Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Masa Lalu yang Dibenci


__ADS_3

🌠 Jangan lupa budayakan LIKE, dan juga spam komentar sebanyak-banyaknya setelah membaca.


~ Happy reading ~


Mira masih sudah terlanjur emosi. Ia duduk di riuhnya jalanan, hingga ia tak menghiraukan siapapun yang sedang mendekatinya.


"Mira, kamu Mira 'kan? Apakah kamu memiliki waktu untuk berbincang denganku?"


Keduanya saling menatap, sementara Mira yang bingung hanya diam. keningnya yang berkerut seolah penanda jika ia sedang berpikir keras.


"Um … saya sedang menunggu seseorang, Tante," sahutnya, gugup. 


Mira tak mengatakan apapun, meski sebenarnya hatinya sedang bergejolak menahan sakit hati bercampur emosi.


Raya, tersenyum sinis. Ia sangat tahu, jika saat ini Mira sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Perempuan paruh baya itu memang wanita licik, ia selalu memanfaatkan kesempatan untuk membalas dendam pada siapapun yang sering membuatnya gusar. Terlebih menyangkut hati putra semata wayangnya.


"Ada yang bisa Tante bantu? Ayo, masuk ke dalam mobil," Raya menampakkan keramahan demi melancarkan rencananya.


Mira menghela napas. Ia mendongak lalu mengintip ke dalam mobil. Mengetahui jika Edo duduk acuh di kursi belakang, terlintas rencana untuk membalas Milan.


"Oke, permisi Edo," sapanya, menerobos masuk dan duduk di sebelah Edo.


Edo yang dulunya pernah sakit hati mengabaikan keberadaan Mira.


"Edo, kamu masih marah? Itu hanya masa lalu," desis Mira, membuat Edo tertawa geli di depannya.


Mira mengerutkan keningnya. Ia penasaran, bahkan ia tidak menduga jika Edo bisa melupakan dirinya. Masih terekam jelas di benaknya, jika Edo sampai frustasi saat dirinya membatalkan rencana pernikahannya dengan alasan terang-terangan memilih Milan, ketika itu.


Rasa penasaran membuatnya mengesampingkan rasa gengsinya. Hingga pertanyaan yang tak biasa sengaja mencelos begitu saja dari bibirnya.


"Apakah kamu sudah tidak memiliki perasaan terhadapku?" tanya Mira, terlihat berhati-hati.


"Wanita seperti kamu, tidak pantas memiliki tempat di hatiku," ujar Edo, mendengus kesal.


Mira tertegun menatap Edo yang sedikitpun tidak tertarik seperti dulu kepadanya.


"Siapa?" tanya Mira, penasaran.

__ADS_1


"Apa?" Edo sengaja membuat membuat Mira penasaran dan kesal dengan membalasnya dengan kembali bertanya.


"Gadisnya, yang berhasil mengisi jiwamu yang selama ini kosong karena pergiku," ucap Mira dengan rasa percaya diri.


"Tidak sepadan, jika 'Tania' dibandingkan dengan wanita yang tak tahu malu seperti kamu," jawab Edo. Kini ia terlihat meradang menahan amarahnya.


Ia bahkan tidak memiliki sedikit keraguan sedikitpun saat menyebutkan nama Tania. Berbeda dengan Edo, Mira bingung mendengar wanita yang sama ternyata membuat adik dan kakak di keluarga Mahardika sama-sama jatuh cinta kepadanya.


"Aku membencimu, Tania," batin Mira, mengumpat dalam hati.


"Edo, jika hubungan kalian terputus apa salahnya jika saling berteman?" Raya menyela keduanya.


Senyuman seringai yang licik ia sengaja tampakkan saat itu. Mungkin Mira tidak menyadari, tetapi Edo tahu betul dengan sifat mamanya.


"Aku turun di sini," pinta Edo, kepada sang sopir pribadinya.


Raya terkejut, ia tidak menyangka jika sikapnya akan membuat putra kesayangannya sekesal ini.


"Edo!" teriak Raya, yang sengaja diabaikan oleh Edo.


Meski berdecak kesal, akhirnya Raya memberikan perintah agar sang sopir kembali melajukan mobilnya menuju sebuah kafe pinggiran kota.


Di meja yang berbeda, Raffa sedang asyik berbincang dengan rekannya. Tanpa Raya sadari mendengar suara yang tak asing membuat Raffa berpindah fokus kepadanya.


Bahkan, apa yang sedang direncanakan oleh kedua wanita licik itu terdengar jelas di telinga Raffa.


Apa yang terjadi jika Raffa terlanjur menangkap basah keduanya. Seharusnya, Raffa mendekati keduanya. Namun, ia menahan amarahnya demi untuk bisa memberikan pelajaran berharga pada kedua wanita licik yang kini sedang asyik berbincang sambil cekikikan di depannya. Perlahan, Raffa berdiri meninggalkan kafe usai mendengarkan perbincangan Raya dan juga Mira.


***


Sementara itu, di tempat yang berbeda. Di mansion baru yang kini mulai dihuni secara resmi oleh Milan dan Tania. Suasana terasa hening. Bukannya melampiaskan kemarahannya, tetapi Milan justru merencanakan pesta kecil untuk istrinya. Ya. Pesta kejutan kecil-kecilan sengaja Milan adakan untuk membuat Tania bahagia.


Siapa sangka jika ternyata Milan memiliki sisi romantis dalam dirinya. Dekorasi merah dipadukan dengan warna putih menjadi pilihan Milan kala itu. 


Ranjang king size miliknya yang dihiasi kelopak bunga mawar merah berbentuk hati di atas seprei berwarna putih sengaja Milan tata sendiri untuk Tania.


Tania yang diminta massage dan spa untuk merefleksi ototnya yang tegang beberapa hari ini, menurut saja pada keinginan Milan. Tentu saja masih di dalam mansion. Milan tidak akan membiarkan istrinya keluar lagi tanpa dirinya seperti sebelumnya.


"Tania, masih lama?" tanya Milan, yang mengagetkan dirinya yang hanya menutupi sebagian tubuhnya dengan selembar handuk saja.

__ADS_1


"Ti-tidak," balasnya gugup. Pipinya memerah menahan malu. Tidak lagi kesal. Milan meraba dadanya sendiri, ia sedikit lega melihat Tania seperti mulai terbiasa menerima kehadiran dirinya.


Dua puluh menit menunggu, Tania keluar dengan gaun berwarna merah maroon dengan tali menggantung di leher dan juga rambut yang di sanggul modern dihiasi dengan bando mirip mahkota di kepalanya, membuatnya terlihat semakin elegan.


Milan, segera berdiri meraih jemari Tania dan menarik ke dalam pelukannya.


"Tania, aku akan berusaha jujur apapun yang ingin kamu ketahui tentang aku, kamu, papa kamu, dan Om Burhan, apapun yang ingin kamu tanyakan. Mulai saat ini, kita mulai dari awal, bagaimana jika kita memulai hidup baru dengan serius?" Milan menangkup pipi Tania hingga saling bertatapan mata.


Belum sempat Tania menjawabnya, Milan mendaratkan bibirnya hingga saling bersentuhan dengan bibir Tania. Keduanya seakan larut dalam cinta malam itu.


Tania terbelalak, terkejut dengan perlakuan Milan. Namun, kali ini ia menikmatinya. Tidak ada penolakan sedikitpun. Milan tersenyum melihat istrinya memejamkan matanya dalam jarak yang begitu dekat.


Setelah napas Tania mulai tersengal, Milan melepaskan sentuhan bibirnya. Dengan tatapan matanya yang masih terfokus pada bibir ranum Tania. 


"Apakah kamu bahagia, malam ini?" tanya Milan, ia menatap tanpa kedip sedikitpun.


"Ya, tetapi aku butuh banyak pertanyaan yang melintas di benakku menemukan jawaban," tukasnya.


"Tanyakan apapun," sela Milan.


"Siapa sosok Mira? Dan apa artinya bagi kamu? Menurut pemahamanku, kau dulu merebutnya juga dari Edo," tanya Tania, yang sengaja memanfaatkan keadaan.


"Mira hanya goresan lama, yang hadirnya bahkan tidak sedikitpun aku inginkan. Kecuali membalas dendam pada Edo dan Raya," jelas Milan. Menjelaskan segalanya dengan jujur.


Tania memegang dadanya dengan kedua tangannya. Kini ia mulai lega, entah kenapa rasanya jawaban Milan mampu menenangkan dirinya.


"Aku butuh penjelasan tentang banyak hal, termasuk kedatangan kamu bersama Om Burhan di malam kematian ayahku malam itu," pinta Tania, matanya mulai berembun. Tatapan matanya mulai kabur karena lelehan bening mulai lolos dari kelopak matanya.


"Kamu bukan gadis biasa, ini clue-nya. Kamu akan menemukan jawaban lainnya, tetapi sedikit demi sedikit. Hal yang perlu kamu ketahui adalah, aku ada untuk membuatmu aman," bisik Milan, kemudian mengangkat tubuh ramping Tania menapaki anak tangga menuju kamarnya.


— To Be Continued


🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Jangan lupa ramaikan kolom komentar biar semangat update ya, salam hangat untuk kalian.


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik).


Found me on IG: lia_lintang08

__ADS_1


__ADS_2