
❤️ Jangan lupa biasakan VOTE, LIKE, RATE, DAN KOMEN sebanyak mungkin setelah membacanya 🙏😍.
~ Happy reading
Setiap bertemu dengan Milan, ada rasa berbeda yang dirasakan oleh Tania. Rasa aneh yang entah apa namanya. Akan tetapi, yang jelas sikap pemuda itu kerap membuat Tania salah tingkah.
Sosok pemuda dingin yang begitu sulit ditebak, selalu membuat degup jantung Luna lebih dari biasa. Pria itu terus saja mendekat.
Bahkan Milan mengusap lembut puncak kepala Tania tanpa kedip sedikitpun. Napas Tania yang memburu, terasa hangat ketika berhembus menerpa pipi Milan.
Seketika senyuman manis terbit dari bibirnya, tapi hanya sebentar saja, sepertinya Milan memang pria yang amat pelit dengan senyuman. Namun, justru itu yang membuat kebanyakan wanita jatuh hati padanya.
'Siapa kamu sebenarnya? Aku begitu benci, tapi kenapa terkadang seolah nurani menolak untuk pergi? Mungkin kah kita memiliki rasa yang sama,' batin Tania. Tanpa sadar ia tersenyum sambil menatap.
"Mikir apa sih kamu?" Suara serak khas milik Milan, membuyarkan lamunannya.
Tania terhenyak dan segera bangkit dan meninggalkan Milan begitu saja, yang masih terduduk bersandar sambil tersenyum setengah mengejek dan terus menatapnya.
"Aku mau ganti baju!" teriak Tania.
Dua puluh menit Milan menunggu. Tetapi Tania tak kunjung keluar dari walk in closet miliknya. Tentu saja semua itu membuat lelaki itu semakin frustasi dibuatnya.
Entah baju tidur yang bagaimana yang menjadi pilihannya, sampai-sampai membutuhkan waktu selama itu untuk
Emosi tentu saja, membuat matanya menatap nyalang hingga beranjak dari tempat duduknya.
"Tania, apa yang kamu lakukan di dalam? Kalau mau tidur di sana aku kunci!"
Milan menempelkan telinganya, berusaha mendengarkan pergerakan Tania di dalam sana. Usai mengatakan kata-kata pamungkas, mana mungkin Tania hanya terdiam. Milan memang penggertak yang handal. Berulang kali ia mampu membuat Tania bertekuk lutut padanya.
Suara langkah kaki berjalan mendekat ke arah pintu. Dari dentuman langkahnya, terdengar pemilik kaki jenjang itu berjalan dengan langkah perlahan.
Ceklek ….
Suara pintu terbuka perlahan. Mata Milan kali ini melebar. Tetapi bukan tatapan tajam bak elang yang ia tampakkan, melainkan rasa takjub terhadap apa yang Tania pamerkan padanya.
Sebuah gaun tidur transparan, yang menampakkan seluruh lekuk tubuh Tania, mampu membuat Milan melongo melihatnya.
__ADS_1
Milan adalah pria normal, melihat wanita cantik yang terlihat sengaja menggodanya seperti itu tentu langsung beraksi. Dengan secepat kilat, tangannya menarik Tania hingga dalam dekapannya.
Sejenak kedua mata itu saling bertemu. Sama-sama menatap kagum meski sekejap. Milan yang dirasuki nafsu, segera mendekatkan bibirnya hingga keduanya saling bersentuhan untuk yang kesekian kalinya.
Nampaknya Tania mulai kecanduan dengan perlakuan Milan. Meski terkadang sok jual mahal juga, tetapi nyatanya Milan berhasil mendapatkan raga sekaligus jiwa Tania Wijaya.
Seharusnya Milan menikmati permainan Tania. Tetapi kenyataannya, ini adalah rencana yang sengaja Tania susun demi pengakuan seorang Milan.
"Aku sudah tahu kelemahan kamu, Milan," batin Tania. Kemudian kedua telapak tangannya mendorong kuat tubuh Milan yang terus-menerus menghimpitnya tanpa jarak.
"Kenapa?" tanya Milan, sklera matanya terlihat memerah. Antara menahan keinginannya sebagai seorang pria normal dan juga menahan amarahnya.
"Ini tidak gratis, aku butuh jawaban atas pertanyaan yang menggangu pikiraku."
Tania mengayunkan langkahnya menuju sisi ranjang yang terlihat mewah dengan hiasan kain berumbai bak ratu dan raja, dilengkapi taburan kelopak bunga mawar. Baru ia sadari jika ternyata suaminya memang sengaja menyiapkan kejutan untuknya.
Sejenak Milan termenung, berusaha menerka apa yang diucapkan Tania. Kemudian, ia pun mengikuti istrinya duduk disampingnya.
"Apa sih yang kamu inginkan? Kenapa seperti anak kecil yang lagi tantrum begini?" tanya Milan, berhati-hati sambil mengelus rambut Tania yang sengaja memalingkan muka.
"Katakan dulu, apa keuntunganku jika menuruti mau kamu," jawab Tania, tangannya meraih selimut segera menutupi sebagian tubuhnya.
"Jadi kamu masih berpikir jika ini suatu kesepakatan?" Milan menatap tajam tanpa kedip, meski kemudian diikuti dengan pejam beberapa detik.
"Lalu?" Tania membalikkan badannya, memberanikan diri mengangkat wajahnya, yang kemudian segera ditangkup oleh telapak tangan Milan.
"Dengar, ini cinta! Bukan kesepakatan, perjanjian, atau apapun!" Milan mulai mendengkus keras, kemudian meninggalkan Tania menuju kamar mandi.
Tania mengusap lembut dadanya, "Aku bersyukur, masih selamat. Besok entah harus alasan apa lagi, ah … tadi salahku sendiri menggodanya dengan pakaian seperti ini."
Bukannya memanfaatkan waktu untuk segera tidur, tetapi Tania justru berbegas kembali menuju walk in closet dan berganti pakaian tidur lainnya.
Suara gemericik air terdengar jelas dari walk in closet karena jaraknya yang dekat dan bersebelahan.
"Mungkin dia kepanasan," lirih Tania sambil tersenyum.
Mendengar suara gemericik air itu terhenti. Dengan gugup, Tania segera lari dan menarik selimut pura-pura sedang tidur. Namun sayangnya Milan sudah menangkap basah tingkah anehnya.
__ADS_1
"Kenapa mengintip aku di kamar mandi?" tanya Milan, sambil menaikkan sebelah alisnya.
Tania berusaha menahan tawa, sebab ternyata Milan sedang salah paham terhadapnya.
"Siapa yang ngintip? Sudah, tidak usah dibahas. Lalu apa rencana kamu mengenai perjanjian yang telah kita buat. Apa gak sebaiknya kita batalkan saja?" celotehnya.
"Ikuti semua permainanku, nanti kamu akan mendapatkan hadiah yang selama ini kamu inginkan. Tetapi janji, kamu harus bersungguh-sungguh," tukas Milan.
Kemudian ia juga ikut menarik selimut agar Tania sudi berbagi dengannya.
Namun, Tania justru menindih semua bagian ujung selimut dengan tubuhnya. Sengaja mempersulit Milan yang sebenarnya ingin beristirahat lebih awal.
"Kamu harus latihan mesra padaku!" bisik Milan pada Tania, membuatnya mau berbagi selimut dengan Milan.
Suasana derasnya hujan. Ternyata ampuh sekali mendukung membuat kedua insan yang mulai jatuh cinta setelah menikah itu semakin menempel saja.
Namun, mengejutkan. Tania ternyata telah menggantikan pakaian tidurnya dengan piyama dengan lengan panjang yang menutupi bagian seksi tubuhnya.
Milan mendengkus saat Tania meringkuk di balik selimut. Tak lama kemudian Milan memeluk erat tubuh ramping Tania dari arah belakang.
Belum juga ia memejamkan matanya. Suara ketukan pintu kamar yang digedor-gedor mirip orang nagih hutang membuat kedua pasangan itu terlonjak dan segera bangkit dan membuka pintu kamar.
Dibukanya pintu perlahan hingga berderit, keduanya semakin terkejut melihat kedatangan Raffa yang terlihat amat serius dengan napas ngos-ngosan.
"Milan, aku ingin bicara penting. Hanya berdua saja dengan kamu, harus saat ini juga. Segera ya, aku tunggu di ruang tengah," ucap Raffa. Kemudian meninggalkan Milan dan Tania seakan memberikan jeda.
Milan segera meraih kaos berwarna gelap yang segera berganti pakaian lalu bergegas menemui Raffa.
"Milan, aku mendengar percakapan mama tiri kamu dengan Mira. Ini penting untuk dibahas," ujar Raffa mengawali pembicaraan saat Milan mencapai dasar tangga.
Milan seketika berjalan mendekati Raffa dengan langkah lebar. Tentu saja karena rasa cemasnya, Milan baru sadar jika Mira dan juga Raya sama-sama wanita yang licik. Ia takut berakibat buruk pada Tania.
🌠 Halo kesayangan, jumpa lagi sama goresan aksara milik Lintang, jika kalian suka dengan Novel ini minta dukungannya melalui jempolnya ya, spam komentar sebanyak-banyaknya juga, biar Lintang semangat update Bab barunya. Salam hangat Lintang untuk kalian semua.
Lintang sengaja menyematkan kata-kata yang tidak umum di kalangan pembaca, untuk memudahkan menghayati alur cerita.
— Sklera: Bagian putih pada mata.
__ADS_1
— Tantrum: Ledakan emosi yang dikaitkan dengan anak-anak.