
🌟 VOTE, LOVE, RATE, DAN LIKE 🌟
~ Hay semua, jangan lupa bagi jempol dan komentar sebanyak-banyaknya ya setelah membaca. Karena komentar dan jempol kalian berarti banget untuk kelangsungan karya author.
~ Happy Reading ~
Rasanya Tania tak bisa konsentrasi hari ini. Gara Edo yang tiba-tiba datang mendeklarasikan cintanya lagi. Apa yang mesti Tania lakukan untuk mengatasi situasi seperti ini?
Belum terbukti raga Tania menjadi milik Milan saja, hati Edo sudah terasa nyeri. Bagaimana nanti jika benar-benar akhirnya Milan menikahi Tania dalam rentang waktu yang begitu dekat?
Ah, mungkin Edo tidak mungkin kuat menghadapi semua ini. Tapi kenyataannya, Milan adalah sosok pria keras kepala. Ia tidak akan mundur tanpa tujuannya terpenuhi.
"Aku bingung harus apa, bagaimana ini? Semua mata tertuju padaku, begitu jua tatapan Milan yang seakan memaksa." Batin Tania.
"Tania!" Suara Raya lantang membuyarkan lamunan Tania.
"Ya, Edo ... maafkan aku, sayangnya apa yang dikatakan oleh Milan itu benar adanya," jawab Tania, wajahnya berubah sendu.
Lidahnya terasa kelu, tetapi terpaksa berucap. Seperti biasa, Tania diam seperti patung sambil menunggu salah seorang dari anggota keluarga Milan membuka suara.
"Okay, mari kita lihat kedepannya akan seperti apa." Edo mendesah panjang. Ia terlihat lelah dengan senyum yang terlihat dipaksakan di hadapan Tania. Berbeda dengan Milan, kali ini ia terlihat santai dan lebih berwibawa.
Milan menarik Tania agar mengikutinya duduk di sofa ruang tamu. Gadis cantik itu pun duduk di sebelah Milan dengan sebelah tangan tetap berada dalam genggaman Milan.
"Besok, kita temui perancang busana untuk acara pernikahan kita. Persiapan lain-lain akan di bantu Bu Raya, sebagai mama sambung ku yang ingin melaksanakan tugas menggantikan mama kandungku sendiri," ucap Milan, sementara matanya menatap sinis pada Raya yang terlihat tidak suka membalas menatapnya.
Bukan itu saja, Milan bahkan menyematkan senyum bahagia penuh kemenangan di sana. Membuat seisi ruangan kesal karenanya.
"Milan, apa-apaan ini? Bukankah dia pacar adikmu sendiri?" Gerry meluapkan amarahnya yang semakin membuncah, mengetahui Milan semakin memancing emosi Edo dengan sengaja mengambil sikap yang mengejutkan keluarga.
"Sudah putus Pa, kalau lupa. Lagi pula pacar cuma sehari saja 'kan? Apa yang kalian debatkan. Tania saja setuju menjadi istriku," ucap Milan, sembari mengalungkan tangannya di pundak Tania. Tentu saja sikapnya ini sengaja ia lakukan untuk menyakiti hati adik tirinya.
Tania merasa tak nyaman. Akan tetapi, sebesar apapun usahanya menghindari Milan, semuanya seperti sia-sia. Dunia seolah berpihak kepada Milan. Berulang kali Tania ingin membencinya, tetapi peristiwa yang terjadi beberapa kali seakan pria itu memang ditakdirkan untuk Tania. Membuat Tania terpaksa menerimanya, apa lagi saat ini kondisinya terdesak. Tania takut akan ancaman Milan, yang mengatakan akan memperkarakan perusakan mobil yang terjadi di jalan sebelumnya.
__ADS_1
Pembicaraan di tengah-tengah keluarga berlangsung dengan tegang. Namun, Milan pria cuek dan juga tegas, sehingga apa pun yang ia inginkan pasti dilakukan. Ia bahkan tidak memikirkan perasaan orang di sekelilingnya. Egois memang. Akan tetapi, Milan memiliki alasan yang cukup kuat dalam hal ini.
"Aku antar pulang, besok akan dimulai persiapannya," ucap Milan, ia segera bangun dari tempat duduknya meninggalkan mansion.
Milan terus saja menggandeng tangan Tania hingga masuk ke dalam mobil sport miliknya. Ia bahkan menyembunyikan senyuman kecil di balik tubuhnya, ketika mengetahui Tania berdecak kesal dan mendengus berulang kali.
Tania berusaha menyikapi semuanya dengan tenang. Meski sebenarnya hatinya ingin berontak menolak pernikahan ini, tetapi Tania bisa apa kecuali pasrah.
Milan tidak pernah seserius itu, wajahnya bahkan menyeramkan ketika diam. Malam ini seakan menjadi petaka bagi Tania. Seakan petir menyambar tubuhnya di tengah guyuran hujan deras. Harus menjelaskan apa pada Raffa nanti? Tania bingung, hingga beberapa obrolan Milan tentang Raffa sebelumnya melintas begitu saja di benaknya.
"Milan," sapa Tania, kepada Milan yang terlihat fokus mengemudikan mobilnya.
"Ya," jawaban yang begitu singkat. Milan bahkan tidak menoleh sedikit pun meski hanya untuk menatap wajah Tania yang menampakkan raut cemas.
"Kenal sama Kak Raffa di mana?" tanya Tania.
Seketika Milan menghentikan laju mobilnya hingga rodanya berderit mencoba mengimbangi jalan yang licin akibat basah oleh air hujan yang baru saja reda.
"Kamu sepertinya kurang mengenal Raffa itu siapa? Dia juga salah seorang anggota pengelola restoran tempat yang sering kamu kunjungi," jelas Milan. Ucapannya sedikit ditekankan.
Netranya menatap intens ke arah Tania yang terlihat menggigil menahan dingin. Milan mendengus, seketika melepaskan jas yang semula ia kenakan untuk menghangatkan tubuh Tania. Sementara itu, Tania yang merasa tak nyaman saat Milan mendekat refleks menghempaskan jas tersebut hingga terlempar di setir mobil.
Tania terperanjat, dan seketika memungut kembali dan bergegas mengenakan jas berwarna hitam milik Milan. Milan hanya diam, tak bergeming sedikit pun kecuali sorot matanya yang terus menyoroti sikap Tania yang terlihat salah tingkah.
"Siapa saja anggota grup perusahaan tersebut?" tanya Tania, berusaha mengondisikan ketegangan yang tercipta.
"Banyak, kenapa?" Milan memutar tubuhnya hingga menatap Tania. Membuat gadis itu semakin gugup saja di tatap seperti itu.
"Ti-tidak, hanya penasaran anggota grup perusahaan tersebut," ucap Tania terbata.
Milan menaikkan sebelah alisnya, menatap Tania penuh tanda tanya. Ia terlihat berpikir sejenak. Seperti sebelumnya, Milan tidak mengungkap apa yang ada di benaknya.
Ia kembali melanjutkan perjalanan menuju perumahan sederhana yang di huni Tania.
__ADS_1
"Aku sudah sedikit lega sih Tan ... sebentar lagi kamu akan jadi milikku. Namun, sepertinya kamu gak nyaman ya dengan keadaan ini?" Milan berucap tanpa menoleh sedikit pun, bahkan hanya untuk sekedar menatap wajah Tania ia terlihat enggan.
"Ya, Milan."
"Em ... sepertinya pikiran kamu sedang kacau, bahkan kamu tidak bisa mencerna dengan baik apa yang aku katakan," ucap Milan, sembari menurunkan kaca jendela mobil saat hujan mulai reda dan berhenti di lampu merah persimpangan jalan dekat perumahan Tania.
"Aku hanya masih terasa asing, dan bahkan masih belum percaya dengan hubungan yang akan kita jalin," desis Tania, ia menekan sekuat mungkin bulir bening yang hampir saja luruh di pipie mulusnya.
"Iya bener tapi ... kamu sudah menyetujui semuanya sebagai kesepakatan kita. Tenang saja, aku akan tetap menggaji kamu dan tidak akan memaksakan keinginan, meski nantinya aku resmi menjadi pemilik ragamu. Mungkin saja sulit untuk mendapatkan hatimu."
Duh, bagaimana ini. Perasaanku tak enak, sampai aku menggigit bibir bawah. Bagaimana ini, padahal aku berusaha untuk masuk ke kehidupan Milan untuk mencari tahu tentang siapa yang menggantikan posisi mendiang Papa di perusahaan grup tersebut.
"Tania!"
"Ah ya, Milan."
"Kita sudah sampai, besok pagi jam 07.00 harus sudah siap. Oke!" Pria itu membukakan pintu mobil sambil memegang payung di sebelah tangan, sedangkan tangan kanannya menyerahkan sebuah shopping bag kepada Tania.
"Oke, Milan," jawab Tania, tanpa membantah meski dadanya terasa sesak. Tania segera meraih shopping bag tersebut dan beranjak pergi memasuki rumahnya.
Namun, langkah Tania tertahan ketika mengetahui bahwa pintu rumah dalam keadaan terbuka dan ternyata Raffa telah duduk menunggu di ruang tamu.
***
— To Be Continued
🌠Hollaaa kesayangan semua, sampai jumpa di novel kedua author di platform ini. Jika kalian menyukai novelnya, jangan lupa LIKE, LOVE, RATE juga ya, salam hangat author untuk kalian semua. Jangan lupa sematkan jempol ya ... gratis guys, kasihan yang bikin tombol kalau dianggurin hehehe.
Follow me on IG: @lia_lintang08
Salam cintaku.
Lintang (Lia Taufik).
__ADS_1