
🌟 Jangan lupa LIKE, FAVORIT, dan RATE 🌟
~ Happy Reading ~
Rahang Milan seketika mengeras. Pahatan wajahnya begitu jelas, ekspresinya menandakan kemarahan. Dengan tangan mengepal, Milan mendekati sosok yang juga tak kalah tampan dengan dirinya itu.
"Tunggu, jangan sentuh istriku!" sergah Milan, segera meraih kemeja tamu tersebut. Kemudian mendorongnya ke belakang. Untung saja pria tersebut juga jago beladiri, sehingga dia bisa membaca gerakan Milan dan menghindarinya. Sehingga tubuhnya masih bisa berdiri di pijakannya.
Pria itu tersenyum kecut, ia mengulurkan tangannya ke arah Milan. Sementara netra Milan mengamati penampilan pria itu. Hal yang membuatnya semakin marah, hingga kurang percaya diri adalah, pria tersebut terlihat dari kalangan berkelas. Terlihat jelas dari setelan jas yang ia kenakan.Â
"Selamat atas pernikahanmu, namaku Adrian. Silahkan tanya pada istrimu aku ini siapa? Jika dia bersedia menjawab, itu artinya anda pria yang beruntung," ujarnya, memberikan penjelasan.
Milan semakin penasaran dengan apa yang diucapkan Adrian. Sekilas ia melempar pandangan menatap Tania yang mengacuhkan dirinya, kemudian berpindah menatap Adrian dengan tatapan tidak suka. Bahkan, Milan enggan membalas uluran tangan pria itu. Milan justru memilih meninggalkan Adrian. Koleganya lebih penting bagi Milan. Ia lebih nyaman membaur dan berlama-lama di sana.
Sementara itu, ia juga lupa jika meninggalkan Tania seorang diri. Sehingga dengan leluasa Adrian menghampiri Tania.Â
"Aku mau bicara sebentar," bisik Adrian lirih. Sembari memperhatikan sekeliling gedung. Semua tamu nampak asyik sendiri meski suasana begitu ramai. Lalu dengan kasar, tanpa menunggu persetujuan Tania Adrian menyeretnya ke sebuah koridor.
Suasana koridor nampak lengang saat itu. Membuat Adrian melancarkan aksinya. Adrian terus berjalan tanpa henti, meski tahu Tania meringis menahan sakit di pergelangan tangannya. Tania bahkan tidak henti-hentinya meronta, menunjukkan penolakan terhadap sikap Adrian.
"Lepas, atau aku akan teriak!" pekik Tania, sembari sedikit mengangkat gaun pengantin miliknya yang terus menyapu lantai keramik di gedung itu.
***
Sementara di tempat yang berbeda, Milan masih tidak menyadari jika ia kehilangan Tania. Tetapi, beberapa bodyguard terlihat menghilang. Membuat fokusnya terpecah seketika.
Milan segera melambaikan tangan ke arah Raffa yang terlihat berbincang serius bersama Burhan. Entah obrolan apa yang mereka bahas, sampai-sampai keduanya mengabaikan Milan meski sempat melihat isyarat tangannya.
Merasa tak sabar, Milan setengah berlari mendekati keduanya. Raut wajahnya berubah panik, pucat pasi, napasnya memburu. Netranya menyapu sekeliling ruangan. Nihil. Tidak ada Tania di sana. Ia semakin frustasi, mencari bodyguard sewaannya tak satupun di temukan.
__ADS_1
"Om Burhan," panggil Milan, dengan suara keras.Â
Burhan tersentak. Tidak biasanya Milan berteriak seperti itu kepadanya. Pria paruh baya yang baru saja menjadi wali nikah Tania itu segera memutar tubuhnya dengan raut wajah kebingungan menatap Milan yang tergesa-gesa mendekat ke arahnya.
"Ada apa Milan?" tanya Burhan, dengan kening berkerut.
"Kalian lihat di mana Tania?" tanya Milan, Raffa terkesiap, matanya hampir saja mencelos dari tempatnya. Ia segera menyisir sekeliling tanpa berkata apa-apa lagi.
Milan tidak ingin semua tamu mengetahui jika Tania menghilang, ia segera meminta Gerry mengalihkan perhatian para tamu, dibantu oleh Burhan ketika itu. Sementara Milan sendiri juga ikut serta mencari keberadaan Tania.
Tania terus diseret hingga melewati tempat parkir, tetapi karena Tania cerdik ia meninggalkan apa saja sebagai jejaknya. Bunga di genggamannya pun ludes ia tebar sembari berjalan terseok-seok sebelumnya. Kini ia kebingungan ketika Adrian menariknya untuk memasuki mobil.
Seseorang dengan setelan jas serba hitam memergoki keduanya. Sehingga dengan langkah lebar bergegas mengejar menggunakan mobil yang berbeda. Terlihat jelas dari penampilannya jika ia salah seorang bodyguard sewaan Milan.
Adrian terus melakukan mobilnya setelah mengikat kedua tangan Tania, bahkan ia menutup mulut pengantin wanita itu dengan sebuah lak ban.
Setelah jarak sedikit jauh dari tempat mengadakan prosesi pernikahan, pria tersebut melambatkan laju mobilnya. Lalu, ketika mobil mulai berhenti, ia segera mengangkat tubuh ramping Tania dan memindahkannya di mobil yang berbeda.
Setelah memindahkan Tania di mobil yang berbeda, Adrian kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah sepuluh menit berkendara, ia mengurangi kecepatan mobilnya.
"Tania, jika kamu bersedia nurut dan bisa diajak kerja sama, aku akan membuka penutup mulut kamu dan juga ikatan tangan kamu," desisnya, berbisik di telinga Tania sembari menyetir.
Tania terlihat berpikir sejenak, kemudian mengangguk setuju. Membuat Adrian menepikan mobilnya di bahu jalan. Dengan gerakan cepat, ia melepaskan ikatan di tangan Tania dan juga menarik benda yang dilengkapi dengan lem yang menempel di bibir ranum Tania.
"Maaf, aku harus seperti ini," ujar Adrian.
Tania meringis menahan sakit, sembari mengelus pergelangan tangannya.
"Apa yang membuat kamu sekasar ini?" tanya Tania, heran.
__ADS_1
"Katakan, apakah kamu melangsungkan pernikahan dengan Milan berdasarkan cinta atau pura-pura?" tanya Adrian, ia menatap lekat wajah Tania. Tentu saja karena tak sabar menunggu jawaban.
"Milan adalah suamiku, mana mungkin aku terpaksa," jawab Tania.
Seketika kedua alis Adrian saling bertautan. Adrian juga merupakan pria keturunan bangsawan. Namun, karena ia kasar dan menentang aturan keluarga, membuatnya terdorong menjadi preman bayaran meski penampilannya tidak menampakkan sebagai seorang preman. Siapa yang bisa menerka, penampilannya saja seperti seorang pengusaha berkelas.
"Lalu, apa artinya Edo bagi kamu?" tanya Adrian. Lagi.
Tania terkejut mendengar nama Edo terucap dari bibir pria lain. Tania pun mulai menerka-nerka. Mungkinkah dalang di balik semua ini adalah Edo? Atau bahkan Adrian memiliki hubungan pertemanan dengan Edo? Paling buruk, keduanya saling membenci. Sehingga Tania beranggapan masuk akal sekali jika Adrian menculiknya untuk balas dendam.
"E-edo! Bagaimana kamu mengenalnya?" tanya Tania dengan suara terbata-bata.
"Jawab saja, jika kamu tidak mencintai Edo aku akan melepaskan kamu di sini. Namun, jika kamu ternyata mencintai dirinya, itu artinya aku harus mempertemukan kalian berdua," jelas Adrian. Tentu saja Tania tidak langsung menjawab, terlebih rasa ingin tahunya lebih besar.
"Apa hubungannya kamu dengan Edo?" tanya Tania, membalas pertanyaan yang diajukan oleh Adrian.
"Jangan membuatku semakin emosi, lekas jawab jika kamu menyayangi nyawa kamu," ujar Adrian, dengan penuh penekanan.
"Aku ulangi, aku mencintai Milan. Dia suamiku," jawab Tania, mempertegas bahwa kini statusnya sebagai istri Milan Mahardika.
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Adrian. Sembari menggelengkan kepalanya.
"Kamu mulai banyak berubah, Adrian. Aku tidak mengenali diri kamu lagi," ucap Tania.
— To Be Continued
🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya. Jadi jangan lupa minta jempolnya ya guys. Salam hangat Lintang untuk kalian.
Salam cintaku.
__ADS_1
Lintang (Lia Taufik).
Found me on IG: lia_lintang08