
🌟 VOTE, LOVE, RATE, DAN LIKE 🌟
~ Hay semua, jangan lupa bagi jempol dan komentar sebanyak-banyaknya ya setelah membaca. Karena komentar dan jempol kalian berarti banget untuk kelangsungan karya author.
~ Happy Reading ~
Ketika malam telah datang, Tania hanya terdiam di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamar. Ia bingung, harus bagaimana menentukan sikap. Harus berpcaya pada siapa.
Raffa cukup baik padanya. Namun, terkadang tak jarang pula membuat Tania menaruh curiga, apa lagi Milan. Ia pria yang tidak mudah jatuh cinta. Namun, ketika mengetahui dirinya dihina atau bahkan diremehkan akan berubah menjadi seorang pendendam.
Sepanjang malam, Tania begitu gelisah. Ia duduk, berbaring terlentang, miring semua posisi telah dicobanya. Namun, tetap saja kelopak matanya masih terbuka sempurna.
Ia membayangkan bagaimana nasibnya setelah menjadi istri Milan, atau jika harus menghindari pernikahan itu ia harus bagaimana. Kalau saja ia memiliki keluarga semua tidak akan serumit ini.
"Aku harus bagaimana, Pa? Kenapa aku harus hidup sendiri begini?" Tania memandangi potret Reyhan yang masih tersimpan di ponselnya.
Sesekali Tania mencoba berselancar mencoba mencari tahu segalanya tentang Milan di media sosial. Rasa penasaran membuat kantuknya hilang. Ia juga menyempatkan mencari tahu mengenai kabar Edo. Pria yang masih dicintai olehnya. Menjelang subuh, Tania akhirnya terlelap sambil menggenggam ponsel di tangannya.
Pagi hari, disambut Tania membuka mata dengan malas sebab merasa hampa. Ditatapnya langit-langit kamar yang terasa kosong. Dan dinginkan pendingin ruangan yang menambah beku suasana saat itu.
Tania masih tak enak hati memikirkan perasaan Edo yang ternyata begitu berharap kepadanya. Mengingat kebaikan Edo membuat gadis itu bersedih hati. Ia bahkan menangis hingga sembab setelah mengingat pertemuan kemarin yang mengatakan bahwa Edo akan pergi jauh dari hidupnya.
Dengan mengumpulkan tenaga, Tania berjalan gontai menuju meja riasnya.
"Lihatlah, mata sembab ini, wajah lusuh, rambut berantakan tak karuan, tatapan mata kosong yang terpantul di cermin. Aku masih tidak tahu apakah aku bisa melewati hariku tanpa kamu Edo," ucap Tania lirih.
Suara ponselnya bergetar, membuat Tania kembali berjalan mendekati ranjang dan meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Diliriknya nama Milan yang tertera di layar. Raut wajahnya berubah kecewa.
"Oh ... bukan Edo," lirihnya. Ia terlihat kecewa, lalu kembali melempar ponselnya di atas ranjang dan berjalan menuju kamar mandi, ia tidak sadar jika mengabaikan panggilan telepon dari Milan saat itu.
Setelah kembali dari kamar mandi, ia dikejutkan dengan kedatangan Raffa. Raffa berteriak memanggil namanya berulang kali.
__ADS_1
"Tania!" pekiknya, sambil menggedor-gedor pintu kamar Tania.
Tania berjalan dengan langkah kaki seribu membukakan pintu untuk Raffa dengan tangan gemetaran.
"Ada apa sih, Kak?" tanya gadis itu, berdecak kesal.
"Milan sudah nungguin kamu sejak tadi di ruang tamu," sahut Raffa, sambil menaikkan sebelah alisnya mengamati Tania yang ternyata hanya mengenakan handuk berbentuk kimono.
"Maaf Kak," ucap Tania. Ia segera menutup pintu, pipinya bersemu merah. Bagaimana mungkin ia bisa seceroboh itu. Meski Raffa menganggap dirinya sebagai adik, tetapi tetap saja Raffa tidak memiliki hubungan darah dengan dirinya.
Bagaimanapun Raffa adalah pria normal yang juga terkadang hasratnya bisa muncul kapan saja. Kasihan sekali Tania, hidup sendiri dikelilingi banyak lelaki. Miris. Ia bahkan hampir tidak memiliki teman perempuan karena tergolong gadis yang amat tertutup.
"Aku masih menunggu, jangan lama ganti bajunya!" teriak Raffa dari balik tembok kamar.
Tania hanya diam, tetapi ia mempercepat prosesi berganti pakaian serta memoles wajah dengan make up natural super tipis namun masih memukau.
Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamarnya.
"Ya Kak," ucapnya lantang. Namun, tidak sedikitpun memang menatap Raffa yang masih menatapnya.
Tania kemudian menoleh, lalu menatap Raffa. Ia menatap dalam mata Raffa yang nampak teduh. Benar. Tidak ada keraguan di matanya. Berarti dia sangat serius mengucapkan kalimat itu.
"Baik Kak, tetapi aku memiliki syarat. Dan akan aku katakan setelah pernikahanku dengan Milan selesai. Sejujurnya aku masih bingung. Namun, aku terdesak oleh keadaan." Tania bersandar di depan kamarnya.
"Tunggu, kata Kak Raffa tadi. Milan sudah menunggu? Itu artinya dia sudah ada di sini?" Tania ngomel sendiri menerka-nerka.
Raffa hanya mengangguk, lalu berjalan meninggalkan Tania yang masih terkejut. Gadis itu mengumpulkan tenaga, ia segera mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam kamar kemudian berlari menemui Milan.
Saat menuruni anak tangga, ia terkejut Milan sudah berada tepat di hadapannya hendak menuju kamarnya, Milan menaiki tangga. Sehingga kini mereka berdiri di tengah tangga sambil berhadapan.
"Kamu sudah mulai bosan hidup rupanya," omel Milan, berdecak kesal.
__ADS_1
"Aku masih mandi, maaf aku mengabaikan kamu," sahut Tania. Gadis itu memilih berkata jujur. Namun, tidak dengan perasaannya.
"Besok pesta pernikahan kita," ucap Milan dengan santai.
Wajah Tania pucat pasi. Ia teringat dengan Burhan.
"Bisakah aku menghubungi Om Burhan?" tanya Tania, ia ragu-ragu.
"Kenapa? Kamu risau tentang wali? Om Burhan pasti datang, jangan khawatir. Aku sendiri yang sudah memintanya datang," ujar Milan. Ia menepuk pundak Tania. Namun, gadis itu menepisnya.
"Lekas turun," perintah Milan, sembari menyunggingkan senyuman penuh arti. Senyuman yang tak biasa ditampakkan oleh Milan sebelumnya.
Hati Tania bertanya-tanya. Rencana apa lagi yang akan Milan lancarkan saat ini. Kenapa dia tersenyum seperti itu sih? Tania semakin gelisah. Ia merasa ragu untuk mampu melewati hari setelah pernikahannya nanti. Milan terlalu menakutkan meski memiliki rupa kharismatik yang rupawan.
"Mau ke mana lagi?" tanya Tania. Kali ini ia memantapkan diri untuk bertanya. Sementara itu, Raffa masih menunggu di teras rumahnya.
Milan menatap dingin sambil berjalan setengah menyeret Tania meninggalkan rumah. Langkahnya terhenti setelah dihadang Raffa.
"Milan, sadarkah kamu mencoba melangkahi aku? Bukankah tidak sopan kamu mengabaikan aku yang notabenenya sebagai penjaga Tania sekaligus merangkap sebagai kakak angkatnya?" Raffa terlihat marah. Ia bahkan merentangkan sebelah tangannya sengaja menghalangi jalan.
"Baiklah, aku mengundang kamu. Acaranya besok, sudah 'kan? Kami sedang terburu-buru," jawab Milan, cepat. Kemudian menggandeng Tania menerobos tubuh Raffa yang bahkan sangat kuat menahan langkahnya.
Akhirnya Milan mengucapkan kata permisi juga meski terpaksa. Namun, mati-matian Raffa berusaha keras untuk menahan keduanya.
***
— To Be Continued
🌠Hollaaa kesayangan semua, sampai jumpa di novel kedua author di platform ini. Jika kalian menyukai novelnya, jangan lupa LIKE, LOVE, RATE juga ya, salam hangat author untuk kalian semua. Jangan lupa sematkan jempol ya ... gratis guys, kasihan yang bikin tombol kalau dianggurin hehehe.
Follow me on IG: @lia_lintang08
__ADS_1
Salam cintaku.
Lintang (Lia Taufik).