
🌟 Jangan lupa LIKE, FAVORIT, dan RATE 🌟
Tania menoleh memastikan jika Milan sudah pergi meninggalkan area perumahan sebelum akhirnya ia melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Ada rasa aneh yang menjalar ke pikirannya. Tania merasa akhir-akhir ini Raffa semakin kehilangan sifat baiknya. Ia bahkan seringkali keluar masuk rumah tanpa permisi. Hanya karena ia yang memberikan rumah gratis, bukan berarti ia bisa bersikap seenaknya sendiri 'kan?
"Kak Raffa, sejak kapan datang?" tanya Tania, ia berusaha bersikap acuh meski sebenarnya kesal.
"Sejak tadi, Edo mengirim pesan, katanya kamu mau menikah dengan Milan dalam waktu dekat. Jadi aku bergegas kemari untuk bertanya langsung sama kamu," tukas Raffa. Ia duduk dengan kaki menyilang, sambil menikmati cemilan yang tersedia di atas meja bak bos besar. Tania kesal melihatnya.
Perlahan, Tania menjatuhkan tubuhnya di sofa, sambil memijat kepala dengan kedua tangannya. Ia merasa frustasi dengan keadaan yang menimpanya. Seolah siapa pun yang mendekat ingin memanfaatkan keadaan Tania.
"Kak Raffa, kau ingin aku bagaimana? Aku lelah Kak, aku sudah terlanjur bersikap ceroboh! Kalau aku gak menuruti keinginan Milan, nantinya masa depanku akan berakhir di buih. Dan aku gak mau itu terjadi," jawab Tania, memberikan penjelasan panjang.
"Tan!"
"Ya Kak?" Tania berbalik setelah memalingkan wajahnya, menatap pria yang sebelumnya menjadi pria penolong yang kini juga menatapnya.
Hei, ada apa dengan tatapan itu? Kenapa ia memiliki tatapan teduh seperti dulu?
"Bagaimana reaksi keluarga Milan? Kalau memang perlu seharusnya sebelumnya kamu membicarakan semuanya kepadaku. Aku pasti dengan senang hati membantu mencari jalan keluar."
"Ah, enggak Kak. Terimakasih, selama ini aku sudah cukup menyusahkan Kak Raffa." Tania segera beranjak berdiri, lalu meninggalkan Raffa yang masih duduk di ruang tamu. Takut kecurigaannya terbongkar, selama ini Tania menyimpan semuanya rapat-rapat secara pribadi.
Lagian Raffa, sok jadi bos dan dewa penyelamat. Menawarkan bantuan, tetapi harus sesuai dengan rencananya. padahal sudah paham watak keras kepala Milan itu seperti apa. Melihatnya saja sudah membuat Tania kesal.
"Tania!" panggilnya. Lagi. Membuat Tania menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Raffa.
"Aku ingin tahu reaksi keluarga Milan. Apakah mereka bersikap baik terhadap kamu?" tanya Raffa, mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"Ya, tidak ada yang perlu dirisaukan. aku harus bangun pagi, mempersiapkan pernikahanku dengan Milan. Aku harap, Kak Raffa bersedia menjadi wali menggantikan Papa," jawab Tania.
"Oke. selamat malam, aku pulang. Jangan ragu menghubungi jika kamu mengalami kesulitan. Dan ... meski kamu telah menjadi istri Milan, kamu masih bisa datang latihan beladiri dan menjadi seorang model jika kamu mau," ujar Raffa, memberikan penjelasan dan juga sebuah penawaran pada Tania.
"Tentu Kak, aku tidak akan melupakan kebaikan Kak Raffa. Terimakasih banyak," sahut Tania.
"Aku permisi pulang," ujar Raffa, ia berpamitan dengan sopan setelah menyadari bahwa Tania kini terlihat kurang menyukainya.
Mungkin gadis itu telah kehilangan kepercayaan terhadap Raffa, sebab dirasa kurang terbuka dengan segala sesuatu tentang kepribadiannya.
***
~ Kamar Tania ~
Ponsel Tania berdering di pagi hari. Saat itu ia baru saja selesai dengan ritual mandinya. Saat dilirik benda berbentuk pipih di atas meja itu, nampak nama Milan. Tania segera meletakkan sisir yang sedang di genggamnya, lalu mengangkat telepon dari Milan.
"Halo, Milan," sapa Tania dengan suaranya yang lembut.
"Uuum ... biasanya jam 07.00 sih, Milan. Tapi karena tadi bangunannya kesiangan dan sepertinya kamu segera menjemput, sepertinya aku tunda sarapannya."
"Oh ...."
"Kenapa, Milan? Perlu sesuatu? Bukankah sekarang aku ini bagian dari karyawati yang akan kamu bayar? Aku bersedia untuk melakukan apapun, karena aku tidak bisa menerima uang secara cuma-cuma."
"Oh, enggak Tania. Tenang saja, aku gak sekejam itu kok. Aku sudah berdiri sejak tadi di depan pagar rumah sambil menenteng bubur ayam kesukaan kamu. Jadi, cepat turun dan buka pintu ya," ucap Milan, membuat hati Tania berbunga-bunga dibuatnya.
Duh, jantung Tania rasanya hampir copot dari tempatnya. Ia tersenyum riang. Biasanya ia selalu kesal terhadap pria dingin itu, tetapi kali ini justru rasa yang ia rasakan berbeda dengan sebelumnya. Entah kenapa mengetahui mendapat perhatian dari pria setampan dan sepopuler Milan Tania serasa paling bahagia.
Takdir memang terkadang terasa lucu, niatnya ingin membenci tetapi justru malah terjerat cinta pria yang dibencinya.
__ADS_1
Tania segera mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana jeans selutut agar lebih santai. Setelah mematut diri sendiri di depan pantulan cahaya cermin, Tania setengah berlari menuruni anak tangga menuju halaman rumah.
Langkah kakinya berubah menjadi pelan setelah melihat pria tampan yang sama mengenakan pakaian santainya berdiri menunggu di depan pagar rumah.
Tania segera membuka pintu pagar, tetapi sedikit pun tidak berani menatap wajah Milan yang jelas-jelas memperhatikan dirinya.
Tania sengaja menghindari tatapan mata tajam itu untuk menyembunyikan perasaannya jika saja Milan bisa menebaknya.
Milan berjalan mengekor di belakang Tania. Sesampainya di meja makan, pria itu mengambil mangkuk untuk menyajikan bubur ayam yang dibawanya.
Alangkah terkejutnya Tania, ketika berusaha keras untuk menghindari Milan justru pria tersebut mengikuti pergerakannya. Milan melangkah ke kiri saat Tania juga melangkah ke kiri dengan arah yang berlawanan. Lalu, ia juga melangkah ke kanan saat Tania menggeser tubuhnya ke kanan seolah menghalangi jalan Tania. Namun, jarak keduanya begitu dekat hingga terkikis.
Tania bahkan tidak mampu menyembunyikan rona merah di wajah karena menahan malu.
"Umm ... aku permisi ambil tas sebentar. Kita jadi pergi ke perancang busana 'kan?" Tania melintasi Milan yang diam mematung.
Namun, Milan dengan gerakan cepat justru menarik Tania hingga berada dalam pelukannya. Netra keduanya saling bertemu pandang. Napas Milan, begitu terasa menghangat berhembus di pipi Tania karena jarak keduanya yang amat dekat.
"Makan dulu sarapan kamu," sergah Milan. Suaranya berubah serak.
Tania berusaha berontak, tetapi tenaganya kalah kuat dengan tenaga Milan. Karena merasa kesal Milan menarik paksa tubuh ramping Tania yang justru jatuh terpelanting ke dalam pangkuannya. Tania amat kesal melihat senyuman licik yang sengaja Milan tampakkan.
"Bagaimana mungkin pria seperti ini menjadi takdirku? Ah aku harus berusaha untuk membatalkan rencana pernikahan ini. Bukan ini tujuanku masuk ke dalam kehidupan Milan," batin Tania, sambil memalingkan wajahnya.
— To Be Continued
🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya, kalian pasti penasaran dengan siapa Tania akan menikah bukan? Jadi jangan lupa minta jempolnya ya guys. Salam hangat Lintang untuk kalian.
Salam cintaku.
__ADS_1
Lintang (Lia Taufik).
Found me on IG: lia_lintang08