Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Dia Adalah Mira


__ADS_3

Apa hatimu telah mati rasa?  


Atau sudah tidak berperasaan lagi? 


Rasa sakit sengaja kau rakit. 


Tulang rusuk yang keras dan bengkok sengaja kau patahkan berulang-ulang.


Kau bahkan sengaja menciptakan luka menjadi duka 


Mungkinkah aku hanya sepenggal cerita? 


Sedangkan kau sendiri membiarkan cinta  ini tumbuh 


Padahal sebenarnya kamu rapuh.


Tania masih menatap ke arah lain memalingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan Milan yang makin terkikis.


***


🌠 VOTE, LIKE, SPAM KOMEN, DAN RATE 🌠


~ Happy reading ~


Hembusan napasnya yang hangat, menerpa pipi mulusnya. Membuat Tania berdecak kesal karena ia semakin gugup karenanya.


"Milan, jangan seperti ini! Ini tempat umum," sergahnya, sementara sebelah telapak tangannya mendorong dada bidang Milan yang kian mendekat. Mencoba menahan agar tidak melihat tidak salah paham.


"Kau tidak cemburu?" tanya Milan, ia sengaja mengabaikan pertanyaan Tania. Dan membalasnya dengan berbalik bertanya.


"Apa alasan yang membuatku cemburu? Aku tidak memiliki perasaan apapun, kecuali hanya kesepakatan terpaksa," desis Tania, kecewa. Ia menghempaskan tangan Milan yang sejak tadi menghalanginya.


"Dia adalah Mira!" teriak Milan, yang mampu menghentikan langkah Tania yang berhasil berlari dari hadapannya.


Ya gadis itu seketika berbalik lalu menghampiri Milan, "Apa yang kamu inginkan?"


"Kembali pulang bersamaku! Jika tidak, aku akan hidup bersama dengannya. Kamu terlalu keras kepala, Tania!" Milan meninggikan nada suaranya.


"Ceraikan aku, biarkan aku bebas. Lagi pula, ini hanya pernikahan pura-pura," jawab Tania, mantap.

__ADS_1


"Jika aku main-main, aku tidak mungkin menyentuhmu! Melangkahi aturan, yang bahkan sengaja aku buat sendiri sebelumnya," jelas Milan.


Tania menatap dalam manik mata Milan yang terlihat bergerak-gerak. Matanya jernih, dihiasi manik-manik berwarna coklat yang memukau.


"Berikan alasan, agar aku bertahan," pinta Tania, ia masih berharap dianggap penting.


"Perjanjian yang kita buat, dan … mungkin saja kamu hamil anakku setelah malam yang kita lewati sebelumnya," jawab Milan, menekankan ucapannya.


"Apakah Mira oranganya?" tanya Tania, masih tetap berdiri di pijakannya, tanpa berani mendekat.


"Apa maksudnya? Bicara yang jelas." Milan menautkan kedua alisnya menatap Tania, ia terlihat begitu penasaran dengan pertanyaan istrinya.


"Apakah Mira yang sebelumnya juga menjadi tunangan Edo?" tanyanya.


Lagi. Milan berhasil dibuat kesal dengan rasa cemburunya, Tania menyebutkan nama Edo yang membuat emosi Milan membuncah.


Tania memang bukan sekedar gadis biasa. Ia selalu memiliki daya tarik tersendiri, yang mampu membuat Milan bahkan mengabaikan Mira, yang ternyata masih berstatus tunangannya.


"Ya, dia adalah Mira. Maksudku … namanya Mira, dia dulunya tunangan adikku, sama seperti kamu, berpaling karena tergila-gila pada pamor yang aku miliki saat ini," ucapnya berdalih. 


Sebenarnya, Milan ingin sekali marah. Tetapi yang ia takutkan, tidak bisa membujuk Tania pulang justru memperburuk keadaan.


"Kalau begitu pulang, sudah jelas 'kan kamu berbeda? Tunjukkan jika kamu bertanggungjawab atas perjanjian yang kita buat, dan juga sebagai seorang istri. Suka ataupun tidak, kamu istriku." Milan menarik kasar lengan Tania, membawanya masuk kedalam mobil yang sebelumnya Tania bawa.


***


Di tempat yang berbeda, Mira menantikan kedatangan Milan yang sebelumnya pamit ke kamar mandi. Mira terlihat risau setelah hampir dua puluh menit menunggu, Milan tak kunjung kembali.


"Permisi, sedang sendiri?" sapa Raffa, yang sejak tadi memperhatikan Mira yang datang bersama Milan.


Entah kenapa, bagi Raffa menemukan sosok wanita seperti Mira merupakan angin segar untuk memuluskan rencananya. Raffa sosok misterius, yang susah ditebak. Namun, dandanannya cukup mampu memikat kaum hawa yang melihat.


"Ya, sebelumnya aku datang bersama tunanganku," jawabnya, tanpa keraguan. Mira terlihat sombong dengan statusnya. Membuat Raffa yang kaget, lalu tertawa geli.


"Ummmmm … apakah maksudnya Milan Mahardika?" tanya Raffa, seolah tak yakin.


"Ya, Anda pasti mengenali Milan, karena dia pengusaha muda yang sukses," balasnya. Lagi-lagi Mira berusaha menyombongkan siapa Milan pada siapapun yang bertanya mengenai dirinya.


"Wah … kalau gitu, aku turut prihatin," jawab Raffa, sambil tersenyum kecut kemudian pergi meninggalkan Mira sombong yang masih duduk sambil meneguk segelas minuman yang berada di gelas genggamannya.

__ADS_1


Mira tersentak, ia merasa aneh dan penasaran dengan ucapan yang keluar dari bibir Raffa. Tentu saja Raffa sengaja mengucapkannya. Selain ingin memberikan pelajaran pada gadis yang berani sombong, ia sengaja membalas karena Mira telah berani berduaan dengan Milan yang masih berstatus suami Tania. Ada rasa tak rela dan kesal, ketika Raffa mengetahui wanita yang ia lindungi dipermainkan.


Mira mengejar Raffa yang berjalan dengan langkah terburu-buru meninggalkan tempat peragaan busana.


"Tunggu, hey!" teriak Mira, berusaha menghentikan langkah Raffa.


Raffa menyadari jika dirinya sedang diikuti. Namun, ia sengaja tidak menghentikan langkahnya. Ia justru mempercepat langkahnya memasuki mobil miliknya.


Diketuknya kaca pintu mobil berulang kali agar Raffa membukakan pintu untuknya. Meski hatinya kesal, akhirnya Raffa menurunkan jendela kaca mobil.


"Apakah kamu mengenal Milan? Aku ingin bertanya, apakah kamu melihat dia pergi? Dan apa yang aku lewatkan?" tanya Mira, tanpa henti karena penasarannya.


"Lucu, dan miris sekali! Kamu mengaku jika bertunangan dengan Milan, bukan? Bagaimana bisa kamu tidak mengetahui jika tunangan kamu menikah dengan seorang model terkenal Minggu lalu?" Raffa, tersenyum mencemeeh. Sambil menaikkan sudut bibirnya.


Mira melongo, kakinya lemas seketika mendengar penjelasan dari Raffa tentang Milan. Ia bahkan telah mengkhianati Edo, demi bertunangan dengan Milan. Hatinya sakit, tetapi amarah dan dendamnya lebih besar dari rasanya.


"Siapa nama istrinya?" tanya Mira. Matanya mulai berembun. Pandangannya kabur akibat air mata yang semakin mengalir deras. Wajahnya merah padam menahan amarahnya.


"Kamu mengenal pengusaha kaya raya bernama Reyhan Wijaya?" Kesalnya Raffa justru bertanya, bukannya menjawab. Membuat Mira rasanya ingin melempar wajah lawan bicaranya dengan sepatu runcing saja kala itu.


"Ya, tapi sudah mati," jawab Mira, berdecak kesal.


"Tania adalah putri kandungnya, pewaris segala bisnis miliknya. Jadi kamu mengerti apa bedanya kamu sekarang? Jelas berbeda Nona! Tania, bukan gadis biasa. Semua pria pasti mengincar ingin memiliki dirinya, termasuk Milan Mahardika," jelas Raffa, kemudian mulai menaikkan kaca jendela mobil yang ditumpanginya.


"Jangan senang dulu, aku akan membuat wanita bernama Tania Wijaya itu menyesal telah merebut milikku!" tukas Mira, sambil setengah berteriak. Lalu berlari meninggalkan Raffa yang masih menatapnya.


Mira sedang dirasuki oleh emosi yang tinggi saat ini. Tangisnya pecah, ia terus mengumpat Milan tanpa henti, ia terus berjalan sepanjang jalan trotoar. Kakinya terhenti, lalu duduk di pinggir jalan karena merasa pegal di bagian betisnya.


Sambil memijat  kakinya, Mira mengeluarkan benda pipih persegi dari dalam tasnya. Dengan tangan gemetar, ia berusaha menghubungi Milan berulang kali. Ia semakin kesal sebab Milan mengabaikan panggilan telepon darinya.


"Keterlaluan, kamu pikir aku akan diam diperlakukan seperti ini? Dan kamu Tania, jangan hanya karena kamu putri orang kaya bisa mengambil apapun yang aku miliki," ucapnya menggerutu.


— To Be Continued


🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya, kalian pasti penasaran bagaimana kelanjutan kisahnya 'kan?Jadi jangan lupa minta jempolnya ya guys. Biar banyak updatenya. Salam hangat Lintang untuk kalian.


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik).

__ADS_1


Found me on IG: lia_lintang08


__ADS_2