
Malam semakin pekat. Namun, rinduku tetap berpendar. Tatapan mataku berubah samar meski netraku tetap tersadar. Detik, menit terus berlalu. Namun, tidak rinduku padamu. Begitu banyak cerita yang kubawa. Lewat goresan aksaraku. Karena engkau pencipta rasaku. Aku merindukanmu. Rindu. Dan. Rindu ….
***
Tania duduk menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang king size. Dengan Seprei bermotif bunga berwarna merah maroon yang dilengkapi dengan bedcover berumbai yang berwarna senada.
Pikirannya melayang, tertuju pada seorang pria yang mulai memasuki ruang hatinya.
"Non … ngelamunin apa?"
"Ah … enggak, aku hanya lelah, aku pengen tidur Bi," ucap Tania, setelah mendengus sembari merebahkan diri tanpa berani menatap bi Marni.
"Ganti pakaian dulu," sahut bi Marni, sembari menyodorkan pakaian ganti untuk Tania.
Meski dengan langkah gontai, Tania meraihnya dan bergegas berjalan menuju kamar mandi. Bi Marni terus saja menatap punggung Tania, hingga ia menghilang di balik pintu. Setelahnya, bi Marni segera turun dan menemui Raffa.
Keduanya terlibat percakapan serius. Sesekali, bi Marni mengecek kondisi kamar Tania, apakah gadis itu masih di kamar mandi? Atau jangan-jangan sudah menunggunya di dalam kamar.
"Ada apa?" Raffa menatap heran.
"Kenapa Non Tania dibawa ke sini? Apa yang terjadi dengan rumah tangganya? Bagaimana jika dia menanyakan keberadaan ku?" Bi Marni yang gelisah mencecar Tania dengan banyak pertanyaan.
"Milan didekati mantan tunangannya, ini kesempatan baik. Aku akan membuat Tania masuk ke dalam perusahaan miliknya sendiri," jelas Raffa.
"Kalau Pak Burhan tanya?"
"Tentu saja aku akan bilang, untuk mengajari Tania terjun langsung ke dunia bisnis," jawab Raffa. Senyuman tipis itu mulai terlihat dari sudut bibirnya.
"Baik, jika begitu," ucap Bi Marni, kemudian menghela napas mencoba untuk tenang meski kenyataannya gemetar.
"Temui Tania, katakan bahwa ia harus merubah penampilan dan identitas," ucap Raffa memberikan perintah.
Bi Marni mengangguk setuju, kemudian memutuskan menuju kamar tidur Tania. Di dorongnya pintu kamar dengan perlahan hingga menimbulkan sedikit suara deritan setelah sebelumnya diketuk.
"Permisi Non … mau istirahat?" tanya bi Marni, ragu-ragu.
__ADS_1
"Ya, Bi. Aku lelah, ingin tenang meski sebentar saja," balas Tania. Membuat bi Marni mengatupkan bibirnya, mengurungkan niatnya yang semula ingin mengajak Tania berbelanja untuk mengubah penampilan Tania.
"Istirahatlah. Aku akan kembali nanti," tukas bi Marni, kemudian berlalu meninggalkan kamar.
***
Sebelum makan malam berlangsung, Tania telah bersiap dengan blouse ketat yang dipadukan dengan rok pendek di atas lutut, memamerkan kaki jenjangnya yang putih mulus. Membuat pria manapun yang melirik pasti tergoda dibuatnya.
Ketika itu, Tania menuruni anak tangga dengan langkah perlahan dan begitu santai.
Mendengar suara langkah kaki berjalan mendekat, Raffa seketika menoleh. Namun, pria berkulit sawo matang itu kini hanya bisa diam mematung menatap takjub.
Tidak bisa dipungkiri, Tania memang menawan. Riasannya tidak berlebihan. Namun terlihat elegan.
"Mau makan malam di restoran, atau di sini saja?" Raffa berusaha menghibur Tania, ia tidak ingin suasana hati Tania memburuk begitu pula semangatnya.
"Di luar, aku butuh refreshing," sahut Tania cepat.
Raffa tersenyum lalu mengangguk setuju. Setelahnya, ia beranjak pergi, ia berjalan mengekor di belakang gadis cantik dengan tubuh ramping seperti seorang bodyguard pribadinya.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Tidak bertanya, atau saling bertegur sapa. Saling memberikan ruang untuk pribadi masing-masing.
Saat sedang asyik berbincang. Seorang pelayan restoran. Berwajah cantik, dengan rambut yang panjang yang diikat rapi sedang berjalan mendekati keduanya.
Raffa yang begitu sensitif, menangkap hal yang tak biasa pada penampilan pelayan restoran tersebut. Netra Raffa menyapu seluruh tubuh sang pelayan restoran. Bukan karena ia kagum tetapi justru sebaliknya ia mencurigai wanita itu. Pelayan lain berjenis kelamin perempuan mengenakan rok span tetapi wanita di depannya mengenakan celana jeans panjang berwarna hitam. Pemandangan yang tak biasa bagi Raffa, tentu karena terlalu mencolok.
Segera Raffa mengeluarkan benda pipih berbentuk persegi dari balik jas mewah body fit yang menempel sempurna di tubuhnya. Jemarinya menari cepat mengirimkan sebuah pesan.
[Tania, tetap bersikap biasa. Perempuan di depan kamu adalah profesional yang sengaja di sewa seseorang. Jangan tunjukan rasa cemas. Tunggu aba-aba dari aku.]
Begitulah isi pesan singkat WhatsApp yang sengaja dikirimkan Raffa untuk memberikan peringatan kepada Tania.
Tania menyadari ponselnya bergetar. Raffa langsung mengalihkan perhatian pelayan restoran tersebut dengan memancing banyak pertanyaan. Sementara Tania, bergegas membuka clutch bag branded miliknya dan mengeluarkan ponsel dan bergegas menggeser layar untuk membacanya.
Menit kemudian. Tania segera memasukkan kembali benda pipih berbentuk persegi miliknya. Kemudian tersenyum ramah menyapa. Sementara itu, dari arah berlawanan Terlihat sosok Milan berjalan masuk. Mengetahui jika Milan berada di tempat yang sama, wanita misterius tersebut segera memutar tubuhnya hampir meraih tangan Tania, namun Tania yang sejak tadi bersiap berhasil menghindar.
__ADS_1
Fokus Raffa memperhatikan tangan pelayan restoran tersebut mengeluarkan benda yang mirip 'belati' dari gulungan lengan kemeja panjangnya.
Refleks Raffa berteriak, "Lari, Tania!"
Tanpa bertanya, Tania berlari keluar sembari mendekap clutch bag branded miliknya ke arah luar. Menubruk keras tubuh kekar pria tampan yang ternyata Milan ketika berjalan berlawanan dengan dirinya.
Milan menyadari jika Tania dalam bahaya, membuatnya ikut berlari mengejar mengikuti istrinya yang berbelok memasuki gang sempit, menaiki tangga permukiman ramai penduduk. Keduanya mengambil napas sejenak kemudian kembali berlari ke lorong lain, berusaha mencari jalan pintas menuju parkiran mobil.
Milan melihat, empat pria yang terlihat siaga dengan pakaian serba hitam sementara di tangannya membawa senjata yang sengaja disembunyikan di balik jasnya. Pandangan Milan beralih pada sebuah mobil. Ia bergegas mendekat, kemudian menunduk dan memotong selang saluran bahan bakar mobil tersebut.
Tanpa bertanya, Milan meraih lengan Tania dan menariknya menjauhi mobil tersebut dan berjalan ke arah mobil lainnya, yang ternyata adalah mobil milik Milan sendiri. Ia segera menyalakan mesin mobil. Mendengar suara mesin mobil menyala, empat pria tersebut hendak mengejar. Namun, menyadari di sekeliling banjir dengan bahan bakar dan Milan mengangkat tangan sembari memamerkan sebuah korek api langkah mereka terhenti.
Ketika itu, Tania masih mengatur napasnya yang masih memburu. Kini, ia gugup duduk di sebelah Milan. Berulang kali ia ingin memberikan pelajaran berharga pada pria tampan yang menguasai hatinya. Namun, selalu saja gagal. Milan kembali dipertemukan dengan dirinya untuk yang kesekian kalinya.
"Siapa mereka?" tanya Tania, ragu-ragu, karena sedikit gengsi.
"Orang-orang tamak yang menginginkan harta dan kekuasaan. Tentu saja ingin mengancam jiwamu untuk mewujudkan impian mereka! Jadi, jangan jauh dari aku lagi."
Tania menghela napas. Ia kembali mengingat ucapan Burhan. Kemudian ia tersentak, "Kak, Raffa!" pekiknya.
"Tenang, Raffa pasti bisa mengendalikan keadaan," sahut Milan, mencoba menenangkan Tania yang nampak begitu cemas.
"Kenapa kamu tiba-tiba bisa berada di tempat yang sama?" tanya Tania, penasaran saat Milan berhasil menemukannya.
Bukan tanpa alasan Tania bertanya, tentu saja ia ingin belajar dari kesalahan.
"Katakan dulu kamu dari mana?" Milan meminggirkan mobil yang dikendarainya di bahu jalan. Nampak mobil lainnya sudah menunggu di sana.
Akan tetapi dengan kecepatan tinggi sebuah mobil lainnya berhenti dengan pintu sebelah kemudi dalam keadaan terbuka. Tiba-tiba pula sepasang tangan kekar, yang dihiasi bulu-bulu halus menarik Tania memaksa masuk kedalam mobil. Kemudian mobil itu pun kembali melaju dengan kecepatan tinggi. Milan tersentak, hatinya kembali remuk redam melihat kejadian itu.
— To Be Continued
🌠 Halo jangan lupa spam komentar kalian sebanyak-banyaknya jika ingin author update rutin ya. Sedikit curhat nih guys, platform akhir-akhir ini pelit level yang mana itu mempengaruhi pendapatan penulis. Jadi, jika kalian komentarnya dikit aku slow update ya. Banyakin update, jangan lupa like dan favorit juga. Terimakasih sudah mampir membaca, salam hangat Lintang untuk kalian semua ,❤️❤️❤️.
Salam cintaku.
__ADS_1
Lintang (Lia Taufik).
Found me on IG: lia_lintang08