar kota setelah pernikahan kalian usai," ucap Edo, dengan nada ditekan. Membuat Tania menoleh dan mendongak menatap Edo.
"Aku ... minta maaf," sahut Tania.
"Untuk apa meminta maaf, ini bukan kesalahan kamu. Ini hanya kesalahan pahaman keluarga yang dianggap sebuah dendam," balas Edo, dengan suara serak dan berat karena menahan amarah dan juga sakit hatinya.
"Jika sudah selesai, lekas pergi. Oh ya ... jangan lupa sampaikan pada Gerry dan Raya jika pernikahan kami dipercepat," ucap Milan mencemeeh.
"Mereka orang tua kita Kak, jangan seperti itu meski kamu dikuasai emosi," Edo terlihat berbeda. Ia bahkan tidak menunjukkan emosi sedikit pun menanggapi ocehan Milan.
"Ya, tapi kedatangan kalian sudah jadi pengganggu. Jadi, cukup! Pergilah dari hidupku untuk selamanya.
Ucapan Milan seperti kilatan petir di siang hari. Namun, lagi-lagi Edo hanya menatap sayu.
Ia tidak perduli lagi dengan ocehan Milan, bagi Edo ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mengungkapkan seluruh rasa yang selama ini terpendam. Ia bahkan belum sempat menikmati madu kebahagiaan bersama Tania. Edo kembali mendekati Tania, ia meraih buku jemari gadis itu dan meletakkan di depan dada bidangnya. Tepat di depan Milan, tanpa rasa takut atau bahkan ragu.
"Tania ... aku begitu menyimpan harap kepadamu sebelum ini. Memupuk mimpi-mimpi kita. Menaruh rasa percayaku terhadapmu. Tahukah kamu, aku berada di puncak tertinggi dalam mencintai, hingga tak sadar ketika kamu mendorongku hingga terjerembab ke dalam jurang luka." Milan refleks mendorong Edo karena murka mendengar perkataan adiknya.
"Begitu mudah kamu ajak aku terbang dalam khayalku yang menginginkan kamu. Semudah itu juga kamu memaksaku kembali terjatuh. Aku berjalan sendirian Tania, tidak menemukan kamu lagi di sampingku. Aku hanya menemukan banyak perbedaan aneh dalam diri kamu yang aku tidak pernah tahu apa itu. Apa yang membuat kamu meninggalkan aku? Apa yang membuat kamu memilih Kak Milan dalam hitungan jam?"
Lagi. Edo mengeluarkan segala sesuatu yang selama ini membuatnya menjadi resah.
Tania tak bergeming, hanya diam memaku menatap kosong. Kecuali bulir bening yang terus luruh melewati pipi mulusnya.
Edo bangun perlahan dari lantai tempat dirinya tersungkur. Isakan tangis Tania mulai terdengar memenuhi ruangan. Milan tersentak menyaksikan semua itu. Ia berbuat sekasar apa pun Tania bahkan tidak pernah meneteskan air mata. Namun, karena ucapan Edo, gadis itu menangis.
Edo mulai berjalan melintasi Tania, ia tidak menatap kecuali bibirnya komat-kamit mengeluarkan kata terakhir.
"Aku tidak tahu kenapa sikapmu seperti ini, melepasku saat aku sangat berharap banyak akan cintamu. Menyedihkan, kenapa harus pria bernama Milan yang kamu pilih! Seandainya pria lain, mungkin aku tidak pernah sesakit ini," ucap Edo.
__ADS_1
Kemudian pria tersebut keluar meninggalkan rumah Tania tanpa menoleh sedikit pun.
Entah kenapa, dada Tania terasa sesak saat itu. Ia bahkan serasa sulit untuk mengucapkan sepatah kata. Lidahnya seolah kelu.
Tania berjalan gontai menuruni anak tangga. Tangannya meraih sapu dan mulai membersihkan hamster yang berkeliaran dengan sapu. Milan merasa tidak nyaman, ia memunguti binatang mungil yang semula ia gunakan untuk mengerjai Tania.
"Kamu ingat, pernikahan kita akan dimajukan. Dan aku ingin kamu terlihat begitu mencintai aku ketika itu di depan semua orang. Setelah itu aku akan mengirim penuh gaji kamu. Ingatlah, pernikahan kita nantinya sah dimata hukum dan agama," ucap Milan, membuat Tania yang masih kesal membulatkan matanya.
Tania mencoba mencerna semua ucapan Milan. Apa maksudnya? Ia menikah tetapi di gaji? Apa pula artinya Milan mengingatkan jika pernikahannya adalah pernikahan yang sakral sementara Milan mempermainkan ikatan yang dianggap suci itu.
Amarah Tania sedikit memudar setelah mengetahui Milan masih perduli menyingkirkan semua hamster yang semula sengaja ia letakkan di shopping bag Tania.
Bahkan Tania terlihat lega mengetahui Milan mulai meraih jaketnya yang teronggok di sofa dan segera berjalan meninggalkan rumah.
Hanya dalam hitungan menit, ponsel Tania bergetar tanda sebuah pesan masuk. Gadis itu segera membuka clutch bag miliknya. Lalu jemarinya segera menggeser layar ponselnya. Tertera nama Milan di sana. Kesal tentu saja, tetapi Tania malas berurusan dengan pria tersebut. Membuatnya terpaksa membaca pesan yang dikirimkan oleh Milan untuknya.
[Pernikahan akan dilaksanakan dua hari lagi. Dan setelah itu, kamu akan menyesali telah berani menghina dan mengabaikan aku]
Tania hanya mendesah berat setelah membaca pesan tersebut.
***
— To Be Continued
🌠Hollaaa kesayangan semua, "Dia Bukan Gadis Biasa" adalah novel kedua author di platform ini. Jika kalian menyukai novelnya, jangan lupa LIKE, LOVE, RATE juga ya, salam hangat author untuk kalian semua.
Salam cintaku.
Lintang (Lia Taufik)
__ADS_1
Found me on IG: @lia_lintang08