
Milan menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Mira merupakan sebuah kesalahpahaman. Mira memang selalu menggoda Milan dengan sengaja. Namun, sejauh ini pertahanan imannya masih kuat. Cintanya masih utuh untuk Tania.
Bukan itu saja. Demi memperbaiki hubungan, Milan juga menceritakan jika Burhan menyumbang banyak untuk membangun perusahaan pribadi milik Milan, yang sengaja ia sembunyikan dari Gery ayah kandung Milan. Milan melakukan hal itu karena ia merasa tersisihkan sejak ayahnya menikah lagi dan lebih memilih keluarga barunya.
Itu sebabnya Burhan lebih akrab dengan dirinya. Tidak tanggung-tanggung, Milan juga menceritakan Burhan sosok yang baik, yang begitu dekat dengan ayah kandung Tania yang sebenarnya.
Tania mendengarkan dengan antusias cerita Milan siang itu. Ia juga menceritakan pada Milan tentang rencana Raffa. Tak terasa keduanya bercengkrama hingga waktu berlalu begitu cepat. Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan, Tania terlonjak setelah mengetahui mereka berdua telah menghabiskan waktu selama dua jam di taman kota.
"Milan, hari sudah sore! Aku lupa jika aku hanya pamit sebentar pada Kak Raffa," jelas Tania.
"Ya. Kembalilah, kita pikirkan kembali nanti bagaimana kedepannya," balas Milan. Keringatnya mengucur deras membasahi dahi dan juga tubuhnya. Membuat Milan harus mengusap kasar wajahnya berulang kali. Namun, kini ia sedikit lega.
Setelah berpamitan, Tania membawa bunga lily berwarna putih pemberian suaminya. Lalu mampir sejenak ke minimarket terdekat dengan lokasi kediaman Raffa.
Sesampainya di rumah. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Tania celingukan dengan langkah perlahan memasuki kamar. Masih aman. Tidak ada tanda-tanda apapun. Ia berjalan berjinjit sambil menenteng sepatu runcingnya.
Karena rasa penasaran dengan orang tua kandungnya. Tania bergegas meraih laptop yang tergeletak di atas nakas. Di bukanya benda berbentuk persegi tersebut, kemudian tangannya mulai menari, mengetik kata demi kata. Sungguh mengejutkan. Tania memasang iklan di medsos miliknya. Dia menyatakan diri sebagai anak hilang dan mencari keberadaan orang tua kandungnya.
Jantungnya berdegup tak berirama. Tanpa sepengatahuan siapa pun, Tania melangkah mengambil resiko yang amat besar.
Klik!
Iklan akhirnya ia publikasi juga di segala akun media sosial miliknya.
Menit demi menit hingga berganti jam belum ada respon penting di pemberitahuan beranda miliknya, kecuali teman-temannya yang justru menggoda dengan candaan. Mungkin bagi mereka ini candaan, tetapi apa yang menimpa Tania benar adanya. Orang tua yang selama ini mengasuhnya nyatanya orang tua angkat semata. Tentu ada rasa nyeri di hati Tania.
Karena senja telah tiba, menandakan hari akan berganti malam. Tania meninggalkan laptop tepat di atas ranjang, kemudian ia pergi bersiap berendam merenggangkan otot-ototnya yang kaku akibat ketegangan yang terjadi dua hari terakhir.
Diliriknya seikat bunga lily berwarna putih yang teronggok di meja rias. Tania tersenyum lalu meraihnya. Dihirupnya harum semerbak aroma khas bunga lily membuatnya sedikit rileks.
__ADS_1
Dipeluknya ikatan bunga lily yang masih segar dan dibawa ke dalam kamar mandi. Di guntingnya bunga tersebut hingga menjadi potongan-potongan kecil yang halus guna mengeluarkan aroma khasnya.
Setelah air hangat di bathtub siap. Tania menuangkan sabun aroma mawar, yang ia padupadankan dengan potongan lily. Kemudian, perlahan Tania menjatuhkan tubuhnya ke dalam bathtub dan menikmati berendam.
Belum juga ritual mandinya berakhir. Suara gaduh terdengar dari arah gerbang depan. Membuat Tania mempercepat proses membersihkan diri. Tak lupa ia mengganti pakaian dengan celana jeans panjang berwarna hitam yang dipadukan dengan kaus berwarna merah, lalu ia tutupi dengan jaket kulit.
Sejenak Tania mengintip dari balik jendela. Benar. Dirinya terancam. Tania panik, kemudian tersadar dengan apa yang baru saja ia perbuat. Memposting iklan nyatanya justru membuatnya terancam. Tak ada cukup banyak waktu. Tania memasukkan beberapa pakaian, dompet berisi kartu penting dan juga uang cash dan juga laptop miliknya.
Baru saja Tania turun dan sampai di dasar tangga. Ia menemukan bi Marni tergeletak di di atas lantai dengan posisi tubuhnya terlentang dan seolah-olah sudah tidak bernyawa. Tania makin panik. Ia mencoba mengatur napasnya yang memburu. Baru kali ini ia menyaksikan kejadian menakutkan seperti ini.
Tiba-tiba bi Marni bangkit, mencoba duduk sambil menengok ke sekeliling ruangan. Mata Tania terbelalak. Ia segera menutupi bibirnya sendiri dengan telapak tangannya. Ia terkejut melihat bi Marni masih hidup.
"Tania, pergi lewat pintu belakang. Bawa pisau, apapun yang ada di dapur untuk berjaga-jaga. Jangan berhenti sampai menemukan tempat yang aman. Carilah Milan," ucap Bi Marni, kemudian ia terkapar kembali dengan darah dan luka memar di beberapa bagian tubuhnya.
Tania tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia mencari keberadaan Raffa di ruang samping tempat latihan beladiri. Ia melihat Raffa sedang bertarung dikeroyok lima orang preman bertubuh gempal menyeramkan.
Tania tersentak, diiringi isak tangis ia terus berlari menuju dapur. Meraih senjata tajam seadanya kemudian melewati taman dan juga kolam renang di samping rumah.
Boom …!
Suara ledakan dahsyat dari dalam rumah terdengar menggema. Tania semakin menangis ketakutan. Melihat beberapa preman mengepungnya di dekat kolam renang. Dilihatnya, Raffa berjalan mendekat sempoyongan menggenggam 'granat tangan'.
Mata Tania semakin membulat melihat Raffa menarik tuas berbentuk cincin, pisau di genggaman tangan Tania akhirnya terjatuh karena gemetar, kemudian Raffa melemparkannya dengan kepalan tangan mirip sedang tinju ke arah lawan, di saat bersamaan seorang pria menarik Tania hingga tercebur ke dasar kolam renang, lengkap dengan tas ransel yang masih di punggungnya.
Suara ledakan kembali terdengar berdengung. Ingin sekali rasanya Tania bangkit dari dasar kolam. Namun sepasang tangan kekar menahannya beberapa detik. Menit kemudian. Menariknya keluar kolam untuk menghirup udara segar.
"Milan!" pekik Tania, syock mengetahui Milan berada di tempat kejadian menyelamatkan nyawanya.
"Ayo, di sini tidak aman. Tetap menunduk," ujar Milan, sembari setengah berlari dengan posisi tubuh setengah berjongkok menuju keluar area rumah Raffa.
__ADS_1
Milan celingukan siaga, melihat kondisi sepi ia menyeret Tania memasuki mobil yang terparkir tak jauh dari bahu jalan.
"Ayo, lekas masuk!" perintahnya dengan suara setengah berbisik, sementara sebelah tangannya mendorong tubuh Tania perlahan.
Dengan tangan gemetar, Milan berusaha menyalakan mesin mobil. Setelah akhirnya suara mesin menderu, Milan bernapas lega saat mobil mulai melesat kencang ke arah jalanan ramai.
"Laptopku di tas ransel milikku," gerutu Tania.
Milan mendengus dingin. Tubuhnya menggigil, kebetulan Bogor sedang di guyur hujan.
"Biarkan, jika bukan karena kamu memasang iklan sebagai anak hilang, kamu tidak akan diburu!" Wajah Milan berubah dingin.
Menyadari kesalahannya, Tania hanya bisa pasrah menundukkan kepalanya.
"Bagaimana jika Kak Raffa dan Bi Marni meninggal karena aku?" tanya Tania, pikirannya masih tertuju pada dua orang yang menganggapnya keluarga.
"Kita cari tahu nanti," sahut Milan. Netranya menyapu sepanjang jalan, terutama saat mobil yang dikendarainya berpapasan dengan mobil petugas polisi lalu lintas.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Tania kebingungan.
"Kita cari tempat yang aman, masuk ke akun kamu, hapus semua informasi apapun di medsos yang berhubungan dengan kamu," jelas Milan.
Tania mengangguk setuju sebagai jawaban. Hingga keduanya dikagetkan dengan suara dering telepon. Begitu keras dan terdengar bergetar, akibat benda pipih berbentuk persegi tersebut nyatanya berada di atas dashboard mobil.
Keduanya saling bertukar pandang. Jantung keduanya berdegup kencang. Keduanya menyadari kini dalam keadaan bahaya.
🌠Hola semua, Lintang kembali menyapa, semoga semua sehat selalu ya. Tetap di rumah, selalu jaga jarak, dan rebahan baca karya-karya Lintang. Buat yang penasaran Lintang nulis di platform mana aja, bisa kepoin IG Lintang ya genk's. Jangan lupa spam komentar sebanyak-banyaknya, selalu LIKE, RATE, FAVORIT juga ya. Salam cintaku untuk semua.
Follow me on IG: @lia_lintang08
__ADS_1