Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Model Berkelas


__ADS_3

🌟 VOTE, LOVE, RATE, DAN LIKE 🌟


Bogor, Indonesia


10 November


Siang itu, Raffa mengajak Tania ke suatu tempat untuk memberi sebuah kejutan. Suatu hal tak biasa yang pemuda itu lakukan untuk memperbaiki hidup Tania.


Tiba-tiba mobil mewah yang dikemudikan Raffa terhenti di suatu tempat. Tempat yang bahkan Tania belum pernah datangi sebelumnya. Tania membuka kelopak matanya perlahan. Lalu mengedarkan pandangannya yang masih samar.


"Kita mau ngapain?" tanya Tania dengan kedua alis yang saling bertautan.


Pertanda ia tak mengerti, perihal rencana Raffa. Terkadang, keraguannya kepada Raffa kerap muncul, setiap kali pemuda itu selalu mengambil sikap tanpa berunding dulu dengan Tania.


"Ikut saja." Raffa menarik pergelangan tangan Tania, agar gadis itu menurut dan mengikutinya.


"Katanya sibuk?" Tania terus saja menatap dan kembali bertanya.


Raffa menatap sejenak, lalu tersenyum tipis. Tangannya mengelus rambut Tania. Matanya berkaca-kaca, ada rasa bersalah yang tergambar di wajahnya.


"Sesibuk apapun aku, kamu tetap prioritas! Pak Reyhan menitipkan kamu padaku," jelas Raffa, lagi. Ia kembali mempertegas siapa dirinya, dan kenapa membantu Tania saat ia merasa sendirian.


Tak membuang waktu, Tania segera membuka pintu mobil dan berjalan keluar. ia melangkah perlahan mengikuti Raffa, ia terlihat sangat kebingungan.


Tania dan Raffa melewati resepsionis, gadis itu heran karena Raffa terlihat akrab dengan lingkungan tempat tersebut. Tania terus mengamati tempat saat melintasi lorong.


"Ini kawasan elite," batin Tania.


"Kak, Raffa. Tempat apa ini?" tanya Tania, ia segera menyusul setengah berlari menyamai langkah Raffa.


"Aku sudah bilang, akan ada kejutan." Raffa mengetuk sebuah pintu, sebelum akhirnya ia berjalan masuk lebih dalam ke ruangan tersebut.


Sementara itu, jantung Tania berdegup kencang. Ada rasa takut yang ia rasakan. Tiba-tiba ia merasa takut melihat seorang wanita cantik lengkap dengan peralatan dokternya. Tania terdiam, ia memaku di ambang pintu.


Raffa menyadari jika Tania tidak berada di sisinya, ia segera menoleh dan memutar malas bola matanya.


"Tania, ayo masuk! Tolong jangan menghambat!" teriak Raffa, ia mengulurkan tangannya mendekati Tania.


"Aku takut Kak Raffa," bisik Tania, Dengan suara lirihnya.

__ADS_1


"Kamu nantinya akan suka," jawab Raffa dengan penuh penekanan. jika ia harus menuruti keinginan Raffa.


Dengan langkah gemetar Tania memberanikan diri memasuki ruangan tersebut.


"Oh ... ini yang namanya Tania, putrinya Pak Reyhan ya! Wah, kalau dia tidak perlu diapa-apain sudah cantik alami ya, cuma butuh perawatan kecantikan saja," ucap dokter tersebut.


Tania hanya membalas dengan sebuah senyuman. Saat dokter tersebut mengulurkan tangannya.


"Halo, Tania. Jangan takut, saya Rani dokter kecantikan." Dokter Rani, masih tetap mengulurkan tangannya hingga akhirnya Tania membalas jabatan tangannya.


"Ayo berbaring, punya alergi apa tidak?" tanya dokter Rani, samar-samar terdengar di telinga Tania. Karena setelahnya, ia lebih fokus pada rasa tegang yang btak biasa menahan rasa takut dan cemas. Sementara Raffa memilih berdiri tepat di sampingnya.


Raffa mengerti, jika ini adalah kali pertama Tania melakukan perawatan kecantikan. Sebelumnya ia hanya melakukan perawatan rutin biasa saja. Tidak pernah ke klinik, paling mentok hanya ke salon saja. Bukan tanpa alasan, tetapi karena ia tidak biasa merias diri berlebihan. Ia lebih suka wajahnya terlihat polos, dibandingkan dipenuhi dengan makeup tebal.


Raffa tak bergeming, ia hanya bisa menatap Tania melakukan serangkaian perawatan kecantikan yang dilakukan oleh dokter Rani dan juga asistennya.


***


Raffa termenung duduk di teras rumah milik Tania. Suara langkah kaki berderap datang menghampiri membuatnya menoleh ke arah suara.


Sungguh mengejutkan.


Tania menghembuskan napas kasar, dan berjalan mendekat pada sosok pria pribumi yang sudah menunggunya di kursi teras. Tak habis pikir, bukannya menjelaskan maksud dan tujuan rencananya, Raffa justru terlihat tak bersalah usai membuat dirinya gelisah ketakutan dengan berbagai macam peralatan dokter Rani.


"Ada apa lagi, Tania? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" Raffa bahkan menegur seperti adiknya sendiri.


"Huft!" Tania meniup napas berat, berusaha membuang sesak akibat semua kejutan yang selalu Raffa berikan membuatnya berdebar menjalani waktunya dengan rasa ketakutan. Tetapi justru tujuan Raffa adalah menjadikan Tania wanita yang lebih tegas, dan tidak memiliki rasa takut dalam hal apapun.


"Kenapa gak mau jelaskan semuanya di awal sih? Aku 'kan selalu dirundung ketakutan." Tania membuang muka ke arah jalanan depan rumahnya.


"Hemmm". Raffa memiringkan senyuman. Entah kenapa ia merasa senang setiap kali mengetahui Tania melewati masa ketakutannya. Bukannya senang, dengan tampilan wajah barunya Tania malah menggerutu.


"Kamu akan membalas dendam, dan mencari tahu tentang perusahaan milik papa kamu dengan caraku! Kamu akan memulai pekerjaan sebagai seorang model, membuat pria yang sejujurnya telah kau benci menjadi tertarik!" Raffa menarik sudut bibirnya, entah apa maksud dari perkataannya hingga harus bicara seperti itu.


Tania mengerutkan keningnya, ia memilih duduk bersama di dekat Raffa dengan tatapan serius dan memperhatikan setiap ucapan Raffa.


"Siapa orang yang Kak Raffa maksud?" tanya Tania dengan raut wajah penasaran.


"Kamu akan mengerti, kamu sudah bertemu dengan dia tadi," balas Raffa.

__ADS_1


Tania mengerjap berulang kali, mencoba mencerna semua perkataan Raffa.


"Edo? Milan? Siapa? Apa yang sudah Kak Raffa ketahui tapi disembunyikan dari aku?" Tania terus saja mencerca dengan pertanyaan beruntun.


"Aku belum tahu pasti, masih samar. Jadi aku memutuskan untuk diam, sampai semuanya pasti," jawab Raffa.


"Aku akan tidur, katakan apa rencananya untuk besok pagi?" tanya Tania, terlihat lebih bersemangat dan bergelora.


"Aku akan mengajak kamu latihan beberapa hal," jawaban singkat, kembali ia berikan kepada Tania.


Tania paham betul, jika Raffa tidak akan memberikan Jawaban apapun meski di paksakan.


Malam semakin larut namun tidak menyurutkan semangat kedua orang yang sedang berbincang.


***


Mentari pagi terasa menyengat kulit menembus gorden putih di jendela kamar Tania. Membuatnya bergegas bersiap untuk menemui Raffa di restoran yang sama tempat mereka bertemu sebelumnya.


Tania melirik jam yang melingkar di tangannya, sembari melangkah dengan kaki yang terseok-seok memasuki area restoran. Kali ini Raffa memilih tempat duduk khusus yang sepi, hingga Tania harus berjalan lebih jauh memasuki restoran.


Tania melewati koridor yang terlihat sepi, yang memisahkan hotel dan juga restoran tersebut.


Braak ...!


Suara setumpuk map beserta dokumen bertebaran jatuh ke lantai, akibat Tania menubruk Milan yang berjalan dari arah berlawanan. Ia terlihat tergesa-gesa hingga tidak memperhatikan langkahnya.


Milan merasa gusar, karena ia sedang ada janji penting dengan beberapa koleganya di tempat yang sama. Seketika entah karena refleks atau karena amarah yang meluap Milan menarik tangan Tania dengan kasar dan mendorongnya hingga menyentuh dinding koridor.


Kini tubuh mereka saling tak berjarak, ada rasa yang aneh di rasakan Milan saat ini. Sikap arogannya langsung memudar saat bertatapan dengan Tania.


"Siapa dia? Kenapa cantik sekali? Cantikmu sempurna, aku ingin mengenal kamu lebih dekat, ah ... kenapa aku terjebak dalam waktu?" Tatapan mata keduanya bertemu pandang. Hati Milan mulai berkecamuk namun tidak ingin menerka-nerka.


Bersambung ...


🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya, biasanya sebelum menulis saya suka baca komentar-komentar lucu dari kalian. Semoga banyak inspirasi. Salam hangat Lintang untuk kalian.


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik).

__ADS_1


__ADS_2