Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa
Rencana Karena Luka


__ADS_3

Terkadang Tania bingung menentukan sikap. Kematian Reyhan yang mendadak membuatnya tidak menyiapkan diri sikap bahkan mentalnya.


Namun, demi menjawab rasa penasarannya dan siapa Burhan Tania kembali memantapkan rencana yang semula ia susun.  Usai ritual membersihkan diri ia bergegas bersiap dengan celana jeans dan juga kaos berwarna dusty pink, make up tipispun sengaja ia poles demi menyempurnakan penampilannya.


"Apa rencana kamu hari ini?" tanya Milan, yang ternyata telah berdiri di belakang cermin mengamati Tania sejak tadi.


Tersentak. Tentu saja, Milan bahkan tidak mengeluarkan suara saat kakinya menyentuh keramik kamarnya. Membuat Tania tidak menyadari keberadaan sang suami.


Tania berbalik menatap Milan serius sesaat, "Aku pikir ... kamu menunggu di meja makan."


Tania melintasi Milan berjalan meninggalkan kamar, pria kekar itupun mengikuti langkahnya, "Aku akan menemui keluargaku, kita akan menginap di sana malam ini."


Milan mengutarakan keinginannya, membuat Tania memperlambat langkahnya saat menuruni anak tangga. Ia berusaha memikirkan rencana. Meski sebenarnya usahanya terasa sia-sia, Milan sudah mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Setidaknya ia harus meminta penjelasan Edo, tentang Adrian.


"Aku akan ikut, jangan khawatir. Tetapi, antar aku menemui Kak Raffa berlebih dahulu. Ada pekerjaan yang tertunda. Dan ... ya, suka ataupun tidak aku akan tetap menjadi model," ucap Tania, berharap Milan menolak ataupun marah karena keinginannya ditentang keras oleh sang suami.


Milan hanya membalas dengan senyuman kecut, sorot matanya begitu licik, menggambarkan ia memiliki rencana buruk lagi nanti.


Sarapan pagi berlangsung singkat. Hening. Begitu suasana yang bergambar di ruang makan  pasangan yang baru menikah itu. Kecuali Milan, mata elangnya sedikitpun tidak melepaskan tatapan matanya yang tajam. 


"Kamu ... cantik Tania," desisnya.


Tania yang semula mengunyah roti isi menghentikan sarapannya. Ia ragu-ragu melirik Milan dari sudut matanya. Ya. Pria tampan itu sedang menikmati kecantikan wajahnya, membuatnya tenggelam semakin dalam dalam jurang cinta yang seharusnya tidak diinginkan. 


Tania menepis jauh-jauh getaran hati yang mulai ia rasakan. Mengingat apa yang dilakukan Milan saja membuatnya merasa muak. Bagaimana tidak. Milan melakukannya semalaman saat Tania sedang tidak sadarkan diri.


"Apakah masih terasa sakit?" tanya Milan, sepasang bola matanya berpindah fokus ke area pinggul Tania. Membuat Tania merasa risih dibuatnya.


Duh ... wajahnya sangat kharismatik, menawan, membuat semua kaum hawa pasti terbuai dengan sorot matanya. Tetapi berbeda dengan Tania, meskipun sempat diselamatkan oleh Milan dari Adrian, tetapi semua itu tidak membuatnya berubah pikiran menjadi cinta.


"Jangan ungkit itu lagi. Aku tidak menginginkan hal itu terjadi, anggap saja itu kecelakaan," sela Tania, raut wajahnya memerah, bahkan memalingkan wajahnya ke arah lain. Berusaha menghindari tatapan mata Milan.


"Wow ... kecelakaan? Ayolah Tania, kamu bahkan menikmati semuanya semalam." Milan terkekeh sambil meneguk segelas jus jeruk hingga tandas.


"Aku bahkan tidak mengingat apapun," ucap Tania, mengelak.


"Tidak apa-apa, lama-lama kamu akan terbiasa," ucap Milan, menggodanya.


Tania menghela napas panjang. Dadanya semakin sesak saja. Benci, bercampur dengan rasa tak enak hatipun kini membaur dalam hatinya.

__ADS_1


"Kamu boleh saja menertawai aku, sebab ketika kamu jatuh cinta terlalu dalam nanti aku berjanji akan meninggalkan kamu Milan. Aku berjanji demi ayah," batin Tania. Menangis meratapi nasibnya.


Sebelah tangannya menghapus bulir bening yang lolos tanpa terbendung. Ia tak kuasa menahan segala rasa yang bergejolak karena tak ingin mengalahkan takdir yang menderanya.


"Kamu menangis?" Milan mendekatkan kursi yang ia duduki, menarik dagu Tania kemudian mengusap wajahnya.


Tania berusaha menolak, tetapi lagi-lagi tatapan mata Milan membuatnya salah tingkah.


"Berhenti menangis. Ayo aku antar menemui Raffa, aku rasa kamu juga perlu. Mengenal siapa yang kau anggap orang terdekat, yang selama ini sangat kau percayai," ujar Milan, sembari mengelus rambut lurus Tania yang tergerai lurus dengan kondisi masih basah karena tak sempat memakai hair dryer.


Kini Tania mulai memikirkan beberapa nama. Burhan, Raffa, Edo semuanya perlu ia selidiki latar belakangnya setelah mendengar kata-kata Milan. Namun, Tania tidak ingin pria sombong itu besar kepala. Gengsinya lebih besar, akan lebih baik jika semuanya disimpan sendiri saja dulu. Karena kenyataannya Edo yang semula baikpun berubah jahat.


"Ayo," ajaknya, singkat. Lalu bangkit meninggalkan meja makan, langkanya tertatih, terlihat menahan sakit.


Milan menghela napas, lalu kembali menggendong Tania menuju mobilnya. Membuat Tania terkejut berusaha menghindar. Namun, ia kalah cepat. 


"Tidak perlu gengsi," ejeknya. Membuat Tania mengerutkan keningnya saat Milan menjatuhkan tubuhnya di kursi sebelah kemudi mobil.


Tania terlihat riang, ia setengah berlari mendekati Raffa yang terlihat sibuk di sebuah restoran bebek goreng langganannya makan.


"Kak Raffa, "sapanya.


"Bukankah seharusnya kalian bulan madu?" Raffa menautkan kedua alisnya, menatap Milan.


"Belum saatnya, aku akan mengajak Tania menemui keluargaku sore ini," sela Milan.


"Kapan aku ada pemotretan lagi, Kak?" tanya Tania.


Raffa berubah gugup. Namun Milan tersenyum licik menatapnya tanpa kedip.


"Rasakan!" batin Milan.


"Uuumm ... Raffa, kamu nggak ingin cerita sama Tania usaha siapa yang sedang kamu jalankan?" Milan kembali tersenyum licik.


Biasanya Raffa yang jago beladiri tidak gentar menghadapi tantangan. Namun, kali ini seluruh tubuhnya hampir basah oleh keringat. Bahkan berulang kali ia terlihat mengusap wajahnya.


"Memangnya ini restoran siapa, Kak?" tanya Tania, pertanyaan yang hampir membuat jantung Raffa copot karenanya.


"Milik Milan, aku bekerja padanya," kilahnya.

__ADS_1


Milan mengerutkan keningnya. Benar jawabannya, memang sebagian saham perusahaan grup itu milik Milan. Tetapi, bukankah Tania seharusnya juga berhak! Karena Reyhan adalah pemilik saham terbesar perusahaan grup tersebut.


Tetapi jawaban Raffa membuat Milan tercengang, ternyata kini terkuak jika pria itu menyembunyikan rahasia tentang majikannya pada putri majikannya sendiri.


"Wah, aku kagum," balas Milan, membuat Tania menatap aneh kearahnya heran.


"Ada apa?" tanya Tania, curiga.


"Tidak, kamu boleh makan apapun sepuasnya sayang," jawab Milan, ia mengubah panggilannya menjadi sayang. Seolah ingin menunjukkan kemesraan pada dunia.


"Aku belum lapar," jawab Tania.


"Begini Tania, setelah kalian berbulan madu nanti, aku akan agendakan kembali jadwal pemotretan. Namun untuk beberapa waktu, aku tidak berani menerima tawaran. Nanti Milan akan memecat aku," jelas Raffa, berbasa-basi tentunya.


Tania merasa janggal. Ia mulai berpikir keras. Ya. Seingatnya, mereka tidak saling mengenal sebenarnya. Bagaimana bisa kini Raffa mengakui jika ia sedang bekerja pada Milan?


"Tidak apa-apa, ayo Milan. Aku bersemangat untuk menemui keluarga kamu," ajaknya, sambil menarik mesra lengan suaminya.


Raffa membulatkan matanya saat melihat Tania terlihat dekat dengan Milan. Pria dingin yang sebelumnya dibenci oleh gadis itu menurut sepengatahuan Raffa.


Raffa berpikir jika Tania mulai jatuh cinta, rencananya akan berantakan. Karena Raffa sedang menata skenario cinta untuk kedua orang yang baru menikah itu.


Jantung Tania berdegup kencang ketika Milan mulai beranjak sambil menggenggam tangannya. 


"Kami permisi," ucap Milan, berpamitan.


Raffa mengangguk setuju. Bahkan ia tidak kembali mengangkat wajahnya. Mungkin tak enak hati pada Tania.


"Apa rasanya jika aku harus berhadapan dengan Edo? Sungguh ini rencana membenci karena luka," batin Tania, ia berusaha menahan bulir bening agar tidak lolos melewati pipinya.


— To Be Continued


🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya, kalian pasti banyak yang penasaran dengan kelanjutan kisah novel ini. Jadi jangan lupa minta jempolnya ya guys.


Salam cintaku.


Lintang (Lia Taufik).


Found me on IG: lia_lintang08

__ADS_1


__ADS_2