
Mobil yang berjalan berderu mulai mengurangi lajunya. Kemudian terhenti di sebuah pertokoan elite yang nampaknya lama tidak dihuni.
Ketiganya turun dari mobil dengan langkah lunglai. Bi Marni memimpin jalan memasuki salah satu koridor, menapapaki anak tangga, kemudian langkah ketiganya terhenti di sebuah pintu di lantai dua.
Cklek!
Pintu perlahan terbuka. Bi Marni melambaikan tangan sebagai isyarat agar Milan dan Tania segera mengikutinya masuk ke ruangan tak berpenghuni tersebut.
Maklum nyawa mereka sedang diburu. Tentu hal itu membuat ketiganya menjadi waspada.
Ruangan nampak bersih dan terawat, beberapa pakaian bergaya modern terlihat masih menggantung di sebuah walk in closet yang sepertinya sengaja dibiarkan terbuka, sehingga menampakkan semua isi didalamnya yang serba mewah.
"Bibi pernah ke sini?" tanya Tania, dengan rasa ragu meski menutupinya dengan wajah datar.
"Ya. Beberapa waktu lalu, sendirian. Karena sebuah pesan," tukas Bi Marni menjelaskan jika dirinya memang datang karena kiriman seseorang.
Mendengar jawaban bi Marni, Milan memahami siapa yang dimaksudkan sebagai pengirim pesan. Namun, hal yang mengganjal di pikiran Milan adalah siapakah bi Marni yang sebenarnya? Dan untuk siapa ia bekerja?
"Untuk apa kita kemari?" tanya Milan, yang kini memasang wajah dingin. Sebenarnya, ia ingin memancing bi Marni untuk mengungkapkan tentang dirinya. Ia musuh, atau bahkan lawan.
Milan terlihat menunjukkan sikap tidak suka. Meski sebenarnya ia sadar bi Marni menyelamatkan dirinya beserta Tania. Namun, ia belakangan terakhir menyoroti kedekatan bi Marni dengan Raffa. Bukan tanpa alasan, tetapi Milan adalah orang yang cukup kritis dalam berpikir.
Lagi pula, Milan memang seharusnya bersikap demikian karena ia memang ditugaskan untuk menjaga Tania oleh sang ayah, meskipun dia juga adalah suami Tania secara hukum dan agama.
Bukan itu saja. Milan selalu memperhitungkan segala kemungkinan. Bahkan kemungkinan terburuk sekalipun. Mulanya bi Marni terperanjat, bahkan gelagapan mendengar pertanyaan Milan. Tetapi kemudian, bi Marni mampu mengendalikan situasi. Sungguh sulit dipercaya Milan Mahardika meragukan dirinya.
Bi Marni berjalan mendekati sebuah meja rias. Tepat diatasnya bertengger sebuah peti dilapisi kain beludru berwarna merah menyala. Ia tanggalkan sebuah kalung yang selalu ia kenakan. Perlahan kalung diputar. Mengejutkan, ada kunci tersembunyi di lapisan dalam kalung tersebut.
Menit kemudian. Bi Marni membuka peti tersebut dengan tetap tenang. Bibirnya terkatup rapat. Sementara itu, Tania dan Milan yang berdiri tak jauh darinya terus memperhatikan isi peti.
Tak lama kemudian. Bi Marni menyerahkan map cokelat yang diikat dengan sebuah pita berwarna merah tua.
__ADS_1
"Ini untuk kalian, bersihkan diri setelahnya. Aku sendiri yang akan mengantar kalian setelah kita makan."
Milan dan Tania saling menatap. Seolah saling bertanya. Hanya saja mata keduanya sebagai isyarat.
Satu persatu dari mereka mandi bergiliran. Milan mendapatkan giliran terakhir. Ia lebih mendahulukan wanita ketimbang dirinya.
Cuaca panas, debu beterbangan diluaran membuat seluruh tubuh terasa lengket. Hawa sejuk mulai terasa ketika air mulai menyentuh kulit, mengguyur seluruh tubuh Milan.
Dari bilik kamar mandi tercium aroma mie instan. Lumayan menusuk hidung. Jika sedang lapar begitu, apapun terasa menggugah selera. Dihirupnya dalam-dalam aroma tersebut. Perutnya yang sedari tadi berontak kerocongan seolah mendorong keinginan Milan untuk mempercepat ritual mandinya.
"Hmmm… siapa yang masak? Aku lapar sekali soalnya," kata Milan, dengan suara sedikit menukik sengaja dibuat-buat.
Tania yang sadar jika Milan mulai melancarkan rayuan menaikkan sebelah alisnya. "Jika lapar langsung makan, aku gak butuh gombalmu."
Tania tersenyum berseloroh. Sementara bi Marni terlihat sibuk dengan benda pipih yang sering disebut tablet di tangannya.
"Bukannya kita bisa dilacak jika mengaktifkan media elektronik untuk mengakses media sosial?" Wajah Milan berubah datar sembari mencondongkan badan mengintip aktivitas bi Marni.
Bi Marni segera mengakhiri pekerjaannya. Kemudian mematikan benda di tangannya tersebut. "Ayo kita makan, bukan saatnya berdebat."
"Kemana kita akan pergi?" tanya, Tania.
Ia seolah lelah dengan pelarian. Tentu ia ingin semuanya segera berakhir dan bertemu sang ayah kandung.
Sementara Milan, ia hanya menatap tajam ke arah bi Marni menunggu jawaban. Karena ia yakin jika tujuannya akan berubah mengingat beberapa hari terakhir diikuti.
"Bali, di dalam amplop sudah disiapkan tanda pengenal sekaligus semua yang kalian butuhkan. Tempat tinggal sementara sudah ada, tinggal bagaimana kalian sampai di sana dengan selamat."
Milan tersenyum sinis. Kini ia paham jika bi Marni saat ini sedang ditugaskan oleh orang yang sama dengan orang nenugaskan dirinya. Orang yang tak lain adalah ayah kandung Tania.
Milan beranjak menuju walk in closet, ia memilih beberapa pakaian yang pas dan dibutuhkan untuknya dan Tania. Tania juga ikut membantu dengan cekatan.
__ADS_1
"Bi, ayo! Kita sudah siap," ujar Milan, dengan suara keras sengaja mengejutkan bi Marni yang sedang tertidur di soda ketika menunggu.
Bi Marni segera bangkit kemudian menuju garasi ruko. Ia membuka sebuah ruko yang masih tutup, dan lagi-lagi Milan dibuat kaget. Ada mobil sport mewah yang terpakir di sana.
"Kita pakai ini, karena aku takut ada yang mengikuti."
"Oke," sahut Milan tersenyum sumringah.
Tak lama mobil mulai melaju di jalanan. Hiruk pikuk kembali terasa. Namun, ketika mobil telah jauh melaju, Milan yang sedari tadi mengedarkan pandangan di sekeliling jalan menangkap beberapa mobil kembali mengikutinya. Karena kebetulan bi Marni yang sedang mengemudi jadi ia leluasa mengamati jalan.
"Bi, kita kembali kedatangan tamu! Apa rencananya sekarang?"
"Tunggu aba-aba dariku! Dalam hitungan ketiga kalian lekas buka pintu dan berjalan menuruni gunung lewati pemukiman penduduk," jawab bi Marni.
"Gila, ini Gunung Gumitir! Jalannya berkelok, aku dan Tania bisa mati," sergah Milan, menolak rencana dadakan bi Marni.
"Terserah kalian, mereka menyewa banyak profesional. Kita kalah jumlah," ucap bi Marni dengan wajah memegang dan masam.
"Lalu, bagaimana denganmu?" Milan kini mencemaskan bi Marni yang sendirian, terlebih usianya tak muda lagi.
"Dengar, apapun yang terjadi. Kalian jangan berhenti. Aku janji akan menyusul dan menemui kalian jika tiba saatnya."
Bi Marni memberikan tatapannya yang amat tajam. Ia menunjukkan keseriusannya. Sungguh watak yang kontras dengan bi Marni yang sedari dulu terlihat polos ketika merawat Tania.
"Aku mempercayaimu Bi, aku tunggu di tempat kau mempertemukan aku dan ayah kandungku," ucap Tania, wajahnya berubah sendu.
Bi Marni mengangguk sejenak sebagai jawaban. Sementara matanya tetap fokus dengan jalanan. Sesekali ia memperhatikan kaca spion, memperkirakan segerombolan mobil yang kian mendekat.
"Tania, maafkan aku. Ini terpaksa harus aku lakukan! Aku janji semuanya segera berakhir," ucap bi Marni kemudian.
Sebelum akhirnya memberikan isyarat kedipan mata pada Milan untuk membuka pintu mobil, bersamaan saat mobil mulai melambat.
__ADS_1
💕 Hola kesayangan, Lintang kembali menyapa. Mohon maaf atas keterlambatan update. Bukan kesengajaan untuk menterlantarkan novel ini, hanya saja Lintang baru saja mengalami kecelakaan yang mengharuskan kepala mengalami beberapa jahitan. Tentu hal itu menghambat, mengingat pusing luar biasa. Tetapi untuk seterusnya sudah mulai update rutin. Maaf sedikit curhat, salam cinta Lintang untuk kalian semua.
💕Follow me on IG: @lia_lintang08