
Pernahkah kalian merasakan rindu luar biasa? Rindu yang berlebihan hingga mengakibatkan luka. Berharap pada ketidakpastian yang menyakitkan. Itulah yang dirasakan Edo saat ini. Ia sedih, menyadari hal yang diharapkan seperti sebuah mimpi. Mimpi yang akan sirna ketika pemiliknya terbangun dari tidurnya yang panjang.
"Tania, jika tempat ini hanya membuatmu sakit akan kenangan masa lalu, maka akan lebih baik jika secepatnya kita pergi," ucap Edo. Ia duduk berjongkok tepat di hadapan Tania dengan tatapan matanya yang teduh.
Tania tersadar, kemudian ia bangkit dari duduknya. Lalu kedua pria yang bersamanya pun mengikuti pergerakannya menuju ranjang. Tania memilih merebahkan diri, sementara Edo dan Milan berdiri dengan posisi sejajar tepat di hadapannya.
"Aku masih tidak mengerti apa yang diinginkan ayahku, dan bagaimana masa depanku selanjutnya?"
"Kau akan menjadi anakku, identitas kamu akan berubah mulai saat ini." Suara lantang dari balik pintu, sepasang kaki berjalan mendekati Tania. Mengejutkan, mata Tania membola setelah mengetahui jika yang datang adalah bi Marni.
"Bukankah Bibi sudah mati, kenapa hidup ribuan kali?" tanya Tania, heran mengetahui kondisi wanita paruh baya tersebut masih segar bugar.
"Aku baik-baik saja. Sesungguhnya, ibumu memang mati terbunuh di kamar ini," tukas bi Marni memulai ceritanya.
Tania, Edo dan Milan mendengarkan dengan seksama. Kini ketiganya duduk melingkar di atas hamparan karpet permadani.
Cerita masa lalu Tania, nyatanya memang menarik untuk disimak. Terlebih kedua pria tampan itu sama-sama menyukai Tania.
"Bagaimana Bibi bisa mengetahui semua itu?" tanya Tania, dengan raut penasaran.
"Karena waktu itu aku berada di tempat yang sama," jawab bi Marni. Matanya kini mulai berembun ketika berbicara.
"Bisa ceritakan padaku? Lalu kenapa bibi meninggalkan aku, ketika kematian papa Reyhan?" tanya Tania, menaruh rasa curiga.
"Karena Reyhan sebenarnya sama seperti diriku. Hanya sebuah pion yang dimainkan oleh ayahmu, suatu hari ia melakukan pemberontakan. Hingga Burhan terpaksa menyuruh orang sewaannya menghabisi Reyhan yang kala itu sedang sakit dan kebetulan di rawat di rumah sakit." Bi Marni, berjalan mendekat kemudian ikut duduk bersama ketiganya.
__ADS_1
"Apakah yang sebenarnya terjadi? Apa juga yang dilakukan ayah Reyhan sehingga membuat papaku mendendam? Bukankah selama ini, ayah Reyhan yang membesarkan aku?" Tania terus bertanya tanpa henti.
Bi Marni tersenyum simpul, kemudian ia berkata, "Tania, Reyhan dulunya adalah orang kepercayaan papa kandung kamu, Burhan. Hingga suatu hari, Reyhan mengetahui jika istri Burhan adalah kekasihnya yang lama menghilang. Reyhan kecewa dan mendatangi villa ini dan membunuh mama kandung kamu yang merupakan kekasih lamanya."
"Lantas Bi," ucap Tania, penasaran.
"Sebagai gantinya, Reyhan merawat kamu. Namun, karena saat itu Reyhan berhasil menguasai sebagaian harta keluarga kamu, akhirnya papa kamu sering melakukan penyamaran sebagai seorang pebisnis biasa. Di saat yang sama, kami saling bertemu, dan ia memberikan aku tugas untuk menjagamu. Dan mengenai Raffa, ia sesungguhnya putra kandung Reyhan," jelas bi Marni panjang lebar. Membuat siapapun yang mendengarnya ternganga.
Tania menelan salivanya. Tubuhnya gemetar mendengar perkataan bi Marni. Bi Marni pun menyerahkan berkas-berkas pemindahan kekuasaan yang berhasil di copy oleh beberapa orang karyawan Raffa.
Tania memeriksanya lembaran demi lembaran. Ia memperhatikan semua yang sebenarnya adalah miliknya. Beberapa perusahaan swasta terkenal adalah salah satunya.
"Tapi, Kak Raffa pria yang sangat baik padaku." Tania menoleh menatap bi Marni lalu menjatuhkan diri ke pelukan wanita paruh baya itu.
"Karena ia berniat mengambil alih semua yang masih tersisa, dan masih dalam kendali papa kamu. Raffa sengaja peralat kamu untuk mendapatkan segalanya. Percayalah, ia sangat mendendam," jawab bi Marni.
"Reyhan di bunuh orang sewaan papa kamu tepat di depan matanya. Mungkin ini yang dinamakan karma! Dahulu, Reyhan membunuh mama kamu tepat di depan kamu, usiamu masih kecil, aku ikut bekerja dengan Reyhan karena aku adalah satu-satunya saksi. Aku berjanji tidak akan membocorkannya, asalkan aku boleh merawatmu." Bi Marni membelai lembut puncak kepala Tania.
"Dan ayah Reyhan memberimu ijin?"
"Ya. Namun, jika ia menemukan aku berkhianat, nyawaku taruhannya." Bi Marni perlahan membukanya sebuah tas yang berisi barang-barang kenangan Tania di masa lalu.
"Syukurlah, Kak Raffa kini telah tiada. Jadi, tidak perlu ada lagi yang perlu kita cemaskan," ucap Tania, ia seolah lega.
" Tetapi kenyataannya tidak begitu, semua preman yang selama ini mengejar kamu dan Milan adalah orang-orang kepercayaan Raffa," sahut Edo. Dan di balas anggukan kepala oleh BI Marni, membenarkan semua ucapan Edo.
__ADS_1
Seisi ruangan saling menatap. Mereka mencoba memahami rangkaian peristiwa yang terjadi selama ini.
"Penyerangan saat itu?" tanya Tania, bibirnya tercekat.
Ingatannya kembali melayang, ia teringat terkahir bersama Raffa ada orang yang menyerangnya karena saat itu Tania mengunggah foto dirinya yang mencari jati diri sebenarnya. Di saat bersamaan, Raffa menemukan bukti bahwa Tania adalah putri kesayangan pria yang telah membunuh ayahnya.
Raffa benar-benar pandai memanfaatkan peluang. Bahkan ia sengaja mengajari Tania bela diri dengan harapan, Tania sendiri yang akan membunuh ayah kandungnya. Tentunya sederetan rencana telah direncanakan dengan matang oleh Raffa.
Harapan Tania, yang menganggap segalanya telah berakhir, pupus sudah. Kenyataannya, ia harus menelan pil pahit akibat ulah para orang tua di masa lalunya.
"Lalu di mana Kak Raffa sekarang?" tanya Tania, tatapannya kini tertuju pada bi Marni dan kemudian berpindah pada Edo.
"Kita belum tahu, saranku ikuti saja dulu perintah papa kamu, Tania." Edo mengusap lembut punggung tangan Tania, sementara Milan yang mengetahui sikap Edo seketika menyentilnya dengan jemarinya kuat-kuat hingga Edo mengerang kesakitan.
"Bagaimana ini, Bi?" pertanyaan Tania kini ditujukan pada bi Marni.
"Kita rubah semua identitas kamu, kamu akan menjadi anakku. Kita mulai dari awal. Besok kita akan pindah, dan di saat yang tepat kita temui Raffa dan ambil kembali apa yang seharusnya menjadi hal kamu," jelas bi Marni, sembari memberikan beberapa identitas baru untuk Tania.
Tania menghela napas kasar. Seolah ia tak ingin berlari lagi yang membuatnya begitu lelah.
"Baiklah, aku ingin kamu pulang Milan. Rancanglah segala strategi. Namun, kalian berdua harus bekerja sama," ujar Tania, berharap dengan sepenuh hati pada keduanya.
"Aku ingin selalu menjaga kamu, Tania." Edo kembali mengelus punggung tangan Tania.
"Aku saja yang suaminya harus pergi, apa alasan kamu terus mengekor sama Tania, coba!" Milan berdecak kesal, sembari menendang tas yang teronggok di lantai sekenanya.
__ADS_1
"Selesaikan hubungan kamu dengan Mira, baru nanti kamu kembali," ucap Tania.
Milan tersentak mendengar permintaan Tania. Milan sangat malas berurusan kembali dengan wanita binal yang menggunakan segala tipu daya untuk menjeratnya.