Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Scandal


__ADS_3

Suasa menjadi panas ketika Edo hendak mendorong kenop pintu dengan paksa. Pintu berderit dan terbuka perlahan. Edo terkejut, wajahnya merah padam, tangannya mengepal menahan amarahnya terhadap Milan. 


Edo kecewa pada kakak tiri yang selama ini ia hormati meski membencinya. Namun, berulang kali tega menyakiti hatinya. Luka. Itu yang dirasakan oleh Edo ketika melihat raut wajah Tania berubah mendung.


Netranya berpindah pada Mira. Wanita yang tak tahu malu, dulu pernah mempermainkan perasaannya ketika hampir menikah. Meninggalkan Edo demi Milan, dan sekarang justru muncul di tengah-tengah hubungan Milan meski sudah tahu kini Milan pria beristri.


Penampilan Mira awut-awutan. Matanya nampak merah, meskipun begitu Tania mengacuhkan dirinya setelah menariknya hingga terpelanting di lantai. Tania berlalu melewati wanita yang menjijikkan itu. Sementara Edo segera mengikuti langkah Tania dengan langkah lebar, tetapi dengan gerakan cepat Tania justru menahan dada bidang pria tampan itu dengan telapak tangannya sembari menggelengkan kepalanya amat pelan.


"Jangan, ini urusan rumah tanggaku. Aku bisa selesaikan semuanya sendiri, tolong bantu aku urus Mira, ya. Terimakasih sudah perduli," sergah Tania. Mata indahnya yang dikelilingi bulu lentik terlihat menahan bulir bening yang hampir saja luruh merebak. Namun, suaranya terdengar tegas mengucapkan 'jangan'.


Edo terdiam. Hatinya terasa perih mengetahui wanita yang amat dia cintai terlihat tegar meskipun sebenarnya menyedihkan. Diliriknya Mira Berpura-pura sedih sembari merapikan pakaian dan rambutnya yang acak-acakan.


Setelah Edo mengangguk setuju, Tania mengangkat jemari lentiknya mendorong kenop pintu kamarnya. Perlahan namun pasti ia membalikkan badannya, melemparkan tumpukan berkas yang sedari tadi dipeluknya di atas ranjang hingga menimbulkan suara keras hingga Milan terlonjak dan mengangkat wajahnya menatap Tania.


"Skandal apa ini?" Mata gadis ayu itu mulai berembun kemudian lolos begitu saja tak terbendung melewati pipinya yang putih.


Milan terdiam sejenak. Ia sangat mengerti jika kini Tania marah. Bagaimana mungkin tidak, suami sahnya hendak direbut paksa oleh mantan tunangan suaminya sendiri.


Milan bangkit dan berjalan mendekati Tania, dengan langkah perlahan. Ia sebenarnya ragu, sifat keras kepala Tania membuatnya semakin grogi. Menjelaskan segalanya seakan percuma ketika wanita dilanda amarah. Namun, Milan tetap berusaha. Sebab jika tidak, hidupnya akan hancur dalam sekejap. Mengingat bisnisnya berjalan karena bantuan ayah Tania.


Di raihnya buku jemari lentik milik Tania yang semula menggantung di udara. Di tariknya tubuh mungil dan ramping Tania hingga dalam pelukannya. Namun, Milan sangat terkejut ketika tahu Tania menolak, bahkan ia tidak ragu mendorong tubuh Milan yang bahkan bertubuh kekar.


"Jelaskan, Milan!" Sorot mata Tania menatap tanpa kedip.


Milan kebingungan, ia bahkan salah tingkah sampai mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, aku belum melakukan apapun," elaknya.


Tania tersenyum kecut, dihapusnya bulir bening yang sedari tadi membasahi pipinya. Kemudian ia maju selangkah tepat berada di depan mata Milan.

__ADS_1


"Belum? Apa maksudnya, belum?" Tania menegakkan posisi tubuhnya, mengangkat dagunya, menunjukkan bahwa ia tidak main-main saat ini.


"Aku tidak menyentuhnya, aku berani bersumpah demi apapun."


Milan mengelak, perlahan ia menekuk lutut dan bersujud tepat di depan Tania. Wajah Tania memanas, bukannya simpati ia justru meninggalkan Milan berjalan menuju kamar mandi.


Tidak ingin terlihat lemah, ia menumpahkan tangisnya di sana. Guyuran deras air shower menjadi saksi bisu kesedihannya kala itu. Usai puas menangis, Tania bergegas membersihkan diri lalu kembali menuju kamarnya.


Ia mempercepat langkahnya saat mengetahui Milan terlihat serius menekuni setumpuk berkas di sembari menyilangkan kakinya duduk di sofa sudut kamar.


Dirampasnya berkas-berkas tersebut dari tangan Milan. Membuat Milan terkejut, menengadahkan kepalanya menatap tajam.


"Kamu dari mana?" tanya Milan. Matanya membulat, ia seakan terkejut setengah mati setelah membaca beberapa lembar berkas milk istrinya yang tanpa sengaja tertinggal karena emosi di atas ranjang.


"Bukan urusan kamu, akan menjadi urusan kamu jika seandainya kamu setia! Tetapi, baru saja beberapa waktu berlalu kamu melakukan pengkhianatan. Biarkan aku pergi beberapa pekan, tunjukkan bahwa kamu layak aku pertahankan jika ingin aku kembali!"


Ia bahkan goyah tak sanggup menahan pijakannya. Tania segera mengemasi beberapa barang miliknya, kemudian ia berpamitan dengan Milan.


Milan menarik tangan Tania, memeluknya erat. Tangisnya pecah. Tania terkejut. Tidak pernah terbesit di pikiran Tania jika Milan mampu menangis karena dirinya.


"Jangan tinggalkan aku, kita baru saja menikah. Bisa jadi saat ini ada janin dalam rahimmu," tukas Milan, suaranya terdengar parau dan bergetar.


Tania tidak berubah pikiran. Ia justru memantapkan rencananya. Mencoba menjalankan apa yang diarahkan Burhan kepadanya.


"Dengar! Pantang bagiku menarik kembali ucapanku, jika memang benar apa yang kamu ucapkan buktikan. Aku akan kembali setelah mengetahui kamu setia."


Tania melepaskan pelukan erat Milan, kemudian berlalu meninggalkan Milan yang berulang kali menghadangnya. 


"Tania! Bagaimana bisa kamu tahu aku serius dengan ucapanku atau tidak jika kita saja tidak bersama," ucap Milan, sementara tangannya berusaha menahan pergerakan Tania.

__ADS_1


"Kamu sendiri yang bilang, aku bukan gadis biasa, sejak itu aku banyak belajar, mataku ada di mana-mana, jadi jangan khawatir!"


Suara langkah kaki Tania berdentum menuruni anak tangga disusul oleh langkah kaki Milan yang berusaha mengejarnya. Tania mengabaikan seluruh anggota Milan yang berdiri berjajar menunggu. Namun, ketika melintasi Edo Tania mengedip pelan, saking pelannya tidak ada yang menyadari jika Tania memberikan tanda.


Edo berpikir sejenak. Ia tersadar dan segera merogoh benda pipih di kantong celananya dan terlihat sibuk menghubungi seseorang, bahkan ia berusaha menjauh dari keramaian. 


Milan menyadari hal itu. Tetapi hal yang terpenting saat ini adalah Tania. Tanpa pikir panjang, Milan kembali berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Segera beberapa barang miliknya ia kemas kemudian meninggalkan mansion hendak menyusul Tania.


Langkahnya terhenti tepat di depan Raya dan Gerry. "Jika aku menemukan persekongkolan diantara kalian, aku tidak akan tinggal diam! Terutama kamu, Mira! Aku pasti membuat kamu menyesali perbuatanmu!"


Tania berjalan terseok-seok menuju trotoar, jaraknya tidak begitu jauh dari mansion. Fokusnya menemukan keberadaan sebuah mobil sport mewah berwarna hitam. Tak lama Raffa muncul dari balik pintu mobil tersebut dengan langkah terburu-buru.


Tania seketika masuk ke dalam mobil tersebut, ia poles tipis pipinya dengan bedak, kemudian bulu matanya yang lentik diberikan maskara, ia bahkan menambahkan blush-on, eyeliner dan eyeshadow untuk melengkapi penampilannya. Sementara itu, Raffa segera menyodorkan paper bag berisi rambut palsu berwarna coklat blonde yang segera Tania kenakan.


Setelah itu, ia mematut wajahnya dari cermin kecil yang baru saja ia keluarkan dari tas branded miliknya dan memasang kacamata hitam sebagai pelengkapnya. Tampil glamor suatu keharusan bagi Tania. Namun, tidak dikenali siapapun adalah hal terpenting saat ini.


"Apa rencana selanjutnya, Kak?" tanya Tania, ketika Raffa mulai melajukan kuda besi miliknya.


"Aku akan membuatmu melakukan sebuah misi, kamu akan menyamar sebagai penanam modal di perusahaan milik keluargamu sendiri," sahut Raffa, kemudian ia fokus mengemudikan mobilnya melewati jalanan yang masih basah akibat hujan deras yang baru saja reda.


— To Be Continued


🌠 Halo jangan lupa spam komentar kalian sebanyak-banyaknya jika ingin author update rutin ya. Terimakasih sudah mampir membaca, salam hangat Lintang untuk kalian semua ,❤️❤️❤️.


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik).


Found me on IG: lia_lintang08

__ADS_1


__ADS_2