
Siang hari itu. Dari balik jendela IGD, Tania melihat debu-debu beterbangan. Hembusan angin, disertai butiran debu bergulung-gulung. Pertanda menaiknya suhu udara ketika cakrawala mulai meninggi seakan tepat di ubun-ubun.
Ketika itu juga ia menangkap keberadaan wanita paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya dengan wajah ditutupi segerumbulan balon udara di genggaman tangannya.
Tania tercengang, tatapannya masih fokus memaku. Namun, Milan yang baru saja selesai di jahit lengan nya fersadar dengan dengan sikap Tania, ia segera menoleh mencari tahu apa yang sedang dilihat istrinya.
Terkesiap. Milan justru tak kalah terkejutnya dengan Tania. Namun, berbeda dengan Tania, ia justru bangkit sembari segera menenteng koper miliknya.
"Tania, ayo kita bergegas," bisik Milan, dengan suara lirih seolah mendayu.
"Bi Marni!" pekiknya, dengan suara sedikit meninggi penuh penekanan dengan mata membuat sempurna.
"Ya. Ayo," ajak Milan. Kemudian keduanya berjalan beriringan setelah mengucapkan terima kasih pada seseorang suster yang merawat.
Keduanya berjalan ke meja resepsionis untuk menyelesaikan administrasi. Kemudian mengikuti langkah bi Marni setelah melihat perempuan paruh baya tersebut melambaikan tangannya memberikan kode agar mendekat.
Keduanya melewati koridor yang tak begitu luas, menuju lahan parkir klinik tersebut.
"Bukankah Bi Marni sudah tiada?" tanya Tania mengundang tawa Milan dan bi Marni ketika keduanya hampir sampai di dekat mobil.
"Sudah, jalan saja. Lekas masuk ke mobil!"
Raut wajah bi Marni berubah tegang. Mengetahui ada beberapa orang asing yang datang. Sementara Milan, memilih diam dan duduk di jok belakang. Tidak mengeluh, tidak juga mengerang kesakitan meski kondisi lukanya lumayan mengenaskan. Ia terlihat biasa merasakan goresan luka benda tajam.
Milan tidak terbiasa berada di luar saat cuaca sedang panas begini. Biasanya ia berada di ruang kerjanya, sembari menyalakan pendingin ruangan seraya menyalakan laptop miliknya sambil menikmati cemilan kecil. Sementara sebelah tangannya mengangkat secangkir kopi yang ia sesap sedikit demi sedikit hingga tandas.
Kini ia jauh dari kata nyaman. Bahkan sesekali, ia mengipas pipi dengan telapak tangannya. Cuaca panas bisa membuatnya berlangganan mimisan. Ketika mobil yang dikemudikan oleh bi Marni mulai melaju kencang, ia mulai menyadarkan tubuhnya di kursi belakang tak lupa meluangkan waktu memejamkan mata barang sejenak.
"Tunggu, Bi Marni kenapa bisa susulin kita?" Tania yang memilih duduk di jok depan berharap bisa mencari tahu apa yang sedang dilakukan mantan pengasuhnya tersebut.
Bi Marni bergeming. Ia memilih membetulkan kaca spion. Kemudian menoleh Tania yang terlihat acuh menatap ke arah sepanjang jalanan sekitar.
"Tan, lebih baik kamu pindah ke belakang bersama Milan."
Benar. Kini Milan mulai mimisan. Seketika Tania menoleh dan segera berpindah tempat. Ia tidak lagi mengeluarkan sepatah kata pun.
__ADS_1
Milan tersentak saat tiba-tiba Tania membekap hidungnya yang runcing dengan sapu tangan miliknya.
"Sedang apa kamu?" Milan sedikit berontak.
"Angkat wajahmu, menengada. Sesering apa kamu mimisan?"
Mata Milan terbelalak, lalu jemarinya mulai mengusap hidungnya sendiri yang dipenuhi oleh cairan berwarna merah berbau anyir yang mulai merembes.
"Aku hanya tidak terbiasa dengan cuaca panas," ucap Milan, diikuti dengusan.
Ia mulai berpikir keras setelah Menyadari Tania berpindah duduk di sampingnya. Milan mencondongkan tubuhnya ke depan, tepat di dekat telinga bi Marni.
"Bi, kenapa bisa tahu kami dalam bahaya? Dan bagaimana caranya bisa dengan mudah mengetahui keberadaan kami?" tanya Milan, sangat berhati-hati.
Tentu karena Milan cemas jika beberapa orang yang sedang mengincar Tania, kini ikut mengejar dan mampu menemukan keberadaan mereka.
Bi Marni bukanlah sekedar pengasuh seperti pada umumnya. Ia pun merupakan orang terpilih yang ditugaskan untuk menjaga ahli waris perusahaan ternama. Ya. Ia ditugaskan sebagai penjaga Tania wijaya secara pribadi. Namun, akhir-akhir ini sepak terjangnya selalu dekat dengan Raffa.
"Maaf, apa Pak Milan lupa jadwal kapan harus melapor tentang kondisi Non Tania?" Bi Marni berbicara dengan pandangan lurus ke depan. Tidak menoleh sedikit pun saat menimpali.
Ia segera mencari kopernya. Membuka dan mulai mengacak-acak barang bawaannya. Mengabaikan jika dirinya mengalami luka dan baru saja mimisan.
"Milan, bersandarlah. Ini untuk mengurangi pendarahan di hidung kamu," sergah Tania, mencoba mengelak setelah sadar Milan mencari ponsel yang sebelumnya ia gunakan untuk menghubungi Raffa secara diam-diam.
Wajah Milan mulai memerah, ia frustrasi. Tidak ingin melakukan kesalahan yang kesekian kalinya, ia mencoba menenangkan diri sesaat sebelum bertanya kepada Tania.
"Kau mengambil ponselnya?" Tatapan tajam tak biasa, Milan lemparnya sebagai bentuk imidasi.
"Aku hanya meminjam," jawab Tania, menganggap enteng. Pikirnya itu hanya sebuah ponsel biasa.
Bi Marni dan Milan mendengus bersamaan. Merasa kesal pada Tania. Bagaimana mungkin ia sepolos ini. Ini menandakan bahwa Raffa tidak pernah mengajari apapun kecuali beladiri.
"Non Tania 'kan belum tahu Mas Raffa selamat atau tidak setelah insiden kemarin, jadi sebaiknya jangan mengulangi kecerobohan."
Wajahnya kebingungan. Menatap bi Marni dan Milan secara bergantian.
__ADS_1
Milan mencoba menghela napas mengurangi kekesalan yang sedang dirasakan olehnya.
"Berikan ponselnya padaku sekarang." Dengan raut wajah serius Milan mengulurkan tangannya.
Tak banyak yang bisa dilakukan Tania. Kecuali pasrah memberikan ponsel yang semula berada di sakunya dengan wajah murung dan mencebikkan bibirnya.
"Aku bisa membelinya ratusan, nanti," gerutu Tania menimpali.
Milan mendengus diikuti jemarinya mengelus ringan puncak kepala Tania, "Masalahnya, ini bukan ponsel sembarangan. Jika terus dibiarkan menyala, sama saja kamu cari mati! Dengan mudah mereka bisa melacak keberadaan kita, terlebih GPS dalam mode menyala."
Tania tercengang. Kini ia antusias mendengarkan penjelasan Milan. Ternyata semua itu begitu menarik untuknya.
"Lalu, apa keistimewaan benda itu?" Tania mendekatkan wajahnya. Kini bergantian ia yang mengintimidasi keduanya dengan senyuman menyeringai.
"Karena di dalam ponsel ini terdapat daftar nama beberapa orang yang pernah menikam keluargamu dari belakang. Bukan itu saja, kode rahasia rumah yang memiliki brankas yang tersembunyi di ruang bawah tanah juga tersimpan di sini."
"Itu milik siapa?" tanya Tania dengan berani.
"Milik ayahmu," ujar Milan dengan suara parau.
"Itu berarti benda tersebut adalah milikku, serahkan!" pekik Tania.
"Belum saatnya, karena tugasku melindungimu." Milan segera menekan beberapa tombol mengirimkan sebuah pesan kepada orang yang sedang menunggu kabarnya.
Kemudian mati.
Milan sengaja mematikan ponsel tersebut dan kini menyimpan di saku celana nya.
Mulut Tania terbuka lebar. Ia seakan tak percaya jika benar-benar berada dalam masalah dan masa sesulit ini.
"Bisa saja Bi Marni juga mengincarnya mengingat kini ia lebih dekat dengan Raffa!" pekik Milan kemudian.
Suara Milan menggelegar memenuhi seisi mobil. Membuat wanita paruh baya yang sedang mengemudi ikut tersentak mendengarnya.
🍁 Holla genk's aku lagi bersemangat ketik Bab setelah baca komentar kalian. So, aku muncul lagi dengan chapter spesial. Kalian setuju enggak sih kalau novel ini aku buat tamat dan lanjutnya aku pindah ke platform berbayar? Komen reviewnya ya genk's jangan lupa sebagai apresiasi terhadap lintang dong ya. Jika banyak yang suka tidak menutup kemungkinan aku lanjutin di sini. Salam cintaku. Lintang.
__ADS_1