Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Semua Tampak Baik


__ADS_3

🌟 VOTE, LOVE, RATE, DAN LIKE 🌟


Tania mengamati lalu lintas di sepanjang jalan perjalanan pulang. Hatinya selalu merasa sepi, sendiri. Hingga kehadiran seorang pria yang ditemui tak sengaja karena kecelakaan ketika hujan. Ya ... namanya Edo Mahardika, pria keturunan Indo-Belanda yang kini mulai mengisi hari-harinya.


"Kita sudah sampai," ucap Raffa mengejutkan Tania.


"Ya," jawab Tania tersenyum sembari menoleh dan menatap teduh ke arah Raffa.


Seketika Raffa membalas dengan senyuman manis, ia menepuk bahu Tania.


"Tidak perlu risau, takdir Tuhan pasti baik untuk kamu. Semangat memperbaiki diri agar selalu memberikan manfaat bagi orang lain. Tidak perlu memikirkan kehadirannya yang akan merusak tujuan hidup kamu."


Raffa mengelus punggung tangan Tania, ketika bulir bening kembali mengalir deras melewati pipi putih gadis yang kini hidupnya sebatang kara itu.


Raffa mengedarkan pandangannya ke arah teras rumah Tania, seketika senyuman teduh yang sebelumnya sengaja ia tampakkan mulai memudar. Raffa sangat mengenal siapa Edo, meski sikapnya seratus delapan puluh derajat dengan Milan tetapi Raffa tetap saja khawatir.


"Apakah kamu ada janji?" tanya Raffa, ia menatap tajam ke arah Tania sambil menautkan kedua alisnya. Ini artinya Raffa sedang serius saat ini.


"Tidak," jawab Tania, ia menggeleng pelan sambil menyeka sisa bulir bening di pipinya. Lalu mengangkat kepalanya membalas tatapan Raffa.


"Edo, dia sedang duduk di teras rumah. Apakah ia sering kemari?" tanya Raffa, lagi. Seolah sedang mengintimidasi.


"Hmmm ... dia terkadang datang tiba-tiba, seperti saat ini." Senyuman tipis mulai mengembang di bibir tipis Tania.


Bola mata Raffa bergerak-gerak mengamati ekspresi wajah Tania. Terlihat gadis di depannya menampakkan wajah berbinar-binar menatap Edo dari jendela mobil.


Siapa sangka bahwa takdir membawa Tania pada jalan berliku. Ia harus merasakan duka yang luar biasa sebelum berada dititik ini. Ia bahkan harus menghadapi monster sedingin Milan terlebih dahulu ketika kabut menyelimuti sedihnya. Ya ... tepat dimalam kematian sang ayah, masih jelas dibenak Tania, Milan datang bersama beberapa orang untuk mengusirnya.


Lebih lagi kondisinya yang sekarang mengharuskan dirinya mampu mandiri, kuat dan terlihat dikagumi banyak orang. Mereka masih ada yang peduli saja sudah cukup membahagiakan. Betapa Tania rakus dan juga terlihat kejam, jika ia menyukai dua pria sekaligus dalam hatinya. Apalagi Edo berbaik hati selalu ada untuk dirinya, kecuali Milan yang selalu bersikap dingin sebelumnya.


"Ya, gak apa-apa Kak Raffa. Edo itu baik kok, gak sedingin Milan. Jadi jangan khawatir." Tania mulai mendorong pintu mobil, dan berjalan keluar yang segera diikuti oleh Raffa.

__ADS_1


"Tunggu, sejak kapan kamu mengenal Milan? Apa kalian dekat?" tanya Raffa, ia terkejut mendengar nama Milan terucap dari bibir Tania.


"Aku pernah bertemu sebelumnya secara tidak sengaja di restoran tempat biasa kita bertemu. Tenang saja Kak, dia tidak mengenali aku yang sekarang." Tania melepaskan genggaman tangan Raffa dan berjalan menghampiri Edo.


Sementara itu, Raffa terus mengekor di belakang Tania. Untuk memastikan jika Edo tidak lebih bahaya dari Milan.


"Halo Edo, sudah lama?" Tania menyapa Edo, ia tersenyum manis. Edo kebingungan, ia seolah tak mengenali Tania dengan dandanan barunya.


"Maaf, ngajak ngomong saya?" tanya Edo memastikan.


"Ini aku, Tania! Kamu jangan bercanda ya, pura-pura gak kenal." Tania memilih masuk, dan membuka pintu rumah yang masih terkunci.


Edo memaku tanpa kedip menatap gadis di depannya yang jauh lebih cantik dari sebelumnya.


"Aku gak mimpi 'kan Tania? Ini beneran kamu?" Edo berjalan mendekat perlahan dengan langkah ragu-ragu. Namun, tangan Raffa segera menghadang.


"Jangan ikut masuk dong, Tania ini sendirian di rumah ini. Tetapi jika kamu ikut masuk selangkah saja aku tidak akan segan untuk menghajar!" seru Raffa. Edo terkejut dengan perlakuan Raffa, yang menurutnya berlebihan.


"Wah, maaf ... saya bukan orang seperti yang ada dipikiran anda. Saya pria baik-baik, yang ingin menjaga Tania. Sama halnya dengan anda, saya mendekat hanya ingin mematikan saja." Edo kembali menjauh, dan memilih duduk dan menunggu.


"Kenalkan, namaku Edo Mahardika. Bisa dibilang aku teman baru Tania, tetapi aku bukan pria jahat seperti yang anda takutkan," ucap Edo, sambil mengulurkan tangannya yang tak kunjung dibalas oleh Raffa.


Hampir saja Edo menurunkan posisi uluran tangannya, tetapi dengan cepat Raffa menyambut uluran tangan tersebut.


"Aku Raffa, bisa dibilang aku ini kakaknya. Jadi, kalau kamu macam-macam bisa dipastikan akan berhadapan langsung dengan aku." Keduanya saling berjabat tangan.


Hal berani yang dilakukan Edo, memperkenalkan diri dengan sopan membuat Raffa dijalari rasa bersalah. Kondisi sekarang begitu rumit dirasakan Raffa. Bahkan saat Tania keluar menghampiri keduanya, dan mengajak Edo ketempat latihan beladiri Raffa terlihat pasrah. Ia bahkan tidak berani mengutarakan pendapatnya.


Begitu pun ketika Edo menyuarakan setuju dengan keinginan Tania, Raffa hanya bisa menasehati. Asalkan Edo tidak membuat ulah, dan juga tidak melakukan hal buruk dikemudian hari ia setuju saja.


"Kak, Raffa ... jika memang merasa keberatan, dengan keinginan aku yang bersikeras untuk mengajak Edo ketempat latihan jangan dipendam sendiri. Sampaikan saja, aku gak apa-apa."

__ADS_1


Raffa hanya tersenyum. Miris. Apalagi yang bisa ia lakukan? Tania terlihat begitu bahagia untuk pertama kalinya setelah keterpurukan.


"Aku akan baik-baik saja, selagi kamu berada tidak jauh dari keberadaan diriku. Aku akan berusaha menjaga semampuku."


Tania mendesah. Lalu meninggalkan Raffa, sambil menepuk pelan bahu pria penjaganya itu.


***


Raffa terlihat serius memperhatikan gerakan Tania yang dirasa perlu dibenahi. Bahkan di tempat latihan Raffa tidak segan menendang Tania, jika gadis tersebut melakukan kesalahan dengan latihannya. Apalagi jika sampai keberadaan Edo mengganggu latihannya.


Edo bahkan tidak menyangka, jika perempuan secantik dan seluwes Tania belajar ilmu beladiri. Apalagi pelatihnya adalah pengawal pribadi, yang merangkap berbagai macam pekerjaan. Edo merasa dirinya bukan siapa-siapa saat itu.


Edo memang putra konglomerat, dengan keseharian sebagai pengusaha muda yang masih amatir. Edo sebelumnya mengikuti pertemuan bersama Raffa, tetapi keduanya hanya mengenal sebagai seorang pebisnis. Edo tercengang saat mengetahui Raffa begitu mengesankan dengan segudang keterampilan yang dimiliki.


"Kamu gak ingin ikut latihan sama aku beladiri?" tanya Tania, disela-sela istirahat.


"Wah, nanti aku bisa dibanting sama si Raffa," jawab Edo tersenyum lebar.


"Aku mau mengajakmu makan malam di rumah keluargaku malam ini," ucap Edo, tiba-tiba suaranya berubah serak karena ragu-ragu.


Bukannya Tania, tetapi Raffa yang tidak sengaja mendengar ucapan Edo terlonjak seketika. Matanya menatap tajam, seperti hampir mencelos saja dari tempatnya.


"Apa!" teriak Raffa, terkejut.


"Aku akan ikut, jika kamu sendiri yang jemput pukul 07.00 malam nanti," sahut Tania, dengan suara lantang dan begitu cepat.


Raffa hanya menggelengkan kepalanya. Tentu saja karena ia sudah tahu seluruh keluarga Edo adalah orang yang bisa saja membahayakan Tania.


Bersambung ...


🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya, biasanya sebelum menulis saya suka baca komentar-komentar lucu dari kalian. Semoga banyak inspirasi. Salam hangat Lintang untuk kalian.

__ADS_1


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik).


__ADS_2