
Langkah kaki Tania terhenti ketika netranya menemukan sosok Milan sedang duduk bersama Mira di salah satu kursi berwarna putih yang berderet di ruangan yang luas tersebut.
Refleks, Tania dan Raffa bertukar pandang. Membuat Raffa mengerti mengambil potret kedekatan Milan bersama Mira lalu mengirimkannya pada Tania lewat pesan WhatsApp, untuk dijadikan dokumentasi.
Tentu semuanya akan dijadikan alasan kesalahan Milan nantinya. Dengan perasaan bercampur amarah, Tania memberanikan diri melangkah dan memilih kursi yang berseberangan dengan Milan. Namun, ia sangat terkejut ketika Burhan tiba-tiba mengambil posisi duduk di sampingnya. Sementara Raffa mengisi kursi kosong tepat di sebelah Mira. Sehingga ia melihat jelas jika Burhan sedang duduk bersebelahan dengan Tania.
"Apa rencana Raffa sekarang?" tanya Burhan dengan suara rendah, dengan wajah datar terdengar berbisik.
Tania tersentak, ia menatap tajam Burhan yang terlihat acuh dengan pandangan tetap lurus ke depan.
"Maksud, Om?" Tania berbalik tanya dengan ekspresi wajah tegang. Rahangnya berubah mengeras.
"Aku mengenali penyamaran mu, perlu kamu tahu, aku selalu mengawasi meski dari kejauhan!" desis Burhan. Pria paruh baya itu memang jarang tersenyum. Wajahnya terlihat dingin dan kaku, meski sebenarnya jika berhadapan dengan Tania ia tidak pernah marah.
"Aku sendiri saja bingung, Om." Tania kembali menoleh pada Burhan yang masih terlihat berwibawa dengan sikap dinginnya. Berpura-pura acuh di hadapan semua orang.
"Kalau begitu lanjutin penyamaran kamu, tapi ikuti skenarioku. Meski kamu sedang menjalankan rencana Raffa," tukas Burhan, setengah memaksa.
Tania mencoba menenangkan diri, ia mengeluarkan benda pipih berbentuk persegi dari dalam clutch bag miliknya. Tania membuka kiriman WhatsApp dari Raffa. Memandangi potret Milan, satu persatu, "Begitu saja kamu cemburu?"
Burhan menatap sinis, Tania pun membalas tidak kalah sinisnya tatapan Burhan. Namun, ada hal aneh yang Tania tangkap, seolah pria paruh baya tersebut tidak ingin melihat Tania lemah.
"Jangan ikut campur, ini masalah pribadi, Om. Namaku bukan Tania jika tidak bisa membuat Milan kembali bertekuk lutut padaku." Mata Tania melotot, hampir saja ia mengeraskan suaranya. Kemudian perlahan ia menghentikan ucapannya setelah tersadar banyak mata yang mengamati.
Tania hendak berdiri meninggalkan meeting room. Namun, dengan cekatan tangan Burhan menahan pergerakannya. Justru ia yang berganti bangkit dari tempat duduknya, mengagetkan Tania dan Raffa.
"Halo semua, saya mohon perhatiannya seluruh anggota grup sejenak. Perkenalkan, ada anggota baru yang ingin menanamkan modal di perusahaan properti kita. Nona Tania, silahkan memperkenalkan diri," ucap Burhan, Tania tersentak mendengar Burhan menyebutkan namanya.
__ADS_1
Bukankah seharusnya Tania mengubah namanya demi penyamaran? Wah Burhan mencoba mengacaukan rencana yang dibuat oleh Raffa nampaknya.
Jantung Tania berdenyar melihat Milan yang duduk berdekatan dengan mantan tunangannya sedang menatapnya intens.
"Nama saya Tania Putri, saya anggota baru yang bergabung di grup ini," sahut Tania, setelah berdiri sejenak untuk memperkenalkan diri kemudian ia duduk kembali setelah sambutan singkat guna menghindari melakukan kesalahan fatal.
Kini Milan menatapnya tanpa kedip. Membuat Tania semakin tak nyaman, kemudian pamit ke kamar mandi sejenak.
Ia berjalan menyusuri lorong setelah maid yang bertugas, menunjukkan letak toilet di basemen tersebut. Langkah Tania pelan namun lebar, di kanan kiri dinding basemen tersebut banyak lukisan antik yang terpajang. Bukannya unik, tetapi terlihat menyeramkan bagi Tania.
Kaki jenjangnya berhenti di toilet wanita, kemudian ia kembali memelankan langkahnya setelah mendengar suara kaki berdentum mengikuti langkahnya.
Tania membalikkan badannya. Benar-benar anggun caranya memutar tubuhnya. Dress selutut yang membalut tubuh rampingnya senada dengan headband yang ia kenakan membuatnya benar-benar cantik dan memukau.
"Permisi, apakah anda tersesat? Ini toilet wanita?" Tania tersenyum kaku, menatap Milan yang kian mendekat. Sementara matanya mulai berembun. Namun, Tania berusaha menahannya agar tidak luruh sembari menatap langit-langit toilet.
Jantung Tania semakin bergemuruh. Tangannya gemetar, mencoba mengeluarkan ikat rambut hendak membersihkan wajah. Perlahan, ia mengangkat rambutnya, mencoba memakaikannya sendiri. Bukan tanpa alasan, tetapi ini sengaja ia lakukan untuk menarik perhatian Milan, berusaha mengetahui gejolak hati prianya.
Lehernya begitu jenjang, putih mulus, membuat tangan Milan gemetar dan enggan menolak. Kedua manik matanya bergerak-gerak menatap wajah cantik Tania, seakan memperhatikan detail pahatan indah di hadapannya.
Sesaat Milan memaku, kemudian memberanikan diri mendekat. Lalu membantu mengangkat dan mengikatkan rambut Tania yang semula tergerai dihiasi headband miliknya. Tubuh keduanya saling berhadapan. Milan memejamkan matanya sejenak. Mencoba menghirup aroma tubuh Tania, dan hembusan napasnya yang mulai menerpa pipi Milan akibat jarak yang kian terkikis.
Sementara Tania, ia justru memilih membuang muka untuk mengurangi kegugupan yang terjadi. Benar-benar situasi mendebarkan. Debaran cinta sepasang suami-istri yang masih terasa meski Tania mencoba menahannya.
"Umm … terimakasih, memangnya kemana istrinya?" suara Tania membuyarkan lamunan Milan. Membuatnya tersentak dengan pertanyaan yang dilontarkan Tania kepadanya.
"Oh, kami sedang ada masalah kecil," sahutnya, ragu dan gelagapan. Terlihat jelas jika ia sedang gugup di hadapan Tania.
__ADS_1
Rencana Tania amat sederhana. Tetapi mampu membuat hati Milan porak-poranda, mungkin bagi Milan itu masalah kecil. Tetapi bagi Tania, itu sebuah pengkhianatan besar yang mana Milan harus membayar mahal suatu hari.
Tania memutar keran air di wastafel, lalu membasuh muka perlahan. Dengan sigap Milan menyodorkan tissue yang segera diraih oleh Tania.
"Kenapa tidak pergi? Nanti pacarnya cemburu," tukas Tania. Sembari melempar tissue ke tempat sampah, lalu memoles wajahnya dengan makeup tipis.
Milan menghela napas panjang. Berusaha menguasai diri, "Jika kamu mau, aku melamar pekerjaan jadi bodyguard pribadimu. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi!"
Tania menghentikan aktivitasnya sejenak, kemudian memoles tipis bibirnya dengan lipstik berwarna merah maroon. Begitu menggoda, berbeda dengan warna sebelumnya yang begitu natural.
"Kamu sudah sangat cantik, Tania!"
Suara yang keluar dari bibir Milan, membuat Tania refleks menoleh dan menatap tajam. Keduanya saling bertukar pandang.
"Maaf, apa mau kamu?" Tania segera memasukkan kembali beberapa peralatan makeup miliknya kedalam clutch bag, kemudian berjalan mengitari Milan. Kemudian melangkah pergi. Dengan gesit Milan segera menyusul.
"Katakan dulu jawabannya," ucap Milan, sembari berjalan tergesa-gesa.
"Jawaban apa?" tanya Tania, berpura-pura lupa.
"Jadikan aku bodyguard pribadimu," sahut Milan cepat.
Tania segera menghentikan langkahnya. Memandang serius wajah suaminya. Ia mencoba menerka, mungkinkah Milan mengenali dirinya? Namun, Tania masih ragu dan akan mencari tahu.
"Akan aku pikirkan, silahkan berjalan lebih dulu. Tidak enak jika ada yang lihat," ucap Tania, tutur katanya begitu sopan. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda ia pandai ilmu beladiri sedikitpun.
Setelah Milan berlalu meninggalkan tempat, Tania menyandarkan tubuhnya di dinding koridor. Bulir bening dari mata indahnya tumpah.
__ADS_1
"Jika sulit, jangan lanjutkan. Akui saja dirimu secara pribadi pada Milan. Ajak dia hidup jauh dari keramaian, asalkan kamu bahagia. Jangan jadikan hidup ini beban," ucap Burhan, suaranya mengagetkan Tania dengan kedatangannya yang selalu tiba-tiba.