Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Pesan Rahasia Sang Ayah


__ADS_3

Sepasang kaki jenjang masih lengkap dengan sepasang sepatu runcingnya melangkah mendekati Milan, yang sedang duduk berjongkok memilih sebuah senjata yang pas untuknya. Senjata laras panjang dan pendek, keduanya ada. Begitupun dengan granat tangan yang siap lempar, tinggal tarik pelatuk berbentuk cincinnya saja pasti menimbulkan ledakan dahsyat.


"Milik siapa?" tanya Tania ragu-ragu namun penasaran sembari sedikit mencondongkan tubuhnya mengamati isi koper dengan teliti.


Melihat Milan berkutat dengan berbagai senjata, ia mulai merasa takut. Tania bahkan tidak pernah menyangka jika ternyata situasi berubah menjadi serumit ini.


Milan menghentikan aktivitasnya sesaat. Ia menoleh dan menatap intens istrinya yang mulai ketakutan.


"Milikku," jawabnya singkat. Lalu berdiri sejajar tepat di hadapan Tania.


Tentu saja itu bukan jawaban sebenarnya. Dan Tania pun menyadari akan hal itu. Kaki Tania mulai bergetar dan goyah, ia mencoba menahannya sekuat mungkin tetapi tidak berhasil.


Milan terlihat terbiasa dengan benda-benda yang berada di dalam koper. Membuat Tania semakin cemas saja.


"Inikah caramu memperbaiki hubungan kita?" 


"Tania, bukan saatnya kita berdebat! Lekas mandi jika tidak ingin aku memandikan mu," desisnya berkilah.


"Di mana kamar mandinya?" Tania bergelayut manja melingkarkan tangannya di lengan kekar Milan Mahardika mencoba mengurangi rasa takut yang menderanya.


"Di sebelah, bawa baju ganti sekalian. Aku bisa khilaf melihatmu ganti baju di sini!" seru Milan, menggerutu sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Apa bedanya aku mandi atau pun tidak?" ucap Tania mengomel.


Milan mendengus. "Kamu akan tidur denganku! Aku tidak bisa tidur jika mencium aroma kurang sedap!"


Kamu mengujiku, Milan. Batin Tania mulai mengeraskan rahangnya.


Tania kembali dari kamar mandi, ia terkejut mendekati Milan terlentang seperti tak sadarkan diri. Ia segera berlari menghampiri, diguncang-guncangkannya tubuh sang suami yang masih tidak merespon.


"Milan!" serunya.


Tidak bergerak. Diguncangkan sekali lagi lalu Tania perlahan mendekatkan wajahnya, mencoba mendengarkan degup jantung suaminya dengan menempelkan telinganya di dada. 

__ADS_1


Namun, tiba-tiba Milan membuka mata dan berjingkat melihat Tania dalam jarak yang amat dekat. Membuat Milan segera meraih tengkuk dan memeluk erat Tania hingga terjatuh di atas tubuh kekarnya.


"Kenapa kau menggodaku?" tanya Tania, ia berdecak kesal lalu mulai memukul-mukul dada bidang suaminya sembari meronta.


"Aku ngantuk, jadi tertidur. Aku kaget tiba-tiba kamu berteriak tepat di depan wajahku," tutur Milan, memberikan penjelasan. Wajahnya yang semula datar pada akhirnya menyunggingkan senyuman.


Tubuh ramping Tania masih berada di atas tubuh kekar Milan. Sejenak keduanya saling menatap. Jantung keduanya berdegup kencang. Kedua pasang manik mata bergerak-gerak saling mengamati satu sama lain dalam jarak sepersekian sentimeter.


Napas Milan yang memburu, berhembus menerpa wajah Tania begitu pun sebaliknya. Tersadar Tania beranjak bangkit. Namun, Milan menahannya. Pria tampan itu berguling membalikkan posisi Tania hingga berada di bawah. Kemudian Milan bangkit dan meninggalkan Tania.


"Aku mandi, pejamkan matamu selama menunggu. Akan ku bangunkan sebentar lagi. Setelah itu kita makan," bisik Milan, bibirnya mengikis jarak sepersekian sentimeter dengan telinganya, lalu Milan melangkah pergi.


Wah Tania sudah ge-er ya padahal. Dikiranya Milan mau macam-macam. Ternyata cuma goda-goda.


Kesal. Tentu saja ia kesal. Tetapi kemudian pikiran Tania beralih memikirkan Raffa dan Bi Marni. Kembali terlintas di benaknya akan menggunakan telepon genggam yang terlihat tergeletak di atas koper milik Milan.  Tetapi niat itu ia urungkan, mengingat kecerobohan sebelumnya berakibat fatal.


Entah berapa menit berlalu. Tiba-tiba sepasang tangan terasa dingin, menangkup kedua sisi pipinya.


"Bangun, kita makan dan kemudian tidur lagi," bisik Milan, samar-samar terdengar. Dengan mata yang terasa amat berat, Tania membuka kelopak matanya perlahan hingga terbuka sempurna.


Perlahan Tania bangkit, meski kantuk mulai mendera ia berjalan lunglai mengikuti langkah suaminya menuruni anak tangga.


Matanya terbelalak melihat hidangan mewah, yang bisa terasa kelezatannya meski hanya saat dipandang mata. Steak tenderloin panas dan spaghetti tersaji elegan di atas meja.


Tania menguap, "Siapa yang masak enak di tempat seperti ini?"


"Aku," balas Milan, singkat. Kemudian terdengar suara kursi bergeser, dengan gerakan cepat. Pria tampan tersebut menjatuhkan tubuhnya duduk bersandar di kursi makan.


"Nah … sekarang putri tidur yang ceroboh, dipersilahkan untuk menyantap hidangan. Keburu dingin, nanti gak enak. Siapa tahu besok gak bisa makan, karena situasi genting hehehe." Milan tersenyum, dengan sebelah tangannya menciptakan gestur mempersilahkan ke arah meja.


Dengan kasar, Tania menggeser kursi hingga menimbulkan suara derit yang amat keras. Kemudian duduk di samping Milan. Ia segera memindahkan hidangan dari piring saji ke piring kosong di hadapannya lalu mulai menyantap.


Hening.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, Tania meneguk air mineral langsung dari botolnya. Sejenak ia menghela napas panjang lalu menatap sinis ke arah Milan.


"Sepertinya kamu takut besok aku tiba-tiba mati dalam keadaan kelaparan, kemudian gentayangan." Tania menyunggingkan senyum dari sudut bibirnya, senyum penuh kepahitan dari hidupnya yang belum ada kejelasan.


"Kamu mudah sekali tersinggung, tetapi tidak mau menyadari kesalahan," ucap Milan memasang wajah kesal.


Kini Tania hanya diam memaku. Ia sendiri bingung harus apa setelah deretan kejadian dalam hidupnya.


Tak lama kemudian, Milan melempar sebuah amplop di atas meja. Dengan cekatan Tania meraih dan membukanya. Bahkan ia membaca isinya dengan suara lantang.


"Akhiri pencarianmu, hiduplah dengan tenang dan aman bersama Milan. Maka aku akan menjamin kamu berkecukupan hingga anak cucuku. Aku tidak bisa selamanya menjagamu, meski dari kejauhan. Papamu."


Tatapan mata Tania berpindah menatap Milan yang juga serius menatapnya. Tidak ada keraguan sedikitpun kepadanya.


" Di mana kau menemukan amplop ini?" tanya Tania.


"Di dalam koper, di kamar utama," sahut Milan, dengan rahang mengeras ketika melihat Tania seakan menuduhnya.


"Aku ingin bertemu dengan Papa, jika memang ia masih hidup. Aku ingin tahu apa maksudnya membiarkan aku hidup dikelilingi orang asing begini," gerutu Tania, dengan raut kecewa.


Milan mendengus. Ia mulai tak tega. "Kita naik kereta ke Surabaya, besok siang. Sekarang kita tidur dulu."


"Apa aku masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Papa kandungku?" Tania bangkit menarik kemeja Milan bagian depan, dengan tubuh sedikit dicondongkan.


"Aku tidak bisa janji, hanya saja bahaya jika kita masih berdiam diri di tempat ini," balas Milan.


Wajah Tania berubah mendung. Perlahan jemarinya mulai merenggangkan genggamannya dari kemeja yang Milan kenakan.


"Sudah. Ayo tidur, bukankah aku ada di sisimu?"


"Kau tidak mengerti rasaku, Milan. Setiap anak pasti merindukan kasih sayang kedua orangtuanya. Terlebih ibu yang melahirkan. Tetapi aku! Pada siapa harus ku merindu? Nelangsa. Itu rasanya ketika kita rindu tetapi tidak tahu harus merindukan siapa." Mata bulat yang ditumbuhi bulu-bulu lentik mulai berembun, kemudian embun pun luruh melewati pipinya yang putih mulus.


"Apa kau pikir aku bahagia? Hah … aku bahkan kehilangan segalanya karena Edo! Itu sebabnya aku merampas mu dari dia! Agar Edo tahu bagaimana rasanya!" pekik Milan, hilang kendali karena tersulut emosi.

__ADS_1


Mendengar pengakuan Milan. Tania bak disambar petir. Ada nyeri luar biasa di ulu hatinya.


Seketika Tania berlari menapaki anak tangga, lalu menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuknya dan menangis. Sementara Milan, hanya berdiri mematung disertai rasa sesal telah menyakiti Tania dengan pengakuannya.


__ADS_2