
🌟 LIKE, FAVORIT, RATE 🌟
~ Hay semua ... jangan lupa tinggalkan jejak komentar setelah membaca, sebagai apresiasi terhadap penulis ya. Spam sebanyak-banyaknya ya, biar author semangat up Bab baru.
~ Happy Reading ~
Sulit bagiku untuk menolak jatuh cinta kepadamu, sementara bibirku tidak bisa menahan mengungkapkan cinta dengan sikapku.
Karena matamu membuatku terpana lalu hanyut dalam cinta....
Karena hatiku menjadi sehangat mentari saat mendekapmu....
Karena senyuman manismu ... laksana madu saat sapamu mencuri jiwaku....
***
Lama Tania menatap kosong ke arah luar jendela mobil, bukan itu saja ia bahkan tidak menyadari jika dirinya sebenarnya mengabaikan Milan yang bahkan sedari tadi mendengus kesal menatapnya.
Kesalahan Tania yang bahkan kini membuatnya terjerumus dalam, sama merananya dengan jalan hidupnya.
"Sebentar lagi kita sampai, sebaiknya kamu rapikan dandanan kamu. Rambut kamu terlihat acak-acakan," geram Milan, ia bahkan hampir putus asa karena terabaikan oleh Tania.
Bahkan rahangnya mengeras meski tak ia tampakkan.
Tania tidak mungkin diam jika itu menyangkut penampilan. Ia segera meraih clutch bag miliknya, dengan sigap ia mulai menyisir rambutnya. Memoles bibirnya dengan lipstik berwarna plum.
"Kenapa kamu tidak mau mengeluarkan suara?" tanya Milan, sorot matanya kembali tajam. Membuat napas Tania kembali sesak.
"Kamu temperamental, masih tidak sadar," jawab Tania asal.
Tak lama kemudian mobil perlahan memasuki area parkir hotel berbintang yang terlihat amat mewah dan ramai dengan pengunjung.
Beberapa karyawan telah bersiap memberikan sambutan. Tak terkecuali Edo dan juga kedua orang tuanya. Gerry hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Milan terlalu memaksakan keinginannya.
Milan mengangkat wajahnya berjalan tegak menunjukkan kharismatik sebagai pengusaha muda. Tak disangka, saat itu Milan memperkenalkan Tania pada seluruh koleganya.
__ADS_1
Tentu saja bukan tanpa alasan Milan melakukan hal itu. Melainkan, ia ingin menunjukkan jika semua yang di tuduhkan Tania terhadapnya salah ketika itu.
Dalam diam, ternyata Milan berusaha mencuri hati Tania. Niatnya hanya untuk membalas perbuatan Tania. Setelah memperkenalkan pada beberapa rekan bisnis, Milan meninggalkan Tania dan memilih berbincang dengan beberapa rekan di kalangan bisnisnya.
Selama hampir satu jam beberapa kolega Milan menggodai Tania. membuatnya terlihat risih dan tak nyaman. Namun, beruntung sekali di sana ada pria rupawan bernama Edo Mahardika. Sorot mata Tania menemukan Edo yang terlihat sedang duduk seorang diri.
Tania pun segera memanfaatkan balas dendam pada pria yang selalu membuatnya kesal. Senyuman sinis pun Tania tampakkan. Rasa kasihan terhadap Edo dan perasaannya kini ia kesampingkan.
"Oh jadi ini dunia kamu? cipika cipiki sama beberapa gadis cantik. Milan, jangan panggil aku Tania jika aku tidak bisa membuatmu cemburu dan menggila," geram Tania, berbisik lirih.
Netranya tidak melepaskan ke manapun Milan melangkah dan berbincang dengan beberapa gadis yang datang. Tania benar-benar terabaikan waktu itu. Tidak sedikitpun berusaha mengejar Milan, melainkan segera melenggang mengambil segelas minuman dan berjalan mendekati Edo yang duduk merenung.
"Hai ... Do, sendiri saja?" sapa Tania.
Edo terkesiap, tetapi tidak langsung menoleh. Ia masih tak percaya, suara yang baru saja menyapa, suara gadis cantik yang selama ini ia kagumi. Lagi. Tania menepuk pundak Edo sambil memanggilnya dengan suara lirih dan berhati-hati.
"Edo, kamu melamun ya," lirih Tania. Suaranya terdengar serak dan khas di telinga Edo.
Dengan dada berdebar, ia menoleh menatap seolah tak percaya jika itu benar Tania.
"Aku gak lagi mimpi 'kan ... Tania?" tanya Edo, tak percaya.
Raya yang tanpa sengaja mengetahui kejadian itu segera bergegas setengah berlari mendekati Tania dan putranya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tentu saja.
Tersandung hingga terpelanting faktanya tidak membuat semangatnya surut untuk menyatukan putranya dengan wanita dicintainya. Sengaja saja Raya lakukan hal itu. Senyuman kecil ia terbitkan di balik tubuhnya ketika Tania mendekati dirinya.
Tanpa diduga, Raya menyeret bahkan mendorong Tania hingga duduk di pangkuan Edo.
Mata Tania membulat sempurna. Ia bahkan tidak menyangka jika Edo bahkan menyambutnya dengan lambaian tangan saat mengetahui Raya mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponselnya.
Dengan gerakan lincah bak anak muda, Raya duduk di sebelah kiri putranya sambil membidik.
"Action ... action!" serunya, bertingkah girang bak anak muda yang baru saja puber dengan segala tingkahnya.
Memancing keramaian memperhatikan tingkahnya. Semua tamu yang datang adalah kolega Gerry dan juga Milan. Cari mati jika Raya mempermalukan Milan. Ah tapi dia tidak perduli. Apapun dilakukan demi putra kesayangannya.
__ADS_1
Pipi Tania merah merona melihat semua tamu menatap ke arahnya. Harga dirinya seakan runtuh diperlakukan seperti itu.
"Edo, bisa tolong lepaskan? Kamu sengaja ya, menikmati permainan licik mama kamu," desis Tania, merasa geram. Netranya berubah memerah, menandakan kemarahan.
Jika saja ini Milan, pasti ia akan menahan ketika Tania meronta-ronta. Tetapi dia adalah Edo Mahardika, sikapnya cenderung penyabar dan penurut. Ia bahkan tidak tega melihat wajah Tania memelas di hadapannya.
"Aku dan Mama hanya bercanda Tania, maaf ya!" serunya. Menit kemudian ia melepaskan tubuh ramping Tania yang baru saja berada di pelukannya.
Sebelum ini Tania begitu memandang Edo adalah pria sopan. Tidak menyangka sebetulnya jika ternyata Edo dan Raya sampai berbuat senekad itu. Awalnya Tania marah. Namun, setelah mengetahui Milan berjalan berdentum ke arahnya, amarahnya pada Edo Mahardika memudar.
"Rasakan!" pekik Tania. Seringai licik sengaja Tania tampakkan pada Milan.
"Ada apa ini?" tanya Milan, wajahnya merah padam. Jelas tergambar ia tidak suka dengan semua perlakuan Raya dan Edo. Napasnya memburu, bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya.
Gerry terburu-buru mendekat. Untuk berjaga-jaga jika saja Milan lontarkan kalimat kejam pada Edo dan juga Raya. Pilih kasih, inilah yang selalu membuat Milan muak dengan sikap papanya, yang dibutakan oleh cinta pada wanita yang gila akan harta keluarganya.
Raya segera menyembunyikan ponsel miliknya, dengan tangan yang ia letakkan di belakang punggung. Milan menaikkan sebelah alisnya sambil berjalan mendekati Raya.
Dengan sekali tarik ponsel itu terlempar ke lantai bahkan hancur berkeping-keping. Semua sengaja Milan lakukan. Ia sudah menangkap basah tadi. Untungnya ia menoleh saat Raya berusaha mengambil gambar. Milan begitu mengenal wanita licik itu. Bukankah cara yang sama ia lakukan dahulu untuk menjerat Gerry.
Setelah itu, Milan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Kecuali berjalan mendekati Tania, dan menarik lengannya. Karena penolakan yang gadis itu lakukan, Milan bahkan terpaksa menggendongnya di tempat umum. Semua koleganya bahkan menatap tidak percaya.
"Milan, lepaskan aku! Kamu tidak malu dilihat banyak orang? Aku akan berbuat nekad jika kamu tidak mendengarkan permintaanku," omel Tania.
"Lakukan saja jika berani. Kecuali kamu gadis tidak tahu malu! Ini akibatnya jika kamu berikan ruang hati kamu untuk Edo," ucap Milan, dengan penuh penekanan.
Milan terus berjalan meninggalkan area hotel sembari menggendong Tania yang terus menunjukkan berontak meski di hadapan kolega Milan.
***
— To Be Continued
🌠Hollaaa kesayangan semua, "Dia Bukan Gadis Biasa" adalah novel kedua author di platform ini. Jika kalian menyukai novelnya, jangan lupa LIKE, LOVE, RATE juga ya, salam hangat author untuk kalian semua.
Salam cintaku.
__ADS_1
Lintang (Lia Taufik)
Found me on IG: @lia_lintang08