
Luka ini semakin perih ketika terkikis
Menyapa cinta yang mulai samar tak terbalas
Pendar rinduku untuknya
Meski rasanya mulai sirna
Aku masih setia menunggu….
Berharap ombak tidak datang menyapu pasir yang menghapus aksaraku untuknya
Jiwaku … rasaku … hatiku … masih tetap sama terjaganya
Dan akan selamanya sama.
***
Edo mulai resah karena cintanya kini tak terbalas. Sebelumnya, Tania begitu dekat dengannya. Sekarang, meski berada di depan mata seakan jauh. Padahal cintanya pada gadis itu masih tetap sama.
Pria yang memesona itu wajahnya nampak kecewa. Dengan langkah gemetar, ia mendekati maid yang membawa nampan berisi gelas berisi jus buah. Diraihnya segelas jus jeruk, lalu diteguknya. Raut wajahnya berubah sedingin es yang hanya menatap bergantian ke arah Milan dan juga Tania.
"Kamu sedikit tenang?" Tania memberanikan diri mendekat.
"Mengapa aku jatuh cinta, jika ternyata membawa luka?" lirihnya, sayu-sayu terdengar di telinga Tania.
Tania mendengar, tetapi ia mengacuhkannya. Ia lebih fokus pada penyebab perubahan Edo. Terlebih setelah malam yang ia lewati bersama Milan, membuatnya semakin terbebani jika masih memberikan kesempatan berupa harapan kepada Edo.
"Apa yang kamu harapkan dari wanita bersuami?" tanya Milan, sinis.
"Milan! Edo adalah bagian dari keluarga kita!" teriak Gery, merasa tidak terima karena perlakuan kasar yang selalu Milan tampakkan sejak Edo datang bersama Raya pertama kali dulu.
Milan tersenyum kecut, matanya menatap tajam tanpa keraguan kepada ayah kandungnya.
__ADS_1
"Tania adalah keluargaku satu-satunya. Dia istriku, Edo tidak memiliki hubungan darah denganku! Tetapi, dengan Tania aku memiliki ikatan yang sah secara hukum dan juga agama." Milan menukas tajam, sambil memicingkan mata mendekati Gerry.
Kemudian Milan menyusul langkah Tania yang mengikuti Edo melangkah keluar mansion. Setengah berlari Milan menarik Tania dengan susah payah. Ia bahkan tak rela barang sedetik saja jika adik tirinya berbicara dengan istrinya.
"Tunggu, lepaskan aku sebentar," sergah Tania, setengah memohon berupaya Milan melepaskan tangannya yang mencengkeram kuat di pergelangan tangannya.
Keduanya saling menatap, entah jenis pikatan apa yang Tania tebarkan. Tetapi, Milan sudah tidak sekasar sebelumnya. Ia bahkan terpaku merasa tenang ketika berada di dekat Tania.
Merasa iba, melihat Tania meringis menahan sakit di pergelangan tangannya, akhirnya Milan melepaskan genggaman tangannya. Alih-alih marah, tetapi Milan justru memeriksa bahkan meniup pergelangan tangan Tania. Tania kesal, bahkan menghempaskan tangan Milan dengan kasar.
Tania melangkahkan kakinya meninggalkan Milan di lantai keramik bercorak cokelat yang terhampar luas di ruangan mansion. Langkahnya terhenti tepat di depan Edo, "Apa yang membuatmu berubah?"
Keduanya saling menatap. Keduanya sama-sama merasakan kesedihan. Namun, memilih diam. Ingin rasanya Tania menjelaskan segalanya, bahkan malam yang telah dilewati bersama Milan yang menurutnya adalah kecelakaan.
"Segalanya demi hati. Hati yang dulu sempat berbunga sekarang jadi mati," balas Edo. Tatapan matanya berkaca-kaca. Berembun, tatapan matanya mulai kabur.
Akhirnya Tania mulai mengerti, jika apa yang mendasari sikap Edo karena hatinya tersakiti. Tepatnya kecewa.
"Bagus, aku tidak perlu mencari alasan. Asal kamu tahu, aku bukan hanya memiliki jiwanya, raganya telah menjadi milikku," ujar Milan, yang sengaja menyombongkan diri. Kata-kata sedikit sombong tiba-tiba saja mencelos dari bibirnya.
"Apa maksud kamu?" tanya Edo, penasaran tetapi menahan marahnya.
"Jika kamu pikir pernikahan ini adalah permainan, kamu salah! Aku mencintai Tania, itu benar adanya. Dan ... mungkin saja di rahimnya kini tumbuh benihku," jelas Milan.
Edo melongo, dunianya runtuh seketika. Hatinya hancur, sebelumnya ia berharap masih bisa memperbaiki semuanya. Rasa, dan juga keadaan. Tetapi setelah penjelasan Milan, semuanya sirna. Sedangkan Tania, hanya diam menunduk saat itu.
"Tania," panggil Edo. Suaranya berubah bergetar serak.
"Ya," jawab Tania, singkat. Berusaha menghindari tatapan mata Edo, yang seolah masih berharap mengatakan 'tidak' kepadanya.
"Apakah yang Milan ucapkan benar?" tanya Edo, kini ia memberanikan diri menekankan pertanyaan yang kembali ia berulang.
Tania memalingkan wajahnya, ia memilih berbalik menghadap ke arah Milan. Milan pun membalasnya dengan pelukan mendadak, yang membuat Tania terlonjak dan matanya membuat.
__ADS_1
"Jujurlah, kecuali kamu sengaja ingin meninggalkan aku tanpa beban," bisik Milan.
Tania mengangkat wajahnya, menatap tajam Milan yang juga menatapnya, "Edo, tidak ada lagi yang bisa kamu harapkan dari aku! Lupakan aku, aku sudah memiliki suami sekarang."
"Aku tidak yakin dengan pernikahan kamu. Asal kamu tahu, Kak Milan memiliki tunangan! Bahkan tunangannya, juga mantan kekasihku. Itu artinya, Kak Milan sangat tertarik dengan siapa saja yang aku miliki," ujar Edo, menyuarakan hatinya yang sejak lama tertahan.
Tatapan Tania kini berpindah pada Milan, "Apakah ini benar?"
Tania menajamkan tatapan matanya. Ia merasa dibohongi. Sejak pertama bertemu ia merasa tidak dihargai oleh Milan.
Hatinya terasa hancur. Luka. Kini telah berhasil Milan torehkan di hatinya. Apa yang sebenarnya pria itu lakukan? Balas dendam karena rasa bencinya? Bukan alasan.
"Milan, berikan aku alasan agar mampu bertahan setelah lelah berharap. Aku ingin berkaca dengan waktu. Aku ingin mengulangi semua yang sama tentang kita. Berikan kepastian, Milan! Aku kecewa," ucap Tania. Kakinya bergerak meninggalkan mansion setengah berlari.
Edo kini tersenyum penuh kemenangan, sementara Milan berdecak kesal menyusul Tania.
"Tania! Meskipun cintamu tak hanya untukku, setidaknya dengarkan penjelasan ku dulu!" teriak Milan, mencoba mencegah Tania.
Tania mempercepat langkahnya menuju jalan raya. Jalanan kini mulai ramai. Namun, Milan seakan menghilang ditelan waktu.
Mata Tania mulai berembun ketika menoleh ke arah belakang tidak mendapati keberadaan Milan menyusulnya. Entah kenapa, saat itu Tania merasa sesak. Ia begitu berharap Milan mengejarnya.
"Apa yang kamu inginkan, Milan? Kenapa kamu lakukan ini? Setelah kamu renggut kesucian ku. Kamu bahkan mengatasnamakan pernikahan demi mencapai tujuan kamu." Batin Tania, bertanya-tanya. Sembari mengusap bulir bening di pipinya sekali-kali.
Tangannya melambai berusaha menghentikan taksi yang melintas. Dengan segera ia masuk kedalam taksi tersebut. Pedihnya membuatnya nekad meninggalkan Milan sementara waktu.
Ucapan pengakuan Edo masih berdengung jelas di telinganya. Hari-hari bahagia yang sempat melintas di pikirannya, yang dia rasa akan mengusir sepinya sirna.
Mungkin ini jalan hidupnya. Edo mungkin tidak bisa mendapatkan raga Tania, tetapi ia telah berhasil menggenggam hati Tania yang perlahan hancur. Perpisahan, kali ini mungkin akan menjadi kisah baru dihidup, Tania.
Mungkinkah Tania dan Milan akan kembali bersatu setelah ternyata Milan berhasil tertangkap basah dengan berbagai kelicikannya.
Tunggu. Tania terkejut saat menoleh ke arah luar jendela, mendapati Milan ternyata mengejar mensejajarkan mobilnya dengan taksi yang kini dinaiki oleh Tania.
__ADS_1
"Tania, berhenti! Banyak hal yang kamu tidak ketahui. Akan berbahaya jika kamu pergi meninggalkan aku! Aku memiliki banyak alasan untuk memiliki kamu!" teriaknya.