Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Kenyataan Menyakitkan


__ADS_3

Sesaat setelah bi Marni memberikan isyarat kepada Milan, tubuh Tania berguling ke jurang yang mengarah ke hutan. Meski kemiringan tidak terlalu curam, tetapi lumayan mengakibatkan sakit dan luka lecet. Tania bergulung-gulung entah berapa kali dalam dekapan Milan. 


Sakit. 


Tentu sakit sekali. Ketika tubuh Tania meluncur dan membentur bebatuan, ranting, bahkan akar pepohonan. Namun, Tania berusaha menahannya. Dekapan Milan yang begitu hangat, nyatanya mampu memberikan rasa nyaman. 


Ia bergeming. Matanya yang mulai berembun menatap tanpa kedip Milan yang kini juga menatapnya. Wajahnya merah merona disertai keringat yang mengucur deras. 


"Sakit?" tanya Milan, suaranya terdengar lirih mendesis. Begitu dekat hingga napasnya terasa hangat ketika menerpa wajah Tania. 


Belum sempat Tania menjawab pertanyaan Milan, suara benturan benda keras terdengar berdentum dari atas aspal diikuti gemuruh ledakan mobil yang mengejutkan keduanya. 


Kedua pasang bola mata dua insan yang kembali jatuh cinta karena kebersamaan mereka beberapa hari terakhir, saling menatap penuh arti. 


"Bi Marni!" pekik Tania. Bibirnya bergetar, terlihat guratan sedih di wajahnya. 


Seketika juga Milan segera mengeratkan pelukannya, seraya sebelah tangannya membekap bibir ranum Tania. 


"Ssssst," desis Milan, meminta Tania untuk diam. 


Tania mengerjap seolah tak percaya. Seketika jalanan yang semula sepi berubah riuh dikerumuni gerombolan orang yang melintas. Tak lama kemudian suara sirine mobil patroli ikut serta mendekat. Terlihat juga beberapa orang preman sewaan yang tak asing bagi Milan menghampiri kerumunan. 


Milan segera bangkit, mengangkat tubuh Tania yang masih lunglai bersandar di bawah pohon, beserta sebuah ransel yang masih menggantung di bahunya, lalu mulai berjalan menjauhi lokasi. 


Untungnya posisi Milan dan Tania berada di bawah pepohonan rimbun, sehingga keberadaan keduanya tidak terlihat. 


"Kemana?" tanya Tania. Lagi. Ia terlihat gelisah dengan keadaan yang membingungkan. Raut wajahnya nyampah sendu menahan kesedihan. 


"Mencari jawaban atas pertanyaan kamu selama ini. Jika kuat, jalan sendiri ya. Berat kamu sepertinya bertambah. Aku akan meminta bantuan." Milan merogoh benda berbentuk pipih dari kantung celananya. 


"Enak saja, tubuhku lebih kurus dari Mira si centil itu," sahutnya menggerutu kemudian berjalan melintasi Milan yang masih diam mematung. 


Kini Tania terlihat kuat. Tidak ada guratan kesedihan yang tertinggal sedikitpun di raut wajahnya. Kecuali wajahnya yang cemberut menahan kesal akibat ejekan Milan. 


Mungkin juga ucapan Milan yang menyerukan tentang jati dirinya membuat gadis itu kembali bersemangat. Ia ingin membuktikan kebenaran tentang jati dirinya yang sempat ia ragukan. Itu sebabnya ia berjalan semakin cepat sekarang. 

__ADS_1


Kaki jenjangnya terus melangkah, diikuti jejak kaki Milan yang terus menapaki hutan, melewati jalan setapak yang ditumbuhi pepohonan liar, dan juga pohon kopi yang nampak sengaja ditanam oleh warga sekitar atau bahkan justru dikelola perkebunan negara. 


Disela-sela perjalanan, Milan menyempatkan diri mengirim pesan singkat kepada seseorang yang merupakan orang terpenting bagi hidup Tania. 


Dikirimkannya pesan singkat agar segera mengirimkan bantuan sebab, keadaan semakin terdesak. 


[Jemput kami di lokasi B, kami sedang menuju ke lokasi pemberhentian selanjutnya. Kemungkinan akan sampai kira-kira setengah jam lagi. Tolong sudahi semuanya] 


Begitu isi pesan singkat yang dikirimkan kepada ayah kandung Tania, oleh Milan Mahardika. 


Tania menghentikan langkah saat mengetahui Milan sedang asyik bermain dengan benda pipih di tangannya. Tentu saja ia salah paham. 


"Kau melarang aku dan Bi Marni menggunakan telepon seluler atau pun benda elektronik lainnya. Lalu kenapa melanggar sendiri aturan yang kamu buat," tukas Tania berdecak kesal. 


"Sudah kumatikan," ujar Milan yang juga berdecak kesal menimpali. 


Lalu keduanya terus melangkah melanjutkan perjalanan. Mereka berjalan beriringan hingga melewati perkampungan. Tak terasa setelah berjalan sepanjang dua kilometer keduanya sampai di sebuah jalan raya. 


Tania mencondongkan tubuhnya mencoba mengatur napas sembari memegang kedua lututnya sebagai tumpukan. 


"Ayo, masuk!" pekik seorang pria yang tak kalah tampan dari Milan. 


"Edo!" teriak Milan dan Tania bersamaan. Keduanya menatap heran kedatangan Edo. 


Edo tersenyum datar, ia segera turun dari mobil sport miliknya, lalu mulai membuka pintu mobil setelah berjalan mengitarinya. 


"Duduk di dekat kemudi," tukasnya kepada Tania. Sementara ia mengacuhkan Milan tanpa sapa. 


Kesal. Hanya rasa itu yang Milan rasakan. Mungkin ini adalah pembalasan ayah kandung Tania atas perbuatan Milan yang sempat berkhianat. Meski semua itu tidak disengaja. 


Ayah Milan memiliki segudang cara untuk melindungi putrinya meski mereka tidak saling bertemu. 


Kini, Tania duduk menyadarkan tubuhnya di sebelah Edo yang duduk di kursi kemudi mobil. Sementara Milan memilih duduk di kursi belakang.


"Kamu tahu dari mana kita di sini?" Milan membanting daun pintu mobil dengan kerasnya. 

__ADS_1


"Tunggu … jadi ini bukan karena Milan meminta bantuan?"


Kedua pasangan manik mata saling bertukar pandang. Keduanya penasaran menunggu jawaban. 


"Seseorang meminta tolong padaku!" seru Edo. 


Milan mengerutkan dahi, mencoba berpikir keras. 


"Siapa?" tanya Milan, ia takut salah paham dan ternyata Edo bukan suruhan orang yang dimintai tolong olehnya. 


"Orang yang menyetujui pernikahan Kakak," balas Edo datar. Raut wajahnya berubah dingin tanpa ekspresi. 


Ia kembali merasakan sakit di dada saat kehilangan Tania. 


"Aku minta maaf, jika aku manjadi alasan hubungan kalian retak." Tania mengulurkan tangannya yang semula menggantung di udara. 


Edo bergeming. Kecuali buku jemarinya yang mulai bereaksi terangkat perlahan. Lalu menyambut uluran tangan Tania. Perlahan Edo mulai mendekat dan mencodongkan tubuhnya. Mengejutkan. Bibirnya tiba-tiba mendarat di punggung tangan Tania. Seketika gadis itu terperanjat lalu menepisnya dengan kasar. 


"Aku kakak ipar kamu, Edo!" teriak Tania, dengan wajah merah padam. 


Seketika rahang Milan mengeras menahan emosi. Kedua tangannya bahkan terkepal rapat. 


Tubuh Tania bergetar. Begitu jelas ekspresi kemarahannya. Entah kenapa emosinya mudah terpancing. Sejenak kembali melintas nama Mira di benaknya. Membuatnya menangis setelah menoleh sesaat ke arah Milan yang juga menatapnya.


Mata Edo mulai berembun. Namun, ia mencoba menahan bulir bening agar tidak lolos dari bendungannya. Maklum pada dasarnya Edo adalah sosok yang kalem. 


Ia mulai menyalakan mesin mobil hingga suaranya berderu. Lalu kuda besi yang ditungganginya melesat melewati jalanan yang ramai dengan lalu lalang. 


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Hingga akhirnya mereka sampai ke sebuah pelabuhan kapal. 


"Kita lewat jalur laut. Hanya menyeberang sekitar lima belas menit hingga setengah jam perjalanan paling lama," ucap Edo dengan raut wajah datar. 


Entah kenapa, Edo yang dulunya ramah kini berubah sedikit pendiam dan dingin. Namun, ia masih tetap bersikap baik pada Tania. 


Senyum Edo selalu mengembang, ketika di dekat wanita yang sejak dulu dicintainya. Tak jarang ia mencuri pandang, melempar senyum padanya. Membuat nyeri di dada Milan semakin bertambah. 

__ADS_1


__ADS_2