
"Jangan nangis, aku minta maaf," ucap Milan, seraya mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut.
Matanya berkaca-kaca saat Tania balas menatapnya. Mungkin, dulu niatnya menikahi Tania untuk balas dendam karena ketidaksengajaan . Namun, setelah mengetahui ia adalah Tania Wijaya yang di maksud Burhan, ia mengubah rencana. Terlebih, ia sendiri yang justru lebih dulu jatuh cinta kepada Tania.
"Milan, mulai hari ini, mari kita putuskan. Aku gak sanggup lagi jalani semua denganmu. Aku tidak mau hidup dengan bayang-bayang kamu lagi. Mulai saat ini kita jalani dengan 'terserah'!"
Air mata Tania semakin mengalir deras membasahi pipinya saat berkata. Sementara mata Milan terbelalak mendengar perkataan Tania. Seakan tidak percaya jika Tania tega mengatakan hal itu.
Bukannya membalas, Milan justru mencondongkan tubuhnya dan mulai mengikis jarak setelah sebelumnya mendengus. Kemudian meraih tubuh ramping yang sedang terisak dan mendekapnya erat.
"Maaf, mungkin dulu di awal aku melakukan kesalahan. Tetapi aku tidak akan mengulangi cara yang sama untuk mengerti tentang kita, kembali ke awal. Itu inginku jika kamu mau," kata Milan terdengar jelas.
"Tetapi bukan itu keinginanku, apakah kamu tidak bisa mengabulkan keinginanku yang lainnya?" Tania masih dalam dekapan Milan. Tidak menunjukkan tanda-tanda pemberontakan sedikitpun saat Milan memeluknya erat ia justru menempelkan pipi di dada bidang Milan.
"Aku akan mempertimbangkan," jawab Milan.
"Hmmm ... tetap saja tidak bisa berubah, keras kepala, tidak mau mengerti keinginan orang lain," cerocos Tania. Kemudian berusaha melepaskan tangan Milan yang melingkar di pinggangnya.
"Lupakan sikapku yang membuatmu sakit, aku ingin kita bahagia. Kita perbaiki hubungan kita dari awal. Seperti saat pertama kali kita bertemu, saling menatap, saling mencoba mengenal pribadi masing-masing, lakukan lagi semua itu." Buku jemari Milan mengusap lembut berulang kali, di punggung Tania.
Tania berhenti meronta sejenak.
"Lalu, kenapa kamu tidak memutuskan hubungan pertunangan kamu dulu dengan Mira sebelum menikahi aku?"
"Aku tidak menyangka kehadiran kamu benar-benar bisa menyentuh hatiku. Aku menyesali yang sudah terjadi, Tania. Sungguh, aku tidak berniat—".
Ucapan Milan berangsur pelan, dan terhenti sebelum menyelesaikan ucapannya.
Tania mencoba melepaskan kungkungan lengan kekar Milan yang masih erat memeluknya.
"Tidak Tania, jangan paksa aku menjauhi atau meninggalkan kamu. Aku gak bisa," lirihnya, seraya mengeratkan pelukannya.
"Seandainya kamu tidak mengetahui identitas ku, itu artinya kamu tidak akan jatuh cinta?" Tania mengangkat wajahnya, menatap lekat suaminya yang juga menatapnya dengan jarak yang amat dekat, hanya sepersekian sentimeter saja.
"Satu hal yang aku tahu, aku memang telah jatuh cinta padamu. Sejak pertemuan kita pertama kali. Di malam kematian Pak Reyhan," ucap Milan, mencoba berkata jujur tentang hati dan perasaannya.
__ADS_1
Ia berpikir, jika menyelesaikan masalahnya dengan Tania lebih baik baginya. Terlebih dalam kondisi yang a tidak memungkinkan seperti ini.
"Aku meminta sesuatu," ucap Tania, dengan suara datar. Namun terdengar jelas di telinga Milan. Seolah suara memenuhi ruangan yang sepi itu.
"Katakan," sahut Milan dengan nada datar. Raut wajahnya berubah dingin, tetapi cukup aman jika Tania di dekatnya.
"Pertemukan aku dengan keluarga asliku," pinta Tania. Dengan tatapan memohon.
"Aku tak mau janji, apa lagi aku belum tahu bisa menepati janjiku atau tidak," jawab Milan. Kemudian melepaskan pelukannya.
Milan beranjak dari ranjang yang semula di duduki olehnya. Kemudian ia sibuk mempersiapkan koper, hanya membawa beberapa pakaian dan barang-barang yang dianggapnya penting saja.
"Aku tidak menuntut banyak, setelah masalah ini berakhir aku ingin kamu selesaikan masalah kamu dengan Mira. Kemudian, jika kamu bisa … pertemukan aku dengan ayahku sekali saja. Aku mohon," ucap Tania, kali ini ia benar-benar memasang wajah memelas menatap Milan. Sembari berjalan mengekor ke sana dan kemari.
"Aku mencoba, yang terbaik. Sekarang tidurlah sebentar saja. Besok adalah hari yang melelahkan," ujar Milan. Kali ini ia bersikap sabar dan amat baik terhadap Tania. Tak banyak yang bisa ia lakukan agar Tania menurut.
Berhasil.
Tidak ada kata yang keluar dari bibir Tania. Hanya gerakannya yang Milan baca. Tania merebahkan tubuhnya kemudian memejamkan matanya, diikuti Milan yang kemudian merebahkan diri tepat di sampingnya.
"Aku mencintaimu, Tania. Selamanya, rasa ini akan selalu sama dan akan tetap ada untuk kamu," bisik Milan, bibirnya menyentuh hangat di telinga Tania. Diikuti hembusan napasnya.
Keduanya terlelap dalam lelah untuk beberapa jam. Hingga panas terasa menyengat dan mulai mengusik tidurnya. Masuk melewati celah jendela kaca ruangan di lantai dua, yang hampir sekelilingnya terbuat dari bahan kaca.
Mata Tania mengerjap berulang kali. Mencoba menghilangkan kantuk yang masih menderanya. Perlahan ia bangkit menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Mengedarkan pandangannya. Sepi. Tak lama kemudian terdengar suara air gemericik dari ruangan samping kamarnya.
"Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Tania, saat Milan memasuki kamar dengan handuk yang masih terlilit di pinggang.
"Kamu terlihat lelah, lekas mandi dan bergegas pergi! Kita ketinggalan kereta, kita ubah rencana naik bus saja. Kita pindah ke Surabaya untuk sementara waktu," tukas Milan, seraya mengenakan kaos berwarna hitam ketat. Menampakkan pahatan tubuhnya dengan jelas.
Tubuh tegap yang pastinya diidolakan para gadis di luaran sana.
Mendengar rencana Milan, Tania bergegas untuk bersiap-siap. Mengetahui Tania hampir melepaskan pakaian yang dikenakannya, Milan pergi meninggalkan kamar tanpa berpamitan.
Sementara Tania. Ia hanya diam menatap punggung kekar suaminya hingga pandangannya berubah nanar dan mulai menghilang.
__ADS_1
***
Usai mengisi perut dengan makanan seadanya, keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Ketika mobil Milan mulai melaju di jalan raya, ia berpapasan dengan beberapa mobil yang mengarah ke pondok yang ditempatinya menginap.
"Kamu lihat, Tania. Telat sebentar saja, kita bisa tamat. Kamu masih tidak aman, sepertinya beberapa pria di mobil hitam tadi adalah pria yang mengejar mu di rumah Raffa," jelas Milan. Sesekali menoleh ke arah Tania.
"Kenapa mereka mengejar ku?" tanya Tania, heran.
"Aku sudah bilang berulang kali, kamu bukan gadis biasa. Mereka memiliki tujuan, apakah kamu tidak pernah berpikir mengapa orang tuamu menyembunyikan identitas asli kamu?" Milan mendengus dan mulai membanting setir, saat memasuki area terminal bus.
Karena tidak ingin diikuti, Milan sengaja mengganti kendaraan yang ditumpangi dengan kendaraan umum.
Tania mengerutkan keningnya begitu dalam. Ia memfokuskan pandangannya pada Milan. "Sudah sejak lama aku memikirkannya. Namun, tetap tidak ada jawabannya."
"Kamu akan segera mengetahuinya, bersabarlah," ujar Milan. Kemudian turun dengan ransel di punggungnya, serta koper berukuran sedang di tangan kirinya.
Milan berjalan mengitari mobil mewah miliknya. Membuka pintu mobil perlahan, meraih tangan Tania dan mengajaknya memasuki salah satu bus jurusan Surabaya.
Mereka duduk berdampingan. Tania menyandarkan kepalanya di bahu Milan. Sejenak ia memejamkan mata. Bus kota pun melaju kencang setelah penumpang padat. Namun, ia tersentak ketika mendengar suara sedikit bising.
Dilihatnya tiga preman bertubuh gempal. Meneriakkan memanggil nama Tania. Preman tersebut juga mengatakan, jika Tania sedang lari bersama pria yang bukan suaminya dan seluruh keluarga sedang mencemaskan nya.
Tentu saja ucapan itu mengundang perhatian penumpang lain yang percaya saja dengan ucapan para preman. Keduanya gelagapan. Merasa tersudut. Namun, keduanya tetap bersikap tenang.
Setelah lima belas menit berlalu. Milan meminta sopir menghentikannya di pinggir jalan.
"Ayo!" pekik Milan, sembari menggenggam erat tangan Tania sembari membawa koper di sebelah tangannya.
Bus berhenti. Keduanya bergegas turun. Namun, mengejutkan. Para preman juga ikut turun bersama Milan dan Tania.
"Milan, bagaimana ini?" bisik Tania. Namun keduanya tetap berjalan.
"Bersikaplah seperti biasa saja," balas Milan, berbisik.
Keduanya memasuki perkampungan padat penduduk. Seolah membaur dengan masyarakat sekitar.
__ADS_1
🌠Hay ... hay, Lintang kembali menyapa kalian para pembaca kesayangan. Jika ingin Lintang hari ini update double, gaskeun komentarnya ya genk's. Spam juga ga apa deh ya. Terimakasih banyak sudah mampir di karyaku. Salam cinta Lintang untuk semua.
Follow me on IG: @lia_lintang08