
Tubuh Tania bergetar hebat, jantungnya berdegup tak berirama. Matanya tidak lagi mampu menahan bulir bening yang tertahan dari bendungannya.
"Aku membencimu Milan … kenapa harus seperti ini? Aku tak pernah main-main seperti wanita lain, seandainya saja aku masih utuh, aku sungguh memintamu menceraikan aku saat ini juga," batin Tania menangis, tatapan matanya lurus ke depan. Mengabaikan Milan yang terus berteriak memanggil namanya.
Karena taksi yang ditumpangi oleh Tania tidak juga berhenti, Milan memutuskan untuk nekad menghadangnya. Meski resikonya adalah nyawa, kali ini ia terlihat serius.
Dan ….
Derit suara mobil yang dihentikan terpaksa karena rem mendadak akhirnya terjadi. Untungnya mobil masih utuh, tidak tergelincir sedikitpun atau mengalami kecelakaan.
Marah. Ekspresi itu yang tergambar di raut wajah pria tampan bernama Milan Mahardika. Dengan langkah lebarnya ia berjalan dengan kaki berdentum menyentuh aspal mendekati taksi yang ditumpangi istrinya. Dengan gerakan cepat, ia membuka daun pintu taksi dengan kasar, lalu menarik kasar Tania secara paksa.
Dilemparkan lembaran uang kertas di atas kursi penumpang sebagai ongkos istrinya. Meski kesal dengan perlakuan Milan, sopir taksi memilih pergi menghindari perdebatan. Terlebih, dari penampilannya terlihat jelas jika Milan bukan dari kalangan biasa.
Tania kebingungan, mencari kepingan rasa percayanya pada Milan yang mulai sirna. Ia lelah menggantungkan harapan kepada siapapun, terutama Raffa.
"Berikan aku alasan, agar aku tetap bersama kamu. Aku berharap, kamu berpikir secara dewasa Milan! Pernikahan bukanlah permainan, yang seenaknya kamu bisa jadikan kesombongan atau bahkan taruhan," celotehnya. Menahan air matanya yang merebak membasahi pipinya.
Milan memaku di kursi kemudi, kemudian ia menoleh dan meraih tubuh ramping Tania, hingga tenggelam di dalam dada bidangnya. Mendekapnya erat, sambil memejamkan mata. Berusaha menepis jika rasanya salah. Tidak. Jantungnya benar-benar berdegup kencang. Tania dirasakan berbeda, dia bukan seperti gadis yang kebanyakan Milan temui.
"Aku tidak bisa menjelaskan segalanya dengan instan. Tetapi percayalah, aku melindungi kamu!"
"Melindungi? Dari apa? Sengaja merebutku dari adikmu sendiri? Kamu bahkan melakukan malam pertama dengan paksa! Apa itu caramu melindungi?" tanya Tania, yang terus mencecar. Membuat Milan terasa sesak dibuatnya. Hingga melepaskan pelukannya, yang semula erat.
Dengan rasa kesal, Milan melajukan mobilnya menuju istana pribadinya. Kembali membawa Tania pulang di sana. Meski dengan rasa cemas yang terus mengganggu pikirannya.
Kini Milan bersikap dingin. Ia mencoba menghindari perdebatan dengan Tania. Ia bahkan tidak lagi memberi penjelasan tentang keluarganya atau bahkan pembenaran tentang dirinya.
__ADS_1
Tania memilih menuju kamar mandi setelahnya mengganti pakaian dengan baju tidurnya. Sementara Milan, memilih duduk sendiri di balkon kamar. Sejenak, Tania mengintip dari balik jendela kamar. Ia melihat Milan duduk termenung, pandangan matanya mengarah ke jalananan. Namun, karena gengsinya lebih besar Tania memutuskan tidur dan bergelung selimut.
***
Ketika menjelang pagi, Tania terjaga dari tidurnya. Ia terkejut ketika tidak menemukan keberadaan Milan disampingnya. Biasanya Milan melingkarkan tangannya di pinggangnya, ada rasa aneh dan sedih ketika semuanya berubah seperti semula. Ada rasa tak rela yang menggelayuti pikiran Tania.
Perlahan Tania berjalan meninggalkan ranjangnya, ia celingukan mencari Milan di walk in closet miliknya. Tidak ada. Kemudian Tania memantapkan langkahnya menuju kamar mandi. Lagi. Milan tidak berada di sana. Hatinya semakin terluka.
Air mata Tania kembali merebak memenuhi pelupuk matanya. Dengan langkah gemetar, ia berjalan menuju balkon kamar, mengingat semalam terakhir kalinya Milan berada di sana. Dan benar, pria itu tidur meringkuk di sebuah kursi panjang di cuaca yang amat dingin berselimut kabut menjelang pagi.
Melihat Milan dengan keadaan seperti itu, wanita mana yang tega. Meski kesal, tentu Tania membawakan selimut untuknya. Terlambat. Mungkin itu kata yang tepat. Tetapi lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Dengan langkah hati-hati Tania mendekati Milan. Perlahan, ia rentangkan selimut hendak menutupi tubuh suaminya. Namun, Milan seketika mengubah posisi tidurnya yang semula miring menjadi terlentang hingga kini keduanya saling berhadapan.
Tania memberanikan diri mengusap wajah Milan. Jemari lentiknya terus menelusuri mata yang sedang terpejam namun indah, berpindah ke bagian hidung runcing, lalu terakhir di bibir. Buku jemarinya mengusap lembut bibir pria itu. Entah apa yang dipikirkan oleh Tania. Mungkinkah tanpa sadar ia mulai jatuh cinta? Ia kemudian tersadar akan tujuannya, segera ditutupi tubuh Milan dengan selimut yang dibawanya. Kemudian Tania pergi meninggalkan balkon kamar.
Di dalam kamar, Tania terlihat sibuk merangkai kata di secarik kertas. Kemudian, setelah sesaat ia mengamati sekeliling ruangan kamar, akhirnya ia memantapkan diri untuk pergi.
"Maafkan aku, Milan! Ini harus aku lakukan untuk mencari tahu segalanya," lirih Tania. Kemudian dengan langkah tergesa-gesa ia meninggalkan kediaman suaminya.
Suara deru mesin mobil membuat Milan terkejut dan segera bangun dari tidurnya. Ia segera melihat dari balkon, sungguh diluar dugaan Tania pergi menggunakan mobil miliknya. Milan mendengus sambil memasuki kamar. Netranya menemukan secarik kertas berisi pesan yang di tulis tangan oleh Tania, "Aku akan tetap menjalani semua sesuai janji yang kita buat, asalkan kamu juga memenuhi janjimu."
Milan seperti terkena sambaran petir disiang hari. Tubuhnya seketika lemas mengetahui Tania telah sengaja pergi meninggalkan dirinya.
"Ini belum terlambat, aku harus berpikir keras. Kamu kemana, Tania?" Milan menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya merasa frustasi.
***
__ADS_1
Masih di hari yang sama, Tania terlihat anggun melenggang di sebuah catwalk dengan busana etnik tradisional, berbahan serba brokat yang dipadu padankan dengan tile dengan pola unik yang sulit untuk digambarkan.
Di sebuah platform sempit, Tania berjalan anggun memamerkan keindahan busana yang dibawakannya serta serangkaian aksesoris sebagai pelengkapnya.
Semua pria dan tamu undangan yang hadir bersorak kagum dengan kecantikannya. Namun, Tania tetap bersikap tenang. Senyuman tipis sesekali ia lemparkan ke arah Raffa, yang sedang duduk menunggunya di salah satu kursi tamu.
Senyuman tipis itu mulai memudar ketika fokusnya menemukan seorang pria tampan yang juga menatapnya. Namun, tatapannya bukan dengan rasa kagum melainkan ekspresi wajah kemarahan yang begitu dingin.
Ya. Milan hadir di sebuah peragaan busana itu bersama seorang wanita lain. Membuat paru-paru Tania seketika sesak. Ada rasa kecewa yang sengaja ia sembunyikan dari Milan. Namun, Tania bukan gadis yang pandai menyembunyikan perasaannya.
Setelah peragaan busana berakhir. Tania segera mengganti pakaian dengan pakaian santai, kemudian berpamitan pada Raffa untuk meninggalkan tempat. Ia mengabaikan Milan yang terus menatapnya.
"Kamu tidak bertanya aku datang dengan siapa?" Milan menghadang Tania, wajahnya kini mulai mengikis jarak.
"Tidak," jawabnya singkat, sambil memalingkan wajahnya. Menghindari tatapan mata Milan.
"Kenapa kamu pergi? Apakah harga diri kamu begitu murah? Sampai kau anggap, apa yang aku lakukan di malam pernikahan kita adalah kesalahan?" tanya Milan, mengintimidasi.
Tania refleks menatap tajam, tubuhnya bergetar hebat. Ia mengepalkan tangannya.
"Kamu marah? Aku tidak ingkar janji seperti yang kamu tuduhkan! Aku mencintai kamu sejak dulu Tania! Dan aku berhak atas dirimu. Pulang! Atau kamu akan menyesali keputusan yang kamu ambil saat ini," ucap Milan.
Tidak biasanya pria yang banyak digandrungi oleh kaum hawa kini memohon cinta. Kerutan di kening Tania semakin dalam. Benarkah apa yang dikatakan oleh Milan? Ia tidak ingkar janji, dan benar-benar jatuh cinta sejak pertama kali?
Kini hati Tania terasa menghangat. Tiba-tiba saja ia merasa tenang. Tetapi diam memaku seperti orang bingung di depan Milan.
__ADS_1