
🌠Jangan lupa biasakan memberi komentar dan juga jempolnya sebelum membaca guys.
~ Happy reading ~
Sebelumnya, mata Tania sempat ditutup oleh kain saat perjalanan. Hitam, gelap hanya itu yang ia rasakan. Tak ada yang lain kecuali gelap yang membuatnya terasa sesak.Â
Beruntung. Saat menepikan mobilnya, ternyata Adrian masih berbaik hati membuka semua ikatan, penyumpal mulut dan bahkan kain penutup mata.
Tania masih gemetaran, tetapi ia berusaha mengendalikan diri agar tidak salah langkah saat mengambil keputusan. Helaan napas panjang ia lakukan, demi dirinya tenang.
"Apakah kamu bekerja untuk Edo?" tanya gadis itu, ia bahkan memberanikan diri menatap lekat wajah Adrian yang bahkan sedikitpun tidak memberikan senyuman.
"Ya," balasnya singkat. Namun, mampu memporak-porandakan hati Tania.
"Demi uang? Di bayar berapa?" tanya Tania. Lagi. Ia memberanikan diri, bahkan meski ini beresiko tinggi bagi keselamatannya.
Adrian membalas tatapan tajam Tania, "Bukan urusan kamu, setidaknya bisa membuatku masih memiliki nilai."
"Kamu dendam dengan siapa? Papa? Dia sudah meninggal," sela Tania, memberikan penjelasan.
Adrian terdiam sesaat. Mulutnya terbuka lebar, mungkin saja ia terkejut mendengar kabar kematian Reyhan.
"Aku tidak akan menyakiti kamu, tetapi kamu harus bisa diajak kerjasama," ucap Adrian diiringi desahan napas yang terasa berat.
"Kamu kenapa?" tanya Tania. Lagi. Karena merasa kurang puas dengan jawaban Adrian.
"Aku jadi berandalan karena kamu, ayahmu bahkan menghinaku! Jika aku tidak bisa memiliki kamu, setidaknya aku bisa menghancurkan kamu," ujar Adrian, suaranya terdengar keras, penuh penekanan dengan ekspresi wajah penuh amarah yang sulit digambarkan.
"Baiklah, pertemukan aku dengan Edo," jawab Tania. Tidak ada ekspresi ketakutan sedikitpun yang ia tampakkan.
Adrian heran melihat perubahan besar dalam sikap dan juga kepribadian Tania.
Adrian, dahulu adalah mantan sahabat kecil yang diam-diam menyukai Tania. Karena ia berubah menjadi pria kejam dan tidak diakui oleh keluarganya, Reyhan menolak keras Adrian mendekati putrinya kala itu. Siapa sangka, jika ternyata semua menjadi dendam dalam hati Adrian.
Menit kemudian. Adrian kembali menyalakan mesin mobilnya. Seketika mobil melaju kencang melewati jalan sepi menuju sebuah kawasan pedesaan. Hati Tania tak karuan, tetapi berusaha untuk tenang. Tentu ia bukan Tania yang dahulu, polos dan mudah dimanfaatkan.
Tania menoleh ke arah kursi belakangnya duduk, "Kenapa ada koper besar?"
__ADS_1
Ternyata pertanyaan itu lumayan menyita perhatian Adrian, sehingga ia seketika kembali menghentikan mobilnya di sisi jalan.
"Turun, dan pindah ke kursi belakang. Ganti pakaian kamu, aku akan menunggu di luar," ucap Adrian memberikan perintah.
Tania tersenyum kaku, menatap tajam penuh kebencian. Entah siasat apa yang Tania sedang pikirkan. Seharusnya saat ini hari bahagia bersama Milan, meski ia kerap membuatnya kesal tetapi setidaknya Milan tidak sejahat Adrian.
Dengan cepat, Adrian menyeret Tania agar keluar dari mobil dan memindahkannya ke kursi belakang. Tania dengan cekatan membuka koper tersebut, mengacak-acak isinya yang hanya pakaian wanita saja.
Tangan Tania mulai gemetar, ia melihat ponsel Adrian tertinggal di meja kemudi. Mendebarkan, Tania mengintip Adrian yang mengawasi jalan, seketika Tania meraih benda tersebut.
Dengan tangan gemetar, Tania memberanikan diri mengirimkan sebuah pesan kepada Milan.
[Ini aku, Tania. Cari aku pedesaan dekat pesta kita di gelar, dan jangan hubungi lagi nomor ini.]
"Tania, jangan lama-lama!" teriak Adrian.
"Ya," sahut Tania cepat.Â
Tak lama kemudian, Tania dikejutkan dengan Adrian yang tiba-tiba membuka pintu dan menarik Tania agar kembali pindah ke depan. Namun, Tania menahannya.
"Tunggu, kamu menculik aku! Bagaimana jika Milan sudah menghubungi polisi dan menyebar fotoku di media, lebih baik aku duduk di sini. Aku bisa tiduran jika ada pemeriksaan," kilah Tania.
Lega. Tania menarik napas panjang. Namun, tak lama kemudian ponsel di atas meja kemudi berdering kencang. Membuat jantung Tania berdegup tak kalah kencangnya. Ia bahkan menelan ludah karena gugup.
"Kita bertemu di rumah makan dekat pondok, mereka tahu jika kamu menculik Tania! Aku tidak jadi menginginkan dia," ucap pria di seberang telepon.
Adrian melihat Tania dari kaca spion. Â Mencoba melihat ekspresi wajahnya. Bagaimanapun Adrian pernah memiliki hati gadis itu. Kesal, sekaligus rasa tidak tega bercampur aduk saat itu.
"Ya, tapi aku minta kamu bawa uangnya," jawab Adrian, meminta kepastian imbalannya.
"Ya, tetapi aku tidak bisa menemui kamu secara langsung. Aku tidak mau Tania tahu aku yang menyuruh kamu! Jika semuanya terbongkar, maka habislah kamu," ucap pria tersebut. Kemudian memutuskan panggilan telepon secara sepihak.
Adrian terlihat frustasi setelahnya, ia bahkan memukul setir berulang kali.Â
"Ada apa?" tanya Tania, membuat Adrian tersadar dan menghentikan sikapnya.
"Edo menolak untuk menemui kamu," balasnya, kesal.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Tania, berusaha memberanikan diri.Â
"Dia sudah tahu, kalau Milan menghubungi polisi tentang penculikan kamu. Edo ketakutan saat ini, dengar! Jangan pernah buka mulut jika aku mengatakan Edo yang menyuruhku, karena jika kamu lakukan itu aku berjanji akan mencari kamu," ucap Adrian, menggertak.
Tak lama kemudian ia menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan yang lumayan ramai pengunjung. Namun, ia meninggalkan Tania di dalam mobil. Ia terlihat sedang berbicara serius dengan seseorang di dalam sana. Hanya berselang lima menit, Adrian kembali memasuki mobil.
"Tania, aku akan memutar balik, aku akan meninggalkan kamu di jalan raya. Aku kasih kamu ongkos, cari taksi dan pulang. Ingatlah, jangan sekalipun kamu menyebut namaku dan juga Edo! Kecuali, jika kamu ingin berada dalam masalah!" Adrian mengulurkan beberapa lembar uang kertas, yang segera diraih Tania.
Tania hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Ia merai beruntung Adrian tidak bertindak gila saat itu.
"Turun," ucap Adrian, seketika menghentikan laju mobilnya.Â
Tania segera menuruni mobil, dan berjalan menjauhi mobil Adrian. Disaat bersamaan, ternyata mobil Milan tepat di belakang Adrian. Seketika sang sopir pribadi bergegas membuka pintu, Milan pun berjalan menghampiri Tania. Tak sabar, ia berlari lalu memeluk istrinya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Milan, sembari memeriksa beberapa bagian tubuh Tania.
Tania seperti mimpi saat itu, ia tertegun memandang Milan yang terlihat begitu mencemaskan dirinya.
"Apakah ini nyata?" tanya Tania. Dengan mata berbinar.
"Apa kamu pikir penculikan ini permainan? Ini bukan sandiwara! Jangan bertingkah konyol," celoteh Milan, kemudian menggendong Tania menuju mobilnya.
Kali ini terasa berbeda, jantung Tania berdegup kencang, ia terus menatap Milan dari jarak yang begitu dekat sembari mengalungkan tangannya di leher Milan.
"Kamu tidak ingin tahu siapa pelakunya?" tanya Tania, penasaran.
"Tidak, beberapa orang suruhanku sudah mengejar mobil yang menurunkan kamu di pinggir jalan raya barusan," jawab Milan. Kemudian, ia meminta sang sopir mengemudikan mobilnya.
Milan memberanikan diri memeluk erat Tania yang kini disampingnya, "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu."
To Be Continued
🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya. Rasa Penasaran akan sedikit demi sedikit terjawab, karena saya menulis dengan alur lambat guys. Jadi jangan lupa minta jempolnya ya guys. Salam hangat Lintang untuk kalian.
Salam cintaku.
Lintang (Lia Taufik).
__ADS_1
Found me on IG: lia_lintang08