Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Sempurna


__ADS_3

🌟 VOTE, LOVE, RATE, DAN LIKE 🌟


Mata Milan dan Tania saling bertemu pandang. Netra Milan tidak melepaskan sedikit pun tatapan matanya dari wajah ayu, yang kini berada tepat di depannya.


Tak dipungkiri, waktu memang berjalan begitu cepat. Tania memang gadis yang cantik, tetapi sebelumnya ia lebih cenderung berpenampilan sederhana dan natural. Berbeda dengan dandannya yang sekarang.


"Apa kamu pertama kali kemari?" tanya Milan, ia mengurungkan niatnya untuk marah.


Tania mengerjap berulangkali tak percaya, dengan perubahan yang ditampakkan Milan kepada dirinya. Padahal sebelumnya selalu saja kasar, tiap kali bertemu.


"Tunggu, dia tidak mengenali aku?" batin Tania. Gadis itu melepaskan tangan Milan yang mulai mengendor cengkraman di pergelangan tangannya.


"Hmmm ... ti-tidak, aku hanya sedang terburu-buru," jawab Tania ragu.


"Oh ... mungkin aku sedang tidak berada di tempat. Berhati-hatilah ketika berjalan, aku juga sedang buru-buru. Jadi, aku juga minta maaf ya Nona cantik," ucap Milan, ia menurunkan nada suaranya.


Tania syok sejenak. Namun, dengan cepat berusaha menguasai diri. Dia yakin akan diberikan kemudahan ketika ada niat baik dalam dirinya. Disaat hatinya sedang tertawan oleh kesedihan dan juga masalah keluarga, apa lagi yang bisa diperbuat?


Memaksa Milan mengakui semua kesalahan karena ikut serta datang bersama para kolega ayahnya? Bukanlah rencana yang baik, bisa jadi justru akan mempersulit dirinya. Terlebih, belum jelas siapa yang sebenarnya berada di balik rencana jahat menguasai perusahaan grup tersebut.


"Permisi!" Tania segera menunduk, jemari lentiknya memunguti lembaran-lembaran kertas dan juga beberapa tumpukan map, ternyata Milan pun ikut memungut berkas-berkas yang tercecer di lantai. Tanpa memandang, Tania menyerahkannya ke tangan Milan.


Milan tidak sedikitpun melepaskan tatapan matanya. Ia terkesima dengan penampilan baru Tania.


"Aku minta maaf atas kecelakaan yang terjadi, permisi! Aku sedang ada janji," ucap Tania lirih, lalu melangkah meninggalkan Milan yang masih tak bergeming dan mematung.


Setelah jarak keduanya terpisah beberapa meter, Milan tersadar.


"Nona, aku ingin minta maaf!" teriak Milan, sementara itu Tania hanya menghentikan langkahnya sejenak tanpa berbalik. Lalu melanjutkan langkahnya.


Sesampainya di sebuah ruangan khusus di sudut lain restoran dan juga sebuah hotel berbintang tersebut, Tania mengedarkan pandangannya mencari sosok Raffa sembari melirik jam dipergelangan tangannya.


"Tania," sapa Raffa, sambil melambaikan tangannya tersenyum ramah ke arah Tania.

__ADS_1


Ternyata Raffa tidak sendirian, ia diperkenalkan dengan beberapa orang yang bergerak di bidang permodelan. Bukan hanya penata busana, perias aktris dan juga fotografer profesional juga ada di tempat tersebut.


"Tania, aku akan menjadi manager sementara kamu, sampai menemukan orang yang bisa menangani. Hari ini kamu pemotretan pertama untuk sampul majalah, aku masih ada kepentingan, nanti aku jemput dua jam lagi." Raffa menjelaskan dengan panjang lebar, dengan intonasi yang cepat.


Tania hanya menjawab dengan anggukan kepala, sebagai jawaban persetujuan.


Setelah Raffa pergi meninggalkan tempat, semua langsung bekerja sesuai dengan job description mereka masing-masing.


Tania berganti busana dengan bantuan penatanya setelah riasan wajahnya selesai. Ia terlihat begitu cantik dan juga elegan. Rambutnya dibiarkan panjang terurai, lipstik berwarna merah menyala adalah pilihan penata rias saat itu, kontras dengan kulitnya yang putih.


Tania berganti pose beberapa kali, sang fotografer profesional terlihat tidak kesulitan untuk memberikan arahan. Ini artinya, Tania begitu mudah beradaptasi dengan pekerjaan barunya. Dan ... tujuan Raffa untuk mengubahnya berhasil.


***


Sementara itu, di tempat yang berbeda. Raffa sibuk dengan pertemuan bisnis yang sedang ia geluti. Terlihat, Edo juga ikut serta di sana.


Sementara itu, Milan yang juga berada di tempat sama tetapi dengan urusan yang berbeda, baru saja selesai dengan pekerjaannya.


Milan melewati ruangan tempat Tania melakukan prosesi pemotretan. Tidak sengaja, ia menoleh sejenak. Netranya menemukan keberadaan Tania. Ia menghentikan langkahnya, dan mengintip dari balik kaca.


Tatapannya tertuju pada gadis cantik yang berganti pose beberapa kali.


"Siapa kamu, kenapa aku selalu berdebar setiap kali melihat kamu," batin Milan, dengan tatapan matanya yang teduh.


"Permisi! apa yang anda lakukan!" Raffa membuyarkan lamunan Milan dengan tepukan di bahunya.


Milan tergagap, ia mengalihkan pandangan sejenak. Lalu kembali menatap Raffa yang saat itu memergoki dirinya.


"Tidak, aku hanya terpukau dengan modelnya. Model yang cantiknya tidak membosankan," jelas Milan. Pipinya berubah memerah saat berbicara dengan Raffa dengan pokok bahasan Tania.


"Apa anda mengenal modelnya?" tanya Raffa, ragu-ragu mencoba memastikan. Apakah yang dia pikirkan benar atau salah.


Milan tersenyum lebar, ia menggaruk tengkuknya yang bahkan tidak gatal. Begitu aneh, ia yang selalu bersikap dingin dengan raut wajah datarnya berubah menjadi pria agresif dan penasaran begini.

__ADS_1


"Jika aku mengenalnya, aku pasti mengajaknya berkencan. Tidak mungkin aku berdiri hanya mengamati dari kejauhan begini," jelas Milan.


Raffa mengelus dadanya, ia menghela napas panjang sejenak. Ternyata yang dipikirkan oleh dirinya salah. Jika Raffa saja terkejut dengan perubahan Tania, apa lagi orang lain.


"Permisi," ucap Raffa. Kemudian ia membuka pintu ruangan dan memasukinya lebih dalam.


Sementara itu, Milan masih tetap memperhatikan Raffa dari luar jendela kaca. Raffa menyadarinya, matanya hanya meliriknya sejenak. Lalu berusaha bersikap seperti tidak terjadi sesuatu.


Raffa duduk di sofa di sisi lain ruangan tersebut, bersama beberapa karyawan yang terlibat dalam pemotretan. Ia menatap bangga melihat Tania. Lima menit kemudian, akhirnya selesai juga proses pemotretan yang melelahkan itu.


Tania bergegas menghampiri Raffa, "Kak, aku ganti baju sebentar ya!"


Raffa tersenyum tipis sambil mengangguk, membuat Tania bergegas berlari menuju ruang ganti. Setelah itu keduanya berjalan beriringan meninggalkan tempat.


Ketika berada di tempat parkir, Raffa terlihat menggandeng tangan Tania. Milan yang saat itu sedang berdiri di balkon kamar hotel, menikmati keindahan alam suasana sekitar, sorot matanya terhenti melihat Tania.


"Oh ... jadi pria yang tadi aku temui itu pacarnya!" Aku jadi malu sendiri deh.


Milan menepuk kepalanya sendiri, merasa bodoh mengakui ketakjubannya pada Tania.


Tanpa disadari, Raffa menoleh dan mendapati keberadaan Milan. Ia tersenyum sinis penuh kemenangan, lalu mendekatkan wajahnya di pipi Tania.


"Seorang pria arogan, sedang mengamati kamu dari balkon kamarnya." Raffa merangkul bahu Tania, sebuah kesengajaan yang ia tunjukkan pada Milan.


Tania tersenyum. Ia juga sebenarnya sudah menyadari sejak awal sebelum Raffa.


Bersambung ...


🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya, biasanya sebelum menulis saya suka baca komentar-komentar lucu dari kalian. Semoga banyak inspirasi. Salam hangat Lintang untuk kalian.


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik).

__ADS_1


__ADS_2