Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Tentang Mengapa Mencinta


__ADS_3

Tania melepaskan pelukannya perlahan, mengangkat kepala dan menatap sendu untuk terakhir kalinya pada sang ayah.


"Berapa lama lagi?" tanya Tania. Kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"Seharusnya menit ini. Kau sudah tidak sabar rupanya berpisah dengan ayah kandungmu sendiri, ya?" Burhan menimpali, dengan senyuman kecil yang terpaksa ia terbitkan.


Hening sekali ruangan itu. Meski di sana Tania tak hanya berdua. Melainkan ada Edo yang memperhatikan di sudut ruangan, beserta Milan yang telah terjaga tanpa ada yang menyadarinya kecuali Burhan.


Tak lama kemudian, Burhan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas mewahnya. Terkesan mencurigakan. Melihat gelagat aneh tersebut, Edo segera bangkit dengan mata melebar.


Tiba-tiba tubuh Burhan bergerak memutar melempar suatu benda yang sekilas terlihat seperti mata anak panah ke arah Milan.


Slaaap!


Sebuah benda yang membuat mata seisi ruangan terpana ketika benda tersebut mendarat di dada Milan.


Edo terlonjak, sementara Tania segera berbalik tak kalah terkejutnya. Melihat sang suami seakan tertancap mata anak panah yang seketika menghujam di bagian dadanya.


Milan sendiri bahkan mengeluarkan suara memekik terdengar melengking menahan rasa sakit. Saat ia refleks terkejut menahan dilanda takut.


"Spider." Milan mengibaskan telapak tangannya berulangkali berusaha membersihkan laba-laba yang menempel di dadanya.


Ketika itu, Edo dan Tania berlari bersamaan dengan Edo menghampiri Milan yang masih mendelik menatap benda yang mendarat tepat di atas dadanya.


Kalian terkecoh! Burhan cekikikan dan berlalu pergi. Saat Tania dan Edo mengerumuni Milan.


Ketiganya refleks menoleh Burhan yang kian menghilang dari pandangan mereka. Setelahnya ketiganya tertawa terbahak-bahak sekaligus kesal luar biasa melihat sebuah laba-laba plastik bertengger di atas dada bidang Milan.


Sial! Keterlaluan sekali cara Pak tua itu mempermalukan aku di depan putrinya! Milan menyatukan kedua sisi giginya hingga beradu dan menimbulkan suara.


"Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?" Tania membuyarkan lamunan Milan.


Milan terkejut lalu mengerjap berulangkali. Mencoba fokus dengan ucapan istrinya yang menatapnya dalam jarak begitu dekat.


"A-apa?" tanya Milan, kebingungan karena hanya mendengar separuh saja dari kalimat yang diucapkan oleh Tania.


"Apakah kondisimu membaik?" Tania mengulang bertanya.


"Uuum … ya. Lebih baik kita beristirahat di rumah." Milan menggenggam erat tangan Tania di depan Edo yang menatap keduanya, dan membalasnya dengan senyum tipisnya.


"Aku akan mengurus administrasinya. Sekaligus akan menghadiri pemakaman Raffa." Edo berjalan meninggalkan ruangan setelah berpamitan.

__ADS_1


"Edo, bisakah kau membawaku? Sebagai penghormatan terakhir pada pria baik yang tidak kuduga, ternyata justru menjaga dan mengajari istriku banyak hal selama ini."


Edo menghentikan langkahnya. "Ya, aku juga akan menyiapkan kursi roda untukmu jika dokter yang merawat mu memberikan ijin nanti."


**


Suasana pemakaman nampak sepi. Hanya dihadiri beberapa orang terdekat. Selain itu, keluarga angkat Raffa juga datang menghadiri prosesi pemakamannya.


Lenguhan burung hantu panjang sekali. Saat Tania larut dalam tangisnya, memeluk batu nisan pria yang sudah dianggapnya sebagai Kakak kandungnya sendiri. Suara lenguhan itu, membuat telinga pendengarnya terasa pengang. 


Bau harum melati, pandan, dan juga cendana mendominasi tempat itu. Sementara dedaunan kering terdengar kemerasak ketika para pemilik kaki pelayat menerobosnya. 


Di bawah pohon besar yang rindang, Milan duduk di kursi roda, ditemani Edo dengan payung hitamnya. Keduanya menatap sendu ke arah Tania yang larut dalam tangisnya. 


Tak lama kemudian, Edo berjalan mendekat dan menemani Tania. Berulangkali elusan hangat Edo daratkan di punggung Tania.


"Tan ... kita pulang saja ya, kita sudah terlalu lama di sini. Raffa kini sudah berada di tempat yang seharusnya. Masa depan bahagia menunggumu," tukas Edo sambil jemarinya menunjuk ke arah Milan yang duduk menunggu.


Tania menghentikan tangisnya sejenak, kemudian menoleh ke arah Edo. "Kalian duluan saja, Do. Tolong bawa Milan pulang ke rumah keluarga ya. Aku akan menyusul nanti."


"Beri aku sedikit waktu di sini,  menemani Kak Raffa untuk terakhir kalinya," imbuhnya kemudian.


"Aku akan bertanya kepada Milan terlebih dahulu, jika aku saja tidak rela meninggalkan kamu sendirian, apa lagi dia yang kini menjadi suami sah kamu," balas Edo, kemudian beranjak pergi.


Edo hanya diam, menunggu apa yang akan dikatakan Tania selanjutnya.


"Terimakasih," ujar Tania selanjutnya.


"Ya, aku bahagia masih bisa melihatmu." Edo segera melangkah pergi setelah menjawab.


"Kenapa lama sekali?" cela Milan dengan raut kesal.


"Dia ingin kita pergi lebih dulu. Dia minta waktu sebentar untuk menemani Raffa." Edo berucap sambil menaikkan sepasang kaki Milan yang semula di tanah ke pijakan kursi roda.


"Aku mau menunggu dia juga. Ya. Edo, aku mohon," pinta Milan terlihat mengiba.


"Tentu, aku menyayangimu. Boleh aku tanya sedikit pribadi?" Edo berdiri tepat di samping kursi roda.


"Tanyakan saja," jawab Milan.


"Ini tentang ... mengapa kamu mencintai Tania?" tanya Edo setelah menghela napas panjang.

__ADS_1


Pertanyaan yang terpaksa ia lontarkan demi menjawab rasa penasarannya selama ini. 


Milan menatap sendu. Kemudian tersenyum. Bukan perkara mudah membuat orang terdekat yang sejak dulu ia musuhi untuk mempercayai. 


"Aku sudah sering menjawab, aku jatuh cinta setelah membencinya," ucap Milan.


"Lalu, kamu sendiri. Mengapa masih mencintainya yang kini bahkan sudah berstatus sebagai istri orang?" 


"Karena dia adalah wanita pertama yang sabar, dan juga membuatku nyaman. Tania berbeda dengan wanita kebanyakan. Hanya dia wanita yang mau mengenalku tanpa memandang harta," ujar Edo.


Ia menatap takjub pada wanita berkerudung hitam yang masih berkutat dengan taburan bunga di atas sebuah pusara.


Wanita bernama Tania itu tak lama kemudian mengangkat wajahnya. Kedua kakak beradik itu pun juga melempar pandang ke arahnya. Di saat itu pula Tania melambaikan tangannya, mengisyaratkan pada keduanya agar pergi lebih dahulu.


Keduanya bukannya membalas melambaikan tangannya justru kompak menggeleng cepat.


"Pergilah, aku ingin sendiri sebentar!" teriak Tania yang suaranya terdengar sedikit samar terkena embusan angin.


Keduanya tidak bergerak, mengabaikan teriakan Tania dan memilih menunggu. Entah apa yang membuat Tania merasa terganggu. 


Karena Milan dan Edo tidak juga pergi, pada akhirnya Tania mendekati keduanya.


Cup ...!


Tania mendaratkan bibirnya di pipi sebelah kiri Milan sembari mengelus rambutnya.


"Aku mohon, kalian berdua pergilah. Aku hanya ingin di sini sesaat saja. Aku janji akan pulang secepatnya, dan dalam keadaan baik-baik saja," ucap Tania setengah memohon.


"Baiklah, jangan kemana-mana. Setelah selesai langsung pulang. Aku akan mengirimkan sopir untuk menjemput," balas Milan dengan raut kecewa.


"Tidak perlu mengirim sopir, aku akan pulang sendiri secepatnya," tolak Tania.


Milan menghela napas berat. Kemudian memilih pergi bersama Raffa. Meninggalkan Tania yang air matanya belum mengering. 


— To Be Continued


.


.


.

__ADS_1


— Catatan penulis ✍️: Halo semua, Lintang kembali menyapa. Mohon maaf untuk novel sementara masih slow update. Saya tetap mengupayakan agar bisa konsisten menulis di platform ini, meski membagi waktunya susah. Oh ya, saya juga mulai rilis 'Bunga Desa Terdampar di Kota S2' ya. Tetap satu buku dengan novel lama, saya lanjut di Bab selanjutnya. Buat yang belum pernah baca, silahkan mampir ya. Salam hangat Lintang untuk semua. ❤️❤️❤️


__ADS_2