Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Mengapa Raffa?


__ADS_3

Pria bertubuh tinggi, berwajah maskulin, pemilik tatapan mata teduh bernama Edo Mahardika menatap kosong ke arah luar jendela mobil sambil menyandarkan tubuhnya.


Matanya bahkan tak mampu mengerjap meski sekali saja. Dalam lamunannya masih memikirkan nama yang sama, yang sejak dulu terukir di hatinya 'Tania'.


Lima menit berlalu, suara keras memanggil-manggilnya membuat lamunannya buyar seketika.


"Edo, Edo!" panggil Milan pada pria berjas mahal yang selalu berpenampilan rapi di sampingnya.


"Uuum ... ya," jawabnya, sedikit menyembunyikan gugup. Edo berusaha mengerjap untuk memulihkan kesadaran berulangkali.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Milan, cemas.


Sejak mengenal dekat Edo yang begitu baik dengan sikap lembut dan perhatian pada keluarga yang bahkan membencinya, Milan sedikit perhatian pada saudara tirinya itu. Ya. Meski hanya sedikit saja. Tentu ia masih merasa Edo pesaingnya dalam cinta.


Pantas jika dulu Tania begitu jatuh hati padamu. Batin Milan terus menatap adik tirinya yang memiliki sifat jauh berbeda dengan ibu tirinya yang licik.


"Ya, aku hanya sedikit lelah," Edo berkilah kemudian menegakkan posisi duduknya.


Sejenak ia melonggarkan dasi yang mengikat di lehernya. Dengan tatapan yang masih tertunduk tak mau menatap lawan bicaranya Edo berusaha mengeluarkan suara.


"Ada apa? Apa istrimu baik-baik saja?" imbuhnya bertanya, sebab saat Milan sedang mengangkat panggilan telepon pikiran Edo terfokus pada gadis itu. Sehingga ia tidak sempat mendengar percakapan keduanya.


"Ya, kita harus ke rumah sakit. Kita putar balik, Tania sedang berada di sana dengan Raffa." Milan berbicara sambil memutar kunci menyalakan mesin mobilnya, kemudian mobil kembali melesat membelah riuhnya jalanan kota Bandung.


Di sela-sela perjalanan, Edo begitu cemas. Milan pun memasang wajah yang sama, membuat Edo yang menangkap ekspresi kakaknya semakin cemas.


"Jika Tania baik-baik saja, kenapa ia bersama Raffa sekarang?"


Edo tak sanggup lagi menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang terlintas dibenaknya.


"Raffa terluka, kabarnya dia tidak sadar di rumah sakit. Tania tidak bisa menjelaskan secara rinci, itu sebabnya aku khawatir," balas Milan yang menambah kecepatan mobilnya.


Mata Edo melotot mendengar penjelasan sang Kakak. "Ini artinya, Tania juga tidak sedang dalam situasi aman."


Wajah Edo semakin menegang. Milan semakin mengerti jika cinta Edo nyata adanya. Kini ia merasa amat bersalah, telah tega memisahkan dua insan yang dulunya saling mencinta. Tetapi nasi telah menjadi bubur, Milan pun bahkan tak mampu hidup tanpa Tania.

__ADS_1


Kharisma wanita cantik yang serba bisa dan tangguh itu, ternyata mampu membuat hati kedua saudara tertawan.


***


Pukul satu siang, mobil sport mewah berwarna hitam legam memasuki area rumah sakit kawasan kota Bandung.


Sepasang kaki pemilik sepatu kulit bermerek keluaran pabrikan berkelas Italia tersebut perlahan mengayunkan langkahnya memasuki resepsionis rumah sakit.


"Apakah ada pasien yang baru saja menjadi korban rampok di kawasan restoran pusat kota di rumah sakit ini?" tanya Milan pada seorang suster cantik yang sedang berjaga di resepsionis.


Milan berkata dengan napas yang hampir tak beritme.


"Siapa korban yang anda maksud?" tanya suster rumah sakit.


"Raffa—" ucapan Milan terhenti, berusaha mengingat-ingat nama keluarga Raffa kemudian bibirnya tercekat memikirkan siapapun yang berhubungan dekat dengan pria itu.


"Ya, baru saja dipindahkan ke ICU," balas suster yang sedang berjaga sambil menyunggingkan senyum ramahnya, pada Milan yang memang memiliki ketampanan tidak umum.


Milan termangu, diam memikirkan semua yang diceritakan bi Marni. Ia berusaha mengingat keterkaitan Raffa.


"Terimakasih," ucap Edo mendahului Milan yang hampir saja membuka suara mengingat suster di depannya menatapnya intens sambil tersenyum sendiri.


Milan langsung nyelonong pergi enggan menanggapi, lalu keduanya berjalan dengan langkah lebar seakan berlomba menapaki keramik rumah sakit yang khas berwarna putih tulang berjajar rapi.


Langkah keduanya terhenti, dan mengamati dari kaca penghalang di dinding sebuah ruangan bertuliskan 'ICU'.


Keduanya memperhatikan seorang gadis yang sedang menangis tersedu-sedu sembari memeluk tubuh lemah tak berdaya yang sedang terbaring di ranjang pasien.


"Lihatlah, Tania. Meski ia tahu jika Raffa bukan pria baik, ia masih tetap menangis untuknya," gumam Milan.


"Ya. Dia memang wanita luar biasa, terkadang kasar, terkadang kuat. Meski begitu, ia tetap saja seorang wanita, yang memiliki sisi rapuh di balik kuatnya dia dan ... terkadang menggemaskan." Edo melambaikan tangan saat Tania tersadar dengan kehadiran Edo dan suaminya.


Cepat-cepat gadis itu melangkah keluar ruangan. Ia berhamburan memeluk Milan.


"Apa yang sedang terjadi?" tanya Milan, ia sedikit menjauhkan tubuhnya sambil menatap Tania yang pucat pasi dengan mata sembabnya.

__ADS_1


"Aku mendatangi villa tempat terakhir kami bertemu. Di sana aku menemukan Kak Raffa sudah berbaring tidak sadarkan diri," terang Tania memberikan penjelasan.


"Lalu?" Edo menyela bertanya.


"Aku membawanya ke sini sebelum nyawanya tidak tertolong." Tania menoleh dan menatap mata teduh Edo yang juga menatapnya.


Milan cepat-cepat berusaha menghalang-halangi pandangan Edo yang mencuri pandang.


"Hmmm ... Bi Marni mana?" Edo berpikir keras sejenak, mengetahui Tania hanya seorang diri.


Ia mengingat jelas jika bi Marni ditugaskan Burhan untuk menjaganya.


Tania tertegun, kemudian ketiganya bertukar pandang satu persatu kemudian berucap bersamaan, "Jangan-jangan—"


"Apakah Raffa sebenarnya korban? Apakah bi Marni—" Edo masih berpikir.


"Jika dia sebenarnya dalang atas masalah keluarga Tania yang amat rumit ini terjadi, lalu kenapa Raffa yang dijadikan sasaran?"


"Karena selama denganku, Kak Raffa pria baik. Namun, Bi Marni ... kenapa ia tega membohongi kita dengan menyusun banyak rencana yang mengecoh?" Tania mengacak-ngacak rambutnya sendiri sambil berteriak kesal.


"Kita semua, harus menunggu Raffa sembuh, dan aku akan berusaha menghubungi Om Burhan. Kita duduk bersama, jangan ada pertemuan sendiri-sendiri lagi. Kita sepertinya sedang dipermainkan. Namun siapa yang sedang mempermainkan kita sebenarnya, mari kita cari tahu itu," jelas Milan.


Tania dan Edo mengangguk bersamaan. Kemudian Tania memberikan kesempatan Milan masuk bergantian dengan Edo untuk menjenguk Raffa yang masih belum bisa membuka matanya.


Milan mencondongkan tubuhnya, mendekatkan kepalanya di telinga Raffa. "Ini aku, Milan. Kau akan baik-baik saja, Tania aman bersamaku, dan kami akan menjagamu dengan aman. Bangunlah Raffa, berusahalah sembuh, teka-teki ini bergantung padamu."


Buku jemari Raffa perlahan menunjukkan reaksinya. Mulai bergerak sedikit demi sedikit. sementara dari sudut matanya yang masih terpejam, bulir bening merembes dan semakin deras.


Milan terkejut, Raffa seolah ingin menceritakan banyak hal tentang rentetan kejadian panjang.


"Jangan takut, aku tidak akan pergi sedetikpun sampai kau pulih," bisik Milan. Lagi. Ia berusaha meyakinkan Raffa agar tetap tenang.


Sementara di luar, Edo dan Tania duduk di kursi tunggu dengan rasa canggung.


— To Be Continued

__ADS_1


— Follow me on IG: @lia_lintang08


__ADS_2