
Milan menggandeng tangan Tania, menjejaki jalan setapak yang berliku di sebuah perkampungan padat penduduk.
"Jalan lebih cepat, sayang," bisik Milan. Sembari mengangkat koper di sebelah tangannya.
Suara Milan terasa mengalun merdu di telinga Tania saat memanggilnya 'sayang', entah kenapa seperti diterpa angin segar. Senyuman kecil pun mulai mengembang di keadaan yang mulai memanas.
Tania mempercepat langkahnya, ia berjalan setengah berlari dengan napas terengah-engah yang tak kalah cepat dari detak jantungnya.
Ditolehnya para preman masih tetap mengikuti tepat berada di belakang. Hanya berjarak sekitar lima belas meter saja dari pijakan Milan.
"Milan, apa kamu takut?" tanya Tania, Milan menoleh sejenak tetapi terus melangkah.
"Tidak, hanya menghindar," balas Milan.
Keduanya berbelok di gang sempit, kemudian berbelok lagi hingga sampai di sebuah pos ronda dengan segerombolan ojek pangkalan. Senyuman tipis mengembang di bibir keduanya saat refleks saling bertatapan.
"Ojek, Pak!" seru Milan. Ojek pun segera tancap gas. Milan dan Tania menaiki ojek yang berbeda, tetapi ojek yang dinaiki oleh Tania mengikuti laju ojek yang dinaiki oleh Milan melaju cepat menuju jalan yang mulai lebar.
Motor yang ditumpangi oleh Milan, melaju ke jalan raya dan berhenti di sebuah halte bus yang sedikit sepi. Setelah memberikan beberapa lembar uang kertas pun ojek pergi meninggalkan keduanya di tempat tersebut.
Hening.
Keduanya mulai cemas sesaat. Beruntung. Bus angkutan umum kembali terlihat, Milan refleks melambaikan tangannya, berusaha menghentikan laju bus tersebut.
"Ayo, naik!" seru Milan, mengeraskan suaranya.
"Ya," balas Tania, sembari menarik lengan Milan bergelendot manja di pintu bus angkutan umum.
Netra keduanya menjelajah, mencari kursi kosong. Sejenak, keduanya terlihat tegang. Akhirnya bisa bernapas lega setelah keduanya menemukan sepasang kursi kosong. Milan mengeluarkan sebotol minuman dari ranselnya. Keduanya meneguk minuman secara bergantian.
Kondektur bus pun menjadi menakutkan ketika dalam keadaan terdesak. Membuat Milan hampir tersedak karena terkejut. Suasana menjadi menegangkan bagi Tania, karena kondektur lebih mirip preman pasar berwajah sangar.
"Sejauh apa kamu mengenal orang tua kandungku?" Tiba-tiba Tania mengeluarkan suara setelah kondektur bus memberikan karcis dan berjalan pergi.
"Mereka orang baik, kaya raya, dan … menjadi incaran para pesaing bisnisnya. Apa kau sungguh tidak bisa mengingat sedikit pun tentang mereka, Tania?" jelas Milan, diiringi dengan berbalas pertanyaan.
Sejujurnya. Milan juga amat penasaran dengan Tania. Seharusnya. Milan adalah bodyguard pribadi yang di tugaskan oleh ayah kandung Tania. Namun, kini serasa berbeda setelah hubungan kedekatan keduanya justru terjebak dalam pernikahan.
"Tidak, aku hanya sering bermimpi," balas Tania ragu-ragu.
__ADS_1
Milan mengerutkan keningnya begitu dalam, menatap heran ke arah Tania. "Mimpi?"
"Ya. Mimpi seorang balita yang disembunyikan oleh ibunya di bawah ranjang. Di mimpi itu, terjadi perampokan dan pembantaian di sebuah rumah megah," ucap Tania, bercerita.
"Sebentar, apa seperti ini rupa wanita di mimpi kamu?" Milan menyodorkan sebuah foto yang baru saja ia keluarkan dari sebuah buku diary usang yang selalu ia bawa di tas ransel miliknya.
Tania meraihnya. Ia menatap lekat gambar yang diberikan oleh Milan. Matanya membulat sempurna ketika melihat foto wanita di foto sama persis dengan wanita yang selalu hadir di dalam mimpinya. Manik matanya bergerak-gerak kemudian berpindah menatap Milan.
"Kamu dapat dari mana?" tanya Tania, penasaran.
Tania terkejut, mengetahui Milan memiliki foto yang sama persis dengan foto yang selalu hadir di dalam mimpinya.
Keduanya saling bertukar pandang sejenak. Tatapan keduanya sama-sama menyimpan rasa penasaran yang teramat besar. Kemudian Milan mengawali membuka suara, "Aku menemukannya di koper yang berada di kamar utama."
"Jangan bohong!" seru Tania, sedikit meninggikan suaranya.
"Sssst … kita masih tidak aman, jangan mengundang perhatian!" sergah Milan.
Diikuti dengan netranya menyapu sekeliling kursi penumpang bus.
Milan terkejut saat sopir bus tiba-tiba menghentikan lajunya. Ia segera berdiri diantara penumpang lain mengecek keadaan. Sementara Tania tetap diam namun bersiaga dengan beberapa barang bawaan yang ditinggalkan oleh Milan untuknya.
Tak ada di kursi. Milan semakin histeris. Namun ia berusaha untuk tenang. Pandangannya mengedar menuju pintu belakang bus. Benar. Tania sudah bersiap menunggunya di sana.
"Ayo ... kita pergi," desis Tania. Diiringi lambaikan tangan berusaha memelankan suaranya.
Milan tersenyum lega. Pria bertubuh tegap tersebut nampaknya amat tak rela jika wanita pujaannya jatuh ke tangan penjahat.
Kurang selangkah, kaki Milan menapak di tangga pintu keluar.
Sepasang tangan kekar dari arah lain, menarik Tania dan memaksa keluar hingga Tania terpelanting. Tania bangkit. Dilemparkannya koper yang semula di genggamannya. Matanya berubah tajam mengiris. Raut wajahnya berubah merah padam. Sepasang tangannya mengepal, sementara kakinya memasang kuda-kuda. Kemudian tendangan menerjang ke arah pria bertubuh gempal di hadapannya.
"Tidak sia-sia Raffa mengajarkan bela diri untumu," ucap Milan, sembari memungut koper miliknya.
Pria bertubuh gempal bangkit. Namun, beberapa teman mereka mulai berdatangan. Baku hantam pun kembali terjadi. Milan, dan Tania dikeroyok oleh 5 orang preman.
Beruntung Tania dapat mengimbangi Milan, dan membantu. Mungkin jika tidak, keadaan keduanya begitu buruk meski ilmu beladiri Milan cukup mumpuni. Mengingat para preman terlihat begitu terlatih. Mereka bukan orang sembarangan. Tentu sengaja dikirim seseorang untuk menjemput Tania.
Saat keadaan semakin gaduh dan mengundang perhatian penumpang lain. Seorang petugas polisi datang berjalan ke arah Milan. Milan masih tercengang menatapnya. Di saat bersamaan, seorang preman mengeluarkan sebuah belati yang kemudian dihujamkan hingga meninggalkan luka sayatan di lengan kanan Milan.
__ADS_1
"Aaarrrggghhh!" Milan mengerang kesakitan.
Namun ia masih menyempatkan diri memungut koper miliknya sembari berlari menuju perkebunan tebu dengan tangan kiri menggenggam erat tangan Tania.
Tania juga berlari dengan keringat yang mengucur deras membasahi pipinya yang putih.
"Milan, bagaimana ini?" Tania begitu panik, melihat darah di lengan Milan mengucur deras.
Keduanya berada di tengah perkebunan tebu. Sehingga keberadaan keduanya belum terlihat setelah berlari beberapa puluh meter. Di sana. Tania mengeluarkan syal kesayangannya. Syal yang selama ini ia simpan sebagai kenangan dari orang tua yang sengaja ditinggalkan untuknya. Di tariknya hingga robek dengan sekali hentakan saja. Kemudian ia ikatkan di lengan Milan yang terkena luka sayatan dengan erat.
Milan menatap raut wajah Tania tanpa kedip ketika Tania terlihat begitu perhatian terhadapnya. Tiba-tiba, ia merasa tak nyaman. Mengingat sebelumnya ia menyakiti hati Tania.
"Maafkan aku, Tania."
"Kita akan bahas semuanya nanti, ayo lanjut jalan! Kita cari rumah sakit terdekat," ujar Tania. Wajahnya menampakan pahatan tegas. Menunjukkan ia tidak main-main dengan ucapannya.
Keduanya berjalan jauh. Tania menghidupkan sebuah ponsel di genggaman. Mencari Rumah Sakit terdekat dengan GPS diam-diam ketika berjalan mengekor di belakang Milan.
"Kita belok kanan, ada jalan Raya. Dan ada juga rumah sakit tak jauh dari sini," ujarnya, dengan napas terengah-engah.
Milan terkejut. Menghentikan langkahnya, kemudian menatap Tania dengan kening berkerut.
"Apakah kamu pernah datang kemari?" tanya Milan, yang sejujurnya menyimpan rasa curiga.
"Jalan saja!" teriak Tania, melewati Milan yang masih memaku. Mengambil alih memandu jalan.
***
Setelah lima belas menit keduanya berjalan kaki. Akhirnya sampai juga di sebuah klinik, bukan rumah sakit. Tidak mengapa yang terpenting luka Milan bisa di tangani terlebih dahulu. Mereka memilih Klinik tersebut, sebab menuju Rumah sakit masih membutuhkan 3 kilometer perjalanan lagi.
Milan sedang duduk di IGD sembari meringis kesakitan. Ketika lukanya dijahit. Sementara Tania berdiri di sampingnya untuk berjaga. Netranya fokus pada wanita yang membawa segerombolan balon yang melambung di udara. Tentu mengundang perhatiannya, tepat ketika Milan selesai melakukan perawatan.
"Itu, Bi Marni. Mari pergi dengannya," ujar Milan, mata Tania membulat. Bagaimana mungkin wanita yang semula mengasuhnya berada di tempat tersebut, seolah sedang menjemputnya dengan raut wajah terlihat panik.
— To be continued
🌠 Hay semua, Lintang kembali menyapa kalian untuk menepati janji update akhir pekan. Jangan lupa like dan spam komentar ya kesayangan. Semoga bisa mengobati rindu kalian ya. Salam cintaku, Lintang.
Follow me on IG: @lia_lintang08
__ADS_1