
🌠LIKE, LOVE, RATE dan Komen
~ Happy reading
Raffa tak sabar ingin menceritakan segala kejadian yang ia temui saat berada di kafe. Bahkan ia berdiri ketika Milan mencapai tangga dasar.
Milan menatap kedatangan Raffa dengan tatapan tidak suka. Merasa kejutan yang ia rangkai untuk membujuk Tania yang sedang merajuk gagal seketika karena kedatangan Raffa yang tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Milan, bersikap dingin. Meski sebelumnya Raffa telah menyebutkan nama Mira. Sebenarnya ia penasaran, tetapi ia tidak ingin terlihat resah di hadapan siapapun.
Marah. Tentu saja marah, ia sedang bersemangat di atas ranjang tiba-tiba saja keinginannya harus tertahan.
"Mira, mantan tunangan kamu 'kan?" Raffa menatap serius ke arah Milan yang duduk sambil menyilangkan kakinya. Terlihat santai, dan juga sok ganteng banget sikapnya.
Milan menoleh sambil menarik sudut bibirnya, "Kenapa?"
"Di kafe dekat restoran, aku bertemu teman untuk membahas pekerjaan. Di sana Mira dan mama tiri kamu bertemu," tutur Raffa menjelaskan.
Milan menyipitkan matanya, merasa apa yang ia dengar tidak mungkin semudah itu ia percaya. Mengingat Mira sudah tidak lagi berbicara dengan Raya, usai pertunangan Edo dan Mira dibatalkan.
"Aku sejujurnya tidak suka kamu datang kemari, karena kamu datang di waktu yang kurang tepat. Tetapi, mendengar perkataan kamu aku jadi cemas memikirkan istriku," sahut Milan.
"Apakah kamu sedang mengadakan pesta kejutan kecil-kecilan untuk Tania?" tanya Raffa, menyelidik.
"Ini bukan urusan kamu, jika sudah selesai lekas pergi. Terimakasih sudah memberikan kabar. Aku akan kirim orang untuk menyelidiki semuanya. Oh ya, Tania sudah ada aku yang menjaganya, jadi tidak perlu repot-repot mencemaskan dirinya lagi."
"Kamu yakin dan percaya diri banget ya orangnya, gak pengen tahu apa yang mereka obrolin?"
"Aku gak suka berbelit, kalau mau kasih tahu ngomong langsung, jika tidak aku akan cari tahu sendiri," ucap Milan, mendengus kesal.
"Sebenarnya aku tidak perduli atau ikut campur, tetapi jika itu menyangkut Tania, meski kamu menolak dengan terpaksa aku lindungi dia," tukas Raffa.
Milan menaikkan sebelah alisnya, sembari tersenyum kecut menatap Raffa.Â
"Aku sudah katakan apa yang seharusnya aku lakukan."
__ADS_1
"Baiklah, Mira dan mama tiri kamu sedang merencanakan hal buruk pada Tania. Aku tidak ingin ia terluka sedikitpun, itu kenapa aku datang kesini," ucap Raffa. Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya.
Hampir saja ia melangkah meninggalkan mansion, niatnya terhenti setelah mendengar suara langkah kaki yang sedang berderap menuruni anak tangga.
"Kak Raffa, mau menginap di sini?" Tania berlari mendekat, sambil menampakkan senyuman manisnya.
Raffa melirik Milan sejenak, ia tersenyum saat mengetahui mata Milan membulat.Â
"Ah ... enggak, aku hanya mampir sebentar. Milan bilang kalian akan menginap di mansion keluarganya, jadi aku mampir memastikan kamu baik-baik saja!" Raffa berjalan mengitari Milan, lalu menepuk pundaknya perlahan.
Sangat pelan langkah Raffa ketika itu. Milan tak kuasa menahan emosi karena Raffa berbohong. Sedikitpun Raffa tidak memiliki niat membawa Tania pulang ke mansion keluarganya mengingat terakhir ketemu hubungan mereka memburuk.
Dengan gerakan cepat Milan menendang Raffa dari belakang. Namun, Raffa berhasil mendengar suara gerakan Milan dan berhasil menghindar.
"Wah, kamu lupa kalau aku jago beladiri," ucap Raffa, menyombongkan diri.
Tania melongo menyaksikan perdebatan keduanya. Milan dan Raffa memang saling bersaing dan tidak menyukai satu sama lain sejak pertama mereka bertemu.
Kedua pria tersebut sebenarnya saling mengklaim bahwa mereka sama-sama sebagai penjaga Tania. Membuat Tania semakin bingung, siapa sebenarnya yang diberikan wewenang asli oleh almarhum sang ayah.
Sementara Milan, ia pria kaya yang memiliki banyak aturan yang dia ciptakan sendiri untuk menjerat Tania hingga jatuh ke dalam pelukannya. Kedua pria itu, membuat Tania berpikir keras setiap malam.
"Begini saja, aku ingin adu beladiri. Siapa yang layak dia akan menjadi penjaga setiaku! Tetapi bagi yang kalah, berlapang dada lah untuk tidak menganggu dan jujur kepadaku nantinya," pinta Tania.
Sorot matanya yang semula redup berubah tajam seperti sembilu. Membuat kedua pria yang sebelumnya bersih tegang saling menatap satu sama lain.
Milan mengangguk sebagai jawaban persetujuan, begitu juga Raffa.
"Kapan?" tanya Milan, mendahului.
Tania terdiam sejenak, terlihat berpikir keras. Kemudian ia duduk sambil berkacak pinggang, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Pertama-tama, mari kita menginap di mansion keluarga kamu. Aku ingin menjalankan tugas sebagai seorang istri, dan juga memenuhi syarat yang kamu buat," ucap Tania sembari menatap Milan.Â
Kemudian, fokusnya berpindah pada Raffa yang juga menatapnya, "Aku ingin uji beladiri diadakan di rumah keluarga Kak Raffa, di sana jauh dari keramaian."
__ADS_1
"Oke, aku memiliki syarat untuk kamu, Tania."
"Apa?" tanya Tania, penasaran.
"Kamu harus tetap menjadi model, dan juga rajin belajar beladiri," ujar Raffa, membuat Milan meradang saat mendengarnya.
"Heh ... kamu siapa? Gak berhak mengatur orang terlebih lagi sudah bersuami. Kamu jomblo sih, cari istri sana! Mira sepertinya cocok buat kamu." Seringai tak biasa Milan tampakkan saat itu.
Milan mengerutkan keningnya, "Kamu akan tahu pada saatnya."
"Tidak perlu menunggu lama, aku sudah tahu siapa kamu. Tetapi itu tidak penting, bersiap-siaplah kamu akan menyesali perbuatan kamu tidak menaruh hormat sedikitpun sejak awal pertemuan," ucap Milan. Ia mengesah, terlihat bosan. Tetapi tak kuasa mengusir Raffa karena Tania.
"Dengan senang hati, aku tak sabar menunggu," balas Raffa.Â
Kemudian Raffa berpamitan pergi. Baru saja Raffa meninggalkan mansion baru Milan yang begitu megah, seorang pria menggunakan pakaian serba hitam berpenampilan seperti seorang bodyguard memasuki ruangan, diikuti bodyguard kepercayaan Milan.
"Permisi, Tuan muda. Anda diminta pulang, karena papa Tuan Milan sedang sakit keras," ucap pria yang berpakaian serba hitam.
Tania berjalan mendekati Milan, segera melingkarkan tangannya. Terlihat rasa cemas yang tergambar di wajahnya.
"Besok pagi, tidak bisa malam ini. Sampaikan pada Gerry," jawab Milan, kemudian menggandeng tangan Tania menapaki anak tangga meninggalkan pria itu yang masih diam memaku di sana.
"Kenapa tidak malam ini?" tanya Tania, berbisik lirih sambil menapaki anak tangga.
"Ini sudah direncanakan, apapun yang terjadi nanti, jangan pernah jauh dari aku. Lagi pula, malam ini aku mau kasih surprise buat kamu. Aku sudah susah payah hias kamar kita seromantis itu, masa disia-siakan?" Milan mengedipkan sebelah matanya berulang kali mencoba menggoda Tania. Tania terbelalak mendengar perkataan Milan.
Wah jantungnya hampir copot, ia bahkan tidak bisa membayangkan jika Milan berubah liar seperti serigala kelaparan di atas ranjang.
— To Be Continued
🌠Hay ... hay ... hay ... kesayangan semua, author sedikit curhat nih ya. Akhir-akhir ini kebijakan platform berubah-ubah. Sampai Bab sebanyak ini pun belum muncul level, sehingga aku enggan mendaftarkan kontrak. Aku mau nanya nih, kalian masih pengen aku nerusin karya ini gak sih? Kalau iya, ramaikan kolom komentar ya guys. Spam juga boleh, aku ingin jadikan pertimbangan komentar kalian. Terimakasih sudah mampir ke karyaku. Salam hangat, Lintang.
Salam cintaku.
Lintang (Lia Taufik).
__ADS_1
Found me on IG: lia_lintang08