Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Korban dan Pelaku Kejahatan


__ADS_3

Seketika itu Milan terbelalak. Ia segera mengejar orang yang dengan sengaja melakukan penyamaran dan melakukan penembakan.


"Edo, berjanjilah! Jaga Tania untukku, jika ada hal buruk nantinya terjadi!" pinta Milan, kedua tangannya memegang kedua bahu adik tirinya dengan tatapan matanya yang tajam. Tatapan tak biasa, yang tidak pernah Milan lakukan padanya sebelumnya.


"Tentu, aku akan urus semua." Edo segera mengangkat tubuh Tania yang terkulai lemas di lantai dengan bantuan Milan sebelum ia pergi meninggalkan ruangan.


Setelah tubuh Tania terbaring dengan aman di sofa, Milan segera memeriksa leher dan dada Raffa. Memastikan korban penembakan di bagian dada itu masih bernyawa. Tidak. Raffa sudah merenggang nyawa.


"Tidak!" teriak Milan, suaranya seketika memenuhi ruangan, membuat mata Edo membulat dan menyadari bahwa Raffa telah tiada.


"Edo, hubungi polisi, dan jangan tinggalkan Tania sedetikpun!" perintah Milan dengan suara serak dan terdengar bergetar.


Hanya berselang hitungan menit. Milan sudah tak terlihat lagi diruang ICU. Edo segera merogoh kantung dan jemarinya sibuk menekan tombol meski bergetar hilang kendali.


***


Setelah dua puluh menit kemudian, polisi datang melakukan pemeriksaan TKP. Sementara Edo memeluk Tania dengan tatapan kosong.


Tania tidak menangis. Ia terlihat tegar, begitu sering ia kehilangan dan juga merasakan kerasnya kehidupan. Kini ia mulai terbiasa dengan situasi mendebarkan.


Setelah semua pemeriksaan berakhir. Edo dan Tania ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian ke pihak terkait.


***


Edo berjalan perlahan menuju parkiran kantor polisi. Ia menundukkan kepalanya, sambil terus mengecek ponselnya berulangkali.


"Di mana Milan? Aku cemas," ucap Tania. Tak tahan menahan bungkam.


Saat kamu kembali ke Bandung pertama kali, bersama Bi Marni, ke mana tujuan kalian?" tanya Edo.


Kening Tania berkerut. Ia berpikir sejenak. Mencoba mengingat dan mengaitkan serangkaian peristiwa penting saat bersama Bi Marni.


"Apa kamu pernah ngobrol hal penting sama Papa kandungku? Tentang hidupku mungkin?" tanya Tania, bukannya menjawab justru beralih tanya.


"Ya, banyak hal tentangmu. Bukan hanya aku, dengan Kak Milan juga sering sepertinya," jawab Edo.

__ADS_1


Senyum sinis tersungging di bibir mungil Tania. Kemudian ia mengacak kepalanya sendiri sambil menggigit bibir bawahnya pertanda dirinya begitu gusar dan frustasi.


"Edo ... Bi Mirna berbohong. Aku yakin dia pelakunya! Ayo ikut aku ke salon rias pusat kota yang di klaim sebagai miliknya." Jelas Tania, sambil menarik sebelah tangan Edo.


"Tetapi Kak Milan, memintaku untuk terus menjagamu. Bagaimana jika di jalan terjadi hal buruk nanti?" Edo cemas, ia bahkan tidak mau melangkah bergerak barang sedikitpun.


"Jika Milan ada, aku yakin dia pasti memberikan ijin. Kak Raffa melatihku untuk tangguh, ia selalu curiga pada Bi Marni namun aku selalu menepisnya selama ini. Ikut saja, sebelum suamiku tak bernyawa seperti Kak Raffa, ayo!" Tania terus menarik lengan Edo tanpa henti.


Sikapnya persis anak kecil yang dengan sengaja minta dibelikan makanan oleh orang tuanya. Suara rengekan manja itu, tentu saja membuat Edo tak tahan. Ia segera bergegas menuju mobil dan menyalakan mobil sport berwarna merah miliknya.


Tania terus mengarahkan Edo yang fokus mengemudi ke alamat yang ia datangi terakhir kalinya.


Ya. Salon kecantikan yang baru dibuka di ruko berlantai tiga pusat kota adalah tujuan mereka.


Tak butuh waktu lama. Edo mengentikan laju mobilnya hanya dengan jarak tempuh lima belas menit kemudian.


Suara orang sedang baku hantam dan beradu mulut terdengar samar-samar.


Namun, Edo dan Tania tetap memantapkan diri berjalan mendekat dengan langkah hati-hati. Ini pertama kalinya Edo berhubungan langsung dengan kerasnya dunia luar.


"Jangan takut, kau dengar 'kan? Suamiku di dalam. Sepertinya, Bi Marni tidak sendirian," tukas Tania.


Entah kenapa, ucapan Tania berimbas positif. Membuat Edo yang semula gugup menjadi berani. Bagaimanapun ia sudah pernah belajar beladiri. Ini saatnya ia menunjukkan rasa sayang pada orang-orang yang yang dekat dengannya. Termasuk Milan.


Tania telah berdiri di hadapan Bi Marni yang kini sedang bersi tegang dengan Milan. Benar saja dugaannya. Bi Marni bahkan belum sempat melepaskan jubah hitam yang ia kenakan saat membunuh Raffa.


Bibir Tania dan Edo terbuka lebar, keduanya tidak menduga. Kemudian, Tania tersadar jika suaminya mulai kewalahan dikeroyok preman sewaan serta Bi Marni.


Tania menoleh ke sudut tembok ruangan. Netranya menemukan sebuah tongkat kayu bersandar. Ia segera menghampiri, lalu mengayunkan benda itu ke arah tengkuk Bi Marni.


Buuugh ...!


Bi Marni tersungkur di lantai, sementara kepalanya langsung menoleh menatap dingin pada Tania.


Ia hampir bangun, lalu Tania yang cepat membaca gerakan Bi Marni segera melayangkan tendangan hingga wanita berusia paruh baya itu kembali tersungkur.

__ADS_1


"Apak salahku? Hah ... apakah aku dan Kak Raffa kurang baik padamu selama ini?" Tania berteriak hingga suaranya serak.


"Kalian hanya menjadikan aku pelayan! Sementara Reyhan yang sejatinya pembunuh ibu kandung Tania justru menikmati harta! Kamu tahu, Tania. Aku memang dendam pada Raffa dan Reyhan yang bisa menikmati hidup enak. Papa kandung kamu juga pria yang dulu tega mencampakkan aku karena aku seorang pembantu!" seloroh Bi Marni.


Tania termangu. Ia mencoba mencerna semua ucapan Bi Marni.


"Semuanya sudah jelas sekarang. Aku dan Kak Raffa adalah korban dendam para orang tua di masa lalu. Bi, dengan sangat menyesal aku harus memasukkan Bibi ke jeruji besi," ucap Tania, seraya mendekat dan mencari tali seadanya untuk mengikat kedua tangan Bi Marni.


Dengan gesit Edo juga membantu Milan beradu pukulan dengan para preman bertubuh gempal. Seorang preman yang diperkirakan ketua genk, menyaksikan Bi Marni mampu dikalahkan oleh Tania. Ia langsung kalap.


Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang sebelumnya dijadikan praktek salon kecantikan. Ia menemukan gunting rambut berjajar di rak. Dengan langkah cepat, tangannya segera meraih gunting tersebut.


Kemudian, preman bertubuh gempal tersebut menemukan sosok Milan yang sedang baku hantam dengan anak buahnya. Rahangnya yang mengeras menggambarkan emosi. Ia meradang langsung berlari mendekati Milan yang refleks menoleh ke arahnya.


Duuug ....


Ia menundukkan badannya hingga beradu dengan tubuh pria tampan bertubuh jangkung itu, dengan erat sang preman memeluk tubuh Milan. Hingga mata Milan melotot menahan sakit sekaligus terkejut.


"T-tania," panggilannya, suaranya terdengar semakin samar.


Edo dan Tania menatap Milan bersamaan. Keduanya berlari sambil memanggil Milan dalam waktu bersamaan.


Milan tersungkur, cairan berwarna merah pekat mengalir deras membasahi perutnya. Para preman yang mendengar sirine polisi segera berhamburan meninggalkan tempat.


— To be continued


— Follow me on IG: @lia_lintang08


— Mampukah Milan bertahan hidup dengan kondisi yang begitu parah? Nantikan kelanjutan kisahnya.


.


.


.

__ADS_1


— Jangan lupa like dan love ya. Ramaikan kolom komentar juga. Terimakasih sudah mampir membaca. ❤️❤️❤️


__ADS_2