
Tania terkejut setelah memperhatikan sekeliling villa yang baru saja ia datangi. Entah mengapa, ia merasa tak asing dengan tempat itu.
Gadis cantik pemilik sepatu runcing berwarna merah itu, kini mulai melangkah memasuki area villa. Netranya tidak berhenti menjelajahi tempat yang baru didatanginya. Ya. Tania tampak akrab dengan suasana villa.
Kolam renang yang terletak di samping bangunan berlantai tiga itu menambah megah suasana villa. Sementara area depan, nampak indah dengan hiasan taman bunga minimalis modern yang tertata rapi.
Beraneka ragam bunga pun yang ditanam di sana mulai bermekaran. Harumnya semerbak menguar kuat di ujung para pemilik hidung yang mendekat.
Seorang maid setengah berlari menghampiri Tania dan juga dua pria yang sedang berjalan beriringan mendampinginya bak sweet bodyguard di novel-novel Romance.
"Kamarnya sudah siap, sarapan paginya juga, Non Tania mau ke kamar dulu untuk membersihkan diri atau sarapan?" tanya seorang maid.
Tania terkejut, bahkan maid di villa tersebut mengenal dirinya. Wajahnya nampak kebingungan. Namun berbeda dengan kedua pria yang berdiri di dekatnya. Mereka menanggapi biasa. Karena keduanya tahu, jika Tania bukan gadis biasa.
Setelah beberapa detik Tania tercekat, akhirnya ia memberikan jawaban juga pada maid tersebut.
"Aku menahan lapar, jadi aku memilih untuk sarapan pagi." Tania segera melingkarkan tangannya di sebelah lengan kekar suaminya berusaha bergelayut manja.
Senyuman indah di bibir Milan pun perlahan mulai mengembang. Ia bahkan lupa jika masih memiliki masalah percintaan dengan sang istri yang sebenarnya belum terselesaikan.
Ya. Hubungan Milan dengan mantan kekasih adiknya yang terdahulu belum memiliki titik terang.
***
Dengan langkah lebar, ia bersemangat berjalan menuju meja makan. Ketiganya melewati beberapa orang berbadan tinggi besar, yang sengaja di suruh berjaga di sana.
Karena lapar, tanpa menunggu ketiganya menyantap menu sarapan pagi dengan lahap. Usai sarapan, Edo berpamitan menuju kamarnya untuk istirahat.
"Tania, aku permisi menuju kamarku. Letaknya di sebelah kanan kamar utama, tepat di sebelah kamar kamu. Jangan ragu memanggilku, jika membutuhkan bantuan," ucap Edo, ia begitu sopan ketika berucap.
__ADS_1
Tania membalas dengan anggun, dengan sebuah anggukan kepala dan sunggingan senyuman manisnya. Senyum yang membuat kaum Adam pasti leleh karenanya.
Ciri khas Edo membuat pesona Tania menciut di masa lalu. Sepertinya saat ini cara itu pula yang digunakan Edo untuk menarik simpatik seorang Tania. Masih banyak hal penting yang belum dibahas dengan Tania mengenai Reyhan dan juga Burhan.
Ketika Tania mulai berjalan memasuki kamar, hendak membersihkan diri dan beristirahat setelah petualangan lama, saat itu juga kedua pria kakak beradik yang tidak memiliki hubungan darah sekandung itu bersitegang.
"Apa mau kamu!" seru Milan, pria tampan bermata cokelat itu kini menggenggam tangannya kuat-kuat. Seolah ingin menerkam mangsanya.
"Aku mau Tania bahagia sebagaimana mestinya. Tentukan pilihan!" seru Edo, kini ia lebih berani dari sebelumnya.
Milan tersentak, ia tidak percaya jika pria yang dahulu dianggapnya anak manja yang selalu bersembunyi di belakang punggung mamanya mampu berbuat nekat menghakimi dirinya.
"Pilihan? Pilihan, katamu?"
Raut wajah Milan terkejut mendengar perkataan Edo. Matanya mulai memanas, menatap tajam ke arah Edo yang masih berdiri tegap di ambang pintu kamarnya.
"Ya. Pilih salah satu, Milan! Tania, atau Mira? Keduanya pernah hadir dalam masa laluku. Namun, mana yang sebenarnya memiliki andil lebih penting dalam hidup kamu!"
"Aku bukan anak kecil lagi, yang hanya bisa diam berpangku tangan melihat wanita yang kucintai kamu permainkan," ucap Edo dengan nada tinggi.
"Ciri-ciri pria egois itu tidak bisa menentukan pilihan. Aku hanya ingin menegaskan, aku akan mengambil apa yang menjadi hak ku. Aku tidak menginginkan harta, Milan." Edo melangkah memasuki kamarnya, membanting keras daun pintu ketika meninggalkan Milan yang masih mematung di sana.
Setelah berpikir sejenak, Milan menggeram. Manik matanya yang cokelat indah terlihat menajam diiringi garis tegas di wajahnya yang kian mengeras menahan amarahnya.
Setelahnya ia menghilang, memasuki kamar, mencari-cari suara teriakan histeris mirip dengan suara istrinya.
"Tania," panggilnya, dengan suara mendayu. Berusaha menemukan Tania.
Tidak ada jawaban. Milan mempercepat langkahnya menyisir seluruh ruangan kamar yang amat luas, dan megah yang dihiasi ornamen Eropa klasik membuatnya terlihat menawan.
__ADS_1
Begitu terkejutnya Milan, saat menemukan istrinya sudah duduk bersimpuh di lantai, sambil menghadap ke arah kolong ranjang dengan ekspresi wajah terlihat begitu histeris.
Milan bergegas menghampiri dan memeluknya dari belakang sambil bertanya, "Ada apa sayang?"
Milan menyibakkan anak ramput yang mulai menutupi sebagian wajah Tania. Tania masih membisu, ia masih menampakkan raut wajah cemas disertai rasa ketakutan. Hanya napasnya yang terus memburu sementara tatapan matanya kosong, kini pikirannya melayang entah ke mana.
Kepingan kenangan masa lalu rupanya kembali hadir dalam benak Tania. Ya. Memang benar, ranjang itu adalah ranjang yang sama di dalam mimpinya.
Ranjang di mana ada seorang wanita tergeletak bersimbah darah tepat di tempat Tania sedang duduk saat ini. Tania merenggangkan pelukan Milan, ia menunduk dan mulai mengintip ke arah kolong ranjang. Sakit. Kepalanya merasakan sakit yang luar biasa.
Jeritan wanita yang meminta tolong terus berdengung di telinganya berulang kali. Kemudian napasnya memburu, sementara Milan kebingungan harus berbuat apa.
"Tania … Tania … Tan, ada apa?"
Milan mengguncangkan tubuh istrinya berulang kali. Milan terlihat mencemaskan keadaan Tania. Belum pernah gadis itu seperti ini. Namun, masih juga tidak ada respon.
Sementara itu, mendengar suara teriakan Tania Edo berlari menghampiri. Namun, kakinya tercekat di ambang pintu.
Edo menatap dalam diam. Ini adalah bagian rencana Burhan. Agar Tania mampu mengingat masa lalunya ketika kembali ke tempat yang sama. Tempat yang meninggalkan banyak kenangan yang penuh goresan luka di masa lalu Tania.
Di saat yang sama, Milan pun sama menatapnya. Wajahnya menampakkan rasa puas setelah berhasil menunjukkan pada adik tirinya, bahwa dialah pemilik sah Tania.
Edo merasa bimbang, tak tega melihat keadaan Tania yang begitu gundah. Ia terlihat tertekan. Ingin rasanya Edo membawa pergi jauh Tania agar bisa hidup bahagia bersamanya. Namun, ketika mengingat Tania terikat dengan tali pernikahan. Ia mengurungkan niatnya. Rasanya, gadis yang amat dicintainya tak kan mungkin lagi kembali.
Hatiku yang sepi karena lara. Setiap ingat dirimu, rasanya ingin kembali. Aku masih terjebak di sini, di sebuah remahan hati yang bahkan membuatku semakin terlukanya. Batin Edo ketika menatap gadis yang begitu dicintainya kini berada dalam dekapan pria lain.
— To be continued
🌟 Hola pembaca setia yang Budiman. Terimakasih telah setia menunggu Lintang. Ini adalah karya Lintang yang kedua di platform ini. Terimakasih yang tak terhingga dan spesial untuk penyumbang koin terbanyak, yang di tebar ke semua novel Lintang. Terimakasih @Deni Kusumah
__ADS_1
— Untuk mengikuti keseruan semua karya Lintang, follow me on IG: @lia_lintang08