
Deru mesin mobil masih menyala. Meski lajunya sudah berkurang. Keduanya basah kuyup dalam gelapnya malam. Milan segera meraih ponsel miliknya. Tertera nama Burhan di layar, membuat Milan sedikit lega.
"Ya, Om. Aku bersama Tania," ucap Milan mengawali pembicaraan dengan suara terdengar bergetar akibat gigil.
"Bawa dia ke tempat yang aman. Di pinggir danau, ada penginapan yang sering kita gunakan. Kamu masih ingat 'kan alamatnya?" Suara Burhan terdengar pelan sekali, mirip orang yang sedang berbisik di seberang telepon.
"Ya, Om. Aku ingat," sahut Milan menegaskan.
"Matikan semua telekomunikasi sementara. Kamu akan menemukan alat bantu komunikasi di kamar utama. Aku sudah menyiapkan segalanya. Selanjutnya, jangan hubungi aku dulu. Ikuti saja pesan yang tertulis di kamar tersebut. Perlengkapan sudah lengkap," ujar Burhan menjelaskan. Lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Milan membanting setir, mengagetkan Tania yang baru saja menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil.
"Ada apa?" tanya Tania, tersentak.
"Menepi sebentar. Hanya lima menit," sahut Milan.
Milan melihat raut wajah istrinya yang pucat pasi. Buku jemari Milan mulai menjelajah mengusap wajahnya dengan perlahan.
"Pindah ke jok belakang, ganti baju di paper bag yang sudah aku siapkan. Ambilkan juga pakaian ganti untukku! Kita harus bergegas, hari sudah malam," ucap Milan, memberikan perintah yang segera disetujui oleh Tania.
Gadis itu segera berpindah. Namun setelah menyerahkan paper bag pada Milan, ia diam mematung sejenak. Matanya membulat mengetahui Milan menutup seluruh gorden yang mengelilingi mobil mewah miliknya.
"Tunggu apa lagi!" Milan menoleh sembari membuka kaos basah dan menggantinya dengan pakaian bersih.
Tania terkesiap, "Di-di sini?"
Milan menghela napas berat, "Memangnya mau di mana lagi? Lagi pula kamu istriku, aku sudah pernah lihat seluruh lekuk tubuhmu."
"Ya, jangan mengintip," ucap Tania, terdengar geli di telinga Milan. Membuatnya tersenyum kecil menyeringai diikuti matanya yang mengerling genit.
Milan hanya menggelengkan kepalanya perlahan melihat kekonyolan istrinya. Kemudian pandangan matanya kembali lurus ke depan, sesekali mengangkat kepalanya melihat ke arah kaca spion mobil yang terpasang di bagian tengah. Memastikan Tania selesai ganti pakaian atau tidak. Menit kemudian, Tania kembali pindah duduk di sebelah kemudi. Milan pun kembali melajukan mobilnya.
Perjalanan panjang ternyata mampu menyita tenaga keduanya yang mulai dilanda kantuk yang luar biasa.
Mobil mewah berwarna hitam, kini memasuki sebuah pekarangan rumah keluarga yang berukuran tidak terlalu besar meski terlihat mewah.
__ADS_1
Daun-daun kering yang berjatuhan, menandakan rumah tersebut tidak lagi berpenghuni. Hanya saja, lampu teras dibiarkan menyala dengan pagar yang masih digembok.
Milan perlahan turun dari mobilnya. Ia menggeser pot bunga berukuran besar yang bertengger di sebuah pagar beton berbentuk persegi, setelah itu tangannya merogoh benda kecil yang lama berada di sana.
"Kuncinya?" desis Tania, seakan tak menduga Milan sudah mengenali secara rinci bagian rumah sepi itu.
Hujan rintik-rintik diselingi suara petir, menjadi saksi bisu keduanya sedang berada pelarian mencari tempat aman.
Milan melambaikan tangannya, agar Tania segera keluar dari mobil. Gadis itu pun segera bereaksi. Di raihnya ransel basah miliknya, kemudian perlahan menuruni mobil mengikuti Milan yang sedang sibuk membuka pagar rumah.
"Masuk, tunggu aku di teras. Aku mau masukin mobil dulu," tukasnya. Kemudian melangkah keluar.
Tania melangkah sembari mengedarkan pandangannya. Suasana rumah begitu sepi meski kondisinya masih bagus. Jarak rumah tetanggapun jauh dari rumah tersebut, sesekali Tania mengusap tengkuknya sendiri.
"Ada apa?" tanya Milan, suaranya yang tiba-tiba muncul selalu mengagetkan lamunan Tania.
"Tidak, hanya saja rumah ini seperti tidak pernah ditinggali," sahut Tania.
"Ya, tetapi aman tinggal di tempat ini sementara waktu. Jadikan ini pengingat, lain kali jangan ada kecerobohan. Berpikir sebelum bertindak itu lebih baik, Tania."
"Ya. Maaf, aku hanya ingin apa yang membayangi pikiranku terjawab," jawab Tania dengan mata berembun.
Di dalam rumah suasana amat berbeda. Meski di luar banyak daun kering berjatuhan, tetapi di dalam rumah amat bersih dan layak huni.
Rumah berukuran sederhana dengan desain klasik modern berlantai dua. Dengan berbagai pernak-pernik berbahan kayu membuat Tania terpukau. Semua pilar utama yang terbuat dari kayu jati utuh. Ukiran lingkaran tahun memperjelas jika kayu berusia cukup tua. Beberapa dinding yang menjorok ke danau terbuat dari kaca, sementara anak tangga dan juga penyangga juga terbuat dari kayu.
Tania masih berkeliling mengamati sekitar. Dapur minimalis adalah salah satu pemandangan yang mampu menarik perhatiannya.
Beberapa peralatan makan terbuat dari keramik dengan ukiran khas batik berwarna biru tua membuat Tania terkesima.
"Tania, kita ke kamar utama dulu. Ada baiknya istirahat, kita besok harus bangun pagi sekali. Bersiap ke tempat lain," ujar Milan.
Sapanya dengan suara yang berat, kembali mengagetkan Tania. Untung saja piring keramik di genggamannya tidak terlepas dan pecah.
"Ummm … aku lapar," ucap Tania, seraya membuka rak set dapur yang menggantung dengan warna putih mendominasi.
__ADS_1
Senyuman Tania mengembang setelah menemukan beberapa makanan instan siap saji.
"Wah, ada banyak persediaan makanan. Ada spaghetti, mie instan kesukaan, sarden, dan juga sosis," celetuk Tania, mengomel.
Milan tersenyum, sembari melipat kedua tangannya di bagian depan dadanya.
"Mandi dulu, habis itu masak bareng dan makan. Biar cepat istirahat," ajak Milan.
Wajah Tania berubah redup. Ia menutup pintu lemari gantung yang melengkapi dapur minimalis tersebut. Kemudian mengekor mengikuti langkah suaminya menapaki anak tangga.
Matanya kembali membulat saat sampai di kamar utama. Kamar yang terletak di lantai dua. Ranjang king size dengan seprei batik hitam dikombinasikan dengan putih cokelat, menambah nuansa kamar terasa elegan.
"Ini rumah, apa penginapan?" desis Tania.
"Ransel basah kenapa di bawa-bawa" sergah Milan, kemudian meraih ransel dari genggaman Tania.
Milan memeriksa isi ransel tersebut, kemudian mulai mengacak-acak isi dompet Tania.
"Semua tanda pengenal kamu, besok kita ganti yang baru. Aku memiliki seorang kenalan di kota yang bisa buat tanda pengenal palsu. Kita harus bergegas jika ingin selamat," jelas Milan.
"Kenapa harus ubah semuanya?"
"Karena ini mendesak, aku harus selalu di sisimu sampai semuanya aman," ucap Milan, kedua manik matanya bergerak-gerak. Lalu bibir keduanya pun bersentuhan.
Menit kemudian. Tania mendorong tubuh Milan dengan kasar.
"Masalah pribadi kita belum usai, jangan memanfaatkan keadaan," ujar Tania, mencoba menghindari Milan.
Milan tidak bergeming. Ia hanya melangkah berpindah ke sisi kamar yang lain. Di bukanya karpet yang mengalasi kamar di sebelah kanan ranjang, Tania terkejut melihat Milan membuka ubin bernuansa kayu jati.
Isinya adalah tiga buah koper. Namun, Milan hanya mengangkat sebuah saja. Di bukannya perlahan, isinya adalah amplop berisi uang dan beberapa tanda pengenal.
Milan mendesah berat, "Ternyata sudah di sediakan segalanya oleh papa kamu, beliau sudah mengira jika hal buruk akan terjadi."
Kening Tania mengerut hingga saling bertautan satu sama lain.
__ADS_1
🌠 Hola semua, sorry karena selow update. Selain sibuk nulis di platform lain, ada kesibukan RL tapi tidak mungkin lintang tinggalkan. Banyakin like, dan juga Komentar mangkanya biar level tinggi dan semangat update. Sekedar curhat, nulis di platform gratisan begini terkadang butuh semangat eksta 😅. Support ya genk's, 🙏 . Salam cintaku. Lintang.
Follow me on IG: @lia_lintang08