Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Strategi


__ADS_3

Tap-tap-tap.


Suara langkah kaki terdengar menggema di koridor restoran yang tak asing lagi bagi Tania. Netranya menyapu sekeliling restoran, memastikan bahwa dirinya tidak diikuti. Berkali-kali ia melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Gadis cantik bernama Tania itu tergesa-gesa menuju kursi yang biasa dipesannya. Terlambat bukanlah ciri khas seorang Tania. Ucapan Burhan yang mengatakan akan menemuinya saat sore hari membuatnya bermalas-malasan. Siapa sangka jika mendadak Burhan mengabarkan mengubah waktu pertemuan mereka.


Paras cantik dengan baju kasualnya, tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika mengetahui seorang pria paruh baya bertubuh tegap telah duduk di sebuah kursi yang biasa dipesannya.


"Permisi," sapa Tania, suaranya berubah parau. Namun bukan berarti ia ketakutan, ini adalah kesempatan pertama Tania menemui Burhan.


Pria paruh baya bertubuh tegap tersebut, segera memutar tubuhnya dan juga posisi duduknya.


"Silahkan duduk, Tania. Senang bisa menemui kamu sendiri dalam kondisi sehat seperti ini," tukasnya.


"Terimakasih, Om. Ada apa memintaku bertemu diam-diam seperti ini," sahut Tania, sementara sebelah tangannya menarik kursi yang hendak ia duduki.


"Kamu yakin tidak diikuti?" tanya pria yang duduk berhadapan dengan Tania tersebut, sesekali ia menyesap secangkir teh di tangannya.


"Yakin, aku saja sampai tidak sempat ganti baju karena buru-buru tadi," ungkap Tania, dengan suara mantap.


Burhan tersenyum lega. Ia segera membuka koper besar yang bertengger di atas mejanya sedari tadi. Disodorkannya setumpuk berkas di tangan Tania. Gadis itu meraihnya dan membukanya perlahan. Rautnya berubah kebingungan dengan sikap Burhan. Dilihatnya di sekeliling Burhan banyak sekali pria yang mengenakan pakaian serba hitam.


"Apa ini Om?" tanya, Tania.


"Itu adalah profil beberapa anak perusahaan milik kamu dan ayah kandung kamu. Om Burhan tegaskan, jangan mempercayai siapapun setelah ini. Selama ini, aku berusaha mencari orang untuk menjagamu, tetapi kenyataannya mereka sama saja," jelasnya, panjang lebar disertai helaan napas panjang.


Mata Tania berubah redup dengan keningnya berkerut dalam. Ia merasa bingung mencoba memahami ucapan Burhan.


"Aku ga ngerti gimana maksudnya," desis Tania. Netranya berpindah dari berkas ke arah Burhan.


Burhan tersenyum simpul, ia menepuk tangannya dua kali, pelayan segera berjalan dengan langkah lebar bergegas menyajikan makanan kesukaan Tania. Tania semakin terbelalak melihatnya.


"Kamu sambil makan, ya. Alright, back to the topic. Aku akan menjelaskan perlahan tentang siapa kamu. Perusahaan milik keluargamu dulunya milik pribadi, beberapa tahun terakhir ini berubah menjadi perusahaan grup sejak beberapa kolega orang tua kamu berinvestasi."


"Lalu, saya sudah tahu Om mengenai hal itu," jawab Tania, sambil meletakkan kembali berkas di tangannya di atas meja, kemudian ia menyambar segelas jus jeruk dan meneguknya perlahan meskipun begitu ia antusias mendengarkan.

__ADS_1


"Kamu bukan putri dari orang sembarangan,  Reyhan Wijaya … bukan ayah kandungmu," ujarannya dengan suara bergetar.


Tania bak disambar petir disiang hari. Wajahnya berubah pucat pasi menatap nanar Burhan yang terlihat gelisah di hadapannya. Matanya berubah mendung dan berembun, pandangannya memudar sebab embun di matanya merubah menjadi bulir bening yang mengalir deras membasahi pipinya.


"Apakah Om Burhan mencoba mengelabui ku?"


"Tidak, ini kenyataannya. Banyak pihak sedang mengincar keselamatan kamu, itu sebabnya aku mengirim Raffa untuk mengubah kamu untuk melakukan penyamaran sebagai seorang model. Tetapi, semuanya justru terbongkar oleh orang kepercayaan ku sendiri. Ya. Milan," jelas Burhan sambil mendengus.


"Tapi kenapa? Dan. Siapa orang tua kandungku?" Tania mengusap air matanya yang terus membanjiri wajah cantiknya.


"Kamu akan tahu semuanya pada saatnya, tetapi berjanjilah jangan sampai ada orang yang tahu jika kita bertemu diam-diam," jelas Burhan, sembari mengusap lembut puncak kepala Tania.


"Meskipun suamiku?" 


"Ya. Kamu perlu menguji kejujurannya sebelum mempercayainya. Lanjutkan lah berlatih ilmu beladiri. Dengar, jika kamu merasa tersudut atau terancam menjauhlah dari keramaian. Kamu juga harus pandai melakukan penyamaran." Burhan berucap sembari menggenggam telapak tangan Tania.


Entah kenapa, Tania terasa tenang. Hatinya yang semula dingin seolah menghangat akibat perhatian pria paruh baya itu.


"Sampai kapan aku harus lari, Om. Pada saatnya nanti, aku juga akan menghadapi mereka nantinya," tukas Tania, isakan tangisnya mulai reda.


"Ini strategi! Sampai kamu mampu muncul di depan semua dan memulai memimpin bisnis milik kamu sendiri," ucap Burhan.


"Ingat, keselamatan kamu terancam. Jangan lengah, banyak pihak yang berusaha mendekati hanya ingin memanfaatkan. Akan lebih baik mereka tidak mengenalmu. Menghindar sementara tidak apa-apa."


Sikap Burhan saat ini memang tak biasa. Biasanya, ia tidak pernah nekad mengutarakan secara langsung seperti ini. Ia terlihat begitu mencemaskan Tania.


"Terimakasih telah mengingatkan Tania, Om." Tania menyunggingkan sedikit senyuman yang terlihat dipaksakan.


"Kamu juga perlu berhati-hati dengan Mira, dia berusaha mendekati suami kamu diam-diam," ucap Burhan kemudian.


"Ya, Om." Tania mengusap pipinya, diliriknya jam di pergelangan tangannya, waktu berlalu begitu cepat. Tanpa di sadari sudah setengah jam berlalu ia pergi dari mansion.


"Makanlah lebih dahulu, baru pergi," ucap Burhan, mengeser piring kosong hingga di hadapannya.


Tania mengangkat wajahnya, menatap lekat pria paruh baya di depannya. Seolah masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Namun, hatinya yang perih sedikit terobati, saat mendengar Burhan mengatakan ayah kandungnya masih hidup.

__ADS_1


Mereka segera menikmati makan siang bersama, kemudian Tania bergegas berpamitan, sembari membawa tumpukan berkas yang diberikan oleh Burhan untuk ia pelajari kemudian.


***


Langkah Tania berubah pelan, ketika ia sampai di depan kamarnya. Suara seorang perempuan yang terdengar familiar sedang berbincang dengan Milan, membuat jantungnya bergemuruh.


Dari arah berlawanan di lorong kamar, Edo sedang berjalan mendekati Tania. 


"Ada apa?" tanya Edo, berbisik lirih saat Tania masih mematung.


"Tania?" tanyanya lagi. Sembari mengguncangkan tubuh ramping Tania, hingga gadis itu tersadar dan tersentak.


"Si-siapa di dalam?" Tania gugup, ia bingung harus mengatakan apa pada Edo setelah jelas mendengar ada suara wanita lain yang sedang bersama suaminya di dalam kamar.


Tanpa berpikir panjang. Edo mengetuk pintu kamar, tentu saja ia tersulut emosi. Wanita yang dia idamkan kini tersakiti hatinya.


Tidak ada jawaban. Suara riuh berubah sunyi. Edo dan Tania saling bertatapan mata. Tania memberikan isyarat dengan anggukan kepala, agar Edo kembali mengetuk pintunya.


"Kak Milan, buka pintunya! Ini aku, Edo!" seru Edo, sembari terus mengetuk.


Kemudian suara derit pintu kamar terbuka, membuat Tania gemetar sembari memeluk erat tas miliknya untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Ada apa?" Suara lantang Mira membuat Tania tersentak. Matanya terbelalak, menatap tajam kearahnya.


Tania hanya diam. Tidak bergeming, tidak juga menangis. Geram. Tentu saja ia geram melihat wanita lain memasuki kamar pribadinya, apa lagi di dalam ada suaminya yang sedang rebahan di atas ranjang.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Edo, dengan nada tinggi. Sehingga menarik perhatian penghuni mansion.


Tania menghela napas, berusaha menguasai diri. Ditariknya lengan Mira hingga terpelanting ke lantai, kemudian ia melenggang memasuki kamar. Milan yang semula merebahkan diri seketika bangkit dan duduk di sisi ranjang.


— To Be Continued


🌠 Hay genk's, gimana nih makin seru dong ya. Mana suaranya dong ... biar author semangat, jangan lupa spam komentar sebanyak-banyaknya ya. Jangan lupa like, love dan ratenya juga. Terimakasih sudah mampir membaca, salam hangat Lintang untuk kalian semua ,❤️❤️❤️.


Salam cintaku.

__ADS_1


Lintang (Lia Taufik).


Found me on IG: lia_lintang08


__ADS_2