Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Dia Lawan Atau Kawan


__ADS_3

Raffa mengeluarkan senjata laras pendek dari balik jas hitam mewah yang ia kenakan. Membuat jantung Tania terpacu cepat. Fokusnya tidak berpindah sedikitpun dari pergerakan tangan Raffa.


Sejenak Raffa melirik gadis yang duduk di samping kursi kemudi yang didudukinya. Menyadari ketakutan Tania, ia segera meletakkan senjata laras pendek tersebut di atas dashboard mobil yang dikendarainya.


Seketika Tania memegang dadanya sendiri dengan kedua tangannya. Kini ia mulai mengatur napasnya yang sebelumnya memburu. Jantungnya berdegup tak berirama.


"Kenapa harus ada senjata?" tanya Tania, berusaha tenang. Meski sebenarnya, hati dan pikirannya diselimuti rasa cemas yang luar biasa.


"Apa kamu lupa, dengan apa yang baru saja terjadi di restoran?" Raffa menaikkan nada suaranya. Tania menatap penasaran sembari menggelengkan kepalanya merasa bingung dengan penjelasan Raffa yang masih mengambang.


"Kamu bukan gadis biasa, banyak orang yang mengincar menginginkan kamu untuk memperoleh harta dan kekuasaan." Raffa membanting setir mobil dan berhenti di bahu jalan.


"Tapi tadi itu Milan, Kak. Dia masih suamiku 'kan?"Manik mata Tania bergerak-gerak menatap Raffa yang juga menatapnya dengan tatapan matanya yang berubah tajam.


Kesal. Tentu saja Tania kesal. Tetapi bagaimanapun Milan adalah suaminya. Wajar saja ia rindu dengan sosoknya yang selalu bergelayut manja.


Raffa mendengus. Sejenak ia terlihat berpikir keras. Kemudian setelah menghela napas panjang ia berkata, "Kita tidak pernah tahu, Milan sebenarnya lawan atau pun kawan."


Getir. Sakit. Itu yang Tania rasakan ketika mendengar suaminya sendiri di tuduh pengkhianat oleh pria yang sebenarnya hanya bodyguard kepercayaan pria yang tertulis sebagai ayahnya.


Hanya dalam hitungan detik Tania menatap Raffa. Lalu ia memalingkan wajahnya menatap jauh ke arah luar jendela mobil.


Melihat kondisi Tania, Raffa mengusap punggung Tania perlahan. Bermaksud memberikan efek tenang, tetapi justru semua itu membuat Tania dilecehkan. Ia refleks menepis tangan Raffa yang mendarat di punggungnya.


"Bisa sopan sedikit!" pekik Tania, ia terlonjak hingga bersandar di sisi pintu mobil.


"Ya, maaf. Aku tidak mungkin berani lancang. Niatku sekedar ingin mencoba menenangkan."


"Ingat baik-baik, Kak. Mungkin Milan memang melakukan kesalahan, entah itu disengaja … ataupun tidak! Terlepas dari tujuanku untuk mencari tahu semuanya yang menyangkut latar belakangku, Milan adalah suami sah ku." Raut tegas, dengan guratan wajah yang terpahat nyaris sempurna itu menatap sinis ke arah Raffa yang masih di mematung di hadapannya. Tania menunjukkan bahwa ia kesal terhadap Raffa saat ini.


Raffa mengangguk perlahan. Hingga ia memutuskan untuk makan malam di rumah bersama bi Marni karena sudah larut.


***


Udara pagi menyusup lewat celah-celah jendela. Menciptakan suasana dingin yang mengundang gigil. Membuat Tania yang bergelung selimut tebal meringkuk sendirian.

__ADS_1


Tak lama kemudian, bi Marni memasuki kamar tersebut untuk memberikan kabar bahwa Raffa telah menunggu di bawah, agar Tania segera bersiap.


Hanya butuh waktu dua puluh menit. Tania turun dengan pakaian santai dan juga celananya jeans yang pendek sebatas lutut.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lagi, Raffa mempersilahkan Tania untuk memasuki mobil yang sejak tadi ia persiapkan.


"Kita mau ke mana?" tanya Tania, penasaran.


Namun, Raffa hanya terdiam, dan kembali melajukan mobilnya menuju sebuah salon kecantikan. Tania menautkan kedua alisnya. Ada rasa tak suka yang kemudian ia tampakkan. Sebab Raffa tidak meminta ijin terlebih dahulu kepadanya. 


"Tania, kamu harus kembali melakukan penyamaran sebagai penanam saham baru di perusahaan milik papa kamu!" 


"Kenapa Kak Raffa selalu memerintah? Kak Raffa, tidak sedang ingin memanfaatkan aku 'kan?" Tania setengah curiga dengan rencana Raffa.


"Hmmm … kapan aku pernah membuat kamu kecewa?" Senyuman tipis sengaja Raffa tampakkan saat itu. Sungguh manis, tetapi tetap saja Raffa tidak mungkin bisa memikat hati Tania.


Menit kemudian. Tania melangkah memasuki salon kecantikan yang sengaja Raffa sewa jasanya secara ekslusif. Saat itu salon nampak sepi. Tidak satu orang pun yang tampak melakukan perawatan kecantikan di sana.


Tania tanpa henti mengedarkan pandangannya ke sekeliling salon. Seorang ahli kecantikan yang terlihat profesional berjalan menghampiri lengkap dengan perancang busana berkelas mendekati Tania.


"Uuum … Pak Raffa, apakah gadis cantik ini yang akan kita ubah hari ini?" tanya seorang pegawai salon.


"Tentu," ucap Diana, yang merupakan pemilik salon dan juga sekaligus orang banyak Raffa percaya untuk mengubah penampilan Tania secara khusus.


Diana begitu antusias. Sedangkan si perancang busana sibuk menyiapkan pakaian yang akan dikenakan kesehariannya.


Lima menit berlalu. Raffa menguap karena matanya mulai dilanda kantuk yang luar biasa. Menunggu memang membosankan, apa lagi sendirian begitu. Tentu saja tak tahan ingin tidur di mana pun berada.


"Aaarrrggghhh …!" 


Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang mengagetkan Raffa, pria berkulit sawo matang itu segera bangkit, dan mencari sumber suara.


"Ada apa?" Netra Raffa menyapu seluruh sudut ruangan.


Beberapa peralatan kecantikan, gunting, dan juga sisir terlihat berserakan di lantai.

__ADS_1


Mata Raffa terbelalak menatap tajam ke arah Tania dan juga Diana.


"Maaf, Nona Tania tidak bersedia memotong habis rambutnya," ucap Diana, mengadu. 


Raffa menghela napas sejenak, mengetahui pemilik salon dan juga seorang perancang busana kepercayaannya terkapar di lantai.


"Tania … apa kamu sudah kehilangan keahlian kamu selama ini? Bukankah aku yang mengubah kamu menjadi model terkenal seperti saat ini?" Raffa menjatuhkan tubuhnya di sandaran kursi yang memiliki roda di bagian kakinya.


Tania diam, tidak mengeluarkan suara sepatah katapun. Kecuali lirikan matanya yang tajam.


"Jangan kasar sama mereka, aku tidak pernah mengajarkan kamu bersikap buruk pada siapapun. Ilmu beladiri untuk membela diri ketika dibutuhkan." Raffa menatap teduh ketika berbicara.


"Ya. Aku minta maaf atas sikapku Kak, hanya saja ... memotong rambutku dan hanya menyisakan lima centimeter, itu benar-benar bukan gayaku!" Tania menatap sinis sembari memanyunkan bibirnya.


"Oh ... jadi itu masalah kamu! Mereka memang aku bayar untuk mengubahmu habis-habisan hingga tak dikenali satu orangpun," tukas Raffa menyunggingkan senyumnya. Namun justru disambut dengan tatapan tidak suka oleh Tania.


"Aku mau berubah gaya, tetapi harus sesuai keinginanku. Berubah 'kan ga harus digunduli," desis Tania.


"Tidak ada waktu banyak. Akan ada meeting penting hari ini. Tentukan pilihanmu, kemudian kita bergegas," tukas Raffa, setengah memaksa.


Akhirnya, rambut sebahu di cat coklat blonde menjadi pilihan Tania. 


Hari ini, seluruh kolega perusahaan milik orang tua kandung Tania sedang mengadakan pertemuan anggota grup.


Hati Tania berdebar ketika sampai di sebuah ruangan yang begitu luas, dengan meja panjang berwarna putih tulang lengkap dengan kursi yang berjajar rapi. Netra Tania menjelajah satu persatu pada seluruh anggota grup yang menanamkan modal pada perusahaan tersebut. Sepasang manik mata yang nyaris sempurna tersebut memaku menatap seorang pria tampan yang begitu akrab dengan sekretarisnya.


Ya. Pria tersebut nyatanya adalah Milan Mahardika. Ia duduk bersebelahan dengan wanita cantik dan seksi yang begitu familiar bagi Tania.


"Mira," desisnya lirih. Kemudian ia menoleh ke arah Raffa yang menepuk pundaknya berusaha menenangkan.


— To Be Continued


🌠 Halo jangan lupa spam komentar kalian sebanyak-banyaknya jika ingin author update rutin ya. Maaf karena slow update. Tetapi jika banyak komentar, like dan favorit nanti akan ditambah kok updatenya. Terimakasih sudah mampir membaca, salam hangat Lintang untuk kalian semua ,❤️❤️❤️.


Salam cintaku.

__ADS_1


Lintang (Lia Taufik).


Found me on IG: lia_lintang08


__ADS_2