
🌟 LIKE, FAVORIT, RATE 🌟
~ Hay semua ... jangan lupa tinggalkan jejak komentar setelah membaca, sebagai apresiasi terhadap penulis ya. Spam sebanyak-banyaknya ya, biar author semangat up Bab baru.
~ Happy Reading ~
Aku sadar jika aku hanya bulir debu yang sekedar lewat ketika kau bernapas. Diantara segala materi yang kamu punya. Aku sadar jika aku hanya ingin menjadi setetes air di gurun pasir. Meski kecil dan secuil, aku ingin berarti dalam hidupmu.
***
Milan merasa kesal dengan tingkah Tania. Ia bahkan setengah melempar gadis itu ke dalam mobil. Sikap acuh pun Milan tampakkan.
"Jangan hanya karena aku menyukai kamu, lalu kamu bersikap seenaknya di depan kolegaku!" teriak Milan, nadanya meninggi bahkan matanya membulat.
"Mereka bercanda," sahut Tania, cepat. Lalu dengan cepat juga memalingkan wajahnya ke arah luar jendela mobil.
Milan yang gusar hanya bisa mengusap kasar wajahnya yang mulai berkeringat. Lalu membanting pintu mobilnya sembari menghela napas panjang.
"Jalan Pak," tukas Milan, memberikan perintah pada sopirnya. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang didudukinya.
"Maaf," ucap Tania. Milan hanya menoleh sejenak tanpa membalas ucapan Milan.
"Ke rumah pribadi saya ya Pak," ucap Milan, kali ini ia menurunkan nada bicaranya menjadi lebih rendah dari sebelumnya.
Tania lega, meskipun sebenarnya masih banyak hal tak terduga yang akan menunggunya di masa depan.
Tania mendekap perutnya sendiri karena menahan lapar. Milan memang sangat keterlaluan, ia bahkan belum makan apapun tetapi sudah dipaksa pergi.
Edo dan Raya lebih keterlaluan, sengaja memanfaatkan keadaan. Meski semua itu sebenarnya juga membantu Tania mengatasi rasa cemburu yang tak sengaja mulai menderanya.
Ingin Tania menengok ke arah Milan, tapi mengingat jika Milan sedang marah Tania mengurungkan niatnya. Ia bahkan masih mengingat tatapan dingin yang ekstrim menghujam jantungnya.
"Sudah sampai, keluar sebelum ku gendong! Kecuali jika kamu yang ingin," celoteh Milan, sambil berlalu meninggalkan Tania.
Tania masih merasakan amarah pria itu belum reda juga. Ia segera bangkit dan mengikuti langkah pria dingin itu.
Matanya mengedar ke sekeliling rumah. Rumah yang tak asing lagi baginya. Ya. Milan pernah membawanya datang ke tempat ini sebelumnya, meski saat itu sedang uring-uringan. Tetapi rumah ini sudah tak asing lagi baginya.
__ADS_1
"Sudah, jangan mikirin Mas Milan terus! Dia sih sudah biasa bersikap seperti itu, tetapi sebenarnya dia pria yang baik. Hanya saja kurang kasih sayang. Nanti pasti akan luluh lagi hatinya." Sopir pribadi Milan, menepuk pundak Tania, berusaha membuyarkan lamunan gadis itu yang masih diam mematung di depan teras.
Belum sempat Tania membalas, Milan sudah kembali berjalan menghampirinya. Rasanya seperti di datangi rampok atau bahkan pembunuh terkejam ketika pria itu mendekat. Sorot matanya begitu menakutkan meski sebenarnya ia amat tampan.
"Masih mau makan, atau tetap berdiri di situ?" Milan mengulurkan tangannya.
Gugup. Tania refleks menoleh dengan tatapan tak percaya pada sopir pribadi Milan yang masih berdiri sejak tadi di depannya. Sopir itu mengangguk sopan, lalu berjalan masuk ke dalam rumah melewati gerbang samping.
Meski gugup, akhirnya Tania meraih uluran tangan pria yang yang akhir-akhir ini membuatnya kesal itu.
"Kenapa jemarinya dingin?" tanya Milan, sengaja menggoda meski itu jauh dari karakternya yang dingin dan tegas meski kadang ada sisi selengek'an.
"Enggak," sahut Tania. Ia berusa menutupi rasa gugupnya.
Seorang kepala maid berjalan mendekati keduanya, diikuti oleh beberapa orang yang membawa berbagai macam makanan untuk disajikan.
Ternyata saat dalam perjalanan, Milan memang sengaja menyuruh mereka menyiapkan makanan tanpa Tania ketahui. Milan menangkap basah saat tadi gadis itu meringis menahan perih karena lapar mendera.
"Hmmm ... sengaja perhatian apa gimana sih? Aku perhatikan, lama-lama dia keren juga sebenarnya," lirih Tania dalam hatinya.
"Kenapa senyum sendiri?" tanya Milan, "Duduk dan lekas makan, "lanjutnya kemudian.
"Sudah semestinya ini aku lakukan, bukankah kamu pengantin pesananku!" cetus Milan kemudian. Lalu ia juga mulai ikut menemani Tania makan.
Gadis itu tersentak. Parasnya memerah, antara marah dan malu. Namun, ia memilih menyelesaikan prosesi makannya. Kelaparan hanya membuatnya salah mengambil keputusan nantinya.
Milan menatap Tania yang buru-buru mengunyah makanannya.
"Cantik, tapi rakus!"
Tania segera menoleh ke arahnya. Dan sekali lagi mata mereka bertemu. Kali ini diantara mereka tidak ada yang menghindari tatapan mata. Milan memilih tersenyum. Benar. Milan tersenyum!
Dan Milan bukan hanya sekedar tersenyum. Tetapi Milan mengikis jarak hingga napasnya berhembus hangat mengenai pipi mulus Tania, sampai jantungnya hampir saja berhenti berdetak.
"Maaf ya, Tania," cetusnya tenang. Tania hampir saja memukulnya dengan sepatu runcingnya andai saja ucapan itu tidak pernah keluar dari bibirnya.
"Buat apa?" desah Tania, kaku.
__ADS_1
"Karena membuatmu malu karena sikapmu!"
Baru saja Tania akan membuka mulutnya untuk membalas, suaranya tertahan karena ada suara lain yang ia dengarkan.
"Sudah aku maafin, Milan," sela Milan sendiri, dengan suara yang sengaja dikecil-kecilkan.
Ini untuk pertama kalinya mereka tertawa bersama, Tania tanpa sadar memukul bahu Milan sambil tertawa geli.
Menit kemudian tawa keduanya reda. Tania masih menatap lekat pria yang akan menikahinya itu.
"Aku bukan gadis seperti yang kamu tuduhkan! Aku tidak suka kamu mengatakan hal itu," ucap Tania, sembari kembali menajamkan tatapan matanya.
Suasana canggung kembali tercipta memisahkan jarak keduanya.
Milan menghela napasnya sejenak, kemudian ia mencoba membalas tatapan mata Tania.
"Aku hanya sedikit kesal tadi. Bisakah kamu Berpura-pura menyukai aku saat di hadapan semua orang? Sebentar saja, aku tidak butuh lama. Dan kenapa kamu berani sekali berulah mendekati Edo yang notabenenya adik tiriku di depan semua kolega bisnisku."
Suasana kembali tegang. Tania terdiam memaku, tanpa disadari ia kembali terpancing.
"Kalau kamu tidak suka aku berdekatan dengan Edo, lalu bagaimana bisa kamu bercanda tawa terbahak-bahak dengan banyak gadis cantik meski ada aku di sana? Kamu membuatku kesal, Milan," ceplosnya, menit kemudian ia menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.
Milan terkekeh mendengar penuturan Tania. Ia bahkan tidak menyangka gadis yang selama ini menolak bahkan menunjukkan perilaku tidak suka bisa mengatakan hal itu padanya.
"Jadi ... kamu cemburu," tukasnya, diiringi sunggingan senyuman kecil.
Milan sebenarnya senang di dekat Tania. Pernikahan paksaan hanya alasan. Ia ingin memiliki seseorang yang benar-benar menganggapnya ada.
***
— To Be Continued
🌠Hollaaa kesayangan semua, "Dia Bukan Gadis Biasa" adalah novel kedua author di platform ini. Jika kalian menyukai novelnya, jangan lupa LIKE, LOVE, RATE juga ya, salam hangat author untuk kalian semua.
Salam cintaku.
Lintang (Lia Taufik)
__ADS_1
Found me on IG: @lia_lintang08