
🌟 VOTE, LOVE, RATE, DAN LIKE 🌟
Masih di hari yang sama. Tania berusaha menjauhkan diri dari Milan. Namun, genggaman tangan Milan yang begitu erat cukup mampu menahan kepergian Tania.
"Tania, aku tidak pernah seperti ini pada wanita manapun kecuali kamu," ucap Milan, menatap dalam penuh harap.
Tania menghela napas panjang, "Tidak seperti ini cara mendapatkan keinginan. Aku jadi ragu, apa dengan cara paksaan juga kamu meraih karir?"
Hening.
Menit kemudian. Milan kembali berbalik menatap Tania. Sepasang bolak matanya terlihat bergerak-gerak.
"Jika kamu benar-benar penasaran siapa diriku? Ketika aku menjadi suamimu nanti, kamu akan tahu."
"Kenapa harus menunggu jadi istri?" tanya Tania, dengan ekspresi wajah tersenyum kecut.
"Kamu sudah setuju 'kan? Mari kita percepat pernikahan kita." Milan menggenggam kedua telapak tangan Tania. Ia bekerja keras meyakinkan gadis yang ia Kagumi.
Hati Tania disesaki kekhawatiran, setiap kali Milan mengulang ingin sekali cepat menikah dengan dirinya. Entah kenapa dadanya semakin sesak saja.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku memiliki syarat. Syarat pertama, biarkan aku menyudahi hubunganku dengan Edo. Dengan caraku, jangan ikut campur. Syarat kedua, jangan memaksakan hatiku menerima kamu. Syarat ketiga, perkenalkan aku dengan dunia bisnis," jelas Tania panjang lebar.
Milan mengerutkan keningnya. Ia perlahan melepaskan genggaman tangannya. Ia terlihat berpikir keras. Namun tak lama kemudian ia terlihat tersenyum lagi. Tidak sedikit pun menampakkan ekspresi marah atau apapun yang berhubungan dengan emosi.
"Apakah ada syarat lainnya?" tanya Milan.
"Aku tidak ingin satu orang pun mengetahui kesepakatan kita. Antar aku pulang, ini sudah malam," jawab Tania, sembari mengiba.
Senyuman manis kembali melengkung di bibir Milan, mungkin saja ia belum bisa menerima dirinya. Setidaknya, Tania menerima kesepakatan ini.
***
Milan sesekali menoleh ke arah Tania. sebelah tangannya menahan setir, sedang jemari sebelah kirinya meraih jemari Tania dan ia letakkan di depan dada.
Tania terkejut, ia menoleh dan menghempaskan tangan Milan. Milan hanya melirik dari ekor matanya. Tidak bergeming, ada rasa nyeri yang ia rasakan. Tetapi ia berusaha tenang.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian, mobilnya berhenti di depan perumahan milik Tania.
"Beneran kamu tinggal di sini?" Milan mengerutkan keningnya, ia menatap ragu. Setelah itu netranya melihat sekeliling rumah. Netra terhenti pada sebuah mobil berwarna hitam, dan sebuah motor sport yang Milan yakini adalah milik adiknya terparkir di sana.
"Ya, aku tinggal sendirian di sini," jawab Tania.
Sejenak ia terlihat gelisah. Namun setelah menghela napas ia yakin dengan keputusannya. Milan membukakan pintu untuk Tania dan menuntunnya berjalan menuju teras rumahnya.
"Astaga, Tania. Ada apa ini?"
"Uuum, gak apa-apa. Hanya kecelakaan kecil di jalan dan kebetulan di tolongin Kak Milan," ucap Tania sambil berjalan masuk dan Milan masih menuntunnya.
Edo menyipitkan matanya menatap Milan, penuh tanda tanya di kepalanya.
"Oh ... Edo, kamu di sini?" tanya Milan berbasa-basi.
"Kak Milan sudah tahu 'kan? Tania itu kekasih ku. Aku khawatir sama dia," celoteh Edo. Milan menatap dengan tatapan mata tidak suka.
Milan membalasnya dengan senyuman kecut, "Tania hanya luka lecet. Ini rumah seorang gadis yang tinggal sendirian, tidak baik kalian masih bertamu malam-malam. Sebaiknya bubar dan pulang."
Raffa dan Edo saling bertatapan mata. Kemudian keduanya mendekati Tania yang kini duduk di salah satu kursi teras.
"Kalian pulang saja, aku masih lelah. Aku baik-baik saja," ucap Tania.
"Kamu tidak biasanya bersikap seperti ini," balas Raffa. Kemudian berganti menatap Milan yang masih berdiri mematung di ambang pagar.
"Aku akan pulang, besok pagi sekali aku akan datang membawakan sarapan. Jika kamu membutuhkan sesuatu, jangan segan menghubungi aku," jelas Edo, sembari menepuk pundak Tania.
Tania hanya membalas dengan anggukan kepala pelan. Berusaha menahan air matanya yang hampir saja tumpah.
Raffa dan Edo meninggalkan rumah Tania melintasi Milan yang masih tetap berdiri dipijakannya.
Setelah keduanya pergi, Milan kembali mendekat. Namun Tania bergegas mendorong agar Milan keluar pagar dan menguncinya.
"Aku akan kembali dua puluh menit lagi, hanya untuk memberikan kamu makan malam!" teriak Milan dari luar pagar, Tania mengabaikannya. Kemudian berjalan memasuki rumahnya.
__ADS_1
Tania merasa tertawan dengan hubungan rumit. Ia meraih ponselnya. Ia terkejut mendapati begitu banyak pesan dan juga jumlah panggilan banyak sekali, dan semua hanya dari Raffa dan Edo.
Pikirannya masih melayang memikirkan Milan, ia tidak percaya akan menyetujui permintaan Milan. Ia masih bingung dengan keputusan yang diambilnya. Namun, perlahan kepercayaan dirinya pada Raffa memang memudar. Membuatnya terpaksa mengambil langkah sendiri tanpa sepengetahuan siapa pun. Bahkan Edo tidak mengetahui semuanya.
Tania berinisiatif untuk mengirimkan pesan permintaan maaf pada Edo. Ada rasa tak tega di hati Tania, sebab Edo adalah sosok pria yang baik dan juga kalem di mana Tania.
[Edo, besok datanglah jam 09.00 pagi. Ada yang mau aku bicarakan, penting]
Pesan tersebut terkirim. Belum sempat Tania memeriksa pesannya, apakah Edo sudah membacanya atau belum, ia kembali dikagetkan dengan suara bunyi bel rumah yang berdengung kencang.
Tania mengintip dari balik gorden ruang tamu, ia terkejut melihat Milan datang sambil menenteng kantong plastik.
Tania bergegas membuka pintu, dari aromanya harum masakan yang begitu menyeruak menusuk hidung.
"Kenapa datang lagi?" tanya Tania, netranya melirik ke arah kantong kresek yang di tenteng Milan.
"Aku tidak tahu apa makanan yang kamu sukai dan yang tidak, jadi aku belikan bubur. Aku memesan yang spesial, ada banyak telur rebus dan suwiran ayam di dalamnya. Maaf, karena sudah larut aku akan pergi. Namun, suatu hari nanti aku pasti akan menyuapi kamu saat sakit seperti ini," ucap Milan lalu meletakkan kantong plastik di jeruji pagar.
"Terimakasih," balas Tania. Entah kenapa, kali ini ia merasa tak enak hati. Pria yang dia benci, bahkan Tania telah berbuat kasar terhadapnya justru masih memikirkan jika memang benar gadis itu sedang kelaparan.
Milan tersenyum, kemudian berlalu pergi meninggalkan rumah yang di huni Tania.
Setelah menyantap bubur yang di berikan Milan, Tania bergegas menuju kamar. Ia ingin segera merebahkan diri untuk beristirahat. Kegiatan seharian penuh menguras tenaganya.
Tania kembali teringat kepada Edo, lalu membuka ponselnya. Benar saja, ada pesan dari pria yang baru jadi kekasihnya itu.
[Semoga ini bukan firasat buruk yang aku rasakan. Aku pasti datang tepat waktu]
Jantung Tania berdegup kencang membaca pesan itu. Ia segera menarik selimut dan menutupi seluruh bagian tubuhnya.
***
— To Be Continued
🌠Hollaaa kesayangan semua, sampai jumpa di novel kedua author di platform ini. Jika kalian menyukai novelnya, jangan lupa LIKE, LOVE, RATE juga ya, salam hangat author untuk kalian semua.
__ADS_1
Salam cintaku.
Lintang (Lia Taufik).