
🌟 VOTE, LOVE, RATE, DAN LIKE 🌟
Milan memang tipe orang yang menjengkelkan. Ia sepertinya sangat suka jika gadis di hadapannya sedikit ketakutan karena tingkahnya.
Dengan sengaja, ia mendekat dan mencengkeram kedua lengan lawan bicaranya hingga meringis, lalu ia berusaha mengikis jarak.
Tentu saja Tania tak nyaman diperlakukan seperti itu.
"Milan, tanganku sakit! Lepaskan, atau kamu akan tanggung sendiri akibatnya."
Mata Milan mengamati wajah Tania dari jarak sepersekian sentimeter. Mata keduanya saling bertemu pandang. Hembusan napasnya terasa hangat di pipi Tania.
"Mata cokelat ini, kenapa ada rasa berbeda? Aku seakan tak tega." Batin Milan dalam hatinya.
Dua buah bola mata saling bertemu, keduanya masuk dan terhanyut. Dalam. Terbias senyum sinis mengembang dari sudut bibir seorang pria bergaris wajah tegas bernama Milan Mahardika.
Tak lama kemudian Milan melepaskan cengkraman tangannya, Tania terpelanting lalu tersungkur hingga ke lantai. Tania menoleh dan menatap tajam. Tatapan matanya berubah benci mengingat kejadian di malam kematian ayahnya.
"Sayang, beladiriku belum mumpuni. Pada saatnya nanti, ketika aku tahu kamulah pria yang patut disalahkan, aku akan membalasnya!" Tania berucap dengan suara lirih.
Tetapi sayangnya, Milan mendengarnya dengan jelas.
"Kamu bilang apa?" Milan menarik tangan Tania dengan begitu kasar, memaksa tubuh mungilnya berdiri hingga berada dalam dekapan dada bidang Milan.
Tania membuang muka, berusaha melepaskan diri. Namun, cengkraman tangan Milan begitu erat diiringi tatapan mata tajam mengiris, hingga memaksa Tania menginjak kaki Milan dengan sepatu runcingnya.
"Aaargh ...." Milan mengerang kesakitan.
Tania segera memungut clutch bag yang terjatuh di lantai, lalu mempercepat langkahnya mencoba berlalu pergi.
"Makanlah di sini, aku tidak akan menganggu atau pun bertanya tentang apa pun!" teriak Milan, seketika langkah Tania terhenti.
"Nafsu makanku menghilang," jawab Tania tanpa menoleh ke arah sumber suara. Kemudian kaki jenjangnya memilih pergi.
Milan hanya diam menatap punggung gadis bertubuh mungil itu hingga menghilang dari pandangannya.
Tania menyusuri jalan sepanjang trotoar, sebuah motor sport berhenti menghampiri saat ia sibuk menyeka air matanya.
"Kamu kenapa?" tanya Edo yang tiba-tiba muncul dari jalanan yang ramai.
__ADS_1
"Tidak," jawaban singkat menggantung, dari bibir ranumnya.
"Aku mau makan jajanan kuliner Nusantara, jika mau ayo ikut! Ada Pujasera di dekat sini," ujar Edo mengulurkan tangannya.
***
Tania terdiam sejenak, ia terlihat berpikir keras. Mengingat kecerobohannya, telah membuatnya berada dalam situasi sulit.
"Baiklah aku ikut," balas Tania, lalu meraih pundak Edo sebagai tumpuan pegangan tangannya. Lalu duduk dan memeluk erat Edo dari arah belakang. Sementara wajahnya ia rebahkan di punggung Edo.
Ada rasa senang yang Edo rasakan, ia bahkan menyembunyikan senyum kecilnya di balik tubuhnya yang tegap.
Sepuluh menit kemudian mereka pun sampai ke tempat yang yang dimaksud Edo.
"Kita sudah sampai," bisik Edo dengan suara lirih.
Tania menegakkan posisi tubuhnya. Posisi kepalanya mulai menjauh dari punggung Edo. Kemudian ia turun dari motor sport milik Edo. Sementara itu, Edo masih memegangi lengan Tania.
Keduanya berjalan beriringan, Tania mengedarkan pandangannya. Banyak sekali makanan tradisional, masakan Nusantara di jual di sana. Senyum samar perlahan mulai mengembang.
"Mau makan apa?" tanya Edo, mencoba menghibur Tania.
Edo mengerti dan menyadari, jika gadis di depannya ini sedang merasakan luka dan pesakitan yang parah. Ia baru saja kehilangan salah satu keluarga satu-satunya. Edo menuntun Tania menuju sebuah kursi kosong, lalu menyeretnya.
"Duduk saja dulu, jangan kemana-mana ya aku pesan makanan dulu," ucap Edo kemudian berlalu pergi tanpa menunggu jawaban Tania.
Beberapa menit kemudian ia telah kembali diikuti seorang pelayan yang membawa nampan berisi makanan ditangannya.
"Tania, cepet makan ya. Apa rencana kamu kedepan? Ceritakan sama aku ya, Tania. Aku tak sabar untuk mendengar." Edo terus saja mendorong Tania dengan banyak pertanyaan.
"Kebetulan, aku sudah ngomong sama Kak Raffa." Tania menekan nyeri mengingat rencana Raffa bersama dirinya yang entah sejak kapan kembali datang. Tania berusaha berbicara datar, berusaha menekan sedihnya. Suaranya terjeda. Bulir bening tiba-tiba saja lolos dari bendungan mata, dan meluncur deras melewati pipinya.
"Tania." Edo merasa ada yang aneh dengan penekanan suara ketika gadis itu melanjutkan pembicaraan. Namun, ia tidak mungkin memaksa agar gadis itu berterus terang.
Tania adalah gadis yang baik. Dahulu ia memang manja, tetapi ia adalah gadis penurut. Untuk itu, perlu proses panjang untuk melakukan perubahan besar terhadap dirinya.
Ponselnya bergetar ketika ia sedang menyuapkan makanan di bibirnya. Ia segera membuka clutch bag miliknya. Tertera pesan dari Raffa yang meminta agar Tania mengirimkan alamat dirinya berada saat itu.
Sementara itu, Edo terlihat bersemangat melahap makanan yang dipesannya sembari menatap Tania tanpa berkedip.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Edo.
"Kak Raffa, sebentar lagi akan menjemput aku." Tania mengangkat wajahnya, yang sejak tadi ditekuk. kemudian menghela napas panjang.
"Raffa?" Edo mengerutkan keningnya merasa penasaran.
"Ya, di orang kepercayaan mendiang papa aku." Melissa menghentikan ucapannya, lalu mempercepat proses makanannya.
Tania berbincang-bincang sejenak sembari menunggu kedatangan Raffa. Saat itu, terjadi keakraban diantara keduanya. Edo terlihat pria yang baik, berbeda dengan pribadi Milan. Meski wajah mereka banyak kemiripan, tetapi Milan tetaplah pria terdingin dan terkeren yang pernah Tania kenal.
"Kalau butuh teman, hubungi saja aku. Siapa tahu aku memiliki waktu luang. Aku akan dengan senang hati membantu, apa lagi bisa menemani kamu." Edo menyunggingkan senyuman manis, seketika Tania terkekeh mendengarnya.
"Aku menyukai kamu," ucap Edo, ia kembali mengeluarkan suara setelah beberapa saat terjeda.
"Aku juga suka berteman dengan kamu." Tania membalasnya dengan senyuman, sepertinya ia hanya menganggap ucapan Edo hanya sebatas candaan saja.
"Permisi, aku harus mengajak Tania pergi. Lain kali obrolannya boleh kalian sambung lagi!" sapa Raffa, tawa keduanya seketika terhenti.
"Edo, terimakasih untuk hari ini ya! Dan ... maaf aku harus pergi dengan tiba-tiba," ucap Tania, ia berhati-hati saat berucap.
"Oh ... ya, tidak perlu sungkan Tania," sahut Edo, "Apakah Anda Raffa?" lanjutnya kemudian.
"Ya, namaku Raffa," balas pria pribumi tersebut dengan suara tegas.
Mereka pun berpisah. Tania memilih untuk pergi bersama dengan Raffa, karena apa yang terjadi di masa depan adalah rencana Raffa.
Tania sebenarnya merasa curiga, karena setiap datang Raffa selalu menjemputnya dengan mobil mewah yang berbeda. Namun, ia memilih menyimpan semuanya dalam hati. Bukankah aneh jika seorang yang ditugaskan sebagai seorang bodyguard tetapi memiliki banyak bisnis. Lalu untuk apa ia bekerja sebagai bodyguard? Bukankah Tania tak mampu membayar?
"Kita akan kemana?" tanya Tania, berusaha memecahkan keheningan.
"Menuju rencana baru kita. Aku memiliki kejutan untuk kamu. Pastinya kamu akan suka," jawab Raffa. Kemudian mobilnya melesat kencang melewati jalan raya.
Bersambung ...
🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya, biasanya sebelum menulis saya suka baca komentar-komentar lucu dari kalian. Semoga banyak inspirasi. Salam hangat Lintang untuk kalian.
Salam cintaku.
Lintang (Lia Taufik).
__ADS_1