Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Pemaksa


__ADS_3

🌟 LIKE, FAVORIT, RATE 🌟


Tania benar-benar tak menyangka mendapat kejutan yang mengesankan dari Milan. Benar-benar surprise yang tak pernah dilupakan.


"Jika kamu mau, aku akan menemani kamu keliling restoran dan juga hotel," ucap Milan. Mencoba menyenangkan hati Tania.


"Boleh," sahut Tania, cepat. Ia terlihat bersemangat. Membuat Milan senang, sebab memiliki banyak celah untuk mencapai tujuannya.


Milan semakin kagum pada wanita yang kini bersamanya. Tania memiliki semangat yang tinggi, ia bukan sahabat atau pun kerabat Milan, tetapi selalu memberikan perhatian penuh ketika Milan sedang mengajaknya berbicara.


Milan semakin terjerat dengan rasa yang semakin tertawan di hati Tania.


"Kamu bekerja sebagai apa di sini?" Tania menelengkan kepala di depan Milan sembari berjalan, hingga ia tidak menyadari ada kerikil kecil karena berjalan mundur di koridor sepi.


Tania terpleset seketika, Milan yang terkejut segera menangkap tubuh rampingnya. Kedua bola mata saling bertemu pandang. Rasa yang sama Tania rasakan, debaran yang sama, pilu yang sama persis ketika Milan datang pertama kali di kediaman keluarganya.


Ingatan itu membuat dadanya semakin sesak. Seketika raut wajahnya berubah muram durja. Ia segera menjauhi Milan dan memalingkan muka. Membuat Milan semakin bingung dibuatnya.


"Tania, ada apa?" tanya Milan, curiga. Ia mengerutkan wajah.


"Tidak, aku hanya terkejut," jawab Tania berusaha menutupi perasaannya.


"Aku mengelola restoran ini bersama beberapa kolega bisnis yang lain. Sebab ini adalah perusahaan grup. Bukan hanya hotel ini, tetapi ada beberapa restoran lainnya juga," tutur Milan.


"Ada apa?" Milan kembali bertanya dengan hati-hati.


"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Tania, kembali memastikan jika Milan tidak mengenali dirinya.


"Tidak, tetapi ... entah kenapa aku merasakan debaran jantung yang sama persis ketika aku bertemu dengan seorang gadis anak salah seorang kolega bisnisku yang telah meninggal dunia," jelas Milan.


"Siapa gadis itu, apakah dia sangat berarti?" tanya Tania, lagi. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mencari tahu, siapa Milan dan juga beberapa orang koleganya yang datang di hari duka itu.


"Namanya Tania, sama seperti namamu. Bedanya, kamu lebih cantik dari dirinya," jawab Milan.


Kemudian Milan menaikkan sebelah alisnya, ia memikirkan ucapan Tania. Akan tetapi, Milan memilih diam dan menyimpan segala pertanyaan di benaknya sendiri.

__ADS_1


Siang itu, Milan mengajak Tania berkeliling ke semua usaha yang digelutinya. Bahkan, Milan juga mengenalkan Tania dengan beberapa rekan bisnisnya dan juga beberapa orang staf kantor kepercayaan Milan.


Di tempat berbeda, Edo jatuh sakit. Sejak keputusan yang diambil Tania, ia kehilangan semangat hidup bahkan tak lagi nafsu makan.


Raya semakin geram dengan sikap Milan. Sangat terlihat jelas jika Raya tidaklah menyukai Milan. Berulang kali ia selalu mencari kesempatan agar Edo menggantikan posisi Milan di perusahaan milik Gerry.


Ketika sedang asyik menikmati makan siang setelah lelah berkeliling, tiba-tiba ponsel Tania berdering. Namun, Milan yang tak sengaja melirik melihat nama Raya terpampang di layar segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Halo, ada perlu apa? Tania akan menjadi istriku! Jika ada perlu, katakan saja padaku," ucap Milan. Tania seketika tersedak mendengar penjelasan Milan.


"Milan, bagaimana mungkin kamu tega melakukan ini. Dia kekasih adikmu, kamu mengambil milik Edo untuk kedua kalinya," jawab Raya menekan ucapannya.


"Bagaimana rasanya? Sakit? Ini tidak sebanding dengan yang aku rasakan, aku bahkan kehilangan nyawa ibuku karena kalian mengambil ayahku," jelas Milan.


Kemudian sambungan telepon tersebut Milan matikan secara sepihak. Tania terlihat kebingungan, namun kini ia mulai mengerti kenapa Milan sangat membenci Edo dan Raya.


Milan mendengus, perlahan ia menghela napas panjang. Dadanya tiba-tiba saja sesak. Dengan tangan bergetar ia menyodorkan segelas air pada Tania.


"Minumlah, maaf aku terlambat memperhatikan kamu. Aku terbawa emosi," ucap Milan dengan kepala tertunduk.


Milan menaikkan sebelah alisnya, "Kamu masih mencintainya?"


Tania terdiam, tidak memberikan jawaban. Mungkin apa yang dipikirkan Milan benar. Tania gadis yang keras kepala.


Bukan Milan namanya jika tidak segera mengambil tindakan. Ia pasti akan semakin menekan perasaannya yang hampir karam.


"Ayo pergi, kita lanjutkan lain hari!" Milan menarik lengan Tania meninggalkan tempat. Tania masih bingung dengan sikap Milan yang sulit ditebak.


***


— Mansion Keluarga Mahardika —


Tania masih bingung dengan sikap Milan. Milan terlihat begitu angkuh dan juga dingin.


Perlahan tetapi pasti, Milan menggenggam erat tangan Tania melangkah memasuki mansion. Beberapa maid dan juga bodyguard yang sedang berjaga menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat mereka kepada Milan. Namun, Raya terlihat marah. Bahkan ia menatap Tania dengan tatapan kebencian.

__ADS_1


Sementara Gerry yang memahami watak putranya ikut geram. Ia begitu memahami, jika apa yang dilakukan Milan saat ini karena kesalahannya di masa lalu. Namun, ia merasa Milan keterlaluan meluapkan emosinya.


Langkah kaki Milan terhenti tepat di depan Gerry. Raya yang semula duduk di samping Gerry menegakkan posisi duduknya sambil berkacak pinggang. Sementara tatapan matanya menyoroti wajah Tania yang tertunduk di depan Raya.


"Pa, aku tidak perduli kalian memberikan ijin atau pun tidak. Aku datang kemari, hanya ingin memberikan kabar jika kami akan menikah minggu depan! Jadi, tolong kalian berdua jangan berulah. Aku tekankan, jaga Edo agar tidak hadir bdi pernikahan kami," ucap Milan.


Dada Tania sesak seketika, ia terkejut mendengar Milan membuat keputusan secara sepihak. Betapa egoisnya pria ini. Ia bahkan rela menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya.


"Aku tidak pernah memutuskan hubunganku dengan Tania, jadi dia masih kekasihku," ucap Edo, yang tiba-tiba saja muncul dan menyambar obrolan keluarga.


Semua keluarga bersih tegang dengan keadaan. Milan tersenyum kecut menoleh ke arah Edo.


"Apa perlu Tania mengulangi ucapannya?" tanya Milan, sambil berjalan mendekati Edo dengan tangan terkepal. Tania yang menyadari hal itu segera bersiaga mengikuti langkah Milan.


"Jika ini dirasa perlu, lakukan. Akan tetapi, aku tidak mau Tania dalam keadaan tertekan. Entah kenapa, aku curiga sama Kakak!" Milan dan Edo saling menatap tajam.


Tania menjambak rambutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya, ia merasa frustasi dengan keadaan tersebut.


Pikiran Tania melanglang buana. Kembali ke dua pria yang sedang bersih tegang, Tania menatap dengan tatapan kesal pada mereka dengan tatapan mata tajam mengiris.


Tania ingin marah pada Milan. Namun, jika ia menyangkal hanya membuatnya terlihat mencari sebuah pembenaran. Bukankah Milan bukan siapa-siapa, ia hanya seorang pria yang baru saja datang singgah dan pergi sesuka hati. Namun, mengapa jua Tania harus takut untuk mengambil keputusan?


Jantung Tania seperti sedang ditarik paksa dari tempatnya. Tania terdiam, matanya bahkan memanas hingga sekarang. Ia hampir menangis ketika seisi rumah memaksa untuk berterus terang apakah dirinya dalam keadaan ditekan atau pun tidak.


***


— To Be Continued


🌠 Hollaaa kesayangan semua, sampai jumpa di novel kedua author di platform ini. Jika kalian menyukai novelnya, jangan lupa LIKE, LOVE, RATE juga ya, salam hangat author untuk kalian semua.


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik)


Found me on IG: @lia_lintang08

__ADS_1


__ADS_2