Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Salah


__ADS_3

🌟 Jangan lupa LIKE, FAVORIT, dan RATE 🌟


Tania masih menangis di gelapnya malam, ia merasa bumi tak lagi menawan. Ia kehilangan sandaran untuk mengadu, perihal hidup yang kini tak lagi berpihak pada keinginannya.


"Aku lelah berseteru dengan waktu, kakiku saja belum mampu untuk menopangnya. Kenapa takdir mempermainkan hidupku yang bahkan tak memiliki sanak saudara?"


Tania mengusap bulir bening yang membasahi pipinya. Ia bangkit dan segera menutup semua pintu dan jendela rumah. Miris. Hidupnya sepi. Ia berjalan gontai menuju kamar, sebelum akhirnya ia memilih untuk berendam di bathtub lalu istirahat malam.


Setelah tubuhnya lelah dengan menangis, Tania berusaha menguatkan diri. Ia mendongak menatap langit-langit kamar, berusaha kesedihannya memudar. Dan air matanya berhenti mengalir.


Gagal.


Kenyataannya Tania kembali meluruhkan bulir bening dari matanya yang mulai sembab. Ia teringat dengan Edo, dan kini ia telah menjadi kekasihnya. Apakah tidak menyakitkan jika menggunakan seseorang yang disebut sebagai kekasih sebagai alat balas dendam?


Perasaan Tania kini tak karuan, seharusnya ia tidak memberikan jawaban atas keinginan Edo yang menjadikan dirinya sebagai kekasih. Seharusnya ia memikirkan terlebih dahulu sebelum menjawab. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Tak berguna menyesali hal yang sudah terjadi.


Tania berusaha memejamkan matanya, meski kenyataannya begitu sulit. Hingga akhirnya, ia pun terlelap dalam lelahnya.


***


Sinar mentari menyeruak masuk melewati pantulan kaca jendela kamar Tania. Perlahan Tania mulai membuka kelopak matanya sembari menggeliat, merenggangkan otot-otot tubuhnya. Perlahan ia beringsut duduk. Sorot matanya menatap ke arah jam dinding.


"Masih ada waktu untuk sarapan," gumamnya.


Tania bergegas menyiapkan diri, setelah tiga puluh menit berlalu. Ia bergegas berangkat menuju rumah keluarga Raffa. Sebenarnya sempat terbesit hal aneh di benak Tania. Keluarga Raffa hidup dalam kesederhanaan, tetapi kenapa pria itu bertingkah seperti seorang bos besar? Namun, mengingat kebaikan Raffa, Tania segera menepis anggapan buruknya.


***


"Hay ... Tania, kamu datang lebih awal dari jadwal latihan ya," ucap Raffa, ia menyambut kedatangan Tania. Ia berusaha menghibur ketika menemukan raut wajah Tania ditekuk.


Ia tidak menunggu jawaban Tania, melainkan ia terkejut melihat Tania datang dengan menggunakan seragam karate miliknya. Senyuman lebar terlihat dari bibir Raffa, yang kemudian berubah menjadi tawa.


"Tania, kamu di tempat umum pakai seragam beladiri?" Raffa berucap sambil terkekeh. Namun, tawanya mulai memudar saat mengetahui ekspresi wajah datar yang Tania sengaja tampakkan.


Tania menggeleng, sambil melempar backpack yang semula bertengger di punggungnya. Tania menentengnya sesaat baru kemudian dilemparkan ke lantai halaman belakang rumah Raffa.


"Tania, backpack kamu nanti kotor!" seru Raffa, kemudian menggapai benda yang teronggok di lantai tersebut.


"Ah ... gak apa-apa Kak, mana murid Kak Raffa yang lain? Tumben sepi," ucap Tania, menimpali ucapan Raffa. Netranya mengedar ke sekeliling halaman belakang rumah, dan benar saja memang sedang sepi.

__ADS_1


"Sengaja aku liburkan, aku sibuk hari ini. Sebenarnya aku ingin kamu latihan yang lumayan lama, tetapi ada kepentingan mendesak. Jadi ... maafkan Kak Raffa ya," jelas Raffa.


Raffa menyadari jika saat ini Tania terlihat marah. Tidak baik berlama-lama dengan Tania dengan kondisi gadis tersebut diselimuti emosi membuncah.


Pagi itu Tania belajar menendang, Raffa juga menunjukkan beberapa jenis pukulan. Cukup banyak jenis yang dia ajarkan. Mulai dari pukulan lurus, pukulan pisau tangan, dan juga pukulan melebar U.


Raffa mengajarkan memukul dengan benar, mulai dari cara menggenggam, memutar gerakan, posisi tangan ketika memukul dan ketika menyalurkan tenaga. Setelah dua jam berlalu, Raffa mengajak Tania istirahat sejenak sembari menikmati minuman yang disajikan oleh keluarga Raffa.


Hampir semua keluarga Raffa menguasai ilmu beladiri. Bisa dibilang, rumah Raffa terkenal sebagai tempat mengasah kemampuan beladiri.


"Tania, besok lagi ya. Aku ga bisa antar lagi hari ini, gimana? Mau aku minta sopir, pesan ojek online, hubungi Edo apa gimana?" Raffa menunjukkan wajah sedihnya, ia mungkin saja merasa tak enak hati. Ia terlihat menunggu jawaban saat Tania meneguk segelas air yang telah disediakan oleh keluarga Raffa.


"Aku pulang sendiri saja Kak," jawab Tania. Sambil mengeluarkan handuk kecil, dan mengusap wajahnya yang mulai dipenuhi oleh peluh.


"Kamu bawa pakaian ganti?" tanya Raffa.


Tania masih kesal, ia bahkan memutar malas bola matanya, "Bawa, tapi aku malas ganti. Gak apa-apa, aku langsung tutupi saja pakai jaket.


"Eh ... jangan lupa kamu sudah jadi seorang model. Jaga penampilan itu penting." Raffa yang semula berjalan meninggalkan Tania berbalik dan sedikit menunduk, menatap serius manik mata Tania yang terlihat bergerak naik-turun.


Tania refleks memalingkan wajahnya. Berusaha menghindari tatapan serius yang ditampakkan Raffa karena ia takut rencananya berantakan.


"Aku pergi, terimakasih untuk latihan gratisnya hari ini." Tania meraih backpack miliknya usai mengenakan jaket.


Kaki jenjang Tania mulai menapaki trotoar jalan raya yang semula sepi kini makin ramai. Ia berjalan menundukkan kepalanya, mengabaikan sekeliling.


Menit kemudian, Tania mempercepat langkahnya saat mengetahui mobil sport mewah melaju kencang di samping langkah Tania, seperti sengaja melewati jalan dengan kubangan air yang volumenya lumayan besar.


Byurr ....


Air genangan seketika mengenai sekujur tubuh Tania yang sedang berjalan di sampingnya.


Tania tersentak, tubuhnya penuh lumpur emosinya membuncah, seragam beladiri berwarna putih yang ia kenakan kini dipenuhi oleh warna lumpur cokelat.


Wajah Tania menegang, rahangnya mengeras. Ia mengamati plat nomor kendaraan yang melintas untuk ia hapal. Menit kemudian, tak disangka mobil tersebut berjalan mundur. Mungkin berniat ingin meminta maaf.


Dengan langkah seribu Tania mendekati mobil tersebut, netranya menemukan sebuah kerikil. Diambilnya kerikil tersebut, lalu di lemparkan tepat di kaca mobil saat si empunya keluar dari kendaraan miliknya.


Dan ....

__ADS_1


Crack!....


Kaca bagian depan mobil sport tersebut pecah seketika. Tania seketika terperanjat, matanya seketika membulat sempurna, sementara kedua tangannya refleks menutup bibirnya yang terbuka akibat terkejut.


"Ka-kamu!" teriak Tania dengan intonasi menekan, mengetahui pria pemilik mobil tersebut adalah Milan Mahardika.


Seketika kedua tangan Milan menjambak rambutnya sendiri frustasi melihat keadaan mobilnya. Mengenaskan.


Menit kemudian, ia menoleh perlahan. Melihat sosok Tania yang masih berdiri mematung. Tentu saja Milan yang gusar tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.


Kakinya berjalan berderap mendekati Tania yang justru tangannya mengayun ke udara, seketika kepalan tangan itu mendarat di bagian perut Milan.


Arrgghh....


Milan mengerang kesakitan, tersungkur memegangi perutnya. Seketika Tania mendekat, dan memapahnya ke dalam mobil.


Aneh memang, niatnya ingin melampiaskan kemarahan justru tersangkut masalah. Takdir memang tidak ada yang tahu.


"Aku minta maaf, kamu sih ... bajuku 'kan jadi kotor karena air yang kau cipratkan," ucap Tania menggerutu.


"Hah ... astaga setelan ku!" teriak Milan, menekankan suaranya.


Ternyata saat Tania memapah dirinya memasuki mobil, tanpa sengaja pakaian yang mereka kenakan saling bersentuhan, hingga meninggalkan noda di jas Milan.


"Ikut aku," ucap Milan. Lalu ia menutup pintu mobilnya dengan kencang dan bergegas mengemudikan mobilnya.


Tania tidak bergeming, ia hanya bisa pasrah mengikuti Milan. Pundaknya sedikit bergoyang merasa begitu cerobohnya dirinya. Entah apa yang akan dilakukan Milan setelah ini. Wajahnya saja terlihat begitu dingin dan menyeramkan.


***


— To Be Continued


🌠 Hollaaa ... kesayangan semua, sampai jumpa di novel kedua author di platform ini. Jika kalian menyukai novelnya, jangan lupa LIKE, LOVE, FAVORIT juga ya, salam hangat author untuk kalian semua.


🌠 Hay kesayangan, author akan sematkan kata asing yang author sering sematkan agar yang belum mengerti tidak kesulitan memahami bacaan ya.


— Backpack: Ransel.


Salam cintaku.

__ADS_1


Lintang (Lia Taufik).


__ADS_2