Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Pelampiasan Edo


__ADS_3

🌟 VOTE, LOVE, RATE, DAN LIKE 🌟


~ Hay semua, jangan lupa bagi jempol dan komentar sebanyak-banyaknya ya setelah membaca. Karena komentar dan jempol kalian berarti banget untuk kelangsungan karya author.


~ Happy Reading ~


Seharusnya hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Tania. Sebab ia bisa bertemu dengan Edo. Namun, semuanya hancur seketika setelah Tania memenuhi keinginan Milan.


"Gimana luka di kaki kamu?" tanya Milan, ia berlutut tepat di depan Tania sembari memeriksa perban yang melingkar di kaki gadis itu.


"Jangan sentuh," sergah Tania, suaranya berubah menjadi berat. Bulir kristal luruh begitu saja, menetes mengenai punggung telapak tangan Milan.


Milan mendongak, lalu mengusap pipi Tania dengan buku jemarinya. Ada rasa yang aneh yang Tania rasakan. Hatinya membenci, tapi jantungnya selalu saja berdegup kencang seakan ingin menerima sentuhan jemari Milan.


"Lepas, kamu sudah puas 'kan? Hubunganku, dan juga kebahagiaanku bersama adikmu kamu renggut! Kakak macam apa kamu! Hah ... tega kamu Milan!" Suara Tania yang serak kini mulai meninggi.


"Aku ... hanya ingin ...." Pria itu terlihat ragu-ragu, takut jika gadis di depannya tidak mempercayai apa yang ia akan sampaikan.


"Apa? Mau kamu apa?" Dahi gadis cantik yang hidupnya suram itu mengerut seketika.


"Edo bukan adikku, Raya juga bukan ibuku! Banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang alasanku. Akan tetapi, ini tidak penting buat kamu. Anggap saja kamu bekerja padaku, berhentilah menjadi seorang model. Aku akan mengirimkan gaji penuh ketika kamu menjadi istriku nanti," ujar Milan, lalu berdiri dan mengamati sekeliling taman.


Milan tersenyum ketika sorot matanya terhenti pada sebuah pohon, ia menemukan Edo masih mematung dan memperhatikannya saat ini. Seketika Milan mengesah.


Sementara itu, Tania masih bingung mencerna ucapan Milan.


"Ayo ikut aku," ujar Milan. Tangannya seketika menarik dan memaksa Tania agar ikut bersamanya. Ketika mengetahui hati Edo hancur, Milan menyembunyikan senyuman kecilnya.


Keduanya berjalan mendekati mobil yang terparkir di samping trotoar yang sedikit menjorok area parkir. Dengan sigap Milan membukakan pintu untuk Tania, tetapi tidak satu kata pun keluar dari bibir Tania. Milan acuh, meski sebenarnya ia melirik dari ekor matanya.


"Hentikan!" teriak Tania. Membuat Milan tersentak dan menjauh ketika napasnya berhembus tepat di depan bibir Tania.


Milan terkekeh, " Aku hanya ingin membantu memasang seat belt, kenapa otakmu mesum?"

__ADS_1


Pipi Tania bersemu merah setelah mendengar tuduhan pria di kursi kemudi yang duduk di sampingnya itu.


Tania kembali melempar tatapan ke arah luar jendela. Ia hanya mengamati sepanjang jalan, ingatannya kembali pada masa-masa Reyhan masih hidup. Kerinduan akan sosok keluarga begitu Tania rasakan. Milan mengangkat sebelah alisnya mengetahui Tania tiba-tiba menangis, ia segera menepikan mobilnya di bahu jalan.


"Kenapa berhenti di sini?" tanya Tania, sembari memasang wajah galak.


Milan tidak peduli, ia meraih tengkuk Tania dan merebahkan kepala gadis itu di depan dadanya.


"Menangislah sepuasnya, jika memang ini membuat kamu lega maka menangislah." Milan mengusap punggung Tania dengan lembut.


Aneh. Tania kali ini tidak melakukan penolakan, melainkan ia menuruti ucapan Milan. Setelah puas menumpahkan kesedihan, ia melepaskan pelukan Milan.


"Ayo, lekas pergi dari sini. Tidak baik tiba-tiba berhenti di bahu jalan," tukas Tania, menyadarkan Milan.


Seketika Milan menyadari jika mereka berada di jalanan yang ramai. Ia kembali melajukan mobilnya menuju rumah yang sebelumnya pernah mereka kunjungi.


Mata Tania masih sembab, ia segera mengusap air matanya yang masih membekas.


"Ini rumah siapa? Kenapa kamu ngajak saya ke sini lagi?" tanya Tania, heran.


Milan menyeret Tania masuk ke dalam rumah, ia menunjukkan beberapa shopping bag yang berada di atas sofa ruang tamu.


"Bawalah semua pakaian itu, aku ingin kamu terlihat pantas. Setelah menikah, kamu akan sering terlihat bersama aku. Dan ... aku akan malu ketika media masa menyoroti, bagaimana mungkin seorang Milan Mahardika berdampingan dengan wanita yang biasa saja," ucap Milan mencemeeh.


Hati Tania kesal, tapi ia segera memungut shopping bag agar bisa terlepas dari jeratan Milan.


"Antar aku pulang, aku mau istirahat," desis Tania, sambil menghentakkan kakinya seperti anak kecil yang mengalami tantrum.


Milan tidak bertanya lagi, ia juga tidak mencegah keinginan Tania untuk pergi. Ia segera mengantar Tania pulang saat itu juga.


"Ah ... aku pasti sudah gila, mungkin ini hanya mimpi saja. Pria di sampingku ini siapa? Kenapa dia sukanya memaksa? Ah, semoga saja aku bisa menghindari pernikahan dengan dia, bisa mati jadi tawanannya aku jika terus menurut," batin Tania. sesekali ia mengamati raut wajah Milan yang sedang fokus menatap lurus ke depan.


Wajah Milan memang tampan melebihi artis. Jadi, wajar saja jika perasaan benci Tania terkadang berubah menjadi kekaguman.

__ADS_1


***


Senja telah pergi meninggalkan siang, gelap mulai menyambut bersama mendung yang kembali hadir menemani hari Tania malam itu.


Setelah mandi, ponsel Tania bergetar. Tanda sebuah pesan masuk. Ia bergegas meraih ponsel yang berada di atas meja rias di kamarnya.


[Apakah kamu memiliki masalah dengan Edo? Datang dan temui dia di kafe seberang jalan raya dekat perumahan kamu]


Sebuah pesan singkat WhatsApp dari Raffa, yang nyatanya mampu mencuri perhatian Tania malam ini.


Tania tidak membalas pesan yang dikrimkan Raffa tersebut, melainkan segera meraih jaket miliknya dan segera pergi menuju tempat yang tuliskan Raffa melalui pesan singkat tersebut.


Tania melihat kafe dalam keadaan redup, pengunjung tidak terlalu ramai.


Mata Tania membulat saat menemukan Edo sedang bersama seorang gadis berpenampilan seksi sedang bersih tegang.


"Sorry, aku sudah bosan sama kamu. Aku gak bisa lanjutin hubungan ini lagi. Kamu cari cowok lain saja ya." Suara Edo terdengar berat, ia sesekali memijit keningnya sendiri.


"Akan tetapi, kita baru saja jadian. Masa kamu putusin aku gitu aja? Perasaan dari tadi kita baik-baik." Wanita berpenampilan seksi tersebut mengamuk, menarik-narik pakaian Edo yang hanya di balas senyuman oleh pria itu.


"Bukannya aku sudah bilang dari awal. Setelah aku bosan, aku gak mau lagi lanjutin hubungan ini. Tadi kamu sendiri yang setuju 'kan?" Edo jalan sempoyongan menghampiri Tania, kemudian ia tak sadarkan diri.


Entah dari mana datangnya, Raffa tiba-tiba saja muncul membantu memapah Edo meninggalkan tempat itu. Tania semakin bingung saja, siapa Edo? kenapa sikapnya begitu? Siapa Raffa dan juga Milan? Semuanya masih misteri yang harus Tania pecahkan sendiri.


***


— To Be Continued


🌠 Hollaaa kesayangan semua, sampai jumpa di novel kedua author di platform ini. Jika kalian menyukai novelnya, jangan lupa LIKE, LOVE, RATE juga ya, salam hangat author untuk kalian semua. Jangan lupa sematkan jempol ya ... gratis guys, kasihan yang bikin tombol kalau dianggurin hehehe.


Follow me on IG: @lia_lintang08


Salam cintaku.

__ADS_1


Lintang (Lia Taufik).


__ADS_2